Minggu, 26 Januari 2014

BENARKAH NABI MANUSIA BIASA

APAKAH Nabi saw hanya manusia biasa tidak ubah-nya seperti kita-kita? Demikian, mungkin keyakinan sebagian pihak. Biasanya mereka mengajukan ayat: “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu. Hanya saja kepadaku disampaikan wahyu.” (QS. 18:110). Berdasarkan ayat ini dan tunjangan ayat-ayat senada, semisal “Katakan: ‘Mahasuci Tuhanku. Bukankah aku hanya seorang manusia yang diutus?” Kelompok ini percaya bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa seperti manusia lainnya, dapat membuat kesalah-an, kekeliruan, bahkan mungkin, na’udzubillah, pelang-garan. Oleh karena itu kelompok ini menuding para pemuja Nabi saw telah berlaku berlebih-lebihan dan pengkultusan yang tidak perlu. Benarkah demikian? Untuk itu kita harus melihatnya dari berbagai sisi.
Pertama, sejauh mana al-Quran mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw, apakah hanya sebagai manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, atau sebagai manusia yang luar biasa, yang tidak dapat disamakan dengan manusia umum, bahkan dengan malaikat sekalipun? Jika kita telusuri dengan seksama ayat-ayat yang menyinggung tentang Nabi saw atau malah riwayat-riwayat yang berkenaan dengan Nabi saw, maka dengan yakin kita akan menganut pandang-an kedua dan menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad saw memang bukan manusia biasa. Ia adalah manusia utama, “superman” yang telah berhasil melewati ting-kat umum manusia dan mencapai derajat keutamaan yang tiada taranya. Katakanlah insân kamîl. Tapi me-ngapa masih ada yang memandang Nabi saw sebagai manusia biasa? Kita akan melihatnya.
Kedua, apa yang dimaksud bahwa Nabi Mu-hammad saw adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya? Apakah maksudnya bahwa kedudukannya di mata Allah sama dengan manusia lainnya? Saya kira kelompok penolak pemujaan kepada Nabi pun tidak membenarkan anggapan seperti ini. Mereka juga yakin bahwa Nabi Muhammad adalah seorang rasul dan me-miliki kedudukan yang sangat khusus di sisi Allah. Tapi mengapa mereka menganggap bahwa Nabi tidak ubahnya seperti manusia lain yang dapat lupa, salah, atau keliru? Kita coba mengkajinya.
Ketiga, bagaimana kita harus menyikapi Nabi Muhammad saw? Di satu sisi, ia adalah Nabi dengan kemuliaan yang tiada tara, tapi di sisi lain al-Quran menegaskan bahwa ia juga adalah manusia seperti kita. Kita akan sampai ke pembahasan ini setelah kita mele-wati pembahasan pertama dan kedua.
Kedudukan Nabi dalam al-Quran
Seperti yang telah kita singgung di atas, kedu-dukan Nabi Muhammad saw  dalam al-Quran sungguh luar biasa. Terdapat puluhan ayat di dalam al-Quran yang memuja Nabi Muhammad saw, apakah dalam bentuk pujian langsung, seperti ayat yang menyatakan bahwa Nabi memiliki akhlak yang sangat luhur. Atau dalam bentuk penyebutan sifat-sifat terpuji yang dimili-ki Nabi. Berikut beberapa contoh keagungan Rasulu-llah sebagaimana dalam al-Quran.
Pertama, keimanan semua rasul kepada Nabi. Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw berkata:
Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan ber-iman padanya, membelanya dan mengam-bil janji setia dari kaumnya untuk melaku-kan hal yang sama.
  Untuk hal ini, Allah Swt. berfirman dalam QS. 3: 81:
  Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Mu-hammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kali-an benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah ka-lian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.”
  Kedua, kabar gembira tentang kedatangan Mu-hammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para peng-anut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146). Dan itu pula yang dipintakan Nabi Ibrahim as dalam doanya:
Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Ra-sul dari kalangan mereka sendiri (Muham-mad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesung-guhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana (QS. 2:129).

Ketiga, penciptaan Nabi Muhammad saw se-belum Nabi Adam as. Tetapi penciptaan itu masih dalam wujud “nûr” atau cahaya. Ketika Allah mencip-takan Adam, Ia menitipkan nur itu pada sulbi Adam yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi ‘Abdullah, ayah Nabi. Ibnu Abbas meriwayatkan:
  Rasulullah saw bersabda:
  Allah telah mencip-takanku dalam wu-jud nur yang berse-mayam di bawah ‘arasy dua belas ribu tahun sebelum men-ciptakan Adam as. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Ia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru ber-pisah setelah ‘Abdul Muthalib. Aku ke sulbi ‘Abdullah dan ‘Ali ke sulbi Abu Thalib.
  Al-Quran menyebutkan bahwa sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti bahwa orangtua dan nenek moyang Rasulullah sampai ke Nabi Adam as. Istilah al-Quran, al-Sajidîn, orang-orang patuh. Allah berfir-man:
  Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu saat engkau bangun dan perpindahanmu dari sulbi ke sulbi orang-orang patuh (QS. 26:217-219).
  Keempat, Nabi Muhammad saw adalah manu-sia suci. Tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi dosa. Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam arti bahwa secara biologis tidak ada perbedaan antara Nabi saw dengan yang lain. Allah berfirman dalam QS. 33:33:
  Sesungguhnya yang dikehendaki Allah ialah menjauhkan kamu wahai Ahlul Bait dari segala kotoran dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.
  Riwayat-riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud de-ngan Ahlul Bait pada ayat di atas adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan Nabi Muhammad saw sendiri.
Kelima, Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya semuanya di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt.

Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertu-tur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan se-muanya semata-mata adalah wahyu yang di-wahyukan kepadanya (QS. 53:3-4).
  Keenam, Nabi Muhammad saw adalah panutan yang sempurna, uswatun hasanah. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terda-pat teladan yang baik buat kamu.” (QS.33:21). Karena itu, maka “Apa pun yang di-bawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarang-nya harus kamu jauhi.” (QS. 59:7)
Ketujuh, dibukanya rahasia kegaiban kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:
  Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang dikehendaki (QS. 72: 26-27).
  Tentu saja Rasulullah saw berada di urutan paling atas di antara para rasul yang menerima anugrah utama ini.
Kedelapan, Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya (QS. 68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS. 9:128) dan pengorbanan diri, tidak mementingkan diri demi kebahagiaan orang lain (QS. 20:2-3). Selain itu Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya (QS. 93:1-3; 94:1-4).
Kesembilan, siapa saja yang berhadapan de-ngan Nabi Muhammad saw maka berhadapan dengan Allah Swt. Sebaliknya, siapa saja yang membelanya, Allah berada di belakangnya. Firman Allah (QS. 9:61). Pada kesempatan lain, Allah bahkan mengancam ke-dua istri Rasulullah sendiri, ‘Aisyah dan Hafsah, karena mengkhianatinya dalam soal rahasia yang disampai-kannya kepada mereka. Jika mereka tidak tobat dan masih melawan Rasulullah, maka Allah sendiri yang akan menghadapi mereka (QS. 66:4).
Kesepuluh, Allah bershalawat kepada Nabi. Demikian juga seluruh malaikatnya. Karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan bershalawat kepa-danya (QS. 33:56). Arti shala-wat Allah kepada Nabi ada-lah penganugrahan rahmat dan kasih sayang-Nya; sha-lawat malaikat adalah per-mohonan limpahan rahmat-Nya. Demikian pula shala-wat orang-orang beriman.
Kesebelas, orang-orang beriman diperintah-kan untuk tidak memperla-kukan Rasulullah sebagai-mana perlakuan mereka ter-hadap sesama mereka. Jika berbicara kepada Rasul ha-rus dengan suara yang pe-lan, tidak boleh teriak-teri-ak, karena hal itu akan meng-hapus pahala amal mereka (QS. 49:2-3).
Kedua belas, Allah akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi. “Dan tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93:5). Ayat ini menunjukkan betapa Allah amat mencintai Nabi-Nya. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan Nabi dan akan melakukan apa saja demi menyenang-kan hati Nabi saw. Dan salah satu anugrah Allah yang paling besar kepada Nabi ialah wewenang memberi syafaat kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pe-ngabulan doa yang disampaikan oleh Nabi untuk umat-nya, baik ketika Nabi masih hidup maupun sesudah wafatnya.
Ketiga belas, Nabi saw ditetapkan sebagai pe-rantara (wasilah) antara diri-Nya dengan manusia. Bah-kan merupakan salah satu syarat terkabulnya doa.
Kami tidak utus seorang rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengam-pun dan Maha Pengasih (QS. 4:64).
  Bahkan tawassul kepada Nabi Muhammad saw ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang salih jauh sebelum kelahirannya. Kita dapat membaca riwa-yat yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa telah bertawassul kepada Nabi Muhammad saw saat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Dikisahkan bahwa tat-kala Nabi Adam as dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatanya. Dalam permo-honannya itu, ia bertawassul melalui Nabi Muhammad saw: “Ya Allah, melalui kebe-saran Muhammad, aku mohon ampun  pada-Mu kiranya Eng-kau ampuni dosaku.”
Allah Swt bertanya kepada Adam, “Dari mana kamu tahu Muhammad pa-dahal Aku belum mencipta-kannya?”
Adam berkata, “Tu-hanku, ketika Engkau cipta-kan aku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu dalam diriku, aku mengang-katkan kepalaku dan kulihat di pilar-pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Ra-sûlullâh. Aku tahu Engkau ti-dak akan menyertakan nama hamba-Mu kepada nama-Mu kecuali yang paling Eng-kau cintai.”
Allah Swt berkata, “Engkau benar, Adam. Mu-hammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Hai Adam, kalau bu-kan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan-mu.”
  Nabi Sebagai Manusia Biasa
Dari sekian ayat yang kita lihat di atas tidak dapat disangkal bahwa Nabi Muhammad saw bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya sangat-sangat mulia di sisi Allah. Ia telah diciptakan Allah sebelum menciptakan yang lainnya. Nabi telah diper-siapkan membawa amanat-Nya jauh sebelum utusan-utusan lainnya. Bahkan utusan-utusan itu diperin-tahkan untuk mengimaninya dan mengabarkan kepada umat manusia kedatangannya. Nabi ditetapkan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan, dan sebagai-nya. Akan tetapi semua ini tidak harus membuat kita memposisikannya sebagai bukan dari golongan manu-sia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa as.
Nabi Muhammad saw tetap manusia sebagai-mana manusia lainnya, sebagaimana isyarat al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Mu-hammad saw terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia. Karena itu Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkelu-arga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia. Al-Quran sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum mu-syrikin terhadap Na-bi saw bahwa ia bu-kan dari golongan malaikat atau paling tidak bekerjasama dengan malaikat (QS. 25:7) dan juga mengingatkan kaum Muslimin supaya ti-dak mengulangi ke-salahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa yang meng-anggapnya sebagai Tuhan.
Akan tetapi ketika kita mengata-kan bahwa Nabi adalah manusia biasa seperti manusia lainnya tidak berarti bahwa kita harus menganggapnya salah, keliru, melanggar, atau berakhirlah segalanya sesudah ia wafat. Sama sekali tidak demikian. Kesu-cian, keterpeliharaan dari dosa, maksum, hidup abadi bersama Allah sesudah kematian atau kemampuan ber-hubungan dengan-Nya sesudah kematian adalah per-kara ruhani yang dapat saja dicapai oleh manusia manapun jika ia telah mencapai kedudukan ruhani yang tinggi atau katakanlah maqam Insan Kamil. Allah Swt memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya, akan tetapi pada manusia, Allah ciptakan juga unsur lain-nya, yakni ruh Allah, yang justru dapat membuat manu-sia lebih tinggi dari makhluk manapun, termasuk mala-ikat. Yaitu jika melalui ruh itu ia mampu mengatasi unsur biologisnya. Itulah mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam atau manusia. Itulah pula mengapa Nabi Muhammad dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril akan hangus terbakar jika berani mencoba melang-kahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Karena Nabi Muham-mad telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani.
Kesalahan terbesar pihak yang menolak meng-akui kebesaran Nabi Muhammad di atas dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharam-kan, yaitu karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.
Melihat se-orang hanya dari di-mensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir. Bukan logika orang-orang beriman. Dengan alasan bahwa para utusan itu hanya ma-nusia seperti mere-ka, orang-orang kafir menolak meng-akuinya sebagai nabi atau rasul.
  Dan tidaklah menghalangi orang-orang (ka-fir) untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka mengalaskan: Apakah Allah mengutus rasul dari golongan manusia? (QS. 17:94).
  Tapi orang-orang beriman berkata: “Kami mengimani-nya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7).
Sikap kepada Nabi
Berdasarkan beberapa ayat tentang keagungan Nabi Muhammad saw di atas dan beberapa riwayat Nabi, kita dapat melihat betapa Allah menuntut kita untuk menghormati dan mengagungkan rasul-Nya. Coba perhatikan ayat shalawat. Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, yaitu yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan malaikat-Nya te-lah melakukannya terlebih dahulu dan oleh karena itu kita pun diperintahkan untuk melakukan-nya, selain shalawat kepada Nabi? Tidak ada. Perintah itu berarti kita harus selalu melihat Nabi dengan penuh takzim dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya.  Oleh karena itu pula, Nabi saw selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir. Bahkan orang yang datang ke tanah suci tapi tidak mampir ke Madinah untuk berziarah kepadanya telah memutus hu-bungan silaturrahmi dengannya.
Pada ayat tawassul kita bahkan diperi-ngatkan Allah jika ingin dosa-dosa kita diam-puni oleh-Nya harus bertawassul kepadanya. Jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan per-mohonan ampun kita. Allah juga mengingatkan agar kita tidak memperlakukannya sama dengan kita, sebab hal itu dapat menghapus pahala amal ibadah kita (QS. 49:2-3). Selain itu, kita juga diperingatkan untuk tidak menganggap apa yang dilakukan atau diucapkannya lahir karena emosi atau hawa nafsunya. Tapi semuanya atas bimbingan Allah yang tidak pernah salah.
  Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS. 53:3-4).
  Dengan demikian, yang mengagungkan dan memerintahkan kita untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw adalah Allah Swt sendiri. Bukan kita. Kita hanya mengikuti perintah dan ajaran-Nya saja. Lalu mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan sendiri? Sebenarnya tidak ada kultus; karena kultus ialah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pengagungan Nabi Muhammad saw justeru mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw sebagaimana mestinya, seperti diperintahkan al-Quran. Justru jika kita tidak melakukan itu, dikhawatirkan telah menzalimi beliau.
  Sesungguhnya orang-orang yang menggangu Allah dan rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya (QS. 33:57).
  Sebagai penutup renungkan peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi saw di bawah ini. ‘Abdullah bin Amr berkata:
  Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. Aku bermaksud menghapalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata: “Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw? Padahal beliau hanyalah seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang.” Aku berhenti menulis. Tetapi kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah. Ia kemudian menunjuk ke-pada mulutnya dan berkata: “Tulis saja. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang ke-luar dari sini kecuali kebenaran.” Camkan!
Sumber: RausyanFikr's Site

Sekilas tentang Nabi Muhammad

Nabi Muhammad bin Abdullah saw adalah nabi terakhir. Lahir pada tahun 570 M di Mekah. Diutus menjadi nabi ketika berusia empat puluh tahun. Selama tiga belas tahun Nabi saw berdakwah Islam di Mekah. Di Mekah Nabi saw mengalami banyak sekali kesulitan. Selama periode Mekah ini Nabi saw mendidik beberapa orang pilihan. Kemudian Nabi saw hijrah ke Madinah. Di Madinah Nabi saw mendirikan sentranya. Selama sepuluh tahun Nabi saw terang-terangan berdakwah Islam di Madinah. Nabi saw melakukan sejumlah perang yang berhasil menundukkan kaum Arab yang arogan. Pada akhir periode ini seluruh jazirah Arab memeluk Islam. Al-Qur'an Suci diwahyukan kepadanya secara bertahap dalam waktu dua puluh tiga tahun. Kaum Muslim memperlihatkan dedikasi yang luar biasa dan takzim kepada Al-Qur'an dan kepada pribadi Nabi Muhammad saw. Nabi saw wafat pada tahun 11 H pada tahun ke-23 misi kenabiannya dalam usia enam puluh tiga tahun. Nabi saw meninggalkan suatu masyarakat yang belum lama lahir, suatu masyarakat yang penuh dengan semangat spiritual, suatu masyarakat yang mempercayai suatu ideologi yang konstruktif dan yang menyadari tanggung jawabnya di dunia.
Ada dua hal yang memberi masyarakat yang baru lahir ini semangat antusiasme dan persatuan: Pertama, Al-Qur'an yang menyemangati kaum Muslim, yang senantiasa dibaca oleh kaum Muslim. Kedua, pribadi mulia dan berpengaruh Nabi saw yang sangat memesona kaum Muslim. Kini kami bahas secara ringkas pribadi Nabi Suci saw.

Masa Kanak-kanak
Muhammad saw masih berada dalam rahim ibundanya, ketika ayahandanya, yang kembali dari perjalanan bisnis ke Syiria, meninggal di Madinah. Kemudian Abdul Muthalib, kakeknya, mengambil alih pengasuhannya. Sejak kanak-kanak, tanda-tanda bahwa kelak dia akan menjadi nabi sudah terlihat jelas dari keistimewaan dan perilakunya. Abdul Muthalib secara intuitif mendeteksi bahwa cucunya memiliki masa depan yang luar biasa cemerlang.
Muhammad saw baru berusia delapan tahun ketika kakeknya juga meninggal. Dan sesuai dengan wasiat kakeknya, pengasuhan Muhammad saw diberikan kepada paman Muhammad saw yang bernama Abu Thalib as. Abu Thalib as juga terkejut ketika tahu bahwa perilaku anak ini beda dengan perilaku anak-anak lainnya. Tak seperti anak-anak sekitamya, Muhammad saw tak pemah tamak dengan makanan. Dan tak seperti adat yang berlaku pada masa itu, Muhammad saw selalu menyisir rapi rambutnya, dan wajah serta tubuh Muhammad saw selalu bersih.
Suatu hari Abu Thalib ingin Muhammad saw berganti pakaian di hadapan Abu Thalib sebelum pergi tidur. Si kecil Muhammad saw tak menyukai keinginan seperti itu. Namun karena tak dapat mentah-mentah menolak keinginan pamannya, si kecil Muhammad saw meminta pamannya untuk memalingkan mukanya ketika Muhammad saw melepaskan pakaiannya. Tentu saja Abu Thalib kaget, karena orang dewasa Arab sekalipun pada masa itu tak menolak bila diminta telanjang bulat di hadapan orang lain. Kata Abu Thalib: "Aku tak pernah mendengar dia berbohong, juga tak pernah aku melihat dia melakukan sesuatu yang tak senonoh. Kalau perlu saja Muhammad tertawa. Dia juga tak ingin ikut dalam permainan anak-anak. Dia lebih suka sendirian, dan selalu sopan, rendah hati dan bersahaja."

Tak Suka Nganggur dan Malas-malasan
Beliau saw tak suka nganggur dan bermalas-malasan. Beliau saw senantiasa mengucapkan: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, ketidakberdayaan dan sesuatu yang tak ada nilainya." Beliau saw selalu menyuruh kaum Muslim untuk bekerja keras dan kreatif. Beliau saw selalu mengatakan bahwa kemuliaan itu memiliki tujuh bagian, dan bagian terbaiknya adalah mencari nafkah dengan halal.

Jujur
Nabi saw, sebelum diutus menjadi rasul, mengadakan perjalanan ke Syiria untuk kepentingan Khadijah as. Dan Khadijah as ini di kemudian hari menjadi istrinya. Perjalanan ini, lebih dari sebelumnya, memperjelas kejujuran dan efisiensinya. Kejujuran dan keandalannya jadi begitu terkenal, sampai-sampai dia mendapat julukan tepercaya (al-Amin). Orang mempercayakan penjagaari harta mereka yang berhafga kepada Muhammad saw. Bahkan setelah diutus menjadi rasul, meskipun memusuhinya, kaum Quraisy tetap saja menyerahkan penjagaan harta berharga mereka kepadanya karena merasa yakin akan aman di tangannya. Itulah sebabnya ketika hijrah ke Madinah, Muhammad saw meninggalkan Imam Ali bin Abi Thalib as untuk beberapa hari demi mengembali-kan titipan kepada para pemiliknya.

Menentang Kezaliman
Pada masa pra-Islam, ada perjanjian yang dibuat oleh para korban kekejaman dan kezaliman dengan tujuan untuk melakukan upaya bersama guna melindungi kaum tertindas terhadap para tiran yang zalim. Perjanjian ini dikenal dengan nama "Hilful Fudhûl". Perjanjian ini dibuat di rumah Abdullah bin Jad'in di Mekah oleh tokoh-tokoh penting tertentu pada masa itu. Kemudian, selama masa kenabiannya, Muhammad saw sering menyebut perjanjian ini. Beliau mengatakan masih mau ikut dalam perjanjian serupa, dan tak mungkin melanggar isi perjanjian.


Sikap Terhadap Keluarga
Muhammad saw baik hati sikapnya terhadap keluarganya. Terhadap istri-istrinya, Muhammad saw tak pernah kasar sikapnya. Orang-orang Mekah pada umumnya merasa aneh dengan perilaku baik seperti itu. Nabi saw mentoleransi perkataan sebagian istrinya yang terasa menyakitkan hati, meskipun perkataan semacam itu tidak disukai sebagian istrinya yang lain. Nabi dengan penuh empati mengajak para pengikutnya untuk bersikap baik hati terhadap istri-istri mereka, karena, seperti sering kali diucapkannya, lelaki dan perempuan itu keduanya sama-sama memiliki sifat baik dan sifat buruk. Suami tidak boleh cuma gara-gara kebiasaan istri­nya yang tak menyenangkan lalu menceraikannya. Jika suami tak menyukai beberapa sifat istrinya, istri tentu memiliki sifat-sifat lain yang menyenangkannya. Dengan demikian urusannya jadi seimbang. Nabi Suci saw sangat menyayangi anak-anak dan cucu-cucunya. Nabi saw memperlihatkan rasa cinta dan kelembutan hatinya kepada mereka. Nabi saw mencintai mereka, memangku mereka, mendudukkan mereka di atas kedua bahunya dan menciumi mereka. Semua ini bertentangan dengan adat dan kebiasaan masyarakat Arab pada masa itu.
Nabi saw juga memperlihatkan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak-anak kaum Muslim. Nabi saw memangku mereka dan mengusap-usap kepala mereka. Para ibu sering kali membawa anak-anak mereka kepada Nabi saw untuk mendapatkan berkahnya. Bahkan pernah ada kejadian anak mengencingi pakaian Nabi saw. Dan para ibu pun jadi marah serta merasa malu. Sebagian ibu mencoba menghentikan anak main air. Namun Nabi Suci Saw. meminta ibu-ibu itu untuk tidak mengganggu anak tersebut. Nabi saw mengatakan bahwa anak itu akan membersihkan pakaiannya kalau pakaian itu kotor.

Sikap Terhadap Sahaya
Nabi saw luar biasa baik hati sikapnya terhadap kaum sahaya. Nabi saw suka mengatakan kepada orang bahwa sahaya adalah saudara. Nabi saw mengatakan: "Beri mereka makanan sepeiti yang kamu makan, pakaian seperti yang kamu pakai. Jangan paksa mereka mengerjakan sesuatu yang terlalu sulit bagi mereka. Beri mereka pekerjaan mereka, dan bantulah mereka dalam melaksanakan pekerjaan. Jangan panggil mereka dengan sebutan budak, karena semua manusia adalah hamba Allah. Allahlah Tuan sejati bagi semua manusia. Panggillah sahaya lelaki dan sahaya perempuanmu dengan panggilan anak muda."
Islam memberikan kepada kaum sahaya semua kemudahan yang dapat diberikan, kemudahan yang melahirkan kemerdekaan penuh mereka. Nabi Suci saw menggambarkan perdagangan sahaya sebagai seburuk-buruk pekerjaan. Nabi saw mengatakan bahwa orang yang memperdagangkan manusia adalah seburuk-buruk orang di mata Allah SWT.

Bersih, Rapi dan Memakai Wewangian
Nabi saw sangat menyukai kebersihan, kerapian dan wewangian. Nabi saw mendorong sahabat dan pengikutnya untuk menjaga kebersihan tubuh dan rumah mereka dan untuk memakai we­wangian. Nabi saw khususnya mengajak mereka untuk mandi dan memakai wewangian pada hari-hari Jumat agar tak ada bau badan yang tak sedap yang dapat mengganggu jamaah salat Jumat.

Perilaku Sosial
Dalam kehidupan di tengah masyarakat, Nabi saw selalu baik hati, riang dan sopan terhadap semua orang. Nabi saw selalu yang lebih duluan memberikan salam, sekalipun kepada anak-anak dan para sahaya. Nabi saw tak pernah meregangkan kakinya di hadapan orang, dan tak pernah berbaring di hadapan orang. Kalau tengah bersama Nabi saw, semua orang duduk mengelilingi Nabi saw. Tak ada yang punya tempat khusus. Nabi saw selalu memperhatikan sahabat-sahabatnya. Kalau Nabi saw tak melihat siapa pun di antara sahabat-sahabatnya itu selama dua atau tiga hari, Nabi saw menanyakannya. Jika ternyata sahabat itu sakit, Nabi saw menjenguknya. Dan jika sahabat itu mendapat kesulitan, Nabi saw berupaya memecahkan problemnya.
Dalam majelis, Nabi saw tak pernah bicara atau memberi perhatian hanya kepada seseorang, namun Nabi saw bicara dan memberikan perhatian kepada semuanya. Nabi saw tak suka kalau Nabi saw tinggal duduk saja lalu orang melayaninya. Nabi saw sendiri ikut dalam semua yang harus dikerjakan. Nabi saw suka mengatakan bahwa Allah SWT tak suka melihat seorang hamba yang merasa unggul sendiri.

Lembut Namun Tegas
Dalam masalah pribadi, Nabi saw lembut, simpatik dan toleran. Pada banyak peristiwa sejarah, toleransi Nabi saw merupakan salah satu alasan kenapa Nabi saw sukses. Namun dalam masalah prinsip ketika mengenai masalah kepentingan masyarakat atau hukum, Nabi saw tegas dan tak pernah memperlihatkan sikap toleran.
Ketika peristiwa penaklukan atas Mekah dan kemenangan Nabi saw atas kaum Quraisy, Nabi saw mengabaikan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap diri Nabi selama dua puluh tiga tahun. Nabi saw justru menyatakan amnesti umum. Nabi saw menerima permintaan maaf pembunuh paman tercintanya, Hamzah. Namun Nabi saw menjatuhkan hukuman kepada seorang wanita Bani Makhzum yang mencuri. Padahal wanita ini dari keluarga yang sangat terhormat, yang memandang penerapan hukuman atas dirinya sebagai penghinaan besar bagi keluarga tersebut. Keluarga ini tak henti-hentinya meminta Nabi saw untuk memaafkannya. Beberapa sahabat terkenal Nabi saw juga memintakan pengampunan baginya. Namun Nabi saw dengan marah me­ngatakan bahwa tidaklah mungkin karena untuk kepentingan seseorang lalu hukum Allah tidak diterapkan. Pada sore hari itu juga Nabi saw menyampaikan khotbah:
"Bangsa-bangsa dan umat-umat terdahulu mengalami kemunduran dan lalu punah akibat mereka bersikap diskriminatif dalam pelaksanaan hukum Allah. Kalau orang berpengaruh berbuat kejahatan, dia dibiarkan begitu saja. Namun jika orang lemah dan tak penting berbuat kejahatan, dia dihukum. Aku bersumpah demi Allah yang di tangan-Nya jiwaku bahwa aku akan tegas dalam melaksanakan keadilan sekalipun yang berbuat salah itu salah seorang keluargaku."



Ibadah
Untuk sebagian malam, terkadang separo malam, dan terkadang sepertiga atau dua pertiga malam, Nabi saw selalu melakukan ibadah. Meski siang harinya sibuk, khususnya selama Nabi saw berada di Madinah, Nabi saw tak pernah mengurangi waktu ibadahnya. Nabi saw menemukan kenikmatan penuh dalam ibadah dan berkomunikasi dengan Allah SWT. Ibadahnya merupakan ungkapan cinta dan rasa syukur, dan motivasinya bukan keinginan masuk surga, juga bukan karena takut neraka.
Suatu hari salah seorang istrinya bertanya kepada Nabi saw, bahwa kenapa Nabi saw begitu kuat dedikasinya untuk ibadah? Jawab Nabi saw: "Kepada siapa lagi aku mesti bersyukur, kalau bukan kepada Tuhanku?"
Nabi saw sangat sering berpuasa. Di samping puasa di bulan Ramadhan dan di sebagian bulan Syakban, Nabi saw selalu puasa dua hari sekali. Nabi saw selalu melewatkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan iktikaf di masjid. Dalam iktikaf ini Nabi saw mencurahkan segenap waktunya untuk ibadah. Namun kepada umatnya Nabi saw mengatakan bahwa sudah cukup kalau berpuasa tiga hari setiap bulannya. Nabi saw suka mengatakan bahwa ibadah dikerjakan menurut kemampuan masing-masing, dan tidak boleh memaksakan diri, karena kalau dipaksakan, maka efeknya akan buruk. Nabi saw menentang kehidupan rahib, menentang sikap hidup yang tak mau terlibat dalam urusan duniawi, dan menentang sikap hidup yang menolak kehidupan berkeluarga. Beberapa sahabat Nabi saw mengutarakan niat untuk hidup seperti rahib. Nabi saw mencela mereka. Nabi saw sering mengatakan:
Tubuh, istri, anak-anak dan sahabat-sahabatmu semuanya punya hak atas dirimu, dan kamu harus memenuhi kewajibanmu."
Bila salat sendirian, salat Nabi saw lama, bahkan terkadang Nabi saw berjamjam menunaikan salat sebelum subuh. Namun bila salat berjamaah, salat Nabi saw tidak lama. Dalam hal ini Nabi saw memandang penting memperhatikan orang-orang usia lanjut dan orang-orang yang lemah jasmaninya di antara para pengikutnya.

Hidup Sederhana
Hidup sederhana merupakan salah satu prinsip hidup Nabi saw. Makanan Nabi saw sederhana. Pakaian yang dikenakannya sederhana. Nabi saw, bila mengadakan perjalanan, caranya sederhana. Nabi saw lebih sering tidur di atas tikar, duduk di tanah, dan memerah susu kambing dengan kedua tangannya sendiri.
Nabi saw, bila naik binatang tunggangan, tidak memakai pelana. Kalau sedang naik binatang tunggangan, Nabi tak mau ada pengiringnya. Makanan pokok Nabi saw adalah roti dan kurrna. Nabi saw memperbaiki sepatunya sendiri dan menjahit pakaiannya sendiri dengan kedua tangannya sendiri. Kendati hidup bersahaja, Nabi saw tak pernah menganjurkan filosofi asketisisme (hidup dengan disiplin diri yang keras dan berpantang dari segala bentuk kesenangan atau kenikmatan—pen.). Nabi saw percaya bahwa uang perlu dibelanjakan untuk kepentingan masyarakat dan untuk tujuan-tujuan halal lainnya. Nabi saw biasa mengatakan: "Sungguh menyenangkan kekayaan itu, jika didapat dengan cara yang halal oleh orang yang tahu cara membelanjakannya."
Nabi saw juga mengatakan: "Kekayaan merupakan bantuan yang baik bagi ketakwaan."

Ketetapan Hati dan Sabar
Tekad atau kemauan keras Nabi saw sungguh luar biasa. Tekad ini mempengaruhi para sahabatnya juga. Periode kenabiannya benar-benar merupakan pelajaran tentang kemauan keras dan kesabaran. Dalam masa hidupnya, beberapa kali kondisi sedemikian rupa sehingga kelihatannya tak ada lagi harapan, namun tak pernah ada kata gagal dalam benaknya. Keyakinannya bahwa dirinya pada akhirnya akan sukses, tak pernah goyah sekejap pun.

Kepemimpinan, Administrasi dan Konsultasi
Sekalipun para sahabat Nabi saw menjalankan setiap perintah Nabi saw tanpa ragu, dan berulang-ulang mengatakan percaya penuh kepada Nabi saw dan bahkan mau terjun ke sungai atau ke dalam kobaran api jika saja Nabi saw memerintahkannya, namun Nabi saw tak pernah menggunakan cara-cara diktator. Mengenai masalah-masalah yang belum ada ketentuan khususnya dari Allah SWT, Nabi saw berkonsultasi dengan sahabat-sahabatnya dan menghargai pandangan mereka, dan dengan demikian membantu mereka mengembangkan pribadi mereka. Ketika Perang Badar, Nabi saw menyerahkan persoalan mengambil aksi militer untuk menghadapi musuh, memilih lahan untuk mendirikan tenda, dan mengenai perlakuan terhadap tawanan, kepada nasihat sahabat-sahabatnya. Ketika Perang Uhud, Nabi saw berkonsultasi soal perlu tidaknya tentara Muslim bertempur dari dalam kota Madinah ataukah tentara Muslim perlu keluar dari kota. Nabi saw juga berkonsultasi dengan para sahabatnya ketika Perang Ahzab dan Tabuk.
Kebaikan hati dan toleransi Nabi saw, keinginannya untuk mengupayakan ampunan bagi dosa-dosa umatnya, sahabat-sahabat­nya dan konsultasi dengan mereka yang dipandangnya penting, merupakan faktor-faktor utama yang memberikan sumbangsih bagi pengaruhnya yang luar biasa di kalangan para sahabatnya. Fakta ini ditunjukkan oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an memfirmankan:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan din dari sekelitingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Âli 'Imrân: 159)

Teratur dan Tertib
Semua tindakan Nabi saw teratur dan tertib. Nabi saw bekerja sesuai dengan jadwal. Nabi saw mengajak para sahabatnya untuk berbuat sama. Berkat pengaruh Nabi saw, para sahabat jadi penuh disiplin. Bahkan ketika Nabi saw memandang perlu merahasiakan keputusan tertentu agar musuh tidak menaruh syak wasangka terhadap kaum Muslim, para sahabat serta merta melaksanakan perintah Nabi saw. Misal, Nabi saw pernah memerintahkan agar para sahabat bergerak esok hari. Keesokan harinya semua sahabat yang diperintah itu bergerak bersama Nabi saw tanpa tahu maksud finalnya, dan para sahabat baru tahu maksudnya pada saat-saat terakhir. Terkadang Nabi saw memerintahkan beberapa orang untuk bergerak ke arah tertentu, memberikan surat untuk komandan mereka dan memerintahkan agar komandan tersebut membuka surat itu begitu sampai di tempat tertentu dan agar bertindak sesuai dengan perintah. Sebelum mencapai tempat tertentu, mereka tidak tahu maksud mereka dan untuk apa mereka ke sana. Dengan cara ini Nabi saw membuat musuh dan mata-mata tak tahu apa-apa, dan sering kali musuh serta mata-mata tak menduganya.

Mau Mendengarkan Kritik dan Tak Suka Pujian yang Bersifat Menjilat
Terkadang Nabi saw terpaksa menghadapi kritik para sahabat. Namun tanpa bersikap keras terhadap mereka, Nabi saw menjelas-kan keputusannya, dan para sahabat pun akhimya mau menerima. Nabi saw membenci sekali pujian yang bersifat menjilat. Nabi saw mengatakan: "Lemparkan debu ke wajah orang yang menjilat."
Nabi saw suka bekerja sempurna. Nabi saw biasa mengerjakan sesuatu dengan benar dan efisien. Ketika Sa'ad bin Mu'adz meninggal dan kemudian dibaringkan di makamnya, Nabi saw dengan kedua tangannya sendiri meletakkan batu dan bata di makam Sa'ad persis pada tempatnya dan dengan efisien. Nabi saw bersabda: "Aku mau segalanya dikerjakan dengan benar dan efisien."

Memerangi Kelemahan
Nabi saw tidak mengeksploitasi titik lemah dan kebodohan orang. Nabi saw justru berupaya memperbaiki kelemahan orang dan membuat orang mengetahui apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Pada hari meninggalnya putra Nabi saw yang berusia tujuh belas bulan, kebetulan terjadi gerhana matahari. Orang pada mengatakan bahwa gerhana tersebut terjadi karena duka cita yang merundung Nabi saw. Nabi saw tidak tinggal diam menghadapi pikiran yang keliru ini. Nabi saw kemudian naik ke mimbar dan mengatakan: "Wahai manusia! Bulan dan matahari adalah dua tanda dari Allah. Terjadinya gerhana keduanya bukan karena kematian seseorang."

Memiliki Kualitas Sebagai Pemimpin
Nabi saw memiliki kualitas maksimum kepemimpinan seperti sifat mau tahu orang, teguh had, efisien, berani, tak takut meng­hadapi konsekuensi suatu tindakan, mampu melihat ke depan, mampu menghadapi kritik, mengakui kemampuan orang lain, mendelegasikan kekuasaan kepada orang lain yang mampu, luwes dalam masalah pribadinya, keras dalam masalah prinsip, memandang penting orang lain, memajukan bakat intelektual, emosional dan praktis mereka, menjauhkan diri dari praktik lalim, tidak meminta ketaatan buta, bersahaja dan rendah hati, bermartabat dan sangat memperhatikan pengelolaan sumber daya manusia. Nabi saw sering mengatakan: "Jika kamu bertiga mengadakan perjalanan bersama, maka pilih salah satu dari kalian sebagai pemimpin."
Di Madinah, Nabi saw mendirikan sebuah sekretariat khusus. Nabi saw menunjuk sekelompok orang untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Ada ahli tulis wahyu yang bertugas menulis Al-Qur'an. Beberapa orang diberi amanat membuat draft dan menulis surat khusus. Beberapa orang diberi tugas mencatat transaksi legal. Beberapa orang diberi tanggung jawab memegang pembukuan. Beberapa orang diberi tanggung jawab membuat draft perjanjian. Semua perincian ini dicatat dalam buku sejarah seperti "Tarikh Ibn Wazih, al-Ya'qubi, at-Tanbîh wa al-Isyrâf karya Mas'udi, "Mu'jam al-Buldân" karya al-Bilâdzuri dan "at-Thabaqât" karya Ibn Sa'ad.

Metode Berdakwah
Dalam mendakwahkan Islam, metode Nabi saw lembut, tidak keras. Nabi saw terutama berupaya membangkitkan harapan, dan menghindari penggunaan ancaman. Kepada salah seorang sahabat, yang diutus Nabi saw untuk mendakwahkan Islam, Nabi saw mengatakan: "Bersikaplah yang menyenangkan, dan jangan bersikap keras. Katakan apa yang menyenangkan hati orang, dan jangan buat mereka jadi benci."
Nabi saw memiliki perhatian yang aktif terhadap dakwah Islam. Pernah Nabi saw pergi ke Thaif untuk berdakwah. Pada musim haji, Nabi saw suka menyeru berbagai suku dan menyampaikan pesan Islam kepada mereka. Nabi saw pemah mengutus Imam Ali bin Abi Thalib as dan pada kesempatan lain Mu'adz bin Jabal ke Yaman untuk berdakwah. Sebelum ke Madinah, Nabi saw mengutus Mus'ab bin Umair untuk berdakwah di Madinah. Nabi saw mengutus sejumlah sahabat ke Ediiopia. Di samping untuk meng­hindari penganiayaan kaum musyrik Mekah, mereka mendakwah­kan Islam di Ethiopia dan memuluskan jalan bagi diterimanya Islam oleh Negus, Raja Ethiopia, dan 50 persen penduduk Ethiopia. Pada tahun ke-6 Hijrah, Nabi saw mengirim surat kepada pemimpin sejumlah negara di berbagai bagian dunia dan mengenalkan kepada mereka tentang kenabiannya. Sekitar seratus surat yang ditulis Nabi untuk berbagai pemimpin, sampai sekarang masih ada.

Mendorong Pengetahuan
Nabi saw mendorong para sahabat untuk mencari ilmu. Nabi saw mewajibkan anak-anak mereka untuk belajar membaca dan menulis. Nabi saw memerintahkan sebagian sahabat untuk belajar bahasa Syiria kuno. Nabi saw sering berkata: "Setiap Muslim wajib menuntut ilmu."
Nabi saw juga mengatakan: "Di mana pun kamu mendapati satu ilmu yang berguna, ambillah. Tak masalah apakah ilmu itu ada pada orang kafir atau orang munafik."
"Tuntutlah ilmu sekalipun harus pergi ke negeri Cina."
Penekanan arti pentingnya ilmu ini menjadi sebab kenapa kaum Muslim begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu dan untuk mencari karya-karya ilmiah. Kaum Muslim tidak saja menerjemahkan karya-karya ini, namun juga menelitinya. Dengan begitu mereka menjadi penghubung antara budaya-budaya kuno Yunani, Roma, Iran, Mesir serta India, dan budaya modern Eropa. Dengan berlalunya waktu, kaum Muslim sendiri menjadi pendiri salah satu peradaban dan budaya terbesar dalam sejarah manusia, yang oleh dunia dikenal sebagai peradaban dan budaya Muslim.
Karakter dan perilaku Nabi saw, seperti sabda dan agamanya, lengkap. Sejarah tak pernah menyaksikan pribadi lain selain Nabi saw yang berhasil mencapai kesempurnaan dalam semua dimensi manusia. Memang Nabi saw merupakan seorang manusia yang sempurna.

(Dikutip dari buku "Manusia dan Alam Semesta", Bab 21 "Nabi Muhammad saw")

Akhir Kenabian

Ruhullah Syams
Permasalahan khâtamiyyah (akhir kenabian atau kenabian pamungkas), dari sisi ia termuat dalam al-Qur’an dan riwayat maka ia mempunyai landasan bahasan dalam akidah dan teologi Islam. Akan tetapi dari sisi bahwa dalam masalah ini sebelumnya tidak terjadi perbedaan pendapat di antara mazhab-mazhab teologi yang ada dalam Islam, baik dari dimensi prinsip masalah maupun dalam dimensi penafsirannya, maka ia tidak menjadi bahan perbincangan dan pembahasan dalam kitab-kitab kalam Islami. Namun, adapun di zaman sekarang,  dikarenakan bermunculannya mazhab-mazhab baru dan pemikiran baru dalam dunia Islam, seperti Bahaiyyah, Ahmadiyyah, dan Islam Liberal, dan adanya klaim-klaim syariat baru dari satu sisi serta tafsiran-tafsiran baru yang dikemukakan sebagian dari cendekiawan Muslim tentang khâtamiyyah di sisi lain, menyebabkan para teolog Islam kontemporer memasukkan masalah ini sebagai salah satu dari pembahasan dan permasalahan penting dalam masalah teologi dan mengkhususkan untuknya sebuah pasal terpisah dalam kitab-kitab teologi. Bahkan lebih jauh dari itu telah ditulis beberapa risalah dan kitab khusus tentang masalah khâtamiyyah ini. Pengkajian dan penelitian hakikat khâtamiyyah dan argumen-argumennya, falsafah khâtamiyyah dan jawaban terhadap syubhat khusus dalam masalah ini, merupakan inti dan fokus yang membentuk pembahasan seputar masalah khâtamiyyah kenabian.    

Hakikat Khatamiyyah (Akhir Kenabian)
Kata khâtamiyyah merupakan derivasi dari kata khâtam dan berasal dari akar kata khatm yang bermakna akhir. Menurut ahli kosa kata, makna yang paling banyak digunakan bagi kata khâtam adalah makna “mâ yukhtamu bihi”, yakni wasilah akhir dan akhir sesuatu. Dalam makna ini tidak terdapat perbedaan antara khâtim (atas timbangan nâzhim) dan khâtam (atas timbangan âdam).[1]
Ustad Jawâdy Amuly berkata: Kata khâtam (dengan fatah huruf Ta) dan khâtim (dengan kasrah huruf Ta) menunjukkan bahwa pintu kenabian telah ditutup (diakhiri) dan telah diberi cap stempel, karena itu tidak akan datang lagi nabi lain dengan syariat baru. Sebagaimana juga derivasi-derivasi kata khatm dalam al-Qur’an –seperti nakhtamu, makhtûm, dan khatâm- memiliki pengertian seperti demikian ini; yakni menunjukkan makna akhir, mencapai akhir, diberi cap stempel, dan mendapatkan akhir.[2]
Oleh karena itu, khâtam al-anbiyâ yang merupakan salah satu dari laqab Nabi Muhammad Saw bermakna bahwa beliau adalah paling akhirnya nabi Tuhan dan dengan perantara beliau kenabian berakhir. Dengan demikian, Rasulullah Muhammad Saw adalah nabi dan utusan Tuhan yang paling akhir dan setelah beliau tidak akan ada lagi seorangpun yang dipilih dan diangkat sebagai nabi dari sisi Tuhan.
Kepenutupan dan akhir kenabian juga memestikan kepenutupan dan akhir risalah serta syariat. Yakni kenabian adalah seseorang yang menerima wahyu dari sisi Tuhan dan dipilih Tuhan untuk menduduki maqam kenabian. Dan juga telah diwahyukan kepadanya makrifat-makrifat dan hukum-hukum Ilahi yang merupakan penjelasan daripada ushul dan furu’ agama. Adapun risalah bermakna bahwa seseorang telah dipilih dalam maqam kenabian dan juga mendapat tugas dari sisi Tuhan untuk menyampaikan makrifat-makrifat serta hukum-hukum Ilahi kepada manusia. Di samping itu, dia berusaha merealisasikan makrifat-makrifat dan hukum-hukum Ilahi tersebut di tengah-tengah masyarakat demi membawa dan mengarahkan masyarakat kepada kesempurnaan dan kebahagiaan. Dan dari dimensi seorang nabi menjalankan tanggungjawab merealisasisikan hukum-hukum dan undang-undang Tuhan maka dia juga mendapatkan maqam imamah.[3] Berdasarkan ini, para nabi Tuhan memiliki tiga maqam, yaitu kenabian, risalah, dan imamah. Yakni membawa wahyu dan syariat Tuhan dan juga bertugas menyampaikan serta merealisasikan makrifat-makrifat dan hukum-hukum Ilahi di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana al-Qur’an, ketika berbicara tentang kenabian umum kadang mengungkapkan kenabian para nabi dengan kata “nabiyyin”: “… Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan….” (Qs. al-Baqarah [2]: 213) dan kadang dengan kata “rusulana”: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.” (Qs. al-Hadid [57]: 25)
Tidaklah salah, kita dapat asumsikan bahwa seseorang dalam syarat-syarat tertentu mempunyai maqam nubuwwah (kenabian) tapi belum diberi tugas risalah dan pada zaman kemudian baru dia dipilih sebagai rasul; akan tetapi kebalikan dari qadiyah ini tidak logis. Maksudnya, pemilihan untuk maqam risalah seseorang tanpa memiliki maqam kenabian dan tidak diwahyukan kepadanya syariat Ilahi adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Poin ini juga perlu diingat bahwa kendatipun nabi pemilik syariat tidak lebih dari lima orang –yaitu Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Isa As, dan Nabi Muhammad Saw- akan tetapi wahyu kenabian dan syariat tidak terkhususkan hanya kepada mereka, melainkan dalam hal ini para nabi Tuhan berserikat semuanya. Hatta para nabi sebelum Nabi Nuh As, kendatipun mereka ini tidak mempunyai syariat dengan makna mustalah disertai dengan kitab, akan tetapi mereka juga menerima wahyu Ilahi dan apa yang menjadi kebutuhan mereka untuk memberi hidayah masyarakat diwahyukan kepada mereka. Oleh karena itu, khâtamiyyah dalam pembahasan nubuwwah menjelaskan tiga matlab berikut ini:
1- Setelah Nabi Islam Muhammad Saw, tidak akan dipilih lagi seseorang sebagai nabi dari sisi Tuhan; yakni tidak ada lagi wahyu diturunkan kepada seseorang sehingga dia menjadi nabi Tuhan;          
2- Setelah Nabi Muhammad Saw dan syariat Islam, tidak akan diturunkan lagi syariat lain dari sisi Tuhan;
3- Setelah Nabi Muhammad Saw tidak akan ada seorangpun yang diutus sebagai rasul Tuhan yang bertugas menyampaikan syariat baru kepada masyarakat.
Mesti diketahui bahwa berakhirnya pintu wahyu dan kenabian, syariat dan risalah, tidak memestikan berakhirnya pintu ilham dan terputusnya setiap bentuk hubungan manusia dengan alam gaib. Akan tetapi manusia tetap dapat menemukan hakikat dan makrifat dari alam gaib dari jalan berkomunikasi dengan para malaikat; sebagaimana yang dibaca dalam hadits-hadits bahwa terdapat orang-orang dari umat-umat sebelumnya dan orang-orang dari umat Islam yang kendatipun tidak mendapatkan maqam kenabian dan risalah, tetapi mereka memperoleh ilham dan berbicara dengan para malaikat; orang-orang seperti ini dalam istilah disebut sebagai “muhaddats”.[4]  

Dalil-dalil Khâtamiyyah
Khâtamiyyah merupakan keyakinan pasti dan daruri agama Islam. Sebagaimana keyakinan terhadap kenabian Nabi Islam Saw yang menjadi kedarurian agama Islam maka demikian pula keyakinan terhadap khâtamiyyah ini. Oleh karena itu, mengingkarinya akan menyebabkan kekufuran.
Prinsip khâtamiyyah Nabi Islam bermakna bahwa Nabi Muhammad Saw adalah nabi Tuhan yang paling akhir dibangkitkan dari silsilah nabi-nabi yang diutus Tuhan dan sesudah beliau tidak akan ada lagi nabi yang dibangkitkan sampai hari kiamat. Kebangkitan nabi baru sesudah Nabi Islam Saw dapat dikonsepsi dalam dua bentuk:
- Nabi baru mempunyai syariat baru yang menggantikan syariat agama Islam;
- Nabi baru tidak membawa syariat baru, akan tetapi sebagai muballig agama Islam.[5]
Konsep khâtamiyyah dalam hal ini bertentangan dengan kedua bentuk konsepsi kebangkitan nabi baru sesudah Nabi Islam Saw tersebut di atas.
Adapun dasar dan landasan daripada khâtamiyyah adalah ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat mutawatir yang akan kami sebutkan sebagian dari mereka berikut ini:

Dalil Pertama
Salah satu dalil jelas tentang khâtamiyyah adalah ayat 40 surah al-Ahzab: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (Qs. al-Ahzab [33]: 40); Kandungan  ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Rasul Tuhan dan nabi Ilahi yang paling terakhir serta dengan perantaraan beliau kenabian ditutup.

Dalil Kedua
Tuhan, memperkenalkan al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci yang mengandung seluruh hakikat-hakikat wahyu dan dengan perantaraan turunnya maka tahapan tasyri’ Tuhan mencapai pada tahapan akhir dan kesempurnaan. Dengan demikian tidak akan terjadi lagi pergantian dan perubahan di dalam syariat Tuhan. Sebagaimana Tuhan berfirman: “Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu secara rinci? Orang-orang yang telah Kami beri kitab mengetahui benar bahwa (al-Qur’an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
“Dan telah sempurna firman Tuhanmu (al-Qur’an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. al-An’am[6]: 114-115)
Dalam kedua ayat ini dijelaskan bahwa tidaklah pantas manusia memilih hakim selain Allah Swt, sebab Dia telah menurunkan kitab syariat secara rinci kepada mereka (yakni al-Qur’an) dan kalimat-kalimat tasyri’ Tuhan sempurna berasaskan kebenaran dan keadilan serta kalimat-kalimat Tuhan ini tidak akan mendapatkan lagi perubahan dan pergantian.

Dalil Ketiga
Al-Qur’an, adalah sebuah kitab suci yang diturunkan untuk memberi peringatan dan hidayah petunjuk kepada setiap individu manusia dalam segala tempat dan seluruh zaman. Sebagaimana firman-Nya: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi peringatan kepada seluruh alam.” (Qs. al-Furqan[25]: 1)
Kata “alam” dalam bahasa mempunyai penggunaan yang luas. Kata ini meliputi segala sesuatu yang keberadaannya merupakan alamat dan petunjuk atas wujud Tuhan serta dengannya dapat diketahui akan eksistensi-Nya. Adapun kata “nadzîr” (peringatan), menjadi bukti bahwa manusia dan maujud-maujud sepertinya, mempunyai kesanggupan rasional serta dapat menerima peringatan dan hidayah tasyri’i. Dan dikarenakan dalam ayat ini tidak disebutkan kait tempat dan zaman maka hal ini menunjukkan bahwa peringatan dan hidayah al-Qur’an meliputi setiap individu manusia dalam segala tempat dan seluruh zaman.
Dalam ayat 28 surah Saba’ disebutkan: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (Qs. Saba’[34]: 28) dan dalam ayat 19 surah al-An’am dikatakan: “…Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (al-Qur’an) kepadanya.” (Qs. al-An’am[6]: 19)
Secara prinsipal, semua ayat yang menunjukkan atas keumuman kenabian Nabi Islam Muhammad Saw dan syariat Islam, juga menunjukkan atas khâtamiyyah-nya; sebab pengkhususan keumuman hanya dengan zaman beliau adalah menyalahi kandungan lahiriah ayat-ayat.      

Dalil Keempat
Dalam hadits “manzilah”, yang merupakan hadits mutawatir, dijelaskan bahwa sesudah Rasul Muhammad Saw tidak akan dibangkitkan lagi seorang nabi: Engkau (Ali) di sisiku ibaratnya Harun di sisi Musa, kecuali bahwasanya tidak ada lagi nabi sesudahku.
Di samping hadits ini, terdapat hadits-hadits lain yang juga menunjukkan atas khâtamiyyah. Hadits-hadits tersebut meskipun secara lafazh tidak mutawatir akan tetapi dari segi maknawi adalah mutawatir. Mengingat bahwa pembahasan khâtamiyyah ini merupakan hal yang pasti di kalangan kaum muslimin maka kami merasa tidak butuh untuk menukilkan dalil-dalil hadits lainnya tersebut.[6]

Menjawab berbagai Sanggahan
1. Bagaimana bisa Nabi Muhammad Saw merupakan paling akhirnya nabi sementara Nabi Isa As akan datang pada akhir zaman? Bukankah dalam bentuk ini maka terdapat seorang nabi di tengah-tengah masyarakat sesudah nabi Islam?
Jawab: Nabi Isa As telah dipilih sebagai nabi sebelum kedatangan Rasulullah Saw dan beliau akan datang lagi pada akhir zaman dalam keadaan beliau akan beramal sesuai dengan syariat Islam. Oleh karena itu, beliau bukanlah seorang nabi baru dan tidak membawa syariat baru.[7]

2. Salah satu makna daripada khâtam adalah cincin dan ini bisa bermakna bahwa beliau Saw seperti cincin di antara para nabi-nabi. Dan ini merupakan kinayah bahwa beliau mempunyai maqam yang sangat tinggi di antara mereka. Sebagaimana cincin merupakan penghias tangan maka Rasulullah Saw adalah penghias dalam silsilah para nabi As.
Jawab: Pemutlakan lafazh khâtam dengan makna cincin bukanlah pengertian hakiki dari kata ini, makna hakiki kata khâtam –sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya- adalah akhir sesuatu atau wasilah berakhirnya sesuatu atau suatu pekerjaan. Dan dalam masyarakat Arab, hal yang resmi dilakukan mereka adalah memberi stempel surat-surat yang telah ditulis dengan cincin dan ini merupakan alamat bahwa surat tertulis tersebut telah berakhir dan tidak boleh ditambahkan lagi sesuatu atasnya. Dengan itu mereka menyebut cincin dengan khâtam.
Oleh karena itu, penggunaan lafazh khâtam dalam makna cincin digunakan apabila menunjukkan: Pertama, sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan (dalam hal ini penulisan surat-surat). Kedua, terdapat karinah lafzhi dan bukan lafzhi terhadap bentuk pekerjaan dan dalam ayat 40 surah al-Ahzab tersebut tidak terdapat kedua-duanya; sebab, penggunaan lafazh khâtam yang bermakna hiasan, terhadap seseorang, tidak digunakan dalam kalam Arab dan dalam ayat tersebut tidak terdapat karinah bagi iradah makna demikian ini.[8]
Dan untuk lebih gamblangnya kesalahan pemaknaan penggunaan kata khâtam dengan makna cincin dalam ayat tersebut, kami sajikan bukti-bukti berupa hadits-hadits di bawah ini yang menerangkan maknanya dengan pengertian sesuai yang telah kami sebutkan sebelumnya:
- Anas berkata: Saya mendengar dari Rasulullah Saw bahwa beliau bersabda: Saya adalah penutup para nabi-nabi dan engkau wahai Ali adalah penutup para washi, dan berkata Amirulmukminin Ali As: Nabi Muhammad Saw mengakhiri (menutup) seribu nabi dan saya mengakhiri seribu washi….[9]
- Rasulullah Saw bersabda: Saya dari segi penciptaan adalah paling awalnya para nabi dan dari segi pengutusan adalah paling akhirnya mereka.[10] Maksud dari paling awal ditinjau dari aspek penciptaan adalah ruh beliau, bukan penciptaan badannya. Paling awalnya penciptaan ruh Nabi Saw dapat ditafsirkan dengan shaâdir awwal (maujud yang paling awal termanifestasi) atau zhâhir awwalnya (maujud yang paling awal menampak) beliau Saw.[11]    
- Imam Muhammad Baqir As dalam menjelaskan ayat 40 surah al-Ahzab tentang kalimat “khâtama nabiyyin” berkata: Yakni tidak ada Nabi sesudah Muhammad Saw.[12]

3. Dalam ayat 40 surah al-Ahzab disebutkan bahwa Nabi Islam Saw adalah paling akhirnya nabi Tuhan, bukan paling akhirnya rasul Tuhan. Oleh karena itu, ayat tersebut tidak menafikan kedatangan rasul baru dan syariat baru.
Jawab: Tentang relasi antara kenabian dan risalah terdapat dua pandangan: Pertama, keduanya dari segi misdak adalah saling memestikan dan musâwiq (sama) antara satu dengan lainnya; yakni semua orang yang mencapai maqam kenabian, juga memiliki maqam risalah. Kedua, kenabian adalah lebih umum daripada risalah; yakni semua rasul adalah nabi, tetapi sebagian nabi bukanlah rasul. Berdasarkan kedua pandangan tersebut maka keberakhiran kenabian meniscayakan keberakhiran risalah; sebab jika dinafikan salah satu dari perkara yang saling memestikan maka akan meniscayakan penafian yang lainnya dan penafian yang lebih umum juga akan meniscayakan penafian yang lebih khusus.

4. Tuhan menjelaskan kepada Bani Adam bahwa setiap kali seorang rasul datang kepadamu dan membacakan ayat-ayat Tuhan untukmu, barangsiapa yang memilih jalan takwa dan saleh maka dia akan aman dari kesesatan dan adzab: “Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Qs. al-A’raf [7]: 35)
Dari kalimat یأتينّکم yang merupakan fiil mudhâri’, dipahami bahwa pintu risalah selamanya terbuka dan tidak akan tertutup serta berakhir.
Jawab: Kalimat tersebut tidak digunakan lebih dari yang dimaksud bahwa masalah risalah akan terulang; adapun perkara ini akan berlanjut sampai hari kiamat atau tidak, tidaklah didapatkan pengertian darinya. Dan jika lahiriah ayat menunjukkan matlab demikian itu juga maka ayat “…akan tetapi rasul Tuhan dan penutup para nabi…” (Qs. al-Ahzab [33]: 40) dan dalil-dalil lainnya berkenaan khâtamiyyah menjadi kait atasnya. Akan tetapi pengertian seperti itu tidak akan dihasilkan dari  zuhur ayat 35 surah al-A’raf tersebut, sebab kalimat syartiyyah, pada galibnya hanya menjelaskan hubungan syarat dan jawabannya satu sama lain, tidak menunjukkan pengulangan syarat yang memestikan pengulangan jawabannya.

5. Al-Qur’an menjelaskan bahwa jalan keselamatan dan kebahagiaan adalah iman kepada Tuhan, hari kiamat, dan amal saleh; baik dia itu adalah orang Islam, Yahudi, Nasrani, atau Shâbii; sebagaimana dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shâbiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebaikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Qs. al-Baqarah[2]: 62)
Jelas bahwa matlab ini berseberangan dengan prinsip khâtamiyyah; sebab salah satu makna khâtamiyyah adalah syariat Islam menâsikh (menghapus) syariat-syariat sebelumnya dan dengan kedatangannya maka masa berlaku syariat-syariat sebelumnya telah berakhir.
Jawab: Isykal dan syubhah ini, juga mempertanyakan kemenduniaan syariat Islam dan sekaligus menyoal kepamungkasannya; akan tetapi ayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan atas matlab yang disebutkan di atas.
Dengan memperhatikan bentuk ayat, dapat dikatakan bahwa ayat di atas menjelaskan suatu prinsip universal tentang hidayah dan keselamatan. Bahwasanya hanya dengan memandang diri sebagai penganut Islam, Yahudi, Nasrani, atau Shâbii, tidak akan menyebabkan seseorang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan akhirat; akan tetapi keselamatan dan kebahagiaan manusia bergantung kepada iman hakiki dan amal saleh.  Dan adapun iman hakiki dan amal saleh dalam setiap zaman, mesti berasaskan dengan syariat apa yang berlaku di zaman tersebut. Karena itu, ayat ini tidak memperlihatkan penjelasan matlab demikian ini dengan bentuk pernyataan: “…barang siapa beriman di antara mereka…” sehingga cakupannya meliputi keimanan terhadap syariat-syariat yang disebutkan sebelumnya dalam priode diutusnya Nabi Muhammad Saw dan berlakunya syariat yang dibawanya.
Oleh karena itu, ayat-ayat lain al-Qur’an yang menunjukkan atas keumuman dan kepamungkasan syariat Islam, menjadi penjelas bahwa syariat Islam menâsikh (menghapus, membatalkan) syariat-syariat lainnya dan dengan kedatangannya maka iman dan amal saleh mesti bersaskan atasnya sehingga manusia dapat mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hakiki.

Beberapa Pertanyaan Seputar Khâtamiyyah
Sejak dahulu berbagai pertanyaan seputar khâtamiyyah telah diutarakan. Dan di zaman sekarang ini pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang diungkapkan dalam bentuk baru dan di samping itu juga muncul pertanyaan-pertanyaan yang baru sama sekali, dan di zaman akan datang juga akan muncul pertanyaan yang sama dalam bentuk yang lebih baru atau lebih modern dari bentuk sebelumnya. Sebagian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
1- Dengan memperhatikan perjalanan kesempurnaan manusia, bagaimana mungkin manusia tidak mempunyai seorang pemimpin Ilahi?
2- Apakah undang-undang zaman kenabian dapat mengantisipasi dan menyelesaikan masalah-masalah sekarang ini?
3- Apakah dengan terputusnya wahyu dan kenabian, manusia mesti tidak mendapatkan akses lagi berhubungan dengan alam gaib?

Jawaban: Dengan menjelaskan beberapa perkara yang urgen dan daruri maka jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi jelas:

1. Burhan dalam al-Qur’an
Al-Qur’an, di samping memperkenalkan dirinya sebagai burhan dan cahaya, juga memperlihatkan berbagai istidlal dalam kandungan dan isinya, sebab itu al-Qur’an senantiasa menuntut burhan dari yang lainnya: “…apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Katakanlah (Muhammad), “Kemukakanlah burhan dan dalil-dalilmu!….” (Qs. al-Anbiyaa[21]: 24)
Al-Qur’an, dia sendiri adalah burhan dan juga mengemukakan dalil dan burhan. Berasaskan ini, al-Qur’an mengatakan: “Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu burhan (bukti kebenaran) dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).” (Qs.an-Nisa[4]: 174)
Oleh karena itu, al-Qur’an adalah burhan dalam istilah ahli hikmah (filosof) dan juga burhan dalam istilah ahli irfan serta juga burhan dalam istilah ahli hadits dan nakli.[13]          
Allamah Thabathabai dalam hal ini berkata: Jika anda meneliti secara sempurna Kitab Ilahi dan merenungkan secara dalam ayat-ayatnya, mungkin anda akan menyaksikan lebih dari tiga ratus ayat yang mengajak masyarakat kepada pemikiran, perenungan, dan rasionalitas. Atau menampakkan bagaimana Nabi Saw beristidlal untuk mengafirmasikan hak dan kebenaran serta meruntuhkan kebatilan. Atau menukil istidlal-istidlal dari para nabi As dan wali-wali-Nya -seperti, Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Lukman, orang mukmin keluarga Fir’aun, dan….
Tuhan dalam al-Qur’an tidak memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya -hatta satu ayat- (untuk menerima dan mengamalkan) apa yang tidak dipahaminya atau beriman kepada segala sesuatu yang datang dari sisi-sisi-Nya (kendatipun tidak diketahuinya) atau menapaki suatu jalan (beriman dan beramal) secara membabi buta; sampai-sampai undang-undang dan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dimana akal manusia tidak sampai kepada detail dan rincian parameter serta tolok ukurnya dan juga sesuatu yang  dalam pelaksanaannya berada dalam kebutuhannya, niscaya Dia (Tuhan) beristidlal tentangnya dan membawakan sebab (bukti dan dalil) terhadapnya.[14]  
Oleh karena itu, al-Qur’an dan ucapan para nabi As adalah paling argumentatifnya ucapan dan paling baiknya penjelasan dalam mengemban tujuan agung agama dan syariat. Kendatipun tentunya burhan-burhan al-Qur’an bukan dari jenis argumen dalam istilah filsafat dan kalam, akan tetapi dia berbicara dengan bahasa wahyu dan bahasa fitrah. Terkadang al-Qur’an berbicara seperti burhan siddiqin, membawa pemikiran kita dari wajibul wujud kepada ciptaan dan terkadang seperti burhan keteraturan, mengantar akal kita dari keteraturan sistem penciptaan kepada hikmah Tuhan yang hakîm; dan suatu waktu dia membawa kita dari kejamakan kepada keesaan dan diwaktu lain dia mengantar kita dari ketunggalan kepada kejamakan.
Dalam ayat-ayat permulaan surah ar-Ra’d, Tuhan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak dan mengisahkan kekuasaan-Nya dalam menciptakan dan mengatur mereka supaya manusia berpikir dan sadar tentangnya: “Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu. Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (Qs. ar-Ra’d[13]: 2-4)
Adapun bahwasanya al-Qur’an mematahkan dalil para penentang wahyu dan memandangnya sebagai batil dan sia-sia, seperti yang dikatakannya: “…hujjah dan dalil mereka adalah sia-sia…” (Qs. asy-Syûrâ[42]: 16), sesudah al-Qur’an menyebutkan dalil mereka dan membatilkannya; sebab penyembah berhala membuat alasan bahwa jika Allah menghendaki, tentu kami tidak menyekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apapun. (Qs. al-An’am[6]: 148)
Bentuk istidlal seperti ini dipandang batil oleh al-Qur’an, sebab dia mencampurkan antara iradah takwini dan tasyrii.[15]
Tuhan, secara takwini kuasa untuk mencegah kesyirikan mereka, tetapi mereka adalah maujud bebas memilih (mempunyai ikhtiar) dan setiap pekerjaan yang ingin mereka lakukan, mereka dapat lakukan. Karena itu, kendatipun Tuhan melarang mereka berbuat syirik secara tasyrii, tetapi mereka mempunyai ikhtiar untuk memilih tidak melanggar larangan Tuhan atau melanggarnya (dan dalam hal ini tidak ada campur tangan iradah takwini Tuhan).  
Demikian juga al-Qur’an menukil dan membatilkan istidlal mereka atas kelayakan berhala-berhala untuk mendekatkan mereka kepada Tuhan:“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (Qs. az-Zumar [39]: 3)
Begitu pula al-Qur’an menyetir dan membatilkan istidlal mereka atas kelayakan berhala-berhala sebagai pemberi syafaat bagi mereka di sisi Tuhan: “Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” (Qs. Yunus[10]: 18)
Al-Qur’an menukil dan membatilkan semua bentuk istidlal-istidlal mereka itu, dimana mereka berargumen dengan menjadikan berhala-berhala sebagai perantara “mendekatkan mereka kepada Tuhan” dan “pemberi syafaat bagi mereka di hadapan Tuhan” sebagai “middle terme” dan al-Qur’an setelah menukilnya secara panjang lebar dan mengisykalnya, menyatakan bahwa semua itu “…hujjah dan dalil mereka adalah batil (dan sia-sia)…” (Qs. asy-Syûrâ[42]: 16)
         
2. Khatamiyyah Menurut Pandangan Akal
Sebagaimana kita ketahui bahwa prinsip kenabian dapat diafirmasikan dengan dalil eksternal agama (dalil akal) dan juga dengan dalil internal agama (dalil nakli). Akan tetapi kita tidak mempunyai dalil akal atas kedarurian terputusnya wahyu dan terputusnya kenabian; yakni akal tidak memandang sebagai suatu perkara mustahil kedatangan nabi lain sesudah Nabi Muhammad Saw, kecuali dalil-dalil nakli yang membuat akal menerima khâtamiyyah. Meskipun pada hakikatnya kalbu yang bersih dan arif dapat menyaksikan terputusnya kenabian dan jalan ini –yakni syuhud dan penyaksian khâtamiyyah- tidak terkhususkan bagi nabi, tetapi lebih umum dari nabi, imam, dan maksumin. Sebagai contoh dari matlab ini, penyaksian wahyu hadhrat Ali As dan pembenaran dari Nabi Saw: Wahai Ali! Apa yang aku dengar, engkau juga mendengarnya.[16]
Oleh karena itu, akal manusia tidak dapat menghukumi dengan sendirinya kemestian terputusnya wahyu, akal hanya dapat mengetahui akhir kenabian ini lewat suatu ilmu yang jika Tuhan tidak mengajarkan kepada nabi-Nya, beliau sendiri juga tidak mengetahui perkara tersebut. Sebab itu, jika Nabi Saw tidak mendeklarasikan khâtamiyyah, tidak satupun orang yang dapat menjangkau makrifat rahasia ini.
Putusnya wahyu tidak bermakna bahwa apa yang dibawa agama yang tadinya adalah benar dan kokoh, sesudah kepergian pembawanya dan wahyu terputus maka berganti menjadi batil dan fatamorgana. Sebab agama Tuhan tidak akan didatangi kemusnahan dan tidak juga akan dibatilkan oleh sesuatu buatan manusia: “(Yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang)….” (Qs. Fussilat[41]: 42) Oleh karena itu, seluruh isi dan kandungan al-Qur’an dari masa diturunkannya sampai hari kiamat akan tetap bertahan dan langgeng; meskipun kenabian dari sisi pembawa tasyrii telah terputus dan juga tidak akan datang lagi syariat baru. Adapun jika syariat nabawi ditutup (tidak diberlakukan) maka yang akan menjadi penggantinya tentunya maktab pemikiran manusia dan ini tidak lain misdak dari klaim Firaun: “(Seraya) berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (Qs. an-Nâzi’ât[79]: 24) dan hal demikian ini adalah suatu yang batil ditinjau dari segi akli dan nakli.
Berasaskan ini, pada dasarnya manusia tidak dilepaskan begitu saja, akan tetapi rububiyyah Tuhan tetap berlanjut mengatur manusia lewat al-Qur’an dan hadits-hadits nabi-Nya dan dengannya Tuhan telah menyiapkan alat dan piranti istinbat dan istikhrâj bagi undang-undang dan hukum-hukum baru. Dan perlu diketahui bahwa akal itu sendiri merupakan salah satu sumber agama, bukan sesuatu yang berhadapan dengan agama. Karena itu, pembagian dalil kepada agama dan rasionalitas (berhadap-hadapan) adalah suatu kesalahan besar. Akal merupakan salah satu alat penyingkapan makrifat agama –yang sumbernya berpangkal dari iradah Tuhan- dan juga akal dapat mengetahui tentang apa yang dikatakan oleh wahyu dan nakli dan dengan perantaraannya ayat-ayat al-Qur’an diteliti dan disandingkan dengan riwayat-riwayat, dan dari percampuran keduanya itu istinbat dan istikhrâj mengambil bentuknya.
Akal merupakan pelita yang sangat terang yang berkhidmat pada wahyu dan dengan pertalian keduanya syariat Islam bertahan dan langgeng. Dan sumber kelanggengan ini berpangkal dari kekontinyuan rububiyyah Tuhan, yang mana mengatur manusia setiap detiknya dan memanifestasikan aturan-aturan-Nya sesuai kadar kebutuhan manusia.

3. Wilayat, Pilar Kenabian dan Imamah
Nubuwwah mempunyai suatu pilar penegak yang disebut wilayat. Dan dia adalah maqam batini yang hanya dapat dicapai dengan melalui jalan penghambaan dan qurbah nawâfil dan farâidh. Maqam sangat bernilai ini yang menjadi pilar penegak kenabian dapat juga dicapai oleh orang lain dan menjadi wali (dalam hal ini orang yang mencapai maqam tinggi ini, dia akan mendapatkan penyaksian dan penyingkapan alam gaib, tetapi tidak menerima wahyu syariat); yakni dia mencapai maqam wilayat tetapi tanpa kenabian.
Dengan berakhirnya kenabian, maqam wilayat tidak terputus; akan tetapi secara khusus terdapat wilayat bagi pemimpin agama (baca: Imam) dan para wali lainnya. Para pemimpin ini, dikarenakan memiliki wilayat dan imamah maka sesudah terputusnya wahyu dan tersempurnakannya garis-garis pedoman agama di tangan Nabi Saw, mereka menjadi penjaga, penafsir, dan melakukan pengajaran agama serta menyingkap hakikat-hakikat agama, dasar dan prinsip keyakinan, akhlak, fikh, kemasyarakatan, kedokteran, sistem pemerintahan,[17] dan bidang-bidang lainnya yang menjadi kebutuhan masyarakat Islam.
Oleh karena itu, pernyataan yang mengatakan bahwa dengan meninggalnya Nabi Saw maka manusia telah bebas dari wilayat tasyrii, ini adalah suatu pernyataan yang tidak mengandung nilai makrifat agama; sebab para pengganti nabi-nabi –khususnya para pengganti Nabi Islam Saw- melanjutkan apa yang dilakukan oleh Nabi Saw. Mereka bukanlah nabi dan mereka tidak memiliki wahyu tasyrii dan tidak membawa hukum baru, akan tetapi dari aspek wilayat mereka melakukan pekerjaan para nabi; sebab wilayat yang terdapat dalam kenabian, juga terdapat dalam wujud imam maksum.[18]
Wilayat ini, bukanlah wilayat maknawi dan qurb nawâfil dan farâidh, tetapi ia adalah wilayat tasyrii dan kepemimpinan umat yang tidak terputus; sebagaimana Tuhan berfirman: “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.” (Qs. al-Maidah[5]: 55)
Rasulullah Saw di Gadir Khum menekankan atas makna ini dan bersabda: Apakah aku tidak lebih pantas kepadamu dari diri kamu sendiri? Semua menjawab: Ya!; Ketika itu beliau bersabda: Maka barangsiapa aku maulanya (pemimpinnya) maka ini Ali maulanya.[19] Oleh karena itu, sepeninggal Rasulullah Saw, tanggungjawab menjelaskan makna dan menafsirkan ayat-ayat, memutuskan hukum, dan apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat yang hidup dan dinamis, berada di bawah kepemimpinan dan wilayat Ali As. Ucapan dia adalah ucapan Rasulullah Saw dan jika  disuatu tempat dibutuhkan istidlal maka dia membawakan dalil dan memecahkannya dengan istidlal dan apa yang menurutnya halal, adalah halal dan apa yang dihitungnya haram, adalah haram. Dan jika syarat-syarat tertentu menyertainya dan memenuhi untuk dia mengambil khilafah zahiri (lahiri) maka dia memegangnya untuk mengimplementasikan dan mengaplikasikan syariat agama dalam pemerintahan dengan bentuknya yang hakiki (sebagaimana yang dijalankan junjungannya Nabi Saw).
Dalam hal ini, masyarakat wajib menerima hukum dan perintahnya, sebagaimana hukum dan perintah Tuhan serta Rasul-Nya: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. al-Ahzab[33]: 36)    
Oleh karena itu, orang yang berkata: Bertanyalah padaku sebelum engkau kehilangan diriku; atau berkata: Saya lebih mengetahui jalan-jalan langit ketimbang jalan-jalan bumi[20], dia adalah pemilik wilayat yang disebutkan dan dengan pengertian ayat: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri….” (Qs. al-Ahzab [33]: 6) maka dia juga memiliki wilayat tasyrii nabawi, dan sesudah dia, imam-imam berikutnya juga memiliki kepemimpinan dan wilayat tasyrii seperti ini sampai imam Mahdi As, dimana agama akan berkembang dan maju dalam berbagai aspeknya serta menjasad dalam kehidupan masyarakat.              

Sumber: www.wisdoms4all.com/ind
[1] . Ibnu Fâris, Muqâyasu al-lugah, Jld. 2, Hal. 245.
[2] . Jawâdy Amuly, Wahy wa Nubuwwat Dar Qurân, Hal. 400.
[3] . Ali Rabbani Gulfaigani, Kalam-e Tathbiqi  (Nubuwwat, Imamat wa Maad), Hal. 106.
[4] . Tentang masalah ini merujuk kepada kitab-kitab; Ushul Kâfi, Jld. 1, Sahih Bukhari, Jld. 3, dan Sahih Muslim, Jld. 4.
[5] . Muhammad Saidi Mehr, Amuzasy-e Kalam-e Islami, Jld. 2, Hal. 124.
[6]. Untuk mengetahui hadits-hadits berkenaan matlb ini merujuk pada kitab Mafâhim Al-Qur’an, Jld. 3, Hal. 148-167.
[7] . Zamaksyari, Tafsir Al-Kassyâf, Jld. 3, Hal. 544.
[8] . Ali Rabbani Gulfaigani, Kalam-e Tathbiqi (Nubuwwat, Imamat, wa Maad), Hal. 109.
[9] . Tafsir Nur Atssaqalain, Jld. 4, Hal. 284.
[10]. Ibid.
[11]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat Dar Qur’an, Hal. 401.
[12]. Allamah Majlisi, Biharul Anwâr, Jld. 22, Hal. 218.
[13]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat dar Qur’an, Hal. 405.
[14]. Thabathabai, Tafsir Al-Mizan, Jld. 6, Hal. 260.  
[15]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat dar Qur’an, Hal. 407.
[16]. Allamah Majlisi, Biharul Anwâr, Jld. 14, Hal. 476.
[17]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat dar Qur’an, Hal. 411.
[18]. Ibid.
[19]. Allamah Majlisi, Biharul Anwâr, Jld. 21, Hal. 387.
[20]. Nahjul Balagah, Khutbah 89.

Menalar Keharusan Adanya Nabi dan Wahyu

Menalar Keharusan Adanya Nabi dan Wahyu

Tim Al-Balagh



Pembahasan kita kali ini adalah di samping mengurai keniscayaan pengutusan nabi juga menalar pesan-pesan langit yang dibawa oleh para duta Ilahi ini. Pada kesempatan yang lalu, bagian pertama dari sistematika pembahasan “Kenabian” ini, kita telah, kurang-lebihnya, mengetahui secara global ihwal adanya piranti lunak selain indra, akal dan intuisi, yaitu keharusan pengutusan nabi setelah penetapan keberadaan Tuhan, penciptaan manusia yang dibekali oleh Tuhan, karena tuntutan rahmat-Nya, dengan duta langit yang berperan melenggangkan jalan manusia menapaki kesempurnaan insaniah.

Andaikan saja, manusia pada zaman sekarang ini telah mampu merumuskan sebuah sistem perundang-undangan yang sempurna dan komprehensif melalui pengalaman selama ribuan tahun, dan sistem ini sanggup menjamin  kebahagiaan yang abadi dan ukhrawi, maka pertanyaan yang masih menghadang umat manusia ialah; apakah Kebijaksanaan Allah dan tujuan Ilahi penciptaan mereka akan membiarkan milyaran manusia jaman dahulu tetap dalam kebodohan?

Kesimpulannya, bahwa tujuan penciptaan manusia, sejak awal hingga akhir, akan terwujud secara nyata bila tersedia perangkat  selain indra dan akal untuk mengetahui hakekat kehidupan ini dan tugas-tugas yang sifatnya individu maupun kelompok. Perangkat itu tidak lain adalah nabi dan wahyu Ilahi.



Mengapa Nabi Perlu Diutus?

Masalah ini merupakan masalah yang paling penting dalam prinsip Kenabian. Masalah mengapa nabi perlu di utus kepada manusia ini  dapat dibuktikan oleh argumentasi berikut ini yang tersusun dari tiga premis.

Pertama, bahwa tujuan penciptaan manusia ialah mencapai kesempurnaannya, dengan cara mengamalkan perbuatan-perbuatan pilihannya (ikhtiari) demi mencapai puncak kesempurnaan tersebut yang tidak mungkin dapat dicapai kecuali dengan usaha, kehendak, dan pilihannya. Dengan ungkapan lain, manusia itu diciptakan oleh Allah Swt. agar –dengan amal ibadah dan ketaatannya kepada Allah– berhak memperoleh rahmat Ilahi yang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang sempurna. Dan hanya kehendak Ilahi yang bijaksanalah yang  berkaitan secara langsung (bil-asalah) dengan kesempurnaan dan kebahagiaan manusia. Akan tetapi, karena kesempurnaan ini tidak akan dapat dicapai kecuali dengan cara pengamalan dan ibadah yang sifatnya ikhtiari (pilihan), maka kehidupan umat manusia ini terpecah menjadi dua  jalan, yaitu jalan kanan (yamin) dan jalan kiri (yasir). Tujuan adanya dua jalan ini ialah supaya manusia bisa memilih jalan yang dikehendakinya. Jelas bahwa jalan kiri itu menuju kesengsaraan dan bencana. Di sini, kehendak Allah pun berkaitan dengan jalan kiri tersebut, namun secara tidak langsung (bittaba’).   Premis ini telah dijelaskan pada pembahasan Hikmah dan Keadilan Ilahi.

Kedua, usaha sengaja manusia itu, di samping membutuhkan kemampuan dan tersedianya faktor-faktor  eksternal  serta adanya kecondongan dan motivasi internal untuk melakukan suatu perbuatan, ia juga membutuhkan pengetahuan yang benar tentang perbuatan baik dan buruk, tentang jalan-jalan yang benar dan jalan-jalan yang salah.  Seseorang bisa memilih kesempurnaannya dengan penuh kesadaran  dan kebebasan bilamana ia mengetahui tujuan dan jalannya serta segala kendala yang akan menghambatnya.

Dengan demikian, Kebijaksanan (hikmah) Ilahi menuntut tersedianya sarana bagi manusia  agar mereka dapat memperoleh pengetahuan tentang hal-hal di atas. Karena jika tidak demikian, Allah tidak ubahnya dengan orang yang mengundang teman untuk bertamu ke rumahnya, akan tetapi dia tidak mau memberikan alamat rumah, tidak pula memberitahu jalan yang semestinya ditempuh. Jelas bahwa perbuatan semacam ini tidak sesuai dan bertentangan dengan sifat kemahabijaksanaan Allah, juga tidak sesuai  dengan tujuan-Nya (dalam mencipta). Premis kedua ini begitu jelas sehinga tidak memerlukan penjelasan lebih banyak lagi.

Ketiga, pengetahuan manusia biasa -yang pada umumnya diperoleh melalui kerjasama indra dan akal- meskipun mempunyai peran begitu efektif dalam memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya, namun itu tidak cukup untuk mengenal jalan kesempurnaan dan kebahagiannya yang hakiki dalam semua bidang, baik yang bersifat individu maupun kelompok, bendawi maupun maknawi,  duniawi maupun ukhrawi. Oleh karena itu, jika tidak ada jalan lain untuk menutupi berbagai kekurangan dan kekosongan tersebut, tujuan Allah dari penciptaan manusia ini menjadi sia-sia.

Berdasarkan tiga premis di atas ini, dapat disimpulkan bahwa Hikmah Ilahiyah itu melazimkan adanya sebuah perangkat, selain indra dan akal, bagi umat manusia untuk dapat mengenal jalan kesempurnaan di berbagai bidang, sehingga mereka dapat menggunakan jalan tersebut, baik secara langsung maupun melalui individu atau kelompok. Perangkat ini adalah wahyu yang Allah berikan kepada para nabi agar mereka dapat memanfaatkan wahyu tersebut secara langsung, sedangkan selain mereka dapat menggunakan dan memanfaatkan wahyu tersebut dengan perantara para nabi tersebut, hingga mereka dapat mempelajari segala apa yang mereka perlukan dari wahyu tersebut demi mencapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan yang abadi.

Di antara premis-premis tersebut, barangkali masih terdapat keraguan terutama terhadap premis terakhir. Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menjelaskannya lebih luas lagi hingga kita bisa menyadari kadar pengetahuan manusia dalam menentukan jalan kesempurnaannya dan ketergantungan manusia kepada wahyu.



Kadar Pengetahuan Manusia

Untuk mengetahui jalan kehidupan yang benar pada semua aspeknya, seseorang harus mengetahui  asal usul keberadaannya dan akhir perjalanan hidupnya, hubungannya yang  bisa dijalin dengan makhluk sejenisnya dan dengan semua makhluk, serta pengaruh berbagai hubungan terhadap kebahagiaan dan kesengsaraannya. Di samping itu, dia pun harus mengetahui kadar manfaat dan bahaya, tingkat berbagai maslahat dan mudharat, serta menimbang semua itu agar ia dapat menentukan tugas milyaran manusia yang mempunyai bentuk fisik dan jiwa yang berbeda-beda. Mereka semua hidup di dalam kondisi alam dan sosial yang  berbeda-beda.

Akan tetapi, mengetahui semua persoalan ini bukan hanya sulit bagi individu atau kelompok, bahkan ribuan ahli dan kelompok spesialis dari berbagai cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia pun menemui kesulitan dalam  menyingkap tolok ukur dan formula rumit ini. Mereka juga sulit untuk merumuskannya dalam bentuk undang-undang yang cermat, tepat dan tegas  agar semua maslahat -baik yang bersifat individu maupun kelompok, materi maupun maknawi, duniawi ataupun ukhrawi- dapat terpenuhi bagi semua umat manusia. Tatkala terjadi benturan dan pertentangan antara berbagai maslahat dan mafsadah, dan  hal ini justru seringkali terjadi, dia  dapat menentukan mana yang memang lebih bermaslahat, sehingga pada tahapan praktis ia dapat mendahulukannya di atas yang lain.

Kalau kita perhatikan dengan seksama berbagai perubahan sistem hukum sepanjang sejarah umat manusia, nyatanya sampai hari ini –meskipun berbagai pembahasan dan segala tenaga telah dikerahkan oleh para ahli hukum selama ribuah tahun– belum kita dapati adanya satu sistem hukum yang benar, sempurna dan komprehensif. Kita perhatikan pula bahwa para perancang undang-undang dan lembaga-lembaga hukum di berbagai belahan dunia senantiasa mengakui kekurangan produk hukum yang mereka buat. Maka itu, mereka selalu berusaha untuk merevisi atau menyempurnakannya, dengan cara menghapus  pasalnya, atau menambahkannya, atau memberikan catatan di sisinya.

Hendaknya kita pun tidak lalai bahwa mereka banyak memanfaatkan syariat samawi dan sistem hukum agama dalam menyusun undang-undang tersebut.  Juga kita ketahui bahwa kesungguhan para pembuat undang-undang itu lebih banyak dicurahkan untuk  kepentingan yang sifatnya duniawi dan sosial. Mereka tidak memperhatikan masalah-masalah ukhrawi dan sejauh mana hubungan maslahat ukhrawi tersebut dengan masalah-masalah duniawi.

Apabila mereka juga menganggap penting sisi ukhrawi di dalam masalah ini, mereka tidak akan mampu menemukan kesimpulan yang meyakinkan. Karena, maslahat-maslahat yang bersifat materi dan duniawi –pada batas-batas tertentu– meski bisa dicapai dengan jalan eksperimen dan pengalaman praktis, namun maslahat-maslahat maknawi dan ukhrawi tidak bisa dipastikan melalui eksprimen indrawi, dan tidak mungkin dapat diketahui secara detail. Maka itu, ketika terjadi benturan antara maslahat-maslahat duniawi dan ukhrawi,  mereka tidak dapat mengetahui mana yang lebih penting.

Dengan memperhatikan ihwal perundangan-undangan buatan manusia pada zaman sekarang ini, kita dapat menilai kehandalan ilmu pengetahuan manusia di sepanjang ribuan atau ratusan ribu tahun. Darinya kita menjumpai satu kesimpulan yang meyakinkan bahwa manusia pada abad-abad dahulu lebih lemah dibandingkan dengan manusia pada zaman sekarang ini dalam mengetahui dan menentukan tatanan dan cara hidup yang benar.

Andaikan saja, manusia pada zaman sekarang ini telah mampu merumuskan sebuah sistem perundang-undangan yang sempurna dan komprehensif melalui pengalaman selama ribuan tahun, dan sistem ini sanggup menjamin  kebahagiaan yang abadi dan ukhrawi, maka pertanyaan yang masih menghadang umat manusia ialah; apakah Kebijaksanaan Allah dan tujuan Ilahi penciptaan mereka akan membiarkan milyaran manusia jaman dahulu tetap dalam kebodohan?

Kesimpulannya, bahwa tujuan penciptaan manusia, sejak awal hingga akhir, akan terwujud secara nyata bila tersedia perangkat  selain indra dan akal untuk mengetahui hakekat kehidupan ini dan tugas-tugas yang sifatnya individu maupun kelompok. Perangkat itu tidak lain adalah wahyu Ilahi.

Dari penjelasan di atas, menjadi jelas pula bahwa sesuai dengan argumen ini, manusia pertama itu adalah seorang nabi hingga ia dapat mengenal jalan hidup yang benar melalui wahyu Allah agar dapat merealisasikan tujuan penciptaan Ilahi dalam dirinya. Setelah itu, umat manusia yang lainnya dapat menemukan jalan petunjuk melaluinya.

Membedakan Pengalaman Rohani Sejati dan Gangguan Jiwa


DALAM perjalanan memahami hubungan otak dan teologi, ada hasil yang cukup mencengangkan. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa, ternyata juga bisa merasakan pengalaman rohani layaknya seseorang yang telah menjalani latihan spritualitas selama bertahun-tahun.
“Begitu banyak perspektif pengalaman keberagamaan yang ditelaah secara mendalam. Namun pengalaman keberagamaan dari perspektif neurologi, nyaris tidak dilirik, khususnya dari kalangan agamawan itu sendiri,” kata KH Prof Jalaluddin Rahmat saat mengawali seminar nasional “Neuroteologi dan Pengalaman Rohani Berbasis Otak: Membedakan Pengalaman Rohani Sejati dan Gangguan Kejiwaan”, di Gedung BMDI, Sabtu 22 Januari.

Jalaluddin Rahmat yang akrab disapa Kang Jalal itu lantas memutarkan sebuah acara reality show yang menampilkan ahli anatomi syaraf bernama dr Jill Bolte Taylor. Taylor bercerita tentang sebuah pengalaman rohani yang luar biasa, yang justru dia dapatkan saat mengalami serangan stroke pada 10 Desember 1996. Kala itu, Taylor bukannya panik, tapi merasakan kedamaian yang luar biasa.

Dia mengaku menyaksikan pemandangan-pemandangan spektakuler yang mungkin hanya bisa didapatkan dari cerita-cerita fantasi. Dalam keadaan strokenya itu, Taylor menyatakan telah menyaksikan realitas sejati, di mana dirinya telah berubah menjadi energi dan bergabung dengan semesta.

Dari hasil penelitian, stroke yang dialami Taylor itu akibat adanya kerusakan pada belahan otak kirinya. Otak bagian kiri berfungsi yang menyimpan memori, menganalisa, kritis, stress, cemas dan sejenisnya. Peneliti memastikan saat stroke, otak kiri Taylor benar-benar “mati” dan hanya otak kanannya yang berfungsi. Sementara otak kanan inilah yang berfungsi merasakan kedamaian dan ketenangan batin.

Yang menakjubkan, setelah sembuh dari stroke, Taylor mengaku masih mampu mengalami pengalaman rohani yang luar biasa itu. Dia tinggal fokus memikirkan tuhan dan beberapa saat dia akan berjumpa kembali dengan realitas abadi.

Kang Jalal melanjutkan, jauh sebelum pengakuan Taylor yang mengejutkan dunia itu, masyarakat di masa lalu sempat meyakini orang-orang yang mengalami epilepsi mampu berkomunikasi dengan alam roh. Bahkan, sejumlah tokoh agama dan spiritual sempat dicap menderita halusinasi epilepsi.

Hubungan antara kerusakan otak dan pengalaman rohani inilah yang akhirnya semakin mempertajam keyakinan mereka, bahwa tuhan itu adalah ciptaan otak.

“Golongan ini tidak percaya adanya roh, jiwa atau mind. Pokoknya mind itu hanya ada dalam otak.

Bahkan kata mereka, kita bisa menciptakan pengalaman beragama dengan mengontrol otak. Di dunia kedokteran dewasa ini, malah ada obat tertentu yang bisa memicu perasaan khusyuk seseorang. Dengan zat kimia tertentu, seseorang bisa saja mengalami kehadiran tuhan,” urai pakar komunikasi yang kini mendalami neurologi dan psikologi itu.

Hingga akhirnya, seorang peneliti bernama Andrew Newberg yang kelak menjadi pendiri neuroteologi, berhasil mematahkan hipotesa para peneliti anti tuhan itu. Kata Kang Jalal, bersama rekan-rekannya dan ditunjang peralatan pemindai otak yang canggih, Alper meneliti secara luas orang-orang yang dikenal saleh dan religius dari berbagai latar belakang agama. Hasilnya pun sangat berbeda dengan yang ditemukan peneliti sebelumnya.

Alper yang kemudian  menandaskan, “Kami tidak percaya bahwa pengalaman mistis yang sejati bisa dijelaskan sebagai hasil dari halusinasi epilepsi, atau sebagai akibat halusinasi spontan karena pengaruh obat-obatan, rasa sakit, kelelahan fisik, tekanan emosional maupun gangguan pada indra. Secara sederhana, halusinasi, apapun sumbernya, tidak akan bisa memberikan pengalaman kepada pikiran sebagaimana yang bisa diyakini pada pengalaman spiritual mistis.”

Pengalaman Sejati

Kang Jalal menjelaskan, dalam Islam, ibadah dan berzikir bisa mengantarkan seorang hamba pada kondisi yang damai dan menenangkan. Namun dia mengingatkan, dalam Islam sendiri ada sebagian kelompok yang sangat sulit mengalami pengalaman spritual yang sejati karena paradigmanya sendiri.

Kang Jalal yang juga Ketua Dewan Syura Pengurus Pusat (PP) Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) ini menyinggung kelompok tertentu itu lebih sering menonjolkan sifat Allah swt yang keras, sangat berat siksaannya dan segala macam yang menakutkan. Bahkan kelompok ini tidak segan-segan mengusung kekerasan atas nama Islam.

Padahal menurut penelitian mutakhir, otak merupakan organ tubuh yang bisa disegarkan melalui latihan-latihan zikir, ibadah, bahkan perenungan dalam bentuk meditasi. “Saat Anda lebih mengingat Allah yang maha pengasih, penyayang, pengampun, atau sifat-sifat Jamaliyah dalam istilah sufi, maka Anda akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Otak Anda akan mengalami perbaikan yang luar biasa,” ujarnya.

Sebaliknya, membebani otak dengan membayangkan Tuhan yang serba menakutkan, bahwa hanya kelompoknya yang benar dan yang lain salah, bisa saja memperburuk kualitas otak. “Anutlah pemahaman agama seperti itu, dan saya yakin kalian akan mengalami kerusakan otak dalam tempo sesingkat-singkatnya,” canda Kang Jalal.

Menurut Kang Jalal, untuk membedakan mana pengalaman rohani sejati dan gangguan kejiwaan, bisa dijelaskan dari perilaku yang bersangkutan. Pria berkacamata ini menjelaskan, orang dengan pengalaman rohani sejati, jiwanya akan selalu diliputi perasaan cinta kasih pada semua orang.

Namun jika pengalaman rohani itu karena gangguan kejiwaan, maka yang bersangkutan biasanya merasa paling suci, memandang orang di sekitarnya sebagai penjahat dan pendosa.

Persatuan, Kebutuhan Dunia Islam Masa Kini

Islam sebagai agama persaudaraan dan perdamaian tidak pernah mengakui prinsip kekerasan, apalagi terorisme. Nabi Muhammad Saw sejak jauh hari sudah menyerukan persaudaraan umat Islam tanpa membedakan etnis maupun warna kulit. Nabi terakhir ini diutus Allah swt untuk memperbaiki akhlak umatnya dan menebarkan rahmah serta kebaikan bagi seluruh alam. Nabi Muhammad Saw sendiri merupakan suri tauladan terbaik bagi umat manusia, terutama dari keluhuran dan kesempurnaan akhlaknya.

Mengambil momentum kelahiran manusia agung ini, di Iran maulid Nabi Muhammad Saw diperingati sebagai "Pekan persatuan" yang dimulai dari 12 Rabiul Awal hingga 17 Rabiul Awal. Muslim Sunni memperingati maulid Nabi tanggal 12 Rabiul Awal, sedangkan Muslim Syiah memperingatinya tanggal 17 Rabiul Awal. Perbedaan itu bukan menjadi faktor pemecah belah, tapi sebaliknya justru menjadi pemersatu.

Demi merekatkan persatuan umat Islam di Tehran baru-baru ini digelar Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-27 yang diselenggarakan tanggal 17-19 Januari 2014. Konferensi ini mengusung tema"Al-Quran dan Perannya dalam Memperkuat solidaritas di antara Umat Islam serta isu Palestina." Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara dunia seperti, Indonesia, Malaysia, Mesir, Irak, Lebanon, Arab Saudi, Thailand, Suriah, Aljazair, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Uganda, Tunisia, Belanda, Qatar, Yaman,RusiadanYunani.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memandang masalah terpenting dunia Islam saat ini adalah persatuan.Pernyataan tersebut ditegaskan Rahbar dalam pidatonya memperingati pekan persatuan, yang mengambil momentum maulidNabi MuhammadSaw dan kelahiran Imam Shadiq. Di hadapanpara pejabat, tamu asing peserta Konferensi Persatuan Internasional ke 27, para duta besar negara-negara Islam serta berbagai lapisan masyarakat,Ayatullah Khameneihari Ahad (19/1) menjelaskan urgensitas persatuan di dunia Islam. Beliau menekankan, "Memerangi setiap anasir anti persatuan merupakan kewajiban besar bagi Muslim baik Syiah maupun Sunni."

Munculnya gerakan ekstrim yang mengatasnamakan Islam serta kelompok teroris di tingkat global merupakan hasil dari strategi adu dombaantarmazhab yang dipelopori oleh ideologi takfiri. Selain itu,tidak boleh dilupakan dukungan kekuatan hegemonik global dan rezim diktator yang berkedok Islam terhadap kelompok takfiri.

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya menyebut kebangkitan Islam yang terjadi di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah sebagai fenomena getir bagi musuh. Untuk itu, kekuatan hegemonik menyulut friksi antarmazhab Islam demi mencegah kebangkitan Islam bangsa-bangsa Muslim di kawasan. Di abad 21, strategi adu domba musuh terhadap umat Islam tampil lebih lunak, khususnya ketika menghadapi gerakan Kebangkitan Islam. Menurut Rahbar, pembagian Sudan dan berbagai transformasi yang terjadi di Libya serta Mesir merupakan kepanjangan dari strategi penghancuran persatuan di Dunia Islam.

Kaum imperialis membidik persatuan Islam dengan memanfaatkan berbagai ideologi menyimpang seperti takfiri dengan tujuan merusak setiap upaya untuk merealisasikan terwujudnya persatuan umat Islam. Salah satu bentuk nyata dari upaya ini adalah gerakan untuk menghancurkan identitas bangsa Islam, seperti yang telah diterapkan kepada bangsa Palestina. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menjelaskan, "Imperialis global selama 65 tahun berusaha keras menghapus nama Palestina, namun mereka gagal karena di saat-saat yang sensitif seperti perang 33 hari di Lebanon, 22 hari dan 8 hari di Jalur Gaza, umat Islam menunjukkan bahwa mereka masih hidup. Meski Amerika Serikat mengalokasikan dana besar-besaran dalam kasus ini, namun umat Islam berhasil menampar muka rezim ilegal Israel."

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu petaka dunia modern adalah munculnya orang-orang yang secara terang-terangan mendukung kejahatan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Penindasan bangsa Palestina oleh rezim Zionis akan terus berlanjut dengan dukunganAmerika Serikat dan Barat. Lembaga-lembaga internasional hingga kinibelum mampu berbuat banyak. Untuk itu, dunia Islam,memikul tugas penting terhadap masalah Palestina. Rahbar menandaskan,"Kami percaya bahwa dunia Islam tidak akan mengabaikan isu Palestina dan mengecam rezim penjajah dan para pendukung mereka."

Ayatullah Khamenei dalam pidato lainnya menegaskan urgensi dukungan umat islam terhadap perjuangan bangsa Palestina, dan menyebut perlawanan terhadap Israel sebagai prinsip Iran dan umat Islam dunia. "Agenda Palestina bagi Republik Islam bukan sebuah taktik, tapi sebuah prinsip yang berpijak dari keyakinan Islam. Kita berkewajiban untuk mengeluarkan wilayah ini dari cengkeraman rezim agresor [Israel] dan negara pendukungnya di dunia, kemudian menyerahkannnya kepada bangsa Palestina; Inilah kewajiban agama; kewajiban seluruh Muslim; kewajiban seluruh pemerintah Islam; sekali lagi inilah kewajiban Islam."(Pidato Ayatullah Khamenei, 25/5/1391 Hs).
Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyoroti potensi besar dunia Islam dari berbagai sisi seperti ekonomi, politik, etnis, bahasa, geografi dan mazhab yang menjadi titik persamaan dunia Islam yang menekankan persatuan. Unsur ini menjadi faktor penting pembentuk kekuatan lunak umat Islam yang mampu mempersatukan Dunia Islam dalam menghadapi konspirasi dan ancaman musuh. Namun potensi ini masih belum mampu dicerna dan digali oleh umat Islam sendiri.

Faktor yang membuat umat Islam belum mampu menggali kapasitas tersebut harus dicermati dari pergerakan musuh yang senantiasa berusaha menghancurkan persatuan di antara umat Muslim. Musuh tidak pernah diam menyaksikan persatuan di antara Muslim. Namun yang lebih penting dalam kasus ini adalah kelalaian para cendikiawan akan urgensitas persatuan Islam. Hasil dari dua gerakan merusak ini adalah hancurnya stabilitas dan keamanan negara-negara Islam.

Ironisnya sejumlah pemerintah di dunia Islam malah mempersiapkan perpecahan mazhab, konflik sosial di tengah masyarakat Islam dengan mendukung ideologi takfiri ketimbang memupuk persatuan. Oleh karena itu, Rahbar menyebut tugas menciptakan persatuan berada di pundak para cendikiawan, ulama dan elit politik. Beliau menjelaskan, elit politik harus menyadari bahwa kemuliaan dan kehormatan mereka sangat bergantung rakyat dan bukannya pada pihak asing.

Kini dunia Islam tengah menghadapi ancaman terbesar dalam bentuk adu domba yang dilancarkan para musuh. Dalam kondisi demikian, para ulama dan cendekiawan di setiap negara memiliki peran penting dalam membimbing masyarakat, terutama menghadapi maraknya para pengadu domba yang tidak menghendaki terwujudnya persatuan.

Jalan untuk menyelamatkan umat Islam dari kondisi yang sulit saat ini adalah mengikuti jejak Rasulullah Saw dan al-Quran. Ayatullah Khamenei mengingatkan peran umat Islam saat ini, "Kini kita semua sebagai Muslim berkewajiban untuk mewujudkan kebebasan sesuai pandangan Islam, membebaskan bangsa-bangsa Muslim, terbentuknya pemerintahan merakyat dan demokratis di seluruh dunia Islam, partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam pengambilan keputusan mengenai nasib mereka dan bergerak menuju penerapan syariah Islam, Inilah yang akan membebaskan bangsa-bangsa [Muslim],". (IRIB Indonesia/PH)
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com