Selasa, 11 Februari 2014

JERUK (Sebuah Renungan)

JERUK (Sebuah Renungan)

Ada tiga orang yang ingin membeli sepuluh buah jeruk manis di sebuah pasar swalayan untuk dibawa pulang ke rumahnya. Orang pertama mencoba sebuah jeruk untuk memastikan rasanya manis, lalu jeruk kedua hingga kesepuluh. Dia meninggalkan toko itu dengan membawa plastik berisikan kulit sepuluh buah jeruk. Orang kedua, hanya mencicipi sebuah jeruk, lalu memasukkan sembilan sisanya ke dalam plastik sesudah membayarkan harganya lalu meninggalkan toko itu. Orang ketiga melakukan serangkaian aksi intelektual terhadap jeruk tersebut secara universal, mulai dari meneliti merek, cara penanaman, komposisi kandungannya dan nama negara pengekspornya. Ia memastikan sepuluh jeruk itu manis tanpa mencicipinya satu buah pun lalu meninggalkan toko itu sambil menjinjing plastik berisikan sepuluh buah jeruk.

Ada tiga tipe manusia yang menggunakan tiga cara membentuk sebuah keyakinan, termasuk keyakinan agamanya. Orang pertama, karena setiap tema harus diyakini berdasarkan penelitian, ia mulai mengkaji satu tema lalu tema kedua dan begitulah seterusnya. Benaknya berpindah dari sebuah tema minor ke tema minor lainnya sebelum menghimpunnya dalam sebuah keyakinan yang kompleks. Ia menggunakan induksi, yaitu aksi intelektual dari tema partikular lalu berhenti di tema universal sebagai kesimpulan aksiomatis.

Orang kedua menularkan hukum sebuah objek partikular yang telah dikajinya atas objek partikular lainnya yang tidak dikajinya, lalu memastikan semua partikular yang sama dalam himpunan keyakinan universal sebagai kesimpulan. Metode yang digunakannya adalah kombinasi analogi dan induksi yang terbatas.

Orang ketiga hanya mengkaji tema universal yang merupakan muara tema-tema partikular lainnya. Ia hanya memeras otak untuk memahami tema mayor, yang meliputi minor-minor. Selanjutnya ia hanya menerima dan mengamalkan tema-tema minor yang merupakan konsekuensinya. Sebagai contoh, ia melakukan shalat, yang merupakan tema minor, sebagai konsekuensi keyakinan mayornya, yaitu Islam, tanpa merasa perlu tahu tentang dalil detailnya. Selanjutnya ia menjalankan aktivitasnya. Ketiga cara tersebut dibahas dalam sebuah bidang ilmu bernama epistemologi, yaitu ilmu tentang sumber dan anatomi pengetahuan.

Bisa dipastikan bahwa orang pertama tidak akan pernah berhenti mencari, membahas dan berdiskusi, bahkan mungkin tidak sempat melaksanakan keyakinannya, karena ia akan sibuk menjelajahi etalase tema-tema partikular yang masih mengganjal atau yang belum diproses oleh otaknya atau belum diyakininya. Ia adalah petualang wacana, tanpa mencapai sebuah kesimpulan universal yang bisa dijadikan sebagai pandangan dunia dan jalan hidupnya.

Sedangkan orang kedua hanya mengandalkan kemungkinan universal berdasarkan pengetahuan yang bersifat partikular, dengan tetap membuka ruang kecil bagi opsi dan kemungkinan lain yang bisa jadi menafikan kesimpulan universalnya. Ia senanatiasa diliputi oleh kecurigaan dan waw-was akan kesalahan yang mungkin akan muncul, karena belum diyakininya secara komprehensif. Ia tidak akan pernah memiliki keterikatan relijius. Ia bahkan akan selalu gamang dan tidak commited. Sisi positifnya, ia biasanya bersikap pluralis, toleran dan anti fanatisme.

Adapun orang ketiga tidak akan sibuk lagi dengan mempelajari dan mengkaji tema-tema partikular yang dianggapnya sebagai bagian dari tema universal yang telah diyakininya. Ia, misalnya, tidak akan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mencari tahu dalil tentang detail-detail shalat, karena sudah memastikan sumber hukum yang diandalkannnya untuk dijadikan sebagai panutan dan rujukan.

Orang yang menggunakan cara ketiga (deduksi) tidak merasa perlu mengetahui dalil dan alasan serta detail hukum tema-tema yang bersifat partikular sebelum melaksanakannya. Ia laksana orang yang telah memeras otak untuk mencari kriteria ‘atasan’. Setelah menemukan dan meyakini seseorang sebagai atasannya dan dirinya sebagai bawahannya, ia tidak lagi memerlukan dalil untuk melaksanakan setiap perintah atasannya itu, karena perintah itu bersifat partikular, dan hanyalah konskuensi logis dari keyakinan universalnya akan status orang itu sebagai atasan. Kalau bawahan menanyakan alasan rasional dan tujuan perintah atasannya, sangat mungkin besok ia sudah kehilangan posisi sebagai ‘bawahan’ alias diPHK karena desersi atau ‘mogok taat’.

Manakah cara yang perlu diutamakan dan dipilih? Cara pertama bisa dipastikan sulit bahkan mustahil dicapai, kecuali bila dibatasi area objeknya. Tidaklah mungkin menetapkan hukum ‘air memuai bila suhunya mencapai 0 derajat celicius’ dengan mencoba semua fenomena air tanpa kecuali.

Cara kedua hanya efektif bila objek yang dikaji bersifat material. Ilmu-ilmu alam, seperti fisika, kimia dan biologi, berpijak di atas induksi yang terbatas ini. Namun, agama dan sebagian ilmu rasional, seperti matematika, filsafat dan teologi, tidak bisa didekati dengan metode induksi, karena ia tidak bisa dihasilkan dari survei, investigasi dan penelitian empiris.

Dengan demikian, jelaslah agama dan keyakinan transenden cukup diyakini secara universal, sedangkan tema-tema di dalamnya, tidak perlu dipelajari secara argumentatif, kecuali bagi orang-orang tertentu yang punya cukup waktu dan bertugas untuk memberikan penjelasan-penjelasan tentang agama.

Kita tidak perlu mencoba setiap jeruk untuk mengetahui rasa dan kualitasnya. Kita juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mempelajari semua tema agama, mempelajari kitab-kitab kuning dan menjadi ‘ustadz’ hanya karena ingin menjadi orang saleh dan taat beragama. Yang perlu dilakukan adalah mencari kriteria umum yang rasional, agar bisa mengerjakan yang lain dan pulang dengan membawa plastik berisikan jeruk, bukan kulit jeruk.

Yang menggelikan, di tengah masyarakat beragama, ada sekelompok orang yang memastikan jeruknya sebagai ‘yang paling manis’ meski tidak menggunakan salah satu dari tiga metode tersebut di atas sambil mencemooh, membatilkan, dan tentu saja, menyesatkan dan mengkafirkan pemakan jeruk lain

~ Oleh: DR. Muhsin Labib, MA.

Senin, 10 Februari 2014

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (2)

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (2)
Oleh : Syaikh Husain Mazhahiri


Sebagian orang bertanya, “Mengapa doaku tidak diperkenankan, padahal aku berdoa kepada Allah SWT untuk diberi rezeki—misalnya—siang dan malam.”

Di sini, Allamah Thabathaba’i, penulis kitab tafsir al-Mizan mengatakan, “Sesungguhnya doa diperkenankan, namun kebanyakannya tidak sesuai dengan sangkaan kita, melainkan sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Terkadang kita berdoa kepada Allah SWT supaya diberi rezeki yang banyak, atau dikaruniai anak laki-laki. Atau dengan kata lain, kita berdoa sesuai dengan kemauan kita, bukan sesuai dengan kepentingan-kepentingan fitri kita, padahal seharusnya doa sejalan dengan kenyataan, bukan dengan khalayan. Bisa saja harta yang banyak itu akan merusak kita dan menjauhkan kita dari agama, sementara kita tidak mengetahui itu; padahal Allah SWT mengetahui itu. Dan Dia tidak menginginkan sesuatu bagi kita kecuali kebaikan. Allah SWT mengetahui bahwa maslahat si Fulan menuntut dia untuk tetap dalam keadaan fakir dan hidup tanpa harta yang banyak. Allah mengetahui bahwa agamanya akan lebih baik dalam keadaan ini, dibandingkan jika sekiranya dia diberi rezeki yang banyak. Akan tetapi, jika Allah melihat bahwa sekiranya si Fulan diberi anak laki-laki maka agamanya akan menjadi sempurna, atau keadaannya akan menjadi lebih baik, maka pasti Allah pun memberinya anak laki-laki. Al-Quran al-Karim telah menyinggung masalah ini secara ringkas namun penuh manfaat.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 216)

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman dengan makna yang sama:

Mungkin saja kamu tiak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu itu. (QS. An-Nisa : 19)

Sesuatu yang bukan berada di dalam manfaat kita tidak akan terjadi, lalu kemudian kita pun menyangka bahwa doa yang kita panjatkan tidak memberikan hasil apa-apa.

Apa-apa yang di dalamnya terkandung manfaat bagi kita, maka dengan cepat akan terlaksana setelah doa. Inilah yang ditetapkan oleh Allah SWT atas kita. Dia lebih mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya yang tidak mampu mengenal kebaikan. Banyak dari mereka yang berdoa dengan sesuatu yang buruk, tanpa menyadarinya. Akan tetapi Zat yang Maha Kuasa-lah yang menetapkan dan menentukan diperkenankannya doa yang kita panjatkan setiap hari.

Salah satu masalah yang penting di dalam doa ialah tidak adanya pemaksaan terhadap suatu permintaan. Para Imam Ahlul Bait memulai doanya dengan mentauhidkan Allah SWT, menyebutkan sifat-sifat-Nya, dan menyebutkan rahmat dan kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan tidaklah mereka menyebut hajat mereka kecuali di akhir doa. Inilah yang dapat kita rasakan pada doa Kumail bin Ziyad, yang terdapat di dalam kitab Mishbah al-Mutahajjad. Doa ini dimulai dengan kata-kata. “Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu, dan yang dengannya menunduk segala sesuatu, dan yang dengannya menunduk segala sesuatu, dan yang dengannya merendah segala sesuatu, dan dengan keagungan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu.”

Dan doa ini terus berlanjut dalam bentuk seperti ini, hingga seseorang mengemukakan sebagian besar sifat-sifat dan nama-nama Allah SWT, untuk memberikan perhatian yang besar kepada doa dan Zat yang doa ditujukan kepada-Nya, yang tidak lain adalah Allah Azza Wajalla. Setelah itu barulah orang yang berdoa menyebutkan hajatnya, setelah sebelumnya bersumpah kepada Allah SWT atas nama para nabi dan para rasul-Nya, dan juga Nabi Penutup SAW dan para Imam Ahlul Bait, sehingga orang yang berdoa dapat merasakan kelezatan doa, yang mana Allah SWT senang melihat hamba-Nya dalam keadaan demikian, “Ktakanlah, ‘Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, melainkan kalau ada doamu,’” (QS. Al-Furqan : 77)

Jika Allah SWT  tidak memperkenankan doa yang kita panjatkan, maka janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah SWT, karena putus asa terkadang bisa sampai kepada batas kekufuran.

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir. (QS. Yusuf : 87)

Adapun sebab yang kedua tidak dikabulkannya doa adalah perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah SWT. Dia tidak ubahnya seperti dinding yang menghalangi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa memakan satu suap dari makanan yang haram,  maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam …”

Betapa indah apa yang disebutkan di dalam doa Kumail bin Ziyad—semoga rahmat Allah tercurah atasnya—di mana di dalam doa itu seorang Muslim mengatakan, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak nikmat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merintangi doa. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bencana.”

Juga pada permulaan munajat sya’baniyyah disebukan, “Ya Allah, dengarlah doaku manakala aku berdoa kepada-Mu, dan dengarlah seruanku manakala aku menyeru-Mu.” Arti ungkapan ini ialah, Ya Allah, sukseskanlah aku di dalam menyingkap tabir penghalang yang menghalangi di antara permohonanku dan Engkau, dan di antara aku dan Engkau. Yaitu tidak lain adalah hijab yang dibuat oleh dosa dan maksiat. Inilah yang disebut dengan bab penyerupaan al-ma’qul (sesuatu yang bersifat akli) dengan al-mahsus (sesuatu yang bersifat inderawi).

Atas dasar ini kita dapat mengetahui bahwa terkabulnya sebuah doa mempunyai syarat-syarat tertentu, yang salah satunya adalah menjauhi perbuatan maksiat dan hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT. Oleh karena itu, selayaknya kita memulai doa kita dengan tobat dan memohon ampun, supaya kita mampu mengangkat tirai yang menghalangi doa bisa naik ke atas. Tidak mengapa juga kita mengungkapkan tobat pada pertengahan atau akhir doa. Inilah yang dapat kita saksikan di dalam munajat sya’baniyyah, doa makarimul akhlaq, ­dan doa Kumail.

Jadi, yang menjadi sebab tidak dikabulkannya doa adalah diri kita sendiri, dan juga maksiat serta dosa yang kita lakukan. Kita harus menjauhi semua hal yang diharamkan oleh Allah SWT, baik berupa menyakiti orang lain, makan makanan yang haram, maupun hal-hal yang lain. Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Sungguhnya jika seorang laki-laki memperoleh suatu harta yang haram, maka tidak diterima ibadah haji, umrah, dan silaturahmi darinya.”

Walhasil, jika kita ingin doa kita dikabulkan di sisi Allah SWT maka kita harus menjauhi perbuatan dosa dan maksiat, menjaga hak-hak orang lain, tidak bersikap takabur kepada manusia, tidak tertipu harta dan kekayaan yang ada pada kita, dan harus banyak memuji Allah atas besarnya kebaikan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita, dengan pujian yang memang merupakan hak-Nya. Kita juga harus berpegang teguh kepada apa-apa yang terdapat di dalam kitab-Nya yang mulia, dan kepada apa-apa yang diucapkan Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya, supaya kita dapat menyampaikan doa hingga tingkatan-tingkatan pokoknya, agar diterima dan diridhai oleh Allah SWT.

Adapun sebab ketiga yang menghalangi diperkenankannya doa ialah, apa yang terlintas di dalam hati bertolak belakang dan tidak sesuai dengan kata-kata doa yang sedang kita ucapkan. Amirul Mukminin Ali Kw berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki yang mmembelakangi keningnya. Melihat itu Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang berusaha mengalahkan Allah maka Allah pasti mengalahkannya, dan barangsiapa yang menipu Allah maka pasti Allah menipunya. Janganlah sama sekali engkau bergeser dari tanah dengan keningmu, dan jangan pula engkau mengubah penciptaanmu.’”

Imam Ali berkata, “Sesungguhnya makhluk yang paling dibenci oleh Allah SWT ialah dua orang laki-laki. Yaitu seorang laki-laki yang Allah serahkan urusan dirinya kepadanya, sehingga dia menyimpang dari jalan Allah SWT, dan tergila-gila dengan bid’ah dan doa yang sesat. Dia menjadi fitnah bagi  orang-orang yang terpesona kepadanya, dan menyebabkan orang-orang yang berada di belakangnya tersesat dari petunjuk …”

Barangsiapa hatinya penuh dengan dosa, maka hatinya tidak ubahnya menjadi seperti tempat tidur setan. Dia tidak bisa mengosongkan satu tempat pun di dalam hatinya untuk Tuhan. Mungkin saja seseorang berdoa, sementara hatinya penuh dengan dosa, sehingga doanya pun tidak diperkenankan, disebabkan dirinya penuh dengan maksiat yang mencegah turunnya rahmat Allah kepada dirinya. Adapun hati yang diperuntukkan untuk sesuatu apa pun kecuali untuk perintah-perintah Allah SWT, maka dia dapat mengatakan, “Aku datang ke hadapan Engkau Ya Allah.” Dengan begitu, dia menjadi manusia yang bahagia dengan masuknya cahaya Allah ke dalam hatinya.

Saya memberikan contoh di sini, dengan maksud supaya pmbicaraan saya menjadi jelas. Jika salah seorang dari anda melemparkan wadah ke laut, niscaya dengan cepat anda menyaksikan wadah itu penuh dengan air. Akan tetapi jika dia menutup wadah itu terlebih dahulu dengan penutup yang kuat, lalu kemudian baru melemparkannya ke laut, niscaya anda akan melihat bahwa wadah itu kosong dari air. Dengan kata lain, tidak ada satu tetes air pun masuk ke dalamnya, meskipun wadah itu dibiarkan tetap berada di dalam laut selama setahun penuh. Adakah anda berpikir bahwa penyebab tidak masuknya air ke dalam wadah adalah kikirnya laut dari air, atau penyebabnya adalah penutup kuat yang mencegah masuknya air ke dalam wadah?

Demikian juga halnya anda masuk ke dalam sebuah kamar yang di dalamnya tidak tedapat jendela kecuali hanya satu pintu yang menjadi tempat anda masuk ke dalam kamar itu. Lalu anda mengunci pintu itu. Setelah itu anda menyaksikan bahwa anda tengah berada di dalam kegelapan yang pekat. Apakah ketika itu anda dapat menyalahkan matahari karena tidak memasukkan cahayanya kepada anda?

Jadi, anda harus membuka pintu kamar, dan menjadikannya sebagai jendela. Dengan begitu, baru anda dapat menyaksikan masuknya cahaya matahari kepada anda.

Jadi, kesalahan itu berasal dari kita dan bukan dari air laut atau kamar. Hati yang tidak mengenal kesucian tidak ubahnya seperti kamar yang tidak memiliki jendela.

Dapat juga hasud menjadi salah satu hal yang menghalangi doa. Hasud adalah salah satu faktor yang merusak hati. Karena, hasud adalah pangkal dari sifat-sifat yang buruk, dan buah dari hasud ialah kesengsaraan dunia dan kesengsaraan akhirat. Orang yang hatinya dikuasai oleh hasud, niscaya Allah SWT mencegahnya dari rahmat-Nya dan juga dari dikabulkannya doanya. Amirul Mukminin Ali Kw berkata, “Hasud adalah perangai yang rendah dan musuh negara. Hasud adalah gunting iblis yang paling besar. Hasud merintangi jiwa, hasud adalah seburuk-buruknya penyakit, aib yang paling jelek, dan perasaan yang memberatkan. Tidaklah orang yang hasud dapat terobati kecuali apabila harapannya telah sampai terhadap orang yang dihasudinya.”

Banyak riwayat Ahlul Bait Nabi SAW yang mengatakan bahwa orang yang berdusta manakala dia berdusta, maka keluarlah bau busuk dari mulutnya, dan bau busuk itu terus naik ke langit, sehingga para malaikat terganggu dengan bau busuk itu, dan mereka melaknat si pemiliknya. Apakah mungkin orang seperti ini akan dikabulkan doanya? Sebaliknya, orang yang berpuasa, yang terkadang kita tidak kuat mencium bau mulutnya, mereka mempunyai bau yang harum di alam malakut. Sesungguhnya doa mereka diterima dan dikabulkan, disebabkan kosongnya hati mereka dari maksiat, dan disebabkan keteguhan mereka dalam memegang apa-apa yang terdapat di dalam Kitab Allah SWT dan juga sunah para wali-Nya.

Perlu disebutkan di sini, bahwa usaha untuk berdoa dan memulai dalam masalah ini, tidak sunyi dari pengaruh-pengaruh positif bagi jiwa, dan juga ganjaran—meskipun tanpa disertai dengan pengabulan doa. Karena—secara umum—kata-kata doa dapat melembutkan hati, dan dapat membantu seorang Muslim untuk memahami kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang dia ucapkan tatkala berdoa.

Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq berkata dari kakeknya, Rasulullah SAW yang mengatakan, “Sesungguhnya aku menyukai seorang laki-laki dari kamu,  yang jika dia berdiri mengerjakan shalat fardhu dia menghadap Allah dengan hatinya, dan tidak menyibukkan hatinya dengan urusan dunia. Tidaklah seorang Mukmin menghadap Allah dengan hatinya di dalam shalat, kecuali Allah pasti akan mendatanginya dengan wajah-Nya, dan juga mendatanginya dengan hati orang-orang mukmin yang mencintainya, setelah terlebih dahulu Allah Azza Wajalla mencintainya.”

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami taufik dan ketaatan, kejauhan dari maksiat, dan pengabulan doa. Ya Allah, datangilah kami dengan wajah-Mu yang mulia, halangi dari kami kekuatan bala, dan selamatkanlah kami dari bencana yang sekonyong-konyong. Ya Allah, tolonglah kami dari hilangnya kenikmatan dan dari tergelincirnya kaki; singkapkanlah dari kami kesulitan zaman, palingkanlah dari kami penghalang-penghalang urusan, datangkanlah kepada kami tali kelana keselamatan dan bawalah kami kepada tempat kemuliaan. Ya Allah, singkapkanlah bala dan bencana-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih di antara yang pengasih, dengan nama Muhammad dan keluarga Muhammad yang suci.

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (1)

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (1)
Oleh : Syaikh Husain Mazhahiri

Sesungguhnya salah satu faktor penolong bagi manusia dalam melakukan “jihad akbar” melawan nafsu ammarah ialah doa. Al-Quran al-Karim memberikan perhatian yang khusus kepada doa, disebabkan doa menciptakan hubungan dengan Allah SWT. Al-Quran Al-Karim juga mengecam orang-orang yang tidak menaruh perhatian terhadap doa.

          Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu.

Kemudian Allah SWT menambahkan:

          Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, mereka akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al-Mu’min: 60)

Tidak pernah di dalam Al-Quran disebutkan suatu azab seperti penyebutan azab ini. Atau bisa juga kita katakan, bahwa jarang kita melihat suatu ancaman dalam bentuk seperti ini sebagaimana yang ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa. Barangsiapa tidak berdoa, lalu dia berputus asa dari doa dan meninggalkan tali di atas punggung unta dalam keadaan yang sensitif ini, maka niscaya Allah memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu. (tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal sungguh kamu telah mendustakan-Nya. Karena itu kelak azab pasti menimpamu.” (QS. Al-Furqan: 77).

Barangsiapa menjauhkan diri dari berdoa dan memohon kepada Allah Azza Wajalla, maka niscaya Allah SWT akan berlepas tangan darinya dan menyerahkan urusan dirinya kepada-Nya, dan ketika itulah anda dapat menyaksikan betapa dia merugi di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, hadis-hadis menganjurkan kita untuk senantiasa membaca doa Rasulullah SAW di saat kegelapan malam. Yaitu doa yang berbunyi, “Ya Allah, janganlah sekejap pun Engkau serahkan urusan diriku kepadaku.”

Sesungguhnya doa adalah salah satu cabang dari cabang-cabang penyucian dan pembinaan diri. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT setelah Dia bersumpah demi matahari dan cahayanya di pagi hari,  kemudian demi bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila ia menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya; kemudian datang ungkapan penyebutan jiwa serta penyempurnaannya, dan pengilhaman jalan kefasikan dan ketakwaan kepda jiwa itu, serta keberuntungan orang yang menyucikan jiwanya dan kerugian orang yang menutupi jiwanya dengan maksiat dan kebodohan, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 9-10)

Penyucian jiwa berlangsung dengan doa dan tawassul kepada Allah SWT. Semata-mata doa yang mendidik dan menyucikan jiwa manusia, kata ganti orang pertama (dhamir mutakallim) sebanyak tujuh kali disebutkan pada ayat di bawah ini. Dan ini menunjukkan adanya perhatian yang begitu besar kepada doa. Di dalam surah Al-Baqarah, kita menyaksikan kedekatan Allah Azza Wajalla kepada orang yang berdoa, manakala orang berdoa dan memohon kepada-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)

Ayat yang mulia ini turun ketika sekelompok orang bertanya apakah Tuhan kami itu dekat sehingga kami cukup berbisik (bermunajat) kepada-Nya, atau Dia itu jauh sehingga kami harus menyeruh-Nya?

Maka Allah SWT pun menajawab, bahwa Dia itu dekat dan mengetahui semua keadaan mereka, serta mendengar doa mereka sebagaimana orang yang berdekatan  mendengar perkataan temannya. Allah SWT berfirman, “Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-ku”, jika dia datang dengan memenuhi syarat-syarat doa dan mengetahui orang yang dia tuju.

Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (QS. Qaf : 16)

Ini menunjukkan bahwa Allah SWT jauh lebih mendengar kepada seorang hamba dibandingkan semua orang yang berada dekat dengannya. Di samping itu ayat ini merupakan pendorong kepada kita untuk hanya berdoa dan bertawassul kepada Allah saja, dan tidak meminta kepada yang lain.

Imam Ali berkata, “Amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah Azza Wajalla di muka bumi adalah doa.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tuhanku, aku ingin mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai, sehingga aku bisa mencintainya?”

Maka Allah SWT pun berkata, “Jika Aku melihat seorang hamba-Ku banyak menyebut-ku, maka Aku mendengarkannya dan mencintainya; dan jika aku melihat seorang hamba-Ku tidak menyebut-Ku, maka Aku menghalanginya dan membencinya.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka di dalam pandangan Al-Quran Al-Karim dan riwayat-riwayat yang mu’tabar dari Rasulullah SAW dan para Imam Ahlul Bait, doa lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah daripada shalat malam, daripada mengerjakan shalat pada waktunya, dan demikian juga lebih utama daripada jihad. Karena, doa menghubungkan manusia dengan Allah secara langsung, dan menjadikannya tidak bersandar kecuali kepada-Nya. Almarhum al-Kulaini telah menulis kitab doa di dalam al-Kafi, dan mengiringinya dengan riwayat-riwayat yang berbicara tentang keutamaan-keutamaan doa. Demikian juga yang dilakukan oleh ‘Allamah Majlisi tatkala dia menghimpun sejumlah riwayat yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah doa. Kedua kitab ini, bersama dengan kitab Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah secara keseluruhan telah membentuk jalan para Imam Ahlul Bait yang suci. Sungguh besar apa yang dikatakan bahwa doa menjadikan manusia mampu membangun dan membersihkan dirinya dari berbagai kotoran dan maksiat. Atau, sebagaimana kata pemimpin Revolusi Islam, ketika membahas tema, “Seorang manusia dapat membangun dirinya dari dua hal; yaitu pertama Al-Quran, dan kedua Doa.

Al-Quran adalah perkataan yang turun dari sisi Zat yang Maha benar, sedangkan doa adalah perkataan seorang manusia kepada Penciptanya. Jadi, kita bisa mengatakan bahwa doa adalah ucapan seorang manusia yang ditujukan kepada Penciptanya, sedangkan Al-Quran adalah  perkataan Pencipta terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, doa adalah salah satu kebanggaan manusia dan selezat-lezatnya kelezatan.

Sesungguhnya manfaat doa banyak sekali, akan tetapi kami tidak akan membahas seluruh manfaatnya. Kami cukupkan untuk membahas dua manfaat darinya saja. Yang pertama, salah satu manfaat doa adalah kebanggaan yang diperoleh seorang hamba dengan bermunajat kepada Tuhannya. Seandainya seorang manusia ditakdirkan dapat bertemu dan berhadapan muka dengan Pemimpin Fulan atau Sultan Fulan, niscaya anda akan melihatnya merasa bangga dengan hal itu di hadapan teman-temannya.

Pada hakikatnya doa adalah kebanggaan seorang hamba di dalam bermunajat kepada tuannya, dan tidak ada kebanggaan yang lebih tinggi daripada seorang manusia dapat bermunajat kepada Tuhannya di tengah malam yang gelap gulita.

Imam Ali Kw berkata, “Barangsiapa yang menyukai bertemu dengan Allah SWT, maka dia akan lupa dengan dunia.”

Doa, artinya kepergian seorang hamba ke rumah Tuannya yang berkali-kali menyerunya, “Kemarilah kepada-Ku”, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan perkenankan bagimu”, dan juga mengancamnya jika dia tidak datang kepada-Nya. Setelah itu Allah SWT berkata, “Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” Artinya , “Berdoalah kepada-Ku, penuhilah perintah-Ku, dan berimanlah kepada-Ku; niscaya aku akan mewujudkan apa-apa yang kau inginkan.”

Jika kebetulan seseorang melihat Imam Ali dalam keadaan pingsan di kegelapan malam yang gelap gulita, niscaya dia menyangka bahwa Imam Ali menjadi demikian karena takut dari neraka Jahannam. Tidak, Ali Kw lebih tinggi daripada yang demikian.

Yang demikian itu tidak lain kecintaan seorang hamba dihadapan Kekasih dan Penciptanya. Demikian juga keadaan Fatimah az-Zahra dihadapan Allah Azza Wajalla, di mana tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan, dan tidak terlihat darinya kecuali air mata yang mengalir di pipi. Rasulullah SAW telah bersabda di dalam sebuah hadisnya yang panjang, “… Adapun putriku, Fatimah, adalah penghulu wanita seluruh alam … Manakala dia berdiri di mihrabnya dihadapan Tuhannya—Jalla  Jalaluh—maka cahayanya menyinari para malaikat di langit, sebagaimana cahaya bintang menyinari para penduduk bumi. Lalu Allah SWT berkata kepada para malaikat-Nya, ‘Wahai para malaikat, lihatlah hamba-Ku, Fatimah, Penghulu para wanita, tengah berdiri dihadapan-Ku, urat lehernya bergetar karena takut kepada-Ku, dan sungguh dia telah menghadap untuk menyembah-Ku dengan hatinya.”

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata. “Dua rakaat pada tengah malam jauh lebih aku sukai dibandingkan dunia dengan segala isinya.”

Imam Ridha berkata, “Ali bin Husain ditanya, ‘Bagaimana orang-orang yang bertahajjud di waktu malam bisa menjadi orang yang paling bagus wajahnya?’ Ali bin Husain  menjawab, “Karena mereka berdua-duaan dengan Allah, maka Allah pun memakaikan cahaya-Nya kepada mereka.”

Adapun manfaat yang kedua dari doa adalah terlepasnya orang yang berdoa dari berbagai kesedihan, kemurungan, dan keresahan, yang terkadang bisa mengeruhkan kehidupan seseorang. Dari pandangan kejiwaan, dapat dikatakan bahwa mayoritas keresahan dapat hilang dengan berdoa kepada Allah SWT di tengah malam, disebabkan pada saat itu seorang manusia dapat mengutarakan seluruh keluh kesah yang ada di dalam hatinya kepada Zat yang Maha Esa. Dengan begitu, dia dapat mengurangi beban yang berlebihan dari dalam hatinya, yang pengaruhnya tampak jelas terpantul di dalam akhlak pribadinya, sehingga menjadikannya kelelahan meskipun tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, dan selalu merasa resah dan tidak tahu apa penyebabnya.

Di samping itu, riwayat-riwayat mengatakan bahwa kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya jauh lebih besar dibandingkan kasih sayang ibu kepada anaknya, “Dia-lah yang dipuji-puji oleh seluruh makhluk ketika mereka butuh dan menghadapi kesulitan, manakala mereka sudah putus pengharapan dari seluruh yang lain selain Dia.”

Tidak mengapa kiranya di sini kita menukil munajat yang biasa dipanjatkan oleh Imam Ali dan oleh para Imam Ahlul Bait sesudahnya, yang diriwayatkan oleh Khalawiyyah, yang terdapat di dalam kitab Mafatih al-Jinan, di bawah judul “Amalan-Amalan bulan Sya’ban” :

Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad; dengarkanlah doaku manakala aku berdoa kepada-Mu, dengarkanlah seruanku manakala aku menyeruh-Mu, dan perhatikanlah aku manakala aku bermunajat kepada-Mu. Sungguh, aku telah berlari kepada-Mu, dan kini aku berdiri dihadapan-Mu dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada-Mu, serta mengharapkan ganjaran dari-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang ada di dalam jiwaku, Engkau mengetahui kebutuhan-kebutuhanku dan Engkau mengetahui apa yang ada di dalam hatiku. Sungguh, tidak tersembunyi dari-Mu tempat kembaliku. Aku tidak ingin menyampaikan ucapan-ucapanku, dan tidak ingin mengutarakan permintaanku, namun aku mengharapkannya untuk hasil akhirku. Sungguh, telah berlalu ketetapan-ketetapan-Mu atas diriku, apa-apa yang akan berlaku hingga akhir umurku, dari hal-hal yang tersembunyi dan kelihatan dari diriku. Di tangan-Mu lah, dan bukan di tangan yang lain, kelebihan, kekurangan, manfaat, dan mudharat diriku.

Ya Allah, jika Engkau mencegahku maka siapakah yang akan memberi rezeki kepadaku, dan jika Engkau menelantarkanku maka siapakah yang akan menolongku.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemarahan-Mu, dan dari datangnya kemurkaan-Mu. Ya Allah, jika aku tidak layak mendapat rahmat-Mu, Engkau dapat memberiku dengan luasnya kemurahan-Mu …

                (Bersambung……..)

IRFAN......Apa itu tasawuf ? apa itu irfan ?

IRFAN
Apa itu tasawuf ? apa itu irfan ?

Dalam tulisan ini, kami akan memaparkan sekelumit tentang irfan dan tasawuf secara berkala. Kami ingin mencoba memperkenalkan pada pembaca tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan tasawuf dan irfan. Sebenarnya, keduanya mudah kita temukan disekitar kita. Walaupun keduanya seolah tidak begitu nampak. Sebab keduanya lebih banyak bercerita tentang aspek batiniyah manusia. Boleh dikata, kedua hal diatas hadir dalam seluruh mazhab Islam. Sebab seluruhnya menekankan bagaimana manusia mampu membersihkan jiwanya dari sifat – sifat hewaniyah sehingga bisa mencapai insan kamil. Bagaimana manusia khusyu’ dalam ibadahnya dll. Pada Intinya fokus tasawuf dan irfan pada “ qalbu “ manusia yang merupakan salah satu potensi untuk mengetahui ( lahum qulubun la yafqahuna biha ).

Istilah yang lebih akrab di telinga kita adalah Tarekat yang bermakna jalan dan pattareka’ adalah mereka yang menerjunkan dirinya dalam dunia tarekat. Qadariyah, naqsyabandiyah dan khalwatiyah adalah aliran tarekat yang mudah kita dapatkan di Indonesia. Tapi pembahasan kita kali ini tidak membahas aliran – aliran tarekat yang ada di Indonesia. Tapi focus pembahasan kita kali ini pada tasawuf dan irfan itu sendiri.

Apa itu Irfan ? dan siapakah yang Arif ?

Irfan secara bahasa bermakna ‘ pengetahuan ‘ dan ‘ mengetahui ‘. Sedangkan secara istilah bermakna metode atau jalan tertentu untuk sampai pada hakekat eksistensi, dan hubungan manusia pada hakekat eksistensi yang bersandar pada syuhud dan isyraq ( ilmuninasi ). Manusia untuk sampai pada derajat ini ( syuhud ) bukan melalui argumentasi dan pemikiran ataupun burhan, akan tetapi melalui tazkiyatunnafs dan memutuskan ketertarikan pada dunia dan perkara – perkara duniawi, dan seluruh keberadaan dirinya dia kerahkan pada Allah swt.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa itu irfan. Kami akan menukil definisi yang dipaparkan sendiri oleh para Arif. Artinya dengan mengetahui definisi mereka dengan sendirinya melazimkan kita mengetahui Irfan itu sendiri.

Abdurrahman Salmi mengatakan ; Arif adalah mereka yang mempersembahkan hatinya pada Allah swt, sedangkan tubuhnya dia persembahkan pada ciptaanNYA [1].

Abu Yazid Bastami suatu ketika ditanya ; “ apakah tanda – tanda Arif ? “ Beliau menjawab ; “ mereka adalah orang yang tak pernah lelah mengingat Allah swt dan hatinya tak pernah tertawan selain Allah swt “.

Kemudian Ia menambahkan ; “ barang siapa yang telah sampai pada maqam Irfan, Ia akan menjauhi segala hal yang menjauhkan dia dari Allah swt “ [2].

Ibn Sina dalam kitabnya Isyarat wa Tanbihat menjelaskan definisi Irfan dan menjelaskan perbedaannya dengan zuhud dan Abid. Beliau mengatakan ; “ mereka yang menghindar dan menjauhi hal – hal yang sifatnya duniawi disebut dengan Zuhud, mereka yang istiqamah dalam melakukan ibadah seperti sholat, puasa dll disebut dengan Abid sedangkan mereka yang senantiasa mengerahkan seluruh keberadaanya pada Allah swt dan perhatiannya hanya kepada Alam quds ( suci) sehingga cahaya Ilahi termanefestasi pada dirinya disebut dengan Arif. Tentunya bisa saja ketiga hal diatas ( zuhud, abid dan arif ) berkumpul pada satu orang. Artinya orang tersebut adalah zuhud, abid dan arif sekaligus “. Selanjutnya beliau mengungkapkan bahwa ; “ yang diinginkan oleh seorang Arif hanyalah Allah swt semat dan tidak menginginkan sesuatu apapun selainnya. Ibadahnya hanya dikarenakan bahwa Dialah yang paling layak disembah, bukan karena tamak pada surga atau takut pada neraka “.

Dari defenisi yang telah dikemukakan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa karekteristik seorang sufi :

dengan syuhudnya mereka telah mengenal sifat – sifat dan asma’ – asma’ Allah swt.
seorang Arif mengerahkan seluruh perhatiannya pada Allah swt. Dan menjauhi segala sesuatu selain Allah swt.
seorang Arif memalingkan wajahnya pada sesuatu selain Allah swt, bahkan Ia menganggap bahwa selain Allah swt tidak memiliki hakekat sama sekali.
Prinsip – prinsip dalam Irfan

Prinsip – prinsip yang ada dalam Irfan secara universal ;

dalam Irfan, titik yang paling fundamental terdapat pada qalbu. Artinya bahwaprinsip utamanya adalah melaksanakan seluruh syariat yang ada sebagai metode dalam pembersihan jiwa, sehingga qalbu yang merupakan alat pengetahuan ( lahum qulubun la yafqahuna biha ) bisa teraktualkan.
Irfan meyakini bahwa alam eksternal ini memiliki hakekat yang satu. Ada zahirnya dan ada batinnya, zahirnya menampakkan kemajemukan sedangkan batinnya menampakkan ketunggalan.
Irfan lebih banyak berurusan dengan Ilmu kehadiran ( ilmu hudhuri ). Irfan meyakini bahwa antara manusia dengan hakekat terjalin hubungan hudhuri dan syuhudi.
Irfan meyakini konsep riyadhah dan mujahadah.
cinta adalah sebuah unsur yang paling hakiki dalam kehidupan seorang Arif.
para Arif meyakini bahwa hakekat hakiki hanya satu yaitu Allah swt.
Perlu kami jelaskan bahwa para Arif dalam menafsirkan prinsip – prinsip diatas boleh jadi berbeda. Dan dalam kesempatan ini kami hanya ingin menjelaskan prinsip – prinsipnya secara universal.

Apa itu tasawuf ? dan siapakah yang sufi ?

Tasawuf dalam bahasa berasal dari kata “ shauf “ yang bermakna bulu domba. Sufi adalah mereka yangmemakai baju dari bulu domba. Suhrawardi dalam kitabnya Awariful Ma’arif mengatakan ; “ asal tasawuf dari shauf lebih cocok dari asal kata yang lain. Tasawuf yaitu memakai baju dari bulu domba “.

Para peneliti tasawuf meyakini bahwa yang pertama kali menggunakan kata tasawuf adalah Abu Hasyim Kufi ( diperkirakan wafat antara thn 153 atau 174 atau 184 hijriyah ). Oleh karena itu kata ini mulai ada di pertengahan abad pertama dan kedua hijriyah.

Tapi untuk memberikan sebuah definisi yang melliputi seluruh unsure – unsure dalam “ tasawuf“ dan “ sufi “ bukan perkara yang mudah. Hal ini disebabkan karena tasawuf senantiasa mengalami perubahan disetiap periode dan zaman tertentu, dan oleh sebab ini disetiap periode memiliki cirri khas tersendiri. Misalnya pada abad ke dua, konsepsi yang dipahami oleh Abu Hasyim Kufi, Dawud Thaii dan Hasan Basri berbeda dengan konsepsi yang dipahami oleh Junaid dan Yazid Bastami. Sebagaimana pemahaman tasawuf Junaid berbeda dengan Abu Said Abulkhaeir dan Maulana Jalaluddin Rumi.

Definisi tasawuf dan sufi yang telah dipaparkan oleh para ahli tasawuf bisa mencapai ribuan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami hanya mengutip beberapa definisi saja mengenai hal tersebut.

Abdurrazaq Kashani mendefinisikan bahwa tasawuf ; “ attasawuf huwattakhalluq bil akhlaqillah “. Tasawuf adalah mencerap akhlak Ilahi.

Ibn Arabi meyakini bahwa tasawuf ; “ melaksanakan adab – adab syariat baik secara zahir maupun secara bathin “.

Junaid meyakini bahwa tasawuf : “ memutuskan segala ketergantungan kecuali pada Allah swt “.

Definisi diatas bukanlah definisi yang melingkupi seluruh unsure – unsure tasawuf yang ada. Akan tetapi lebih pada ungkapan kondisi spiritual yang dialami oleh seorang Arif.

Perbedaan antara Tasawuf dan Irfan

Sebagaimana kita ketahui bahwa kata Tasawuf muncul pada pertengahan abad pertama dan kata Irfan muncul di abad ketiga walaupun kata tersebut sebenarnya sudah digunakan jauh sebelumnya. Jika kita mencermati diantara keduanya, yakni antara Irfan dan Tasawuf. Terdapat perbedaan tertentu diantara keduanya.

Syahid Murtadha Muthahhari meyakini bahwa perbebadaan tersebut adalah bahwa Irfan tinjauannya pada sisi budayanya, sedangkan tasawuf tinjauannya pada sisi sosialnya. Maksud dari sisi budaya adalah berkaitan dengan pengetahuan seorang Arif, misalnya pengetahuan seorang Arif tentang eksistensi, hubungan Antara Khaliq dan Makhluk.tajalli dll. Sedangkan maksud dari sisi sosial adalah berkaitan dengan kehidupan seorang Arif sehingga biasa kita sebut dengan berkehidupan sufi, misalnya tata cara pakaian dalam pandangan sufi, tata cara makan, tata cara wirid dll.

Oleh Karena itu, tidak ada perbedaan yang signifikan antara Irfan dan Tasawuf. Yang ada hanya sisi penekanan saja. Irfan berkaitan dengan pengetahuan seorang Arif, sedangkan tasawuf berkaitan dengan tata cara kehidupan seorang sufi.


[1] . Tabaqatussufiyah, hal 396

[2] . ibid . hal 72

NAFSU AMARAH

NAFSU AMARAH
Oleh : Syaikh Husain Mazhahiri


Sesungguhnya seluruh mawjud memiliki gerak dan perjalanan yang dinamakan dengan perjalanan Ilahi (al-masirah al-Ilahiyyah), dan sesungguhnya alam wujud menyerupai sebuah kafilah di dalam gerak dan perjalanannya. Akan tetapi mereka berbeda-beda di dalam gerak perjalanannya menuju Allah Azza Wajalla. Manusia, di dalam gerak dan perjalanan mereka menuju Allah terbagi menjadi tiga golongan :

          Satu golongan adalah golongan yang menemukan jalan yang lurus dan mereka sekaligus berjalan di atasnya. Persis, sebagaimana para nabi dan para rasul telah berjalan di atasnya. Golongan ini mempunyai musuh-musuh yang sangat keras, yang ingin menjerumuskan mereka ke jalan-jalan yang menyimpang. Musuh golongan ini ada dua macam, yaitu musuh dalam (musuh batin) dan musuh luar.

Salah satu musuh dalam ialah nafsu ammarah (nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan), dan musuh batin ini jauh lebih berbahaya dibandingkan musuh-musuh yang lainnya.

Yang dimaksud dengan nafsu ammarah ialah kecenderungan-kecenderungan insting, dan hawa nafsu.

Al-Quran Al-Karim telah berbicara tentang masalah ini, dan telah memberikan perumpaaan di dalam kisah Yusuf as. Yusuf as berkata, “Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung [memenuhi keinginan mereka] dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf : 33) (إِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ )

Artinya, ya Allah, jika Engkau tidak menyelamatkan aku dengan rahmat-Mu, maka tentu nafsu ammarah akan membawaku kepada kehancuran; dan pada saat itu tentunya aku akan termasuk orang-orang yang bodoh.”

Pada ayat yang lain Allah SWT berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia, “Sungguh wanita itu telah bermaksud [melakukan perbuatan itu] dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud [melakukan pula] dengan wanita itu seandainya dia tidak melihat tanda [dari] Tuhannya.” (QS. Yusuf : 24).

Artinya, Zulaikha telah cenderung kepada Yusuf, dan nafsu ammarah pun telah mendorong Yusuf as. Untuk cenderung kepada wanita itu. Akan tetapi kasih sayang, pertolongan, dan penjagaan Allah SWT terhadap Yusuf as. telah menghalangi kecenderungan itu. Kata-kata “tanda [dari] Tuhannya” di dalam ayat ini berarti “keterjagaan” (ishmah), yang mencegah Yusuf dari melakukan maksiat.

Di dalam tafsiran lain mengenai ayat ini disebutkan, “sesungguhnya wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan fasad, sedangkan Yusuf bermaksud mencegah perbuatan itu setelah Allah SWT menjaganya dari dosa dan kesalahan.”

Para pembaca yang mulia, Al-Quran Al-Karim bukanlah buku cerita, yang kapan saja seorang manusia hendak menikmati berbagai kisah maka dia membacanya. Al-Quran Al-Karim juga bukan buku sejarah, yang hendak menceritakan penggalan kehidupan salah seorang nabi, bersama para wanita yang dikuasai oleh syahwat. Akan tetapi Al-Quran Al-Karim adalah buku akhlak, yang lembaran demi lembarannya tidak dipenuhi kecuali dengan teladan dan akhlak yang luhur, supaya manusia mengenal nafsu ammarah mereka, yang senantiasa menyuruh kepada keburukan. Dengan begitu, meraka jauh dari kehinaan.

Ketahuilah, sesungguhnya nafsu ammarah akan membawa seseorang manusia kepada kehinaan, jika sedikit saja dia lalai, meski betapa pun sucinya dia. Nafsu ammarah selalu mendorong tuannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Ketika seorang manusia melakukan suatu keburukan, maka untuk kedua kalinya nafsu ammarah mendorongnya untuk terus melakukannya. Berikutnya, nafsu ammarah akan menjadikan perbuatan maksiat sebagai sesuatu yang dicintai oleh pelakunya, sehingga pelakunya memandangnya sebagai suatu hal yang biasa dan wajar. Pada saat itulah perbuatan maksiat telah menjadi watak baginya, yang tidak mungkin dia dapat melepaskan diri darinya kecuali dengan menghadapi tingkat kesulitan yang besar.

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS.Yusuf : 53)

Nafsu ammarah adalah nafsu yang selalu memerintahkan kepada syahwat dan kecenderungan. Kata ammarah merupakan bentuk kata hiperbola (mubalaghah), yang mengisyaratkan bahwa nafsu ini banyak sekali menyuruh. Ini merupakan gambaran dari keadaannya yang senantiasa tidak pernah merasa puas. Seorang laki-laki yang dikuasai oleh nafsu seksualnya, tidak akan merasa puas meskipun semua wanita yang ada di dunia ini diberikan kepadanya. Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dia tidak akan merasa puas meskipun seluruh yang ada di muka bumi ini diperuntukkan baginya. Demikian juga orang yang menjadikan nafsu kecintaan kepada kedudukan sebagai tuhannya, dia tidak akan merasa puas meskipun dia telah menguasai seluruh muka bumi ini.

Nafsu syahwat tidak akan berhenti pada satu batas. Oleh karena itu, para pakar ilmu jiwa mengatakan, “Seorang laki-laki dan seorang wanita yang dikuasai oleh syahwatnya, mereka lebih mementingkan memenuhi tuntutan syahwatnya dengan cara yang haram, dan tidak dengan cara yang halal. Nafsu ammarah yang tidak dikendalikan, senantiasa cenderung kepada makanan yang haram dan bukan kepada makanan yang halal. Manakala nafsu ammarah telah menguasai diri seseorang, maka nafsu ammarah itu tidak akan melepaskan seorang manusia kecuali setelah manusia itu dimasukkan ke dalam dasar neraka yang paling bawah.”

Diceritakan bahwa Dzulqarnain, meskipun sudah begitu banyak negeri yang ditaklukkannya, mengatakan kepada para pembantunya, “Setelah aku mati, keluarkan tanganku dari dalam peti mati, dan bila engkau melihat tanganku terkepal maka kuburkanlah aku di situ.”

Setelah Dzulqarnain mati, mereka pun mengeluarkan tangannya dari peti mati, dan membawa mayatnya, namun mereka tetap tidak melihat tangan Dzulqarnain kecuali dalam keadaan terbuka. Lalu seorang ulama berkata kepada mereka, “Jika engkau ingin melihat tangannya terkepal, coba letakkan segenggam tanah di tangannya.” Mereka pun melakukan saran ulama itu, dan kemudian tangan Dzulqarnain pun terkepal. Setelah itu, ulama itu pun berkata, “Sesungguhnya manusia tidak akan pernah merasa kenyang selamanya kecuali setelah dia masuk ke dalam lubang kubur.”

Islam tidak mengatakan supaya kita membunuh nafsu ammarah. Karena, membunuh nafsu ammarah adalah sesuatu yang diharamkan di dalam Islam. Akan tetapi yang diperintahkan oleh Islam ialah mendidik dan menyucikannya, sehingga nafsu ammarah itu berjalan sesuai dengan garis yang ditetapkan oleh ajaran Islam.

Di dalam kitab tafsir ash-Shafi diceritakan, bahwa tiga orang sahabat Rasulullah SAW menjauhi dunia dan segala yang ada di dalamnya. Mereka menjauhi istri-istri mereka, memencilkan diri dari pergaulan manusia, dan memutuskan untuk tidak memakan makanan yang enak.

Ketika istri salah seorang dari ketiga sahabat tadi datang menemui Aisyah, Aisyah merasa heran dengan keadaannya yang tidak berdandan seperti layaknya seorang wanita yang telah bersuami. Aisyah bertanya kepada wanita itu, “Bukankah Anda bersuami?”

wanita itu menjawab,”Benar”

Aisyah bertanya lagi “Akan tetapi, mengapa keadaanmu tidak menunjukkan demikian?”

wanita itu menjawab, “Suami saya telah meninggalkan dunia dan menjauhi saya; dia memilih untuk tinggal di padang pasir.”

Lalu Aisyah pun menceritakan hal itu kepada Rasulullah SAW, sementara saat itu waktu duha. Mendengar kabar itu Rasulullah SAW sangat marah. Di segera keluar menuju mesjid dengan tergopoh-gopoh, dalam keadaan bagian ujung jubahnya menyentuh tanah, sehingga menarik perhatian semua orang. Setelah masuk ke mesjid, dia memerintahkan semua orang untuk berkumpul lalu dia berdiri di tangga pertama dari mimbarnya dalam keadaan marah. Rasulullah SAW berkata, “Menikah itu adalah sunnahku; barangsiapa berpaling dari sunnahku maka dia bukan bagian dariku.” Allah SWT telah berfirman :

Katakanlah , “siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan [siapa pula yang mengharamkan] rezeki yang baik?” (QS. Al-A’raf : 32)

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf : 31)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [kenikmatan] duniawi, dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. (QS.Al-Qashash : 77)

Hal yang sama pun pernah terjadi pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, yaitu, tatkala Amirul Mukminin masuk ke dalam mesjid, dia melihat sekumpulan laki-laki yang sedang beribadah di dalam mesjid. Amirul Mukminin pun bertanya tentang mereka, lalu dikatakan bahwa mereka adalah para laki-laki kebenaran. Mereka tidak meninggalkan mesjid siang dan malam. Jika mereka mendapatkan makanan mereka memakannya, namun jika mereka tidak mendapatkannya mereka bersabar dan merasa cukup. Mendengar itu, Amirul Mukminin pun mengayunkan cambuknya ke kepala mereka, setelah terlebih dahulu memanggil mereka sebagai anjing. Karena, anjing bersabar jika dia tidak mendapatkan makanan. Lalu Amirul Mukminin Ali memerintahkan mereka keluar dari mesjid, setelah mereka meninggalkan dan menelantarkan istri dan anak-anak mereka tanpa makanan dan minuman.

Islam tidak menginginkan seorang Muslim itu lemah dan hina, melainkan Islam menginginkan seorang Muslim itu kuat dan mulia, dengan cara bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan kebutuhan keluarganya, serta jauh dari sikap meminta-minta kepada orang lain.

Orang-orang itu bermaksud membunuh nafsu seksual mereka dengan cara-cara khusus mereka, padahal Allah yang Mahabijaksana telah menunjukkan kita kepada jalan yang memungkinkan seorang manusia berpegang teguh kepada akhlak yang utama, yang jauh dari sikap berlebih-lebihan.

Jiwa manusia memerlukan orang yang mendidik dan menatanya sesuai dengan aturan Islam yang agung, sehingga dia aktif di dalam berjalan menuju Allah. Keadaan jiwa manusia tidak ubahnya seperti keadaan seekor kuda yang diletakkan tali kekang di mulutnya. Jika tali kekang itu dilepas dari mulutnya maka dia akan lalai dari berjalan, dan malah sibuk memakan rumput. Di saat itu, dia akan menerima pukulan dari tuannya, yang menginginkan dia berjalan sesuai dengan jalan yang dikehendaki tuannya.

Ali bin Ismail adalah orang yang bagus sekali dari sisi nasab. Pamannya adalah Imam Musa bin Ja’far al-Kazhim, ayahnya adalah Ismail, yang juga seorang alim dan seorang zahid. Kakek Ali bin Ismail adalah Imam Ja’far ash-Shadiq. Ayahnya meninggal pada masa Imam Ja’far ash-Shadiq masih hidup.

Ali bin Ismail adalah seorang budak harta. Kecintaannya kepada harta melebihi segalanya. Pada masa itu, al-Baramakah mempunyai maksud jahat terhadap Imam Musa Al-Kazhim. Dia memanfaatkan kecintaan Ali bin Ismail terhadap harta. Dia memerintahkannya untuk memberikan kesaksian palsu tentang Imam Musa al-Kazhim di majelis Harun, setelah sebelumnya memberikan sejumlah uang kepadanya. Ketika Ali bin Ismail hendak pergi ke Bagdad, Imam Musa al-Kazhim berusaha mencegahnya, Ali bin Ismail menjawab, “saya mempunyai hutang kepada beberapa orang” Imam Musa al-Kazhim menawarkan sejumlah uang yang dapat menutupi kebutuhannya, namun Ali bin Ismail menolak, dan dia tetap memilih untuk pergi ke Bagdad. Ketika itulah Imam Muza al-Kazhim berkata kepadanya, “Engkau jangan turut serta di dalam darahku!”

Ali bin Ismail bertanya “Apa maksud perkataan kamu ini?” namun Imam Musa al-Kazhim malah mengulangi perkataannya itu lagi, karena ia tahu bahwa Ali bin Ismail adalah seorang budak yang hina di hadapan emas dan perak.

Ali bin Ismail pun pergi ke Bagdad. Di Majelis Harun ar-Rasyid, Ali bin Ismail memfitnah Imam Musa al-Kazhim. Ali bin Ismail berkata kepada Harun ar-Rasyid, “Jika Anda seorang khalifah, lalu siapa Musa bin Ja’far itu? Sebaliknya, jika dia seorang khalifah, lalu siapakah anda ini? Sungguh, Musa bin Ja’far telah menimbun harta dan senjata, dan kini dia tengah bersiap-siap untuk memerangi Anda. Oleh karena itu, dahuluilah dia sebelum dia mendahuluimu!!”

Mendengar itu Harun al-Rasyid merasa gembira, lalu dia memerintahkan orangnya untuk memberi hadiah sebesar 200 ribu dirham kepada Ali bin Ismail. Akan tetapi Ali bin Ismail tidak beruntung, karena maut telah lebih dulu menjemputnya sebelum dia menerima hadiah yang dijanjikan itu.

Dari segi nasab, Ali bin Ismail mempunyai nasab yang sangat mulia, akan tetapi dia menyimpang dari jalan yang benar disebabkan dia menghamba kepada hawa nafsunya. Sebaliknya ada seorang ulama yang hawa nafsunya menjadi hamba dirinya. Ulama yang dimaksud itu ialah Muqaddas Ardabili. Seseorang bertanya kepada ulama ini (Muqaddas Ardabili), “Jika misalnya anda berduaan dengan seorang wanita muda yang cantik, lalu apakah hawa nafsu anda akan membisiki anda untuk melakukan sesuatu yang dilarang agama?”

Muqaddas Ardabili menjawab, “saya memohon kepada Allah SWT supaya Dia tidak menempatkan saya pada keadaan seperti itu.”

Muqaddas Ardabili tidak mengatakan “saya tidak akan melakukan apa-apa”. Melainkan dia mengatakan ”saya memohon kepada Allah SWT supaya Dia tidak menempatkan saya pada keadaan seperti itu”. Dia mengatakan itu karena yang namanya hawa nafsu selalu menyuruh kepada keburukan. Karena, jika hawa nafsu telah bergelora maka dia akan mengingkari syariat dan mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Saya memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita termasuk orang yang mampu menguasai hawa nafsunya.

Oleh karena itu, Islam melarang anak laki-laki dan anak perempuan kakak beradik yang telah mencapai usia delapan tahun untuk tidur satu ranjang. Bahkan, sangat dianjurkan untuk meletakkan penghalang di antara mereka berdua, baik itu berupa tirai atau yang serupa dengan itu.

Kita melihat sebagian orang yang mengaku sebagai orang yang modern dan berperadaban, mencela istri mereka karena mengenakan hijab, dan menyebutnya sebagai orang yang kolot dan terbelakang. Mereka melakukan itu dengan tujujan supaya bisa menyimpangkan istri mereka dari jalan yang benar.

Pada zaman kita sekarang ini, kita banyak menyaksikan hal-hal seperti ini. Jika kita mengkaji apa yang menjadi sebabnya, niscaya kita dapat melihat dengan jelas peranan nafsu ammarah dalam hal ini, yang mendorong seseorang kepada taklid buta dan kebodohan ganda (jahl murakkab). Kita berlindung kepada Allah SWT dari hawa nafsu.

Minggu, 26 Januari 2014

BENARKAH NABI MANUSIA BIASA

APAKAH Nabi saw hanya manusia biasa tidak ubah-nya seperti kita-kita? Demikian, mungkin keyakinan sebagian pihak. Biasanya mereka mengajukan ayat: “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu. Hanya saja kepadaku disampaikan wahyu.” (QS. 18:110). Berdasarkan ayat ini dan tunjangan ayat-ayat senada, semisal “Katakan: ‘Mahasuci Tuhanku. Bukankah aku hanya seorang manusia yang diutus?” Kelompok ini percaya bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa seperti manusia lainnya, dapat membuat kesalah-an, kekeliruan, bahkan mungkin, na’udzubillah, pelang-garan. Oleh karena itu kelompok ini menuding para pemuja Nabi saw telah berlaku berlebih-lebihan dan pengkultusan yang tidak perlu. Benarkah demikian? Untuk itu kita harus melihatnya dari berbagai sisi.
Pertama, sejauh mana al-Quran mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw, apakah hanya sebagai manusia biasa seperti manusia-manusia lainnya, atau sebagai manusia yang luar biasa, yang tidak dapat disamakan dengan manusia umum, bahkan dengan malaikat sekalipun? Jika kita telusuri dengan seksama ayat-ayat yang menyinggung tentang Nabi saw atau malah riwayat-riwayat yang berkenaan dengan Nabi saw, maka dengan yakin kita akan menganut pandang-an kedua dan menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad saw memang bukan manusia biasa. Ia adalah manusia utama, “superman” yang telah berhasil melewati ting-kat umum manusia dan mencapai derajat keutamaan yang tiada taranya. Katakanlah insân kamîl. Tapi me-ngapa masih ada yang memandang Nabi saw sebagai manusia biasa? Kita akan melihatnya.
Kedua, apa yang dimaksud bahwa Nabi Mu-hammad saw adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya? Apakah maksudnya bahwa kedudukannya di mata Allah sama dengan manusia lainnya? Saya kira kelompok penolak pemujaan kepada Nabi pun tidak membenarkan anggapan seperti ini. Mereka juga yakin bahwa Nabi Muhammad adalah seorang rasul dan me-miliki kedudukan yang sangat khusus di sisi Allah. Tapi mengapa mereka menganggap bahwa Nabi tidak ubahnya seperti manusia lain yang dapat lupa, salah, atau keliru? Kita coba mengkajinya.
Ketiga, bagaimana kita harus menyikapi Nabi Muhammad saw? Di satu sisi, ia adalah Nabi dengan kemuliaan yang tiada tara, tapi di sisi lain al-Quran menegaskan bahwa ia juga adalah manusia seperti kita. Kita akan sampai ke pembahasan ini setelah kita mele-wati pembahasan pertama dan kedua.
Kedudukan Nabi dalam al-Quran
Seperti yang telah kita singgung di atas, kedu-dukan Nabi Muhammad saw  dalam al-Quran sungguh luar biasa. Terdapat puluhan ayat di dalam al-Quran yang memuja Nabi Muhammad saw, apakah dalam bentuk pujian langsung, seperti ayat yang menyatakan bahwa Nabi memiliki akhlak yang sangat luhur. Atau dalam bentuk penyebutan sifat-sifat terpuji yang dimili-ki Nabi. Berikut beberapa contoh keagungan Rasulu-llah sebagaimana dalam al-Quran.
Pertama, keimanan semua rasul kepada Nabi. Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw berkata:
Setiap kali Allah mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Nabi Muhammad saw diutus, mereka akan ber-iman padanya, membelanya dan mengam-bil janji setia dari kaumnya untuk melaku-kan hal yang sama.
  Untuk hal ini, Allah Swt. berfirman dalam QS. 3: 81:
  Dan ketika Allah mengambil janji dari para nabi: “Aku telah berikan kepada kalian al-kitab dan al-hikmah, maka ketika Rasul itu (Mu-hammad saw) datang kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, kali-an benar-benar harus beriman kepadanya dan membelanya.” Dia (Allah) berkata: “Apakah ka-lian menerima dan berjanji akan memenuhi perintah-Ku ini?” Mereka berkata: “Ya, kami berjanji untuk melakukan itu.” Dia berkata: “Kalau begitu persaksikanlah dan Aku menjadi saksi bersama kalian.”
  Kedua, kabar gembira tentang kedatangan Mu-hammad saw. Al-Quran menjelaskan bahwa para peng-anut Ahlul Kitab tahu betul tentang kedatangan Nabi Muhammad saw, sebagaimana mereka tahu betul siapa anak mereka. Bahkan mereka saling memberi kabar gembira tentang kedatangannya itu (QS. 2:89, 146). Dan itu pula yang dipintakan Nabi Ibrahim as dalam doanya:
Tuhan kami, utuslah pada mereka seorang Ra-sul dari kalangan mereka sendiri (Muham-mad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka al-kitab dan al-hikmah, dan menyucikan mereka. Sesung-guhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana (QS. 2:129).

Ketiga, penciptaan Nabi Muhammad saw se-belum Nabi Adam as. Tetapi penciptaan itu masih dalam wujud “nûr” atau cahaya. Ketika Allah mencip-takan Adam, Ia menitipkan nur itu pada sulbi Adam yang kemudian berpindah-pindah dari satu sulbi ke sulbi yang lain hingga sulbi ‘Abdullah, ayah Nabi. Ibnu Abbas meriwayatkan:
  Rasulullah saw bersabda:
  Allah telah mencip-takanku dalam wu-jud nur yang berse-mayam di bawah ‘arasy dua belas ribu tahun sebelum men-ciptakan Adam as. Maka ketika Allah menciptakan Adam, Ia meletakkan nur itu pada sulbi Adam. Nur itu berpindah dari sulbi ke sulbi; dan kami baru ber-pisah setelah ‘Abdul Muthalib. Aku ke sulbi ‘Abdullah dan ‘Ali ke sulbi Abu Thalib.
  Al-Quran menyebutkan bahwa sulbi-sulbi tempat bersemayamnya nur itu adalah sulbi-sulbi orang-orang suci. Ini berarti bahwa orangtua dan nenek moyang Rasulullah sampai ke Nabi Adam as. Istilah al-Quran, al-Sajidîn, orang-orang patuh. Allah berfir-man:
  Dan bertawakallah kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu saat engkau bangun dan perpindahanmu dari sulbi ke sulbi orang-orang patuh (QS. 26:217-219).
  Keempat, Nabi Muhammad saw adalah manu-sia suci. Tidak pernah berbuat kesalahan, apalagi dosa. Namun demikian, ia tetap manusia biasa seperti manusia lainnya, dalam arti bahwa secara biologis tidak ada perbedaan antara Nabi saw dengan yang lain. Allah berfirman dalam QS. 33:33:
  Sesungguhnya yang dikehendaki Allah ialah menjauhkan kamu wahai Ahlul Bait dari segala kotoran dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.
  Riwayat-riwayat mengatakan bahwa yang dimaksud de-ngan Ahlul Bait pada ayat di atas adalah ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan Nabi Muhammad saw sendiri.
Kelima, Nabi Muhammad selalu dibimbing Allah Swt. Ucapannya, perbuatannya, tutur katanya dan sebagainya semuanya di bawah pengarahan dan bimbingan Allah Swt.

Sesungguhnya dia (Muhammad) tidak bertu-tur kata atas dasar hawa nafsu, melainkan se-muanya semata-mata adalah wahyu yang di-wahyukan kepadanya (QS. 53:3-4).
  Keenam, Nabi Muhammad saw adalah panutan yang sempurna, uswatun hasanah. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terda-pat teladan yang baik buat kamu.” (QS.33:21). Karena itu, maka “Apa pun yang di-bawanya harus kamu terima dan apa pun yang dilarang-nya harus kamu jauhi.” (QS. 59:7)
Ketujuh, dibukanya rahasia kegaiban kepada Nabi Muhammad saw. Allah berfirman:
  Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada rasul yang dikehendaki (QS. 72: 26-27).
  Tentu saja Rasulullah saw berada di urutan paling atas di antara para rasul yang menerima anugrah utama ini.
Kedelapan, Allah memuji Nabi Muhammad saw dengan berbagai pujian karena keluhuran akhlak-nya (QS. 68:4); kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada umat manusia (QS. 9:128) dan pengorbanan diri, tidak mementingkan diri demi kebahagiaan orang lain (QS. 20:2-3). Selain itu Allah Swt memberi perhatian yang khusus kepada Nabi Muhammad saw jika ada sedikit saja “masalah” yang dihadapinya (QS. 93:1-3; 94:1-4).
Kesembilan, siapa saja yang berhadapan de-ngan Nabi Muhammad saw maka berhadapan dengan Allah Swt. Sebaliknya, siapa saja yang membelanya, Allah berada di belakangnya. Firman Allah (QS. 9:61). Pada kesempatan lain, Allah bahkan mengancam ke-dua istri Rasulullah sendiri, ‘Aisyah dan Hafsah, karena mengkhianatinya dalam soal rahasia yang disampai-kannya kepada mereka. Jika mereka tidak tobat dan masih melawan Rasulullah, maka Allah sendiri yang akan menghadapi mereka (QS. 66:4).
Kesepuluh, Allah bershalawat kepada Nabi. Demikian juga seluruh malaikatnya. Karena itu orang-orang yang beriman diperintahkan bershalawat kepa-danya (QS. 33:56). Arti shala-wat Allah kepada Nabi ada-lah penganugrahan rahmat dan kasih sayang-Nya; sha-lawat malaikat adalah per-mohonan limpahan rahmat-Nya. Demikian pula shala-wat orang-orang beriman.
Kesebelas, orang-orang beriman diperintah-kan untuk tidak memperla-kukan Rasulullah sebagai-mana perlakuan mereka ter-hadap sesama mereka. Jika berbicara kepada Rasul ha-rus dengan suara yang pe-lan, tidak boleh teriak-teri-ak, karena hal itu akan meng-hapus pahala amal mereka (QS. 49:2-3).
Kedua belas, Allah akan melakukan apa saja demi menyenangkan hati Nabi. “Dan tuhanmu akan memberimu sehingga membuatmu senang” (QS. 93:5). Ayat ini menunjukkan betapa Allah amat mencintai Nabi-Nya. Ia akan memberikan apa saja yang diinginkan Nabi dan akan melakukan apa saja demi menyenang-kan hati Nabi saw. Dan salah satu anugrah Allah yang paling besar kepada Nabi ialah wewenang memberi syafaat kepada umatnya yang berdosa. Bukan saja di akhirat, tapi juga di dunia, yaitu dalam bentuk pe-ngabulan doa yang disampaikan oleh Nabi untuk umat-nya, baik ketika Nabi masih hidup maupun sesudah wafatnya.
Ketiga belas, Nabi saw ditetapkan sebagai pe-rantara (wasilah) antara diri-Nya dengan manusia. Bah-kan merupakan salah satu syarat terkabulnya doa.
Kami tidak utus seorang rasul kecuali untuk ditaati, dengan seizin Allah. Dan seandainya mereka mendatangimu ketika mereka berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun buat mereka, pastilah mereka dapati Allah Maha Pengam-pun dan Maha Pengasih (QS. 4:64).
  Bahkan tawassul kepada Nabi Muhammad saw ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang salih jauh sebelum kelahirannya. Kita dapat membaca riwa-yat yang mengatakan bahwa Adam dan Hawa telah bertawassul kepada Nabi Muhammad saw saat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Dikisahkan bahwa tat-kala Nabi Adam as dikeluarkan dari surga, ia memohon ampun kepada Allah atas perbuatanya. Dalam permo-honannya itu, ia bertawassul melalui Nabi Muhammad saw: “Ya Allah, melalui kebe-saran Muhammad, aku mohon ampun  pada-Mu kiranya Eng-kau ampuni dosaku.”
Allah Swt bertanya kepada Adam, “Dari mana kamu tahu Muhammad pa-dahal Aku belum mencipta-kannya?”
Adam berkata, “Tu-hanku, ketika Engkau cipta-kan aku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu dalam diriku, aku mengang-katkan kepalaku dan kulihat di pilar-pilar Arsy tertulis Lâ ilâha illallâh Muhammad Ra-sûlullâh. Aku tahu Engkau ti-dak akan menyertakan nama hamba-Mu kepada nama-Mu kecuali yang paling Eng-kau cintai.”
Allah Swt berkata, “Engkau benar, Adam. Mu-hammad adalah hamba yang paling Aku cintai. Dan karena engkau memohon ampun melaluinya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Hai Adam, kalau bu-kan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan-mu.”
  Nabi Sebagai Manusia Biasa
Dari sekian ayat yang kita lihat di atas tidak dapat disangkal bahwa Nabi Muhammad saw bukan manusia biasa, dalam arti bahwa kedudukannya sangat-sangat mulia di sisi Allah. Ia telah diciptakan Allah sebelum menciptakan yang lainnya. Nabi telah diper-siapkan membawa amanat-Nya jauh sebelum utusan-utusan lainnya. Bahkan utusan-utusan itu diperin-tahkan untuk mengimaninya dan mengabarkan kepada umat manusia kedatangannya. Nabi ditetapkan sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan, dan sebagai-nya. Akan tetapi semua ini tidak harus membuat kita memposisikannya sebagai bukan dari golongan manu-sia, seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa as.
Nabi Muhammad saw tetap manusia sebagai-mana manusia lainnya, sebagaimana isyarat al-Quran dalam beberapa ayatnya di atas. Pada diri Nabi Mu-hammad saw terdapat segala sesuatu yang ada pada manusia, yakni dimensi biologis manusia. Karena itu Nabi makan, minum, sakit, tidur, berdagang, berkelu-arga, senang, sedih, dan sebagainya, seperti umumnya manusia. Al-Quran sengaja menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, basyar, seperti manusia lainnya untuk membantah alasan penolakan kaum mu-syrikin terhadap Na-bi saw bahwa ia bu-kan dari golongan malaikat atau paling tidak bekerjasama dengan malaikat (QS. 25:7) dan juga mengingatkan kaum Muslimin supaya ti-dak mengulangi ke-salahan seperti yang dilakukan kaum Nasrani terhadap Nabi ‘Isa yang meng-anggapnya sebagai Tuhan.
Akan tetapi ketika kita mengata-kan bahwa Nabi adalah manusia biasa seperti manusia lainnya tidak berarti bahwa kita harus menganggapnya salah, keliru, melanggar, atau berakhirlah segalanya sesudah ia wafat. Sama sekali tidak demikian. Kesu-cian, keterpeliharaan dari dosa, maksum, hidup abadi bersama Allah sesudah kematian atau kemampuan ber-hubungan dengan-Nya sesudah kematian adalah per-kara ruhani yang dapat saja dicapai oleh manusia manapun jika ia telah mencapai kedudukan ruhani yang tinggi atau katakanlah maqam Insan Kamil. Allah Swt memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya, akan tetapi pada manusia, Allah ciptakan juga unsur lain-nya, yakni ruh Allah, yang justru dapat membuat manu-sia lebih tinggi dari makhluk manapun, termasuk mala-ikat. Yaitu jika melalui ruh itu ia mampu mengatasi unsur biologisnya. Itulah mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam atau manusia. Itulah pula mengapa Nabi Muhammad dapat menembus Sidratul-Muntaha, sementara Jibril akan hangus terbakar jika berani mencoba melang-kahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Karena Nabi Muham-mad telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani.
Kesalahan terbesar pihak yang menolak meng-akui kebesaran Nabi Muhammad di atas dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharam-kan, yaitu karena mereka melihat Nabi Muhammad saw dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi saw sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.
Melihat se-orang hanya dari di-mensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir. Bukan logika orang-orang beriman. Dengan alasan bahwa para utusan itu hanya ma-nusia seperti mere-ka, orang-orang kafir menolak meng-akuinya sebagai nabi atau rasul.
  Dan tidaklah menghalangi orang-orang (ka-fir) untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali mereka mengalaskan: Apakah Allah mengutus rasul dari golongan manusia? (QS. 17:94).
  Tapi orang-orang beriman berkata: “Kami mengimani-nya. Semuanya dari sisi Tuhan kami”. (QS. 3:7).
Sikap kepada Nabi
Berdasarkan beberapa ayat tentang keagungan Nabi Muhammad saw di atas dan beberapa riwayat Nabi, kita dapat melihat betapa Allah menuntut kita untuk menghormati dan mengagungkan rasul-Nya. Coba perhatikan ayat shalawat. Adakah perintah yang sama dengan perintah shalawat, yaitu yang didahului dengan pernyataan bahwa Allah dan malaikat-Nya te-lah melakukannya terlebih dahulu dan oleh karena itu kita pun diperintahkan untuk melakukan-nya, selain shalawat kepada Nabi? Tidak ada. Perintah itu berarti kita harus selalu melihat Nabi dengan penuh takzim dan agar kita selalu membalas jasa-jasanya.  Oleh karena itu pula, Nabi saw selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak mau bershalawat kepadanya adalah bakhil atau kikir. Bahkan orang yang datang ke tanah suci tapi tidak mampir ke Madinah untuk berziarah kepadanya telah memutus hu-bungan silaturrahmi dengannya.
Pada ayat tawassul kita bahkan diperi-ngatkan Allah jika ingin dosa-dosa kita diam-puni oleh-Nya harus bertawassul kepadanya. Jika tidak, Allah tidak akan mengabulkan per-mohonan ampun kita. Allah juga mengingatkan agar kita tidak memperlakukannya sama dengan kita, sebab hal itu dapat menghapus pahala amal ibadah kita (QS. 49:2-3). Selain itu, kita juga diperingatkan untuk tidak menganggap apa yang dilakukan atau diucapkannya lahir karena emosi atau hawa nafsunya. Tapi semuanya atas bimbingan Allah yang tidak pernah salah.
  Ia tidak bertutur kata atas dasar hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS. 53:3-4).
  Dengan demikian, yang mengagungkan dan memerintahkan kita untuk mengagungkan Nabi Muhammad saw adalah Allah Swt sendiri. Bukan kita. Kita hanya mengikuti perintah dan ajaran-Nya saja. Lalu mengapa kita harus menentang Allah dan Rasul-Nya hanya karena takut jatuh dalam hantu “kultus” yang kita ciptakan sendiri? Sebenarnya tidak ada kultus; karena kultus ialah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Pengagungan Nabi Muhammad saw justeru mendudukkan posisi Nabi Muhammad saw sebagaimana mestinya, seperti diperintahkan al-Quran. Justru jika kita tidak melakukan itu, dikhawatirkan telah menzalimi beliau.
  Sesungguhnya orang-orang yang menggangu Allah dan rasul-Nya dikutuk oleh Allah di dunia maupun di akhirat dan Allah siapkan baginya siksa yang menghinakannya (QS. 33:57).
  Sebagai penutup renungkan peristiwa yang terjadi pada zaman Nabi saw di bawah ini. ‘Abdullah bin Amr berkata:
  Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. Aku bermaksud menghapalnya. Tapi orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata: “Engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw? Padahal beliau hanyalah seorang manusia yang berbicara saat marah dan senang.” Aku berhenti menulis. Tetapi kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah. Ia kemudian menunjuk ke-pada mulutnya dan berkata: “Tulis saja. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang ke-luar dari sini kecuali kebenaran.” Camkan!
Sumber: RausyanFikr's Site

Sekilas tentang Nabi Muhammad

Nabi Muhammad bin Abdullah saw adalah nabi terakhir. Lahir pada tahun 570 M di Mekah. Diutus menjadi nabi ketika berusia empat puluh tahun. Selama tiga belas tahun Nabi saw berdakwah Islam di Mekah. Di Mekah Nabi saw mengalami banyak sekali kesulitan. Selama periode Mekah ini Nabi saw mendidik beberapa orang pilihan. Kemudian Nabi saw hijrah ke Madinah. Di Madinah Nabi saw mendirikan sentranya. Selama sepuluh tahun Nabi saw terang-terangan berdakwah Islam di Madinah. Nabi saw melakukan sejumlah perang yang berhasil menundukkan kaum Arab yang arogan. Pada akhir periode ini seluruh jazirah Arab memeluk Islam. Al-Qur'an Suci diwahyukan kepadanya secara bertahap dalam waktu dua puluh tiga tahun. Kaum Muslim memperlihatkan dedikasi yang luar biasa dan takzim kepada Al-Qur'an dan kepada pribadi Nabi Muhammad saw. Nabi saw wafat pada tahun 11 H pada tahun ke-23 misi kenabiannya dalam usia enam puluh tiga tahun. Nabi saw meninggalkan suatu masyarakat yang belum lama lahir, suatu masyarakat yang penuh dengan semangat spiritual, suatu masyarakat yang mempercayai suatu ideologi yang konstruktif dan yang menyadari tanggung jawabnya di dunia.
Ada dua hal yang memberi masyarakat yang baru lahir ini semangat antusiasme dan persatuan: Pertama, Al-Qur'an yang menyemangati kaum Muslim, yang senantiasa dibaca oleh kaum Muslim. Kedua, pribadi mulia dan berpengaruh Nabi saw yang sangat memesona kaum Muslim. Kini kami bahas secara ringkas pribadi Nabi Suci saw.

Masa Kanak-kanak
Muhammad saw masih berada dalam rahim ibundanya, ketika ayahandanya, yang kembali dari perjalanan bisnis ke Syiria, meninggal di Madinah. Kemudian Abdul Muthalib, kakeknya, mengambil alih pengasuhannya. Sejak kanak-kanak, tanda-tanda bahwa kelak dia akan menjadi nabi sudah terlihat jelas dari keistimewaan dan perilakunya. Abdul Muthalib secara intuitif mendeteksi bahwa cucunya memiliki masa depan yang luar biasa cemerlang.
Muhammad saw baru berusia delapan tahun ketika kakeknya juga meninggal. Dan sesuai dengan wasiat kakeknya, pengasuhan Muhammad saw diberikan kepada paman Muhammad saw yang bernama Abu Thalib as. Abu Thalib as juga terkejut ketika tahu bahwa perilaku anak ini beda dengan perilaku anak-anak lainnya. Tak seperti anak-anak sekitamya, Muhammad saw tak pemah tamak dengan makanan. Dan tak seperti adat yang berlaku pada masa itu, Muhammad saw selalu menyisir rapi rambutnya, dan wajah serta tubuh Muhammad saw selalu bersih.
Suatu hari Abu Thalib ingin Muhammad saw berganti pakaian di hadapan Abu Thalib sebelum pergi tidur. Si kecil Muhammad saw tak menyukai keinginan seperti itu. Namun karena tak dapat mentah-mentah menolak keinginan pamannya, si kecil Muhammad saw meminta pamannya untuk memalingkan mukanya ketika Muhammad saw melepaskan pakaiannya. Tentu saja Abu Thalib kaget, karena orang dewasa Arab sekalipun pada masa itu tak menolak bila diminta telanjang bulat di hadapan orang lain. Kata Abu Thalib: "Aku tak pernah mendengar dia berbohong, juga tak pernah aku melihat dia melakukan sesuatu yang tak senonoh. Kalau perlu saja Muhammad tertawa. Dia juga tak ingin ikut dalam permainan anak-anak. Dia lebih suka sendirian, dan selalu sopan, rendah hati dan bersahaja."

Tak Suka Nganggur dan Malas-malasan
Beliau saw tak suka nganggur dan bermalas-malasan. Beliau saw senantiasa mengucapkan: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, ketidakberdayaan dan sesuatu yang tak ada nilainya." Beliau saw selalu menyuruh kaum Muslim untuk bekerja keras dan kreatif. Beliau saw selalu mengatakan bahwa kemuliaan itu memiliki tujuh bagian, dan bagian terbaiknya adalah mencari nafkah dengan halal.

Jujur
Nabi saw, sebelum diutus menjadi rasul, mengadakan perjalanan ke Syiria untuk kepentingan Khadijah as. Dan Khadijah as ini di kemudian hari menjadi istrinya. Perjalanan ini, lebih dari sebelumnya, memperjelas kejujuran dan efisiensinya. Kejujuran dan keandalannya jadi begitu terkenal, sampai-sampai dia mendapat julukan tepercaya (al-Amin). Orang mempercayakan penjagaari harta mereka yang berhafga kepada Muhammad saw. Bahkan setelah diutus menjadi rasul, meskipun memusuhinya, kaum Quraisy tetap saja menyerahkan penjagaan harta berharga mereka kepadanya karena merasa yakin akan aman di tangannya. Itulah sebabnya ketika hijrah ke Madinah, Muhammad saw meninggalkan Imam Ali bin Abi Thalib as untuk beberapa hari demi mengembali-kan titipan kepada para pemiliknya.

Menentang Kezaliman
Pada masa pra-Islam, ada perjanjian yang dibuat oleh para korban kekejaman dan kezaliman dengan tujuan untuk melakukan upaya bersama guna melindungi kaum tertindas terhadap para tiran yang zalim. Perjanjian ini dikenal dengan nama "Hilful Fudhûl". Perjanjian ini dibuat di rumah Abdullah bin Jad'in di Mekah oleh tokoh-tokoh penting tertentu pada masa itu. Kemudian, selama masa kenabiannya, Muhammad saw sering menyebut perjanjian ini. Beliau mengatakan masih mau ikut dalam perjanjian serupa, dan tak mungkin melanggar isi perjanjian.


Sikap Terhadap Keluarga
Muhammad saw baik hati sikapnya terhadap keluarganya. Terhadap istri-istrinya, Muhammad saw tak pernah kasar sikapnya. Orang-orang Mekah pada umumnya merasa aneh dengan perilaku baik seperti itu. Nabi saw mentoleransi perkataan sebagian istrinya yang terasa menyakitkan hati, meskipun perkataan semacam itu tidak disukai sebagian istrinya yang lain. Nabi dengan penuh empati mengajak para pengikutnya untuk bersikap baik hati terhadap istri-istri mereka, karena, seperti sering kali diucapkannya, lelaki dan perempuan itu keduanya sama-sama memiliki sifat baik dan sifat buruk. Suami tidak boleh cuma gara-gara kebiasaan istri­nya yang tak menyenangkan lalu menceraikannya. Jika suami tak menyukai beberapa sifat istrinya, istri tentu memiliki sifat-sifat lain yang menyenangkannya. Dengan demikian urusannya jadi seimbang. Nabi Suci saw sangat menyayangi anak-anak dan cucu-cucunya. Nabi saw memperlihatkan rasa cinta dan kelembutan hatinya kepada mereka. Nabi saw mencintai mereka, memangku mereka, mendudukkan mereka di atas kedua bahunya dan menciumi mereka. Semua ini bertentangan dengan adat dan kebiasaan masyarakat Arab pada masa itu.
Nabi saw juga memperlihatkan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak-anak kaum Muslim. Nabi saw memangku mereka dan mengusap-usap kepala mereka. Para ibu sering kali membawa anak-anak mereka kepada Nabi saw untuk mendapatkan berkahnya. Bahkan pernah ada kejadian anak mengencingi pakaian Nabi saw. Dan para ibu pun jadi marah serta merasa malu. Sebagian ibu mencoba menghentikan anak main air. Namun Nabi Suci Saw. meminta ibu-ibu itu untuk tidak mengganggu anak tersebut. Nabi saw mengatakan bahwa anak itu akan membersihkan pakaiannya kalau pakaian itu kotor.

Sikap Terhadap Sahaya
Nabi saw luar biasa baik hati sikapnya terhadap kaum sahaya. Nabi saw suka mengatakan kepada orang bahwa sahaya adalah saudara. Nabi saw mengatakan: "Beri mereka makanan sepeiti yang kamu makan, pakaian seperti yang kamu pakai. Jangan paksa mereka mengerjakan sesuatu yang terlalu sulit bagi mereka. Beri mereka pekerjaan mereka, dan bantulah mereka dalam melaksanakan pekerjaan. Jangan panggil mereka dengan sebutan budak, karena semua manusia adalah hamba Allah. Allahlah Tuan sejati bagi semua manusia. Panggillah sahaya lelaki dan sahaya perempuanmu dengan panggilan anak muda."
Islam memberikan kepada kaum sahaya semua kemudahan yang dapat diberikan, kemudahan yang melahirkan kemerdekaan penuh mereka. Nabi Suci saw menggambarkan perdagangan sahaya sebagai seburuk-buruk pekerjaan. Nabi saw mengatakan bahwa orang yang memperdagangkan manusia adalah seburuk-buruk orang di mata Allah SWT.

Bersih, Rapi dan Memakai Wewangian
Nabi saw sangat menyukai kebersihan, kerapian dan wewangian. Nabi saw mendorong sahabat dan pengikutnya untuk menjaga kebersihan tubuh dan rumah mereka dan untuk memakai we­wangian. Nabi saw khususnya mengajak mereka untuk mandi dan memakai wewangian pada hari-hari Jumat agar tak ada bau badan yang tak sedap yang dapat mengganggu jamaah salat Jumat.

Perilaku Sosial
Dalam kehidupan di tengah masyarakat, Nabi saw selalu baik hati, riang dan sopan terhadap semua orang. Nabi saw selalu yang lebih duluan memberikan salam, sekalipun kepada anak-anak dan para sahaya. Nabi saw tak pernah meregangkan kakinya di hadapan orang, dan tak pernah berbaring di hadapan orang. Kalau tengah bersama Nabi saw, semua orang duduk mengelilingi Nabi saw. Tak ada yang punya tempat khusus. Nabi saw selalu memperhatikan sahabat-sahabatnya. Kalau Nabi saw tak melihat siapa pun di antara sahabat-sahabatnya itu selama dua atau tiga hari, Nabi saw menanyakannya. Jika ternyata sahabat itu sakit, Nabi saw menjenguknya. Dan jika sahabat itu mendapat kesulitan, Nabi saw berupaya memecahkan problemnya.
Dalam majelis, Nabi saw tak pernah bicara atau memberi perhatian hanya kepada seseorang, namun Nabi saw bicara dan memberikan perhatian kepada semuanya. Nabi saw tak suka kalau Nabi saw tinggal duduk saja lalu orang melayaninya. Nabi saw sendiri ikut dalam semua yang harus dikerjakan. Nabi saw suka mengatakan bahwa Allah SWT tak suka melihat seorang hamba yang merasa unggul sendiri.

Lembut Namun Tegas
Dalam masalah pribadi, Nabi saw lembut, simpatik dan toleran. Pada banyak peristiwa sejarah, toleransi Nabi saw merupakan salah satu alasan kenapa Nabi saw sukses. Namun dalam masalah prinsip ketika mengenai masalah kepentingan masyarakat atau hukum, Nabi saw tegas dan tak pernah memperlihatkan sikap toleran.
Ketika peristiwa penaklukan atas Mekah dan kemenangan Nabi saw atas kaum Quraisy, Nabi saw mengabaikan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap diri Nabi selama dua puluh tiga tahun. Nabi saw justru menyatakan amnesti umum. Nabi saw menerima permintaan maaf pembunuh paman tercintanya, Hamzah. Namun Nabi saw menjatuhkan hukuman kepada seorang wanita Bani Makhzum yang mencuri. Padahal wanita ini dari keluarga yang sangat terhormat, yang memandang penerapan hukuman atas dirinya sebagai penghinaan besar bagi keluarga tersebut. Keluarga ini tak henti-hentinya meminta Nabi saw untuk memaafkannya. Beberapa sahabat terkenal Nabi saw juga memintakan pengampunan baginya. Namun Nabi saw dengan marah me­ngatakan bahwa tidaklah mungkin karena untuk kepentingan seseorang lalu hukum Allah tidak diterapkan. Pada sore hari itu juga Nabi saw menyampaikan khotbah:
"Bangsa-bangsa dan umat-umat terdahulu mengalami kemunduran dan lalu punah akibat mereka bersikap diskriminatif dalam pelaksanaan hukum Allah. Kalau orang berpengaruh berbuat kejahatan, dia dibiarkan begitu saja. Namun jika orang lemah dan tak penting berbuat kejahatan, dia dihukum. Aku bersumpah demi Allah yang di tangan-Nya jiwaku bahwa aku akan tegas dalam melaksanakan keadilan sekalipun yang berbuat salah itu salah seorang keluargaku."



Ibadah
Untuk sebagian malam, terkadang separo malam, dan terkadang sepertiga atau dua pertiga malam, Nabi saw selalu melakukan ibadah. Meski siang harinya sibuk, khususnya selama Nabi saw berada di Madinah, Nabi saw tak pernah mengurangi waktu ibadahnya. Nabi saw menemukan kenikmatan penuh dalam ibadah dan berkomunikasi dengan Allah SWT. Ibadahnya merupakan ungkapan cinta dan rasa syukur, dan motivasinya bukan keinginan masuk surga, juga bukan karena takut neraka.
Suatu hari salah seorang istrinya bertanya kepada Nabi saw, bahwa kenapa Nabi saw begitu kuat dedikasinya untuk ibadah? Jawab Nabi saw: "Kepada siapa lagi aku mesti bersyukur, kalau bukan kepada Tuhanku?"
Nabi saw sangat sering berpuasa. Di samping puasa di bulan Ramadhan dan di sebagian bulan Syakban, Nabi saw selalu puasa dua hari sekali. Nabi saw selalu melewatkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan iktikaf di masjid. Dalam iktikaf ini Nabi saw mencurahkan segenap waktunya untuk ibadah. Namun kepada umatnya Nabi saw mengatakan bahwa sudah cukup kalau berpuasa tiga hari setiap bulannya. Nabi saw suka mengatakan bahwa ibadah dikerjakan menurut kemampuan masing-masing, dan tidak boleh memaksakan diri, karena kalau dipaksakan, maka efeknya akan buruk. Nabi saw menentang kehidupan rahib, menentang sikap hidup yang tak mau terlibat dalam urusan duniawi, dan menentang sikap hidup yang menolak kehidupan berkeluarga. Beberapa sahabat Nabi saw mengutarakan niat untuk hidup seperti rahib. Nabi saw mencela mereka. Nabi saw sering mengatakan:
Tubuh, istri, anak-anak dan sahabat-sahabatmu semuanya punya hak atas dirimu, dan kamu harus memenuhi kewajibanmu."
Bila salat sendirian, salat Nabi saw lama, bahkan terkadang Nabi saw berjamjam menunaikan salat sebelum subuh. Namun bila salat berjamaah, salat Nabi saw tidak lama. Dalam hal ini Nabi saw memandang penting memperhatikan orang-orang usia lanjut dan orang-orang yang lemah jasmaninya di antara para pengikutnya.

Hidup Sederhana
Hidup sederhana merupakan salah satu prinsip hidup Nabi saw. Makanan Nabi saw sederhana. Pakaian yang dikenakannya sederhana. Nabi saw, bila mengadakan perjalanan, caranya sederhana. Nabi saw lebih sering tidur di atas tikar, duduk di tanah, dan memerah susu kambing dengan kedua tangannya sendiri.
Nabi saw, bila naik binatang tunggangan, tidak memakai pelana. Kalau sedang naik binatang tunggangan, Nabi tak mau ada pengiringnya. Makanan pokok Nabi saw adalah roti dan kurrna. Nabi saw memperbaiki sepatunya sendiri dan menjahit pakaiannya sendiri dengan kedua tangannya sendiri. Kendati hidup bersahaja, Nabi saw tak pernah menganjurkan filosofi asketisisme (hidup dengan disiplin diri yang keras dan berpantang dari segala bentuk kesenangan atau kenikmatan—pen.). Nabi saw percaya bahwa uang perlu dibelanjakan untuk kepentingan masyarakat dan untuk tujuan-tujuan halal lainnya. Nabi saw biasa mengatakan: "Sungguh menyenangkan kekayaan itu, jika didapat dengan cara yang halal oleh orang yang tahu cara membelanjakannya."
Nabi saw juga mengatakan: "Kekayaan merupakan bantuan yang baik bagi ketakwaan."

Ketetapan Hati dan Sabar
Tekad atau kemauan keras Nabi saw sungguh luar biasa. Tekad ini mempengaruhi para sahabatnya juga. Periode kenabiannya benar-benar merupakan pelajaran tentang kemauan keras dan kesabaran. Dalam masa hidupnya, beberapa kali kondisi sedemikian rupa sehingga kelihatannya tak ada lagi harapan, namun tak pernah ada kata gagal dalam benaknya. Keyakinannya bahwa dirinya pada akhirnya akan sukses, tak pernah goyah sekejap pun.

Kepemimpinan, Administrasi dan Konsultasi
Sekalipun para sahabat Nabi saw menjalankan setiap perintah Nabi saw tanpa ragu, dan berulang-ulang mengatakan percaya penuh kepada Nabi saw dan bahkan mau terjun ke sungai atau ke dalam kobaran api jika saja Nabi saw memerintahkannya, namun Nabi saw tak pernah menggunakan cara-cara diktator. Mengenai masalah-masalah yang belum ada ketentuan khususnya dari Allah SWT, Nabi saw berkonsultasi dengan sahabat-sahabatnya dan menghargai pandangan mereka, dan dengan demikian membantu mereka mengembangkan pribadi mereka. Ketika Perang Badar, Nabi saw menyerahkan persoalan mengambil aksi militer untuk menghadapi musuh, memilih lahan untuk mendirikan tenda, dan mengenai perlakuan terhadap tawanan, kepada nasihat sahabat-sahabatnya. Ketika Perang Uhud, Nabi saw berkonsultasi soal perlu tidaknya tentara Muslim bertempur dari dalam kota Madinah ataukah tentara Muslim perlu keluar dari kota. Nabi saw juga berkonsultasi dengan para sahabatnya ketika Perang Ahzab dan Tabuk.
Kebaikan hati dan toleransi Nabi saw, keinginannya untuk mengupayakan ampunan bagi dosa-dosa umatnya, sahabat-sahabat­nya dan konsultasi dengan mereka yang dipandangnya penting, merupakan faktor-faktor utama yang memberikan sumbangsih bagi pengaruhnya yang luar biasa di kalangan para sahabatnya. Fakta ini ditunjukkan oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an memfirmankan:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan din dari sekelitingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Âli 'Imrân: 159)

Teratur dan Tertib
Semua tindakan Nabi saw teratur dan tertib. Nabi saw bekerja sesuai dengan jadwal. Nabi saw mengajak para sahabatnya untuk berbuat sama. Berkat pengaruh Nabi saw, para sahabat jadi penuh disiplin. Bahkan ketika Nabi saw memandang perlu merahasiakan keputusan tertentu agar musuh tidak menaruh syak wasangka terhadap kaum Muslim, para sahabat serta merta melaksanakan perintah Nabi saw. Misal, Nabi saw pernah memerintahkan agar para sahabat bergerak esok hari. Keesokan harinya semua sahabat yang diperintah itu bergerak bersama Nabi saw tanpa tahu maksud finalnya, dan para sahabat baru tahu maksudnya pada saat-saat terakhir. Terkadang Nabi saw memerintahkan beberapa orang untuk bergerak ke arah tertentu, memberikan surat untuk komandan mereka dan memerintahkan agar komandan tersebut membuka surat itu begitu sampai di tempat tertentu dan agar bertindak sesuai dengan perintah. Sebelum mencapai tempat tertentu, mereka tidak tahu maksud mereka dan untuk apa mereka ke sana. Dengan cara ini Nabi saw membuat musuh dan mata-mata tak tahu apa-apa, dan sering kali musuh serta mata-mata tak menduganya.

Mau Mendengarkan Kritik dan Tak Suka Pujian yang Bersifat Menjilat
Terkadang Nabi saw terpaksa menghadapi kritik para sahabat. Namun tanpa bersikap keras terhadap mereka, Nabi saw menjelas-kan keputusannya, dan para sahabat pun akhimya mau menerima. Nabi saw membenci sekali pujian yang bersifat menjilat. Nabi saw mengatakan: "Lemparkan debu ke wajah orang yang menjilat."
Nabi saw suka bekerja sempurna. Nabi saw biasa mengerjakan sesuatu dengan benar dan efisien. Ketika Sa'ad bin Mu'adz meninggal dan kemudian dibaringkan di makamnya, Nabi saw dengan kedua tangannya sendiri meletakkan batu dan bata di makam Sa'ad persis pada tempatnya dan dengan efisien. Nabi saw bersabda: "Aku mau segalanya dikerjakan dengan benar dan efisien."

Memerangi Kelemahan
Nabi saw tidak mengeksploitasi titik lemah dan kebodohan orang. Nabi saw justru berupaya memperbaiki kelemahan orang dan membuat orang mengetahui apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Pada hari meninggalnya putra Nabi saw yang berusia tujuh belas bulan, kebetulan terjadi gerhana matahari. Orang pada mengatakan bahwa gerhana tersebut terjadi karena duka cita yang merundung Nabi saw. Nabi saw tidak tinggal diam menghadapi pikiran yang keliru ini. Nabi saw kemudian naik ke mimbar dan mengatakan: "Wahai manusia! Bulan dan matahari adalah dua tanda dari Allah. Terjadinya gerhana keduanya bukan karena kematian seseorang."

Memiliki Kualitas Sebagai Pemimpin
Nabi saw memiliki kualitas maksimum kepemimpinan seperti sifat mau tahu orang, teguh had, efisien, berani, tak takut meng­hadapi konsekuensi suatu tindakan, mampu melihat ke depan, mampu menghadapi kritik, mengakui kemampuan orang lain, mendelegasikan kekuasaan kepada orang lain yang mampu, luwes dalam masalah pribadinya, keras dalam masalah prinsip, memandang penting orang lain, memajukan bakat intelektual, emosional dan praktis mereka, menjauhkan diri dari praktik lalim, tidak meminta ketaatan buta, bersahaja dan rendah hati, bermartabat dan sangat memperhatikan pengelolaan sumber daya manusia. Nabi saw sering mengatakan: "Jika kamu bertiga mengadakan perjalanan bersama, maka pilih salah satu dari kalian sebagai pemimpin."
Di Madinah, Nabi saw mendirikan sebuah sekretariat khusus. Nabi saw menunjuk sekelompok orang untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Ada ahli tulis wahyu yang bertugas menulis Al-Qur'an. Beberapa orang diberi amanat membuat draft dan menulis surat khusus. Beberapa orang diberi tugas mencatat transaksi legal. Beberapa orang diberi tanggung jawab memegang pembukuan. Beberapa orang diberi tanggung jawab membuat draft perjanjian. Semua perincian ini dicatat dalam buku sejarah seperti "Tarikh Ibn Wazih, al-Ya'qubi, at-Tanbîh wa al-Isyrâf karya Mas'udi, "Mu'jam al-Buldân" karya al-Bilâdzuri dan "at-Thabaqât" karya Ibn Sa'ad.

Metode Berdakwah
Dalam mendakwahkan Islam, metode Nabi saw lembut, tidak keras. Nabi saw terutama berupaya membangkitkan harapan, dan menghindari penggunaan ancaman. Kepada salah seorang sahabat, yang diutus Nabi saw untuk mendakwahkan Islam, Nabi saw mengatakan: "Bersikaplah yang menyenangkan, dan jangan bersikap keras. Katakan apa yang menyenangkan hati orang, dan jangan buat mereka jadi benci."
Nabi saw memiliki perhatian yang aktif terhadap dakwah Islam. Pernah Nabi saw pergi ke Thaif untuk berdakwah. Pada musim haji, Nabi saw suka menyeru berbagai suku dan menyampaikan pesan Islam kepada mereka. Nabi saw pemah mengutus Imam Ali bin Abi Thalib as dan pada kesempatan lain Mu'adz bin Jabal ke Yaman untuk berdakwah. Sebelum ke Madinah, Nabi saw mengutus Mus'ab bin Umair untuk berdakwah di Madinah. Nabi saw mengutus sejumlah sahabat ke Ediiopia. Di samping untuk meng­hindari penganiayaan kaum musyrik Mekah, mereka mendakwah­kan Islam di Ethiopia dan memuluskan jalan bagi diterimanya Islam oleh Negus, Raja Ethiopia, dan 50 persen penduduk Ethiopia. Pada tahun ke-6 Hijrah, Nabi saw mengirim surat kepada pemimpin sejumlah negara di berbagai bagian dunia dan mengenalkan kepada mereka tentang kenabiannya. Sekitar seratus surat yang ditulis Nabi untuk berbagai pemimpin, sampai sekarang masih ada.

Mendorong Pengetahuan
Nabi saw mendorong para sahabat untuk mencari ilmu. Nabi saw mewajibkan anak-anak mereka untuk belajar membaca dan menulis. Nabi saw memerintahkan sebagian sahabat untuk belajar bahasa Syiria kuno. Nabi saw sering berkata: "Setiap Muslim wajib menuntut ilmu."
Nabi saw juga mengatakan: "Di mana pun kamu mendapati satu ilmu yang berguna, ambillah. Tak masalah apakah ilmu itu ada pada orang kafir atau orang munafik."
"Tuntutlah ilmu sekalipun harus pergi ke negeri Cina."
Penekanan arti pentingnya ilmu ini menjadi sebab kenapa kaum Muslim begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia untuk menuntut ilmu dan untuk mencari karya-karya ilmiah. Kaum Muslim tidak saja menerjemahkan karya-karya ini, namun juga menelitinya. Dengan begitu mereka menjadi penghubung antara budaya-budaya kuno Yunani, Roma, Iran, Mesir serta India, dan budaya modern Eropa. Dengan berlalunya waktu, kaum Muslim sendiri menjadi pendiri salah satu peradaban dan budaya terbesar dalam sejarah manusia, yang oleh dunia dikenal sebagai peradaban dan budaya Muslim.
Karakter dan perilaku Nabi saw, seperti sabda dan agamanya, lengkap. Sejarah tak pernah menyaksikan pribadi lain selain Nabi saw yang berhasil mencapai kesempurnaan dalam semua dimensi manusia. Memang Nabi saw merupakan seorang manusia yang sempurna.

(Dikutip dari buku "Manusia dan Alam Semesta", Bab 21 "Nabi Muhammad saw")

Akhir Kenabian

Ruhullah Syams
Permasalahan khâtamiyyah (akhir kenabian atau kenabian pamungkas), dari sisi ia termuat dalam al-Qur’an dan riwayat maka ia mempunyai landasan bahasan dalam akidah dan teologi Islam. Akan tetapi dari sisi bahwa dalam masalah ini sebelumnya tidak terjadi perbedaan pendapat di antara mazhab-mazhab teologi yang ada dalam Islam, baik dari dimensi prinsip masalah maupun dalam dimensi penafsirannya, maka ia tidak menjadi bahan perbincangan dan pembahasan dalam kitab-kitab kalam Islami. Namun, adapun di zaman sekarang,  dikarenakan bermunculannya mazhab-mazhab baru dan pemikiran baru dalam dunia Islam, seperti Bahaiyyah, Ahmadiyyah, dan Islam Liberal, dan adanya klaim-klaim syariat baru dari satu sisi serta tafsiran-tafsiran baru yang dikemukakan sebagian dari cendekiawan Muslim tentang khâtamiyyah di sisi lain, menyebabkan para teolog Islam kontemporer memasukkan masalah ini sebagai salah satu dari pembahasan dan permasalahan penting dalam masalah teologi dan mengkhususkan untuknya sebuah pasal terpisah dalam kitab-kitab teologi. Bahkan lebih jauh dari itu telah ditulis beberapa risalah dan kitab khusus tentang masalah khâtamiyyah ini. Pengkajian dan penelitian hakikat khâtamiyyah dan argumen-argumennya, falsafah khâtamiyyah dan jawaban terhadap syubhat khusus dalam masalah ini, merupakan inti dan fokus yang membentuk pembahasan seputar masalah khâtamiyyah kenabian.    

Hakikat Khatamiyyah (Akhir Kenabian)
Kata khâtamiyyah merupakan derivasi dari kata khâtam dan berasal dari akar kata khatm yang bermakna akhir. Menurut ahli kosa kata, makna yang paling banyak digunakan bagi kata khâtam adalah makna “mâ yukhtamu bihi”, yakni wasilah akhir dan akhir sesuatu. Dalam makna ini tidak terdapat perbedaan antara khâtim (atas timbangan nâzhim) dan khâtam (atas timbangan âdam).[1]
Ustad Jawâdy Amuly berkata: Kata khâtam (dengan fatah huruf Ta) dan khâtim (dengan kasrah huruf Ta) menunjukkan bahwa pintu kenabian telah ditutup (diakhiri) dan telah diberi cap stempel, karena itu tidak akan datang lagi nabi lain dengan syariat baru. Sebagaimana juga derivasi-derivasi kata khatm dalam al-Qur’an –seperti nakhtamu, makhtûm, dan khatâm- memiliki pengertian seperti demikian ini; yakni menunjukkan makna akhir, mencapai akhir, diberi cap stempel, dan mendapatkan akhir.[2]
Oleh karena itu, khâtam al-anbiyâ yang merupakan salah satu dari laqab Nabi Muhammad Saw bermakna bahwa beliau adalah paling akhirnya nabi Tuhan dan dengan perantara beliau kenabian berakhir. Dengan demikian, Rasulullah Muhammad Saw adalah nabi dan utusan Tuhan yang paling akhir dan setelah beliau tidak akan ada lagi seorangpun yang dipilih dan diangkat sebagai nabi dari sisi Tuhan.
Kepenutupan dan akhir kenabian juga memestikan kepenutupan dan akhir risalah serta syariat. Yakni kenabian adalah seseorang yang menerima wahyu dari sisi Tuhan dan dipilih Tuhan untuk menduduki maqam kenabian. Dan juga telah diwahyukan kepadanya makrifat-makrifat dan hukum-hukum Ilahi yang merupakan penjelasan daripada ushul dan furu’ agama. Adapun risalah bermakna bahwa seseorang telah dipilih dalam maqam kenabian dan juga mendapat tugas dari sisi Tuhan untuk menyampaikan makrifat-makrifat serta hukum-hukum Ilahi kepada manusia. Di samping itu, dia berusaha merealisasikan makrifat-makrifat dan hukum-hukum Ilahi tersebut di tengah-tengah masyarakat demi membawa dan mengarahkan masyarakat kepada kesempurnaan dan kebahagiaan. Dan dari dimensi seorang nabi menjalankan tanggungjawab merealisasisikan hukum-hukum dan undang-undang Tuhan maka dia juga mendapatkan maqam imamah.[3] Berdasarkan ini, para nabi Tuhan memiliki tiga maqam, yaitu kenabian, risalah, dan imamah. Yakni membawa wahyu dan syariat Tuhan dan juga bertugas menyampaikan serta merealisasikan makrifat-makrifat dan hukum-hukum Ilahi di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana al-Qur’an, ketika berbicara tentang kenabian umum kadang mengungkapkan kenabian para nabi dengan kata “nabiyyin”: “… Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan….” (Qs. al-Baqarah [2]: 213) dan kadang dengan kata “rusulana”: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.” (Qs. al-Hadid [57]: 25)
Tidaklah salah, kita dapat asumsikan bahwa seseorang dalam syarat-syarat tertentu mempunyai maqam nubuwwah (kenabian) tapi belum diberi tugas risalah dan pada zaman kemudian baru dia dipilih sebagai rasul; akan tetapi kebalikan dari qadiyah ini tidak logis. Maksudnya, pemilihan untuk maqam risalah seseorang tanpa memiliki maqam kenabian dan tidak diwahyukan kepadanya syariat Ilahi adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Poin ini juga perlu diingat bahwa kendatipun nabi pemilik syariat tidak lebih dari lima orang –yaitu Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Isa As, dan Nabi Muhammad Saw- akan tetapi wahyu kenabian dan syariat tidak terkhususkan hanya kepada mereka, melainkan dalam hal ini para nabi Tuhan berserikat semuanya. Hatta para nabi sebelum Nabi Nuh As, kendatipun mereka ini tidak mempunyai syariat dengan makna mustalah disertai dengan kitab, akan tetapi mereka juga menerima wahyu Ilahi dan apa yang menjadi kebutuhan mereka untuk memberi hidayah masyarakat diwahyukan kepada mereka. Oleh karena itu, khâtamiyyah dalam pembahasan nubuwwah menjelaskan tiga matlab berikut ini:
1- Setelah Nabi Islam Muhammad Saw, tidak akan dipilih lagi seseorang sebagai nabi dari sisi Tuhan; yakni tidak ada lagi wahyu diturunkan kepada seseorang sehingga dia menjadi nabi Tuhan;          
2- Setelah Nabi Muhammad Saw dan syariat Islam, tidak akan diturunkan lagi syariat lain dari sisi Tuhan;
3- Setelah Nabi Muhammad Saw tidak akan ada seorangpun yang diutus sebagai rasul Tuhan yang bertugas menyampaikan syariat baru kepada masyarakat.
Mesti diketahui bahwa berakhirnya pintu wahyu dan kenabian, syariat dan risalah, tidak memestikan berakhirnya pintu ilham dan terputusnya setiap bentuk hubungan manusia dengan alam gaib. Akan tetapi manusia tetap dapat menemukan hakikat dan makrifat dari alam gaib dari jalan berkomunikasi dengan para malaikat; sebagaimana yang dibaca dalam hadits-hadits bahwa terdapat orang-orang dari umat-umat sebelumnya dan orang-orang dari umat Islam yang kendatipun tidak mendapatkan maqam kenabian dan risalah, tetapi mereka memperoleh ilham dan berbicara dengan para malaikat; orang-orang seperti ini dalam istilah disebut sebagai “muhaddats”.[4]  

Dalil-dalil Khâtamiyyah
Khâtamiyyah merupakan keyakinan pasti dan daruri agama Islam. Sebagaimana keyakinan terhadap kenabian Nabi Islam Saw yang menjadi kedarurian agama Islam maka demikian pula keyakinan terhadap khâtamiyyah ini. Oleh karena itu, mengingkarinya akan menyebabkan kekufuran.
Prinsip khâtamiyyah Nabi Islam bermakna bahwa Nabi Muhammad Saw adalah nabi Tuhan yang paling akhir dibangkitkan dari silsilah nabi-nabi yang diutus Tuhan dan sesudah beliau tidak akan ada lagi nabi yang dibangkitkan sampai hari kiamat. Kebangkitan nabi baru sesudah Nabi Islam Saw dapat dikonsepsi dalam dua bentuk:
- Nabi baru mempunyai syariat baru yang menggantikan syariat agama Islam;
- Nabi baru tidak membawa syariat baru, akan tetapi sebagai muballig agama Islam.[5]
Konsep khâtamiyyah dalam hal ini bertentangan dengan kedua bentuk konsepsi kebangkitan nabi baru sesudah Nabi Islam Saw tersebut di atas.
Adapun dasar dan landasan daripada khâtamiyyah adalah ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat mutawatir yang akan kami sebutkan sebagian dari mereka berikut ini:

Dalil Pertama
Salah satu dalil jelas tentang khâtamiyyah adalah ayat 40 surah al-Ahzab: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (Qs. al-Ahzab [33]: 40); Kandungan  ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Rasul Tuhan dan nabi Ilahi yang paling terakhir serta dengan perantaraan beliau kenabian ditutup.

Dalil Kedua
Tuhan, memperkenalkan al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci yang mengandung seluruh hakikat-hakikat wahyu dan dengan perantaraan turunnya maka tahapan tasyri’ Tuhan mencapai pada tahapan akhir dan kesempurnaan. Dengan demikian tidak akan terjadi lagi pergantian dan perubahan di dalam syariat Tuhan. Sebagaimana Tuhan berfirman: “Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu secara rinci? Orang-orang yang telah Kami beri kitab mengetahui benar bahwa (al-Qur’an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
“Dan telah sempurna firman Tuhanmu (al-Qur’an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. al-An’am[6]: 114-115)
Dalam kedua ayat ini dijelaskan bahwa tidaklah pantas manusia memilih hakim selain Allah Swt, sebab Dia telah menurunkan kitab syariat secara rinci kepada mereka (yakni al-Qur’an) dan kalimat-kalimat tasyri’ Tuhan sempurna berasaskan kebenaran dan keadilan serta kalimat-kalimat Tuhan ini tidak akan mendapatkan lagi perubahan dan pergantian.

Dalil Ketiga
Al-Qur’an, adalah sebuah kitab suci yang diturunkan untuk memberi peringatan dan hidayah petunjuk kepada setiap individu manusia dalam segala tempat dan seluruh zaman. Sebagaimana firman-Nya: “Mahasuci Allah yang telah menurunkan furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi peringatan kepada seluruh alam.” (Qs. al-Furqan[25]: 1)
Kata “alam” dalam bahasa mempunyai penggunaan yang luas. Kata ini meliputi segala sesuatu yang keberadaannya merupakan alamat dan petunjuk atas wujud Tuhan serta dengannya dapat diketahui akan eksistensi-Nya. Adapun kata “nadzîr” (peringatan), menjadi bukti bahwa manusia dan maujud-maujud sepertinya, mempunyai kesanggupan rasional serta dapat menerima peringatan dan hidayah tasyri’i. Dan dikarenakan dalam ayat ini tidak disebutkan kait tempat dan zaman maka hal ini menunjukkan bahwa peringatan dan hidayah al-Qur’an meliputi setiap individu manusia dalam segala tempat dan seluruh zaman.
Dalam ayat 28 surah Saba’ disebutkan: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan…” (Qs. Saba’[34]: 28) dan dalam ayat 19 surah al-An’am dikatakan: “…Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (al-Qur’an) kepadanya.” (Qs. al-An’am[6]: 19)
Secara prinsipal, semua ayat yang menunjukkan atas keumuman kenabian Nabi Islam Muhammad Saw dan syariat Islam, juga menunjukkan atas khâtamiyyah-nya; sebab pengkhususan keumuman hanya dengan zaman beliau adalah menyalahi kandungan lahiriah ayat-ayat.      

Dalil Keempat
Dalam hadits “manzilah”, yang merupakan hadits mutawatir, dijelaskan bahwa sesudah Rasul Muhammad Saw tidak akan dibangkitkan lagi seorang nabi: Engkau (Ali) di sisiku ibaratnya Harun di sisi Musa, kecuali bahwasanya tidak ada lagi nabi sesudahku.
Di samping hadits ini, terdapat hadits-hadits lain yang juga menunjukkan atas khâtamiyyah. Hadits-hadits tersebut meskipun secara lafazh tidak mutawatir akan tetapi dari segi maknawi adalah mutawatir. Mengingat bahwa pembahasan khâtamiyyah ini merupakan hal yang pasti di kalangan kaum muslimin maka kami merasa tidak butuh untuk menukilkan dalil-dalil hadits lainnya tersebut.[6]

Menjawab berbagai Sanggahan
1. Bagaimana bisa Nabi Muhammad Saw merupakan paling akhirnya nabi sementara Nabi Isa As akan datang pada akhir zaman? Bukankah dalam bentuk ini maka terdapat seorang nabi di tengah-tengah masyarakat sesudah nabi Islam?
Jawab: Nabi Isa As telah dipilih sebagai nabi sebelum kedatangan Rasulullah Saw dan beliau akan datang lagi pada akhir zaman dalam keadaan beliau akan beramal sesuai dengan syariat Islam. Oleh karena itu, beliau bukanlah seorang nabi baru dan tidak membawa syariat baru.[7]

2. Salah satu makna daripada khâtam adalah cincin dan ini bisa bermakna bahwa beliau Saw seperti cincin di antara para nabi-nabi. Dan ini merupakan kinayah bahwa beliau mempunyai maqam yang sangat tinggi di antara mereka. Sebagaimana cincin merupakan penghias tangan maka Rasulullah Saw adalah penghias dalam silsilah para nabi As.
Jawab: Pemutlakan lafazh khâtam dengan makna cincin bukanlah pengertian hakiki dari kata ini, makna hakiki kata khâtam –sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya- adalah akhir sesuatu atau wasilah berakhirnya sesuatu atau suatu pekerjaan. Dan dalam masyarakat Arab, hal yang resmi dilakukan mereka adalah memberi stempel surat-surat yang telah ditulis dengan cincin dan ini merupakan alamat bahwa surat tertulis tersebut telah berakhir dan tidak boleh ditambahkan lagi sesuatu atasnya. Dengan itu mereka menyebut cincin dengan khâtam.
Oleh karena itu, penggunaan lafazh khâtam dalam makna cincin digunakan apabila menunjukkan: Pertama, sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan (dalam hal ini penulisan surat-surat). Kedua, terdapat karinah lafzhi dan bukan lafzhi terhadap bentuk pekerjaan dan dalam ayat 40 surah al-Ahzab tersebut tidak terdapat kedua-duanya; sebab, penggunaan lafazh khâtam yang bermakna hiasan, terhadap seseorang, tidak digunakan dalam kalam Arab dan dalam ayat tersebut tidak terdapat karinah bagi iradah makna demikian ini.[8]
Dan untuk lebih gamblangnya kesalahan pemaknaan penggunaan kata khâtam dengan makna cincin dalam ayat tersebut, kami sajikan bukti-bukti berupa hadits-hadits di bawah ini yang menerangkan maknanya dengan pengertian sesuai yang telah kami sebutkan sebelumnya:
- Anas berkata: Saya mendengar dari Rasulullah Saw bahwa beliau bersabda: Saya adalah penutup para nabi-nabi dan engkau wahai Ali adalah penutup para washi, dan berkata Amirulmukminin Ali As: Nabi Muhammad Saw mengakhiri (menutup) seribu nabi dan saya mengakhiri seribu washi….[9]
- Rasulullah Saw bersabda: Saya dari segi penciptaan adalah paling awalnya para nabi dan dari segi pengutusan adalah paling akhirnya mereka.[10] Maksud dari paling awal ditinjau dari aspek penciptaan adalah ruh beliau, bukan penciptaan badannya. Paling awalnya penciptaan ruh Nabi Saw dapat ditafsirkan dengan shaâdir awwal (maujud yang paling awal termanifestasi) atau zhâhir awwalnya (maujud yang paling awal menampak) beliau Saw.[11]    
- Imam Muhammad Baqir As dalam menjelaskan ayat 40 surah al-Ahzab tentang kalimat “khâtama nabiyyin” berkata: Yakni tidak ada Nabi sesudah Muhammad Saw.[12]

3. Dalam ayat 40 surah al-Ahzab disebutkan bahwa Nabi Islam Saw adalah paling akhirnya nabi Tuhan, bukan paling akhirnya rasul Tuhan. Oleh karena itu, ayat tersebut tidak menafikan kedatangan rasul baru dan syariat baru.
Jawab: Tentang relasi antara kenabian dan risalah terdapat dua pandangan: Pertama, keduanya dari segi misdak adalah saling memestikan dan musâwiq (sama) antara satu dengan lainnya; yakni semua orang yang mencapai maqam kenabian, juga memiliki maqam risalah. Kedua, kenabian adalah lebih umum daripada risalah; yakni semua rasul adalah nabi, tetapi sebagian nabi bukanlah rasul. Berdasarkan kedua pandangan tersebut maka keberakhiran kenabian meniscayakan keberakhiran risalah; sebab jika dinafikan salah satu dari perkara yang saling memestikan maka akan meniscayakan penafian yang lainnya dan penafian yang lebih umum juga akan meniscayakan penafian yang lebih khusus.

4. Tuhan menjelaskan kepada Bani Adam bahwa setiap kali seorang rasul datang kepadamu dan membacakan ayat-ayat Tuhan untukmu, barangsiapa yang memilih jalan takwa dan saleh maka dia akan aman dari kesesatan dan adzab: “Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Qs. al-A’raf [7]: 35)
Dari kalimat یأتينّکم yang merupakan fiil mudhâri’, dipahami bahwa pintu risalah selamanya terbuka dan tidak akan tertutup serta berakhir.
Jawab: Kalimat tersebut tidak digunakan lebih dari yang dimaksud bahwa masalah risalah akan terulang; adapun perkara ini akan berlanjut sampai hari kiamat atau tidak, tidaklah didapatkan pengertian darinya. Dan jika lahiriah ayat menunjukkan matlab demikian itu juga maka ayat “…akan tetapi rasul Tuhan dan penutup para nabi…” (Qs. al-Ahzab [33]: 40) dan dalil-dalil lainnya berkenaan khâtamiyyah menjadi kait atasnya. Akan tetapi pengertian seperti itu tidak akan dihasilkan dari  zuhur ayat 35 surah al-A’raf tersebut, sebab kalimat syartiyyah, pada galibnya hanya menjelaskan hubungan syarat dan jawabannya satu sama lain, tidak menunjukkan pengulangan syarat yang memestikan pengulangan jawabannya.

5. Al-Qur’an menjelaskan bahwa jalan keselamatan dan kebahagiaan adalah iman kepada Tuhan, hari kiamat, dan amal saleh; baik dia itu adalah orang Islam, Yahudi, Nasrani, atau Shâbii; sebagaimana dikatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shâbiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebaikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (Qs. al-Baqarah[2]: 62)
Jelas bahwa matlab ini berseberangan dengan prinsip khâtamiyyah; sebab salah satu makna khâtamiyyah adalah syariat Islam menâsikh (menghapus) syariat-syariat sebelumnya dan dengan kedatangannya maka masa berlaku syariat-syariat sebelumnya telah berakhir.
Jawab: Isykal dan syubhah ini, juga mempertanyakan kemenduniaan syariat Islam dan sekaligus menyoal kepamungkasannya; akan tetapi ayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan atas matlab yang disebutkan di atas.
Dengan memperhatikan bentuk ayat, dapat dikatakan bahwa ayat di atas menjelaskan suatu prinsip universal tentang hidayah dan keselamatan. Bahwasanya hanya dengan memandang diri sebagai penganut Islam, Yahudi, Nasrani, atau Shâbii, tidak akan menyebabkan seseorang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan akhirat; akan tetapi keselamatan dan kebahagiaan manusia bergantung kepada iman hakiki dan amal saleh.  Dan adapun iman hakiki dan amal saleh dalam setiap zaman, mesti berasaskan dengan syariat apa yang berlaku di zaman tersebut. Karena itu, ayat ini tidak memperlihatkan penjelasan matlab demikian ini dengan bentuk pernyataan: “…barang siapa beriman di antara mereka…” sehingga cakupannya meliputi keimanan terhadap syariat-syariat yang disebutkan sebelumnya dalam priode diutusnya Nabi Muhammad Saw dan berlakunya syariat yang dibawanya.
Oleh karena itu, ayat-ayat lain al-Qur’an yang menunjukkan atas keumuman dan kepamungkasan syariat Islam, menjadi penjelas bahwa syariat Islam menâsikh (menghapus, membatalkan) syariat-syariat lainnya dan dengan kedatangannya maka iman dan amal saleh mesti bersaskan atasnya sehingga manusia dapat mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hakiki.

Beberapa Pertanyaan Seputar Khâtamiyyah
Sejak dahulu berbagai pertanyaan seputar khâtamiyyah telah diutarakan. Dan di zaman sekarang ini pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang diungkapkan dalam bentuk baru dan di samping itu juga muncul pertanyaan-pertanyaan yang baru sama sekali, dan di zaman akan datang juga akan muncul pertanyaan yang sama dalam bentuk yang lebih baru atau lebih modern dari bentuk sebelumnya. Sebagian dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
1- Dengan memperhatikan perjalanan kesempurnaan manusia, bagaimana mungkin manusia tidak mempunyai seorang pemimpin Ilahi?
2- Apakah undang-undang zaman kenabian dapat mengantisipasi dan menyelesaikan masalah-masalah sekarang ini?
3- Apakah dengan terputusnya wahyu dan kenabian, manusia mesti tidak mendapatkan akses lagi berhubungan dengan alam gaib?

Jawaban: Dengan menjelaskan beberapa perkara yang urgen dan daruri maka jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi jelas:

1. Burhan dalam al-Qur’an
Al-Qur’an, di samping memperkenalkan dirinya sebagai burhan dan cahaya, juga memperlihatkan berbagai istidlal dalam kandungan dan isinya, sebab itu al-Qur’an senantiasa menuntut burhan dari yang lainnya: “…apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Katakanlah (Muhammad), “Kemukakanlah burhan dan dalil-dalilmu!….” (Qs. al-Anbiyaa[21]: 24)
Al-Qur’an, dia sendiri adalah burhan dan juga mengemukakan dalil dan burhan. Berasaskan ini, al-Qur’an mengatakan: “Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu burhan (bukti kebenaran) dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).” (Qs.an-Nisa[4]: 174)
Oleh karena itu, al-Qur’an adalah burhan dalam istilah ahli hikmah (filosof) dan juga burhan dalam istilah ahli irfan serta juga burhan dalam istilah ahli hadits dan nakli.[13]          
Allamah Thabathabai dalam hal ini berkata: Jika anda meneliti secara sempurna Kitab Ilahi dan merenungkan secara dalam ayat-ayatnya, mungkin anda akan menyaksikan lebih dari tiga ratus ayat yang mengajak masyarakat kepada pemikiran, perenungan, dan rasionalitas. Atau menampakkan bagaimana Nabi Saw beristidlal untuk mengafirmasikan hak dan kebenaran serta meruntuhkan kebatilan. Atau menukil istidlal-istidlal dari para nabi As dan wali-wali-Nya -seperti, Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Lukman, orang mukmin keluarga Fir’aun, dan….
Tuhan dalam al-Qur’an tidak memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya -hatta satu ayat- (untuk menerima dan mengamalkan) apa yang tidak dipahaminya atau beriman kepada segala sesuatu yang datang dari sisi-sisi-Nya (kendatipun tidak diketahuinya) atau menapaki suatu jalan (beriman dan beramal) secara membabi buta; sampai-sampai undang-undang dan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dimana akal manusia tidak sampai kepada detail dan rincian parameter serta tolok ukurnya dan juga sesuatu yang  dalam pelaksanaannya berada dalam kebutuhannya, niscaya Dia (Tuhan) beristidlal tentangnya dan membawakan sebab (bukti dan dalil) terhadapnya.[14]  
Oleh karena itu, al-Qur’an dan ucapan para nabi As adalah paling argumentatifnya ucapan dan paling baiknya penjelasan dalam mengemban tujuan agung agama dan syariat. Kendatipun tentunya burhan-burhan al-Qur’an bukan dari jenis argumen dalam istilah filsafat dan kalam, akan tetapi dia berbicara dengan bahasa wahyu dan bahasa fitrah. Terkadang al-Qur’an berbicara seperti burhan siddiqin, membawa pemikiran kita dari wajibul wujud kepada ciptaan dan terkadang seperti burhan keteraturan, mengantar akal kita dari keteraturan sistem penciptaan kepada hikmah Tuhan yang hakîm; dan suatu waktu dia membawa kita dari kejamakan kepada keesaan dan diwaktu lain dia mengantar kita dari ketunggalan kepada kejamakan.
Dalam ayat-ayat permulaan surah ar-Ra’d, Tuhan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang sangat banyak dan mengisahkan kekuasaan-Nya dalam menciptakan dan mengatur mereka supaya manusia berpikir dan sadar tentangnya: “Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu. Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (Qs. ar-Ra’d[13]: 2-4)
Adapun bahwasanya al-Qur’an mematahkan dalil para penentang wahyu dan memandangnya sebagai batil dan sia-sia, seperti yang dikatakannya: “…hujjah dan dalil mereka adalah sia-sia…” (Qs. asy-Syûrâ[42]: 16), sesudah al-Qur’an menyebutkan dalil mereka dan membatilkannya; sebab penyembah berhala membuat alasan bahwa jika Allah menghendaki, tentu kami tidak menyekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apapun. (Qs. al-An’am[6]: 148)
Bentuk istidlal seperti ini dipandang batil oleh al-Qur’an, sebab dia mencampurkan antara iradah takwini dan tasyrii.[15]
Tuhan, secara takwini kuasa untuk mencegah kesyirikan mereka, tetapi mereka adalah maujud bebas memilih (mempunyai ikhtiar) dan setiap pekerjaan yang ingin mereka lakukan, mereka dapat lakukan. Karena itu, kendatipun Tuhan melarang mereka berbuat syirik secara tasyrii, tetapi mereka mempunyai ikhtiar untuk memilih tidak melanggar larangan Tuhan atau melanggarnya (dan dalam hal ini tidak ada campur tangan iradah takwini Tuhan).  
Demikian juga al-Qur’an menukil dan membatilkan istidlal mereka atas kelayakan berhala-berhala untuk mendekatkan mereka kepada Tuhan:“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (Qs. az-Zumar [39]: 3)
Begitu pula al-Qur’an menyetir dan membatilkan istidlal mereka atas kelayakan berhala-berhala sebagai pemberi syafaat bagi mereka di sisi Tuhan: “Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” (Qs. Yunus[10]: 18)
Al-Qur’an menukil dan membatilkan semua bentuk istidlal-istidlal mereka itu, dimana mereka berargumen dengan menjadikan berhala-berhala sebagai perantara “mendekatkan mereka kepada Tuhan” dan “pemberi syafaat bagi mereka di hadapan Tuhan” sebagai “middle terme” dan al-Qur’an setelah menukilnya secara panjang lebar dan mengisykalnya, menyatakan bahwa semua itu “…hujjah dan dalil mereka adalah batil (dan sia-sia)…” (Qs. asy-Syûrâ[42]: 16)
         
2. Khatamiyyah Menurut Pandangan Akal
Sebagaimana kita ketahui bahwa prinsip kenabian dapat diafirmasikan dengan dalil eksternal agama (dalil akal) dan juga dengan dalil internal agama (dalil nakli). Akan tetapi kita tidak mempunyai dalil akal atas kedarurian terputusnya wahyu dan terputusnya kenabian; yakni akal tidak memandang sebagai suatu perkara mustahil kedatangan nabi lain sesudah Nabi Muhammad Saw, kecuali dalil-dalil nakli yang membuat akal menerima khâtamiyyah. Meskipun pada hakikatnya kalbu yang bersih dan arif dapat menyaksikan terputusnya kenabian dan jalan ini –yakni syuhud dan penyaksian khâtamiyyah- tidak terkhususkan bagi nabi, tetapi lebih umum dari nabi, imam, dan maksumin. Sebagai contoh dari matlab ini, penyaksian wahyu hadhrat Ali As dan pembenaran dari Nabi Saw: Wahai Ali! Apa yang aku dengar, engkau juga mendengarnya.[16]
Oleh karena itu, akal manusia tidak dapat menghukumi dengan sendirinya kemestian terputusnya wahyu, akal hanya dapat mengetahui akhir kenabian ini lewat suatu ilmu yang jika Tuhan tidak mengajarkan kepada nabi-Nya, beliau sendiri juga tidak mengetahui perkara tersebut. Sebab itu, jika Nabi Saw tidak mendeklarasikan khâtamiyyah, tidak satupun orang yang dapat menjangkau makrifat rahasia ini.
Putusnya wahyu tidak bermakna bahwa apa yang dibawa agama yang tadinya adalah benar dan kokoh, sesudah kepergian pembawanya dan wahyu terputus maka berganti menjadi batil dan fatamorgana. Sebab agama Tuhan tidak akan didatangi kemusnahan dan tidak juga akan dibatilkan oleh sesuatu buatan manusia: “(Yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang)….” (Qs. Fussilat[41]: 42) Oleh karena itu, seluruh isi dan kandungan al-Qur’an dari masa diturunkannya sampai hari kiamat akan tetap bertahan dan langgeng; meskipun kenabian dari sisi pembawa tasyrii telah terputus dan juga tidak akan datang lagi syariat baru. Adapun jika syariat nabawi ditutup (tidak diberlakukan) maka yang akan menjadi penggantinya tentunya maktab pemikiran manusia dan ini tidak lain misdak dari klaim Firaun: “(Seraya) berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (Qs. an-Nâzi’ât[79]: 24) dan hal demikian ini adalah suatu yang batil ditinjau dari segi akli dan nakli.
Berasaskan ini, pada dasarnya manusia tidak dilepaskan begitu saja, akan tetapi rububiyyah Tuhan tetap berlanjut mengatur manusia lewat al-Qur’an dan hadits-hadits nabi-Nya dan dengannya Tuhan telah menyiapkan alat dan piranti istinbat dan istikhrâj bagi undang-undang dan hukum-hukum baru. Dan perlu diketahui bahwa akal itu sendiri merupakan salah satu sumber agama, bukan sesuatu yang berhadapan dengan agama. Karena itu, pembagian dalil kepada agama dan rasionalitas (berhadap-hadapan) adalah suatu kesalahan besar. Akal merupakan salah satu alat penyingkapan makrifat agama –yang sumbernya berpangkal dari iradah Tuhan- dan juga akal dapat mengetahui tentang apa yang dikatakan oleh wahyu dan nakli dan dengan perantaraannya ayat-ayat al-Qur’an diteliti dan disandingkan dengan riwayat-riwayat, dan dari percampuran keduanya itu istinbat dan istikhrâj mengambil bentuknya.
Akal merupakan pelita yang sangat terang yang berkhidmat pada wahyu dan dengan pertalian keduanya syariat Islam bertahan dan langgeng. Dan sumber kelanggengan ini berpangkal dari kekontinyuan rububiyyah Tuhan, yang mana mengatur manusia setiap detiknya dan memanifestasikan aturan-aturan-Nya sesuai kadar kebutuhan manusia.

3. Wilayat, Pilar Kenabian dan Imamah
Nubuwwah mempunyai suatu pilar penegak yang disebut wilayat. Dan dia adalah maqam batini yang hanya dapat dicapai dengan melalui jalan penghambaan dan qurbah nawâfil dan farâidh. Maqam sangat bernilai ini yang menjadi pilar penegak kenabian dapat juga dicapai oleh orang lain dan menjadi wali (dalam hal ini orang yang mencapai maqam tinggi ini, dia akan mendapatkan penyaksian dan penyingkapan alam gaib, tetapi tidak menerima wahyu syariat); yakni dia mencapai maqam wilayat tetapi tanpa kenabian.
Dengan berakhirnya kenabian, maqam wilayat tidak terputus; akan tetapi secara khusus terdapat wilayat bagi pemimpin agama (baca: Imam) dan para wali lainnya. Para pemimpin ini, dikarenakan memiliki wilayat dan imamah maka sesudah terputusnya wahyu dan tersempurnakannya garis-garis pedoman agama di tangan Nabi Saw, mereka menjadi penjaga, penafsir, dan melakukan pengajaran agama serta menyingkap hakikat-hakikat agama, dasar dan prinsip keyakinan, akhlak, fikh, kemasyarakatan, kedokteran, sistem pemerintahan,[17] dan bidang-bidang lainnya yang menjadi kebutuhan masyarakat Islam.
Oleh karena itu, pernyataan yang mengatakan bahwa dengan meninggalnya Nabi Saw maka manusia telah bebas dari wilayat tasyrii, ini adalah suatu pernyataan yang tidak mengandung nilai makrifat agama; sebab para pengganti nabi-nabi –khususnya para pengganti Nabi Islam Saw- melanjutkan apa yang dilakukan oleh Nabi Saw. Mereka bukanlah nabi dan mereka tidak memiliki wahyu tasyrii dan tidak membawa hukum baru, akan tetapi dari aspek wilayat mereka melakukan pekerjaan para nabi; sebab wilayat yang terdapat dalam kenabian, juga terdapat dalam wujud imam maksum.[18]
Wilayat ini, bukanlah wilayat maknawi dan qurb nawâfil dan farâidh, tetapi ia adalah wilayat tasyrii dan kepemimpinan umat yang tidak terputus; sebagaimana Tuhan berfirman: “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.” (Qs. al-Maidah[5]: 55)
Rasulullah Saw di Gadir Khum menekankan atas makna ini dan bersabda: Apakah aku tidak lebih pantas kepadamu dari diri kamu sendiri? Semua menjawab: Ya!; Ketika itu beliau bersabda: Maka barangsiapa aku maulanya (pemimpinnya) maka ini Ali maulanya.[19] Oleh karena itu, sepeninggal Rasulullah Saw, tanggungjawab menjelaskan makna dan menafsirkan ayat-ayat, memutuskan hukum, dan apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat yang hidup dan dinamis, berada di bawah kepemimpinan dan wilayat Ali As. Ucapan dia adalah ucapan Rasulullah Saw dan jika  disuatu tempat dibutuhkan istidlal maka dia membawakan dalil dan memecahkannya dengan istidlal dan apa yang menurutnya halal, adalah halal dan apa yang dihitungnya haram, adalah haram. Dan jika syarat-syarat tertentu menyertainya dan memenuhi untuk dia mengambil khilafah zahiri (lahiri) maka dia memegangnya untuk mengimplementasikan dan mengaplikasikan syariat agama dalam pemerintahan dengan bentuknya yang hakiki (sebagaimana yang dijalankan junjungannya Nabi Saw).
Dalam hal ini, masyarakat wajib menerima hukum dan perintahnya, sebagaimana hukum dan perintah Tuhan serta Rasul-Nya: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. al-Ahzab[33]: 36)    
Oleh karena itu, orang yang berkata: Bertanyalah padaku sebelum engkau kehilangan diriku; atau berkata: Saya lebih mengetahui jalan-jalan langit ketimbang jalan-jalan bumi[20], dia adalah pemilik wilayat yang disebutkan dan dengan pengertian ayat: “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri….” (Qs. al-Ahzab [33]: 6) maka dia juga memiliki wilayat tasyrii nabawi, dan sesudah dia, imam-imam berikutnya juga memiliki kepemimpinan dan wilayat tasyrii seperti ini sampai imam Mahdi As, dimana agama akan berkembang dan maju dalam berbagai aspeknya serta menjasad dalam kehidupan masyarakat.              

Sumber: www.wisdoms4all.com/ind
[1] . Ibnu Fâris, Muqâyasu al-lugah, Jld. 2, Hal. 245.
[2] . Jawâdy Amuly, Wahy wa Nubuwwat Dar Qurân, Hal. 400.
[3] . Ali Rabbani Gulfaigani, Kalam-e Tathbiqi  (Nubuwwat, Imamat wa Maad), Hal. 106.
[4] . Tentang masalah ini merujuk kepada kitab-kitab; Ushul Kâfi, Jld. 1, Sahih Bukhari, Jld. 3, dan Sahih Muslim, Jld. 4.
[5] . Muhammad Saidi Mehr, Amuzasy-e Kalam-e Islami, Jld. 2, Hal. 124.
[6]. Untuk mengetahui hadits-hadits berkenaan matlb ini merujuk pada kitab Mafâhim Al-Qur’an, Jld. 3, Hal. 148-167.
[7] . Zamaksyari, Tafsir Al-Kassyâf, Jld. 3, Hal. 544.
[8] . Ali Rabbani Gulfaigani, Kalam-e Tathbiqi (Nubuwwat, Imamat, wa Maad), Hal. 109.
[9] . Tafsir Nur Atssaqalain, Jld. 4, Hal. 284.
[10]. Ibid.
[11]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat Dar Qur’an, Hal. 401.
[12]. Allamah Majlisi, Biharul Anwâr, Jld. 22, Hal. 218.
[13]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat dar Qur’an, Hal. 405.
[14]. Thabathabai, Tafsir Al-Mizan, Jld. 6, Hal. 260.  
[15]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat dar Qur’an, Hal. 407.
[16]. Allamah Majlisi, Biharul Anwâr, Jld. 14, Hal. 476.
[17]. Jawadi Amuly, Wahyu wa Nubuwwat dar Qur’an, Hal. 411.
[18]. Ibid.
[19]. Allamah Majlisi, Biharul Anwâr, Jld. 21, Hal. 387.
[20]. Nahjul Balagah, Khutbah 89.
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com