Selasa, 01 November 2016

JIHAD ADALAH JALAN



Islam adalah satu agama yang telah diutuskan Allah dengannya Rasul-rasul dan nabi nabi semenjak dahulu lagi. Kemudian, Allah mengutuskan dengannya Nabi kita Muhamad saw dan Allah telah menjadikan Islam untuk manusia hingga ke hari kiamat. Dan ia (Islam) adalah satu agama dan negara yang mengatur kehidupan manusia serta perhubungan-perhubungannya dan mengarahkan mereka kepada risalah mereka di dunia supaya mereka berbahagia di akhirat. Dan ia adalah satu agama perdamaian, keamanan, kemerdekaan, dan keadilan. Ia adalah agama kecintaan, kasih sayang, tolong menolong dan imbang mengimbangi, ia menyuruh
dengan segala yang baik dan melarang dari segala yang buruk. Allah juga telah menjadikan Jihad sebagai satu kewajiban penyudah ke atas orang-orang Islam sehinggalah hari kiamat, ia mendorong orang Islam supaya cinta kepada mati Syahid, serta meninggikan kedudukan para syuhada. Tanpa Jihad tidak berdirilah tunggak bagi agama ini, maka tersebarlah kebatilan serta meratalah kerosakan. Allah swt telah memerintahkan orang-orang Islam supaya bersiap sedia dengan kekuatan dengan firmannya


selengkapnya baca disini
https://drive.google.com/file/d/0B0yd_PBp0mL7dVVkU0I0eXZpVW8/view?usp=sharing

Jumat, 16 September 2016

AKAL,WAHYU DAN JALAN MENGENAL TUHAN

AKAL,WAHYU DAN JALAN MENGENAL TUHAN

Pengenalan dan pengetahuan akan keberadaan Tuhan merupakan hal yang asasi dan prinsip bagi manusia yang beragama, meskipun nantinya konsep tentang Tuhan berbeda sesuai dengan doktrin-doktrin suci agama dan penafsiran aliran kepercayaan masing-masing. Tapi pada intinya, semua agama dan aliran kepercayaan tersebut menegaskan dan membenarkan wujud suci dan agung Tuhan.

Jika kita ingin mengindentifikasi metode-metode pencapaian makrifat kepada Tuhan oleh setiap orang, maka bisa kita katakan bahwa setiap orang memiliki metode dan cara tersendiri dalam meraih makrifat tersebut. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa jalan-jalan menuju Tuhan sebanyak jiwa-jiwa makhluk yang ada di alam ini. Tetapi apabila kita ingin meninjau sisi yang sama dari jalan-jalan makrifat kepada Tuhan tersebut, maka terdapat beberapa pendekatan universal yang dapat mencakup semua manusia. Di bawah ini terdapat beberapa metode dalam pencapaian makrifat kepada Tuhan, antara lain:

a. Metode Argumentasi

Cara ini dapat ditempuh dan dijalani oleh setiap orang yang memiliki akal sehat, sebab cara ini menggunakan premis-premis dan prinsip-prinsip rasionalitas dalam menetapkan eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan Tuhan. Namun dalam metode ini juga terdapat tingkatan-tingkan argumentasi dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit dan filosofis (dengan argumentasi filsafat).

b. Metode Syuhudi

Cara ini, jika ditinjau dari segi epistemologi memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari metode argumentasi di atas, sebab dalam syuhudi manusia mengenal Tuhan dengan ilmu huduri, sedangkan pada metode pertama dengan ilmu husuli. Cara ini dijalani dengan pembersihan dan pensucian nafs (jiwa) lewat pendisiplinan diri pada tingkatan-tingkatan spiritual hingga mencapai maqam "penyaksian" Tuhan dan dengan pandangan batin memandang sifat jalal dan jamal-Nya.

c. Metode Kontemplasi

Manusia dalam perjalanan hidupnya senantiasa dipenuhi dengan rasa ingin tahu terhadap apa yang dihadapannya, sebab itu apa saja yang disaksikannya senantiasa memotivasinya untuk mengenal dan mengetahuinya lebih jauh dan lebih dalam. Dan dengan berpikir terhadap fenomena-fenomena alam yang disaksikannya serta hubungan satu sama lainnya bisa mengantarkannya pada penemuan akan keberadaan Tuhan dan sifat-sifat-Nya seperti ilmu, iradah, hikmah dan kekuasaan. Jalan ini bersandar pada pengamatan dan penyaksian alam natural, sebab itu disebut jalan perenungan dan observasi. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya jalan ini tidak dapat dicapai tanpa menggunakan prinsip-prinsip akal.

d. Metode Akal

Jalan ini menggunakan premis-premis akal dan logika serta metode-metode argumentasi yang murni bersandar pada kaidah akal dalam pembuktikan keberadaan Tuhan dan menetapkan sifat-sifat khusus yang layak bagiNya, seperti hidup, ilmu, hikmah, iradah, dan kuasa,  serta membersihkan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak, seperti bermateri, beranak dan terbatas .

e. Metode Fitrah

Berbeda dari dua jalan sebelumnya, jalan ini tidak dengan akal dan juga tidak dengan kontemplasi alam tabiat. Manusia dengan hanya merujuk pada kedalaman batinnya, dia akan menemukan dan memperoleh makrifat Tuhan. Dengan metode fitrah dan jalan mukasyafah irfani serta jalan musyahadah kalbu termasuk dalam katagori jalan ini dalam menemukan Tuhan dan sifat jalal dan jamal-Nya. Jalan ini hanya terbuka bagi hati-hati yang bersih yang tidak dipenuhi dengan hawa nafsu, cinta materi dan  duniawi.

Selain dari kedua pembagian jalan makrifat pada Tuhan tersebut di atas, juga ada pembagian lain sebagai berikut :

a. Metode  Umum

Jalan ini adalah yang ditempuh oleh kebanyakan manusia, dan keyakinan yang dihasilkan tidak begitu dalam dan sempurna, tetapi cukup untuk dikatakan sebagai manusia beragama yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Jalan ini tidak dengan pemikiran yang dalam, tetapi dengan pemikiran sederhana yang didukung oleh fitrah yang sehat.

b. Metode Khusus

Orang-orang yang sanggup menjangkau pemikiran-pemikiran argumentatif (burhan) dan sampai pada keyakinan yang tidak lagi tergoyahkan secara argumentasi.

c. Metode Lebih Khusus

Jalan ini tersedia bagi hati-hati yang bersih dan fitrah yang tidak dinodai oleh hawa nafsu dan cinta materi. Para penapak jalan ini mensucikan batinya sesuci-sucinya sehingga cermin hatinya dapat memantulkan cahaya kebenaran secara hakiki. Dia akan mendapatkan wajah Tuhan dalam bentuk aslinya, jauh dari pengaruh kesesatan ilusi dan imajinasi pikiran.

e. Metode Terkhusus

Orang-orang yang memadukan jalan argumentatif dengan pensucian batin lewat menapaki tangga-tangga spiritual sehingga sampai pada maqam syuhud dan fana fi Allah. Kelebihan jalan ini dibanding jalan ketiga adalah orang yang berhasil pada jalan ini selain menggapai maqam jalan ketiga, ia juga mampu menguraikan makrifatnya dalam bentuk argumentasi akal, sehingga ia mampu membimbing akal-akal pencari kebenaran dan kesempurnaan sampai pada pemahaman yang hakiki. Jalan inilah yang ditempuh oleh orang-orang seperti; Ibnu Arabi, Mulla Sadra, Imam Khomeini, dan Allamah Thaba-thabai.

f. Metode Para Nabi Dan Rasul

Jalan ini adalah jalan yang paling sempurna dan istimewa dan hanya diperuntukkan bagi manusia-manusia pilihan Allah Swt.  Jalan ini meskipun dalam tinjauan teoritis terbuka bagi semua manusia, tetapi karena disertai dengan risalah dan wahyu serta tugas tertentu dari Tuhan, maka secara riil hanya mempunyai jumlah yang terbatas; seperti Tuhan hanya mengutus pada umat manusia sebanyak 25 Nabi dan Rasul, dan mengutus Nabi-nabi sebanyak 124.000 untuk seluruh umat manusia.  Oleh sebab itu, jalan dan cara ini meskipun bukan jalan argumen filosofis atau jalan penapak spiritual, akan tetapi cara dan jalan ini tentu tidak bertentangan dengan akal para filosof serta mukasyafah para pesuluk, bahkan ia malah menjadi tolok ukur kebenaran kedua jalan tersebut serta penerang yang tak padam bagi keduanya. Sebagaimana akan kami jelaskan nantinya kedudukan wahyu terhadap akal.

Defenisi dan Tujuan  Agama

Dalam bahasa Arab, secara leksikal, agama disebut dengan al-diin yang berarti ajaran, penyerahan, balasan dan ketaatan. Adapun arti al-diin secara gramatikal bisa didefenisikan sebagai berikut, "Al-Din atau agama adalah seluruh rangkaian ilmu, makrifat dan pengetahuan suci yang secara teoritis maupun praktis", yakni seluruh tinjauan dan pandangan terhadap pengamalan-pengamalan yang mengandung muatan suci. Tentu defenisi ini bersifat luas dan tidak terbatas pada satu agama, sebab seluruh agama mempunyai konsepsi-konsepsi dan praktek-praktek yang dipandang suci oleh para penganutnya. Adapun mengenai kebenaran ajaran suatu agama, hal tersebut menjadi model dalam pembahasan sistem keyakinan dan kepercayaan secara teoritis dan praktis, dimana akal dapat menguji sejauh mana kebenaran serta kesesuaian agama itu dengan hakikat realitas. Misalnya pandangan Islam tentang Tuhan berbeda dengan Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Tao, Konghucu dan agama-agama lainnya. Manakah diantara agama-agama tersebut yang mempunyai pandangan dan keyakinan tentang Tuhan yang dapat dibuktikan kebenarannya dan bersesuaian dengan akal dan realitas hakiki? 

Jika defenisi tersebut di atas dihubungkan dengan Islam maka agama berarti seluruh makrifat yang berkaitan dengan Tuhan yang terdapat dalam teks-teks suci al-Quran dan sunnah nabi.

Agama  dapat juga  didefenisikan sebagai berikut, "Al-Diin yang berarti ketaatan mutlak dan balasan yang dijabarkan dalam bentuk keyakinan, akhlak, hukum-hukum dan undang-undang yang berkaitan dengan individu dan masyarakat. Agama-agama langit adalah agama-agama yang berasal dari sisi Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi-nabi as, sebab itu masalah dan persoalan agama ditetapkan berdasarkan wahyu dan berita-berita yang  diterima secara yakin. Makna leksikal al-diin  adalah kepatuhan, ketaatan, penyerahan dan balasan. Dan makna istilahnya adalah keseluruhan keyakinan, akhlak, undang-undang dan aturan-aturan yang bertujuan mengatur urusan-urusan manusia dan membimbing mereka. Tidak semua ajaran itu seluruhnya benar dan dan juga sebaliknya, dan terkadang dalam beberapa ajaran bercampur antara benar dan batil. Jika keseluruhan ajarannya adalah benar maka disebut agama yang benar, dan begitu pula sebaliknya disebut agama yang batil atau percampuran antara benar dan batil.

Tujuan Agama

Secara global agama dipandang sebagai jalan dan petunjuk menuju kebahagiaan dan kesempurnaan. Dalam hal ini, kita tidak berbicara tentang agama-agama secara umum, kita hanya berbicara berkaitan dengan agama Islam. Kita meyakini secara argumentatif bahwa hanya agama Islam yang secara utuh memiliki kebenaran, baik secara teoritis maupun praktis.

Kitab-kitab suci yang diturunkan Tuhan beserta Rasul dan Nabi-Nya, semuanya mengajak manusia menyembah Tuhan dan mengesakan-Nya, berbuat baik kepada manusia dan menegakkan keadilan. Jelaslah agama dalam hal ini merupakan hidayah Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan Tuhan juga memberi petunjuk pada manusia dalam rangka menyampaikan mereka kepada kebahagiaan di dunia dan kesempurnaan di akhirat. Yakni tujuan agama dalam konteks ini adalah memberi hidayah dan petunjuk kepada manusia, mengaktualkan potensi manusia dan mengangkat manusia ke maqam kedekatan Tuhan.

Hakikat agama adalah kebahagiaan, kedamaian dan kemenangan seluruh umat manusia. Agama adalah jalan mencapai puncak tujuan penciptaan dan puncak kesempurnaan manusia. Agama bertujuan mengangkat manusia dari alam materi yang rendah menuju ke alam malakuti yang tinggi. Agama berkeinginan membantu manusia menyelesaikan berbagai problematika di dunia ini. Agama ingin menghilangkan ketakutan manusia kepada kematian dengan memberikan harapan kepada kehidupan abadi. Agama ingin mendekatkan manusia kepada Tuhan Penciptanya Yang Esa.

Agama dan Fitrah Manusia

Sebelumnya telah dijelaskan pengertian dari al-diin (agama) baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya yang perlu dijelaskan adalah makna dan pengertian fitrah manusia.

Kata fitrah secara leksikal bermakna watak ciptaan suatu maujud, namun dalam istilahnya mempunyai pengertian yang bermacam-macam. Dan yang kita maksudkan dari pada fitrah disini adalah sisi-sisi universal yang terdapat pada manusia dan mendasari sifat dan kecenderungan hakiki manusia dalam menerima agama dan penyembahan kepada Tuhan.

Adapun mengenai fitrah manusia kepada Tuhan dan agama terdapat tiga pandangan:

1.  Membenarkan keberadaan Tuhan merupakan pengetahuan yang bersifat fitrah manusia. Fitrah dalam pengertian ini adalah fitrah akal yang berhubungan dengan sistim pengenalan dan pengetahuan manusia.

2.  Manusia secara hudhuri dan syuhudi memiliki pengetahuan kepada Tuhan, dan manusia - berdasarkan potensinya masing-masing - mendapatkan pengetahuan hudhuri dari Tuhan tanpa perantara.

3.  Fitrah manusia kepada Tuhan adalah kecenderungan alami dan esensi yang terdapat dalam diri manusia, yakni kecenderungan dan keinginan kepada Tuhan merupakan hakikat penciptaan manusia.

Syahid Murtadha Muthahari dalam mengomentari pandangan pertama  berkata, "Sebagian orang yang berpandangan tentang kefitrahan pengetahuan kepada Tuhan yang mereka maksud dalam hal ini adalah fitrah akal. Mereka berkata bahwa manusia berdasarkan hukum akal yang bersifat fitrah tersebut tidak membutuhkan premis-premis argumentasi dalam menegaskan wujud Tuhan. Dengan memperhatikan tatanan eksistensi dan keteraturan segala sesuatu, maka otomatis dan tanpa membutuhkan argumen, manusia mendapatkan keyakinan tentang keberadaan Sang Pengatur dan Sang Perkasa.

Pandangan kedua tentang fitrah adalah manusia secara fitrah mempunyai pengetahuan hudhuri kepada Tuhan, bukan dengan ilmu hushuli yang diperoleh lewat argumentasi akal. Yakni manusia mempunyai hubungan yang dalam dan hakiki dengan Penciptanya, dan ketika manusia memandang ke dalam dirinya, dia akan menemukan hubungan tersebut. Karena kebanyakan manusia sibuk dengan kehidupan materi, maka dia tidak mendapatkan hubungan dengan Penciptanya. Tapi manusia pada saat memutuskan hubungannya dengan kesibukan-kesibukan kehidupan dunia, atau saat manusia kehilangan harapan dari sebab-sebab materi, barulah manusia merasakan hubungan tersebut yang terdapat dalam dirinya.

Fitrah dalam pandangan ketiga juga bukan fitrah akal atau pengetahuan hushuli yang sederhana, tetapi yang dimaksud adalah fitrah qalbu. Syahid Muthahari berkata, "Fitrah qalbu adalah manusia secara khusus diciptakan berkecenderungan dan berkeinginan kepada Tuhan. Dalam diri manusia telah diletakkan suatu bentuk instink pencarian Tuhan, kecenderungan kepada Tuhan, cinta dan penyembahan kepada Tuhan, sebagaimana instink kerinduan kepada  ibu dalam watak seorang anak.

Anak-anak yang baru dilahirkan meskipun belum memahami makna kesadaran riil tetapi terdapat dalam dirinya apa yang tidak disadarinya berupa kecenderungan kepada ibu dan kerinduan padanya. Dalam wujud manusia terdapat kecenderungan seperti ini, suatu kecenderungan agung dan tinggi, yakni kecenderungan penyembahan dan kecenderungan kepada Tuhan. Kecenderungan inilah yang membawa manusia ingin berhubungan dengan suatu hakikat yang tinggi dan ingin dekat kepada hakikat tersebut serta mensucikannya. Fitrah manusia yang telah diciptakan Tuhan dan diletakkan pada diri manusia dalam bentuk tabiat penciptaan, dengan tabiat tersebut  manusia menerima agama dan menyembah dan menyintai Tuhan.

Agama dan Akal

Salah satu hal penting yang menyibukkan pikiran dan menjadi wacana penting dikalangan para filosof dan teolog disepanjang sejarah adalah hubungan akal dan wahyu atau agama dan filsafat.Uuntuk lebih jelasnya pembahasan ini sebaiknya terlebih dahulu kita jelaskan makna dan pengertian akal dan wahyu.

Pengertian Akal

Akal dalam bahasa arab bermakna mencegah dan menahan, dan ketika akal dihubungkan dengan manusia maka bermakna orang yang mencegah dan menahan hawa nafsunya. Selain itu akal juga digunakan dengan makna pemahaman dan tadabbur. Jadi akal dari segi leksikalnya bisa bermakna menahan hawa nafsu sehingga dapat membedakan antara benar dan salah, juga bisa bermakna memahami dan bertadabbur sehingga memperoleh pengetahuan.

Akal dalam istilah mempunyai makna yang bermacam-macam dan banyak digunakan dalam kalimat majemuk, dibawah ini macam-macam akal, antara lain:

1.Akal instink : Akal manusia di awal penciptaannya, yakni  akal ini masih bersifat potensi dalam berpikir dan berargumen;

2.Akal teoritis : Akal yang memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang ada dan tiada (berkaitan dengan ilmu ontology), serta dalam hal tindakan dan etika mengetahui mana perbuatan yang mesti dikerjakannya dan mana yang tak pantas dilakukannya (berhubungan dengan ilmu fiqih dan akhlak).

3. Akal praktis : Kemampuan jiwa manusia dalam bertindak, beramal dan beretika sesuai dengan ilmu dan pengetahuan teoritis yang telah dicerapnya .

4. Akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang dikenal dan niscaya diterima oleh semua orang karena logis dan riil.

5. Juga akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang pasti dalam membentuk premis-premis argumen dimana meliputi proposisi badihi (jelas, gamblang) dan teoritis.

6. Akal substansi: sesuatu yang non materi dimana memiliki zat dan perbuatan.

Tentu yang kita maksudkan dalam pembahasan agama dan akal disini adalah akal yang  berfungsi dalam argumentasi dan burhan dimana didasarkan atas proposisi-proposisi yang pasti dan jelas, sehingga nantinya dapat diketahui bahwa pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pasti dan filosofis (argumentasi filsafat) tidak memiliki kontradiksi dengan doktrin-doktrin suci agama.

Pengertian wahyu

Wahyu merupakan kata yang tak dapat dipisahkan dari agama-agama langit, sebab wahyu Tuhan merupakan dasar dan prinsip yang membentuk  suatu agama samawi.

Ragib Isfahani dalam menjelaskan pengertian wahyu secara literal berkata, "Akar kata wahyu bermakna isyarat cepat, oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilakukan dengan cepat disebut wahyu. Dan ini bisa berbentuk ucapan bersandi dan berkinayah, atau tidak dalam bentuk kata-kata tapi berbentuk isyarat dari bagian anggota-anggota badan atau dalam bentuk tulisan.

Adapun wahyu menurut istilah adalah terbentuknya hubungan spiritual dan gaib pada setiap Nabi ketika mendapatkan pesan-pesan suci dari "langit".

Wahyu bukanlah sejenis ilmu hushuli yang didapatkan lewat mengkonsepsi alam luar dengan panca indera dan akal pikiran, tetapi wahyu adalah sejenis ilmu hudhuri, bahkan wahyu merupakan tingkatan ilmu huduri yang paling tinggi. Wahyu adalah penyaksian hakikat dimana hakikat tersebut merupakan pilar dan hubungan hakiki eksistensi manusia, manusia dengan ilmu hudhuri mendapatkan hubungan eksistensi dirinya dengan Tuhan dan kalam Tuhan, sebagaimana manusia mendapatkan dirinya sendiri.

Batasan Akal dan Wahyu

Tak dapat diragukan dan dipungkiri bahwa akal memiliki  kedudukan dalam wilayah agama, yang penting dalam hal ini menentukan dan menjelaskan batasan-batasan akal, sebab kita meyakini bahwa hampir semua kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat akal dalam pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara argumentatif. Para filosof Islam dalam hal ini juga  berusaha menjelaskan batasan antara akal dan syariat (hukum-hukum agama). Al-Kindi (lahir 185 H), filosof Islam pertama yang mendalami filsafat dan  terlibat dalam penerjemahan karya-karya filsafat adalah tokoh yang sangat memperhatikan masalah tersebut. Dia berupaya menerangkan kesesuaian akal dan wahyu, antara filsafat dan syariat. Menurut keyakinan dia, jika filsafat adalah ilmu yang mendalami hakikat-hakikat realitas sesuatu, maka mengingkari filsafat identik mengingkari hakikat sesuatu, yang pada akhirnya menyebabkan ketidaksempurnaan pengetahuan. Oleh sebab itu, tidak ada kontradiksi antara agama dan filsafat. Dan jika terdapat kontradiksi secara lahiriah antara wahyu dan pandangan-pandangan filsafat, maka cara pemecahannya adalah melakukan penafsiran dan ta'wil terhadap teks-teks suci agama. Metode ini dilanjutkan dan diteruskan oleh Al-Farabi.

Al-Farabi juga berpandangan bahwa agama dan filsafat sebagai dua sumber pengetahuan yang memiliki satu hakikat. Dia menafsirkan kedudukan seorang Nabi dan filosof, berdasarkan empat tingkatan akal teoritis, dimana Nabi adalah akal musthafa (akal yang paling tinggi) dan seorang filosof adalah akal fa'âl (akal aktif), jadi perbedaan nabi dan filosof sama dengan perbedaan kedua akal tersebut, akal musthafa lebih tinggi dari akal aktif. Perlu kita ketahui, dikalangan filosof Islam akal aktif tersebut ditafsirkan sebagai malaikat Jibril as atau ruhul qudus dalam agama Islam.

Ibnu Sina membagi dua filsafat yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Poin penting dalam pandangan Ibnu Sina tentang hubungan akal dan wahyu adalah pandangannya tentang dasar pembagian filsafat praktis dimana berpijak pada syariat Ilahi. Ibnu Sina berkata, " … maka filsafat praktis dibagi menjadi (al-hikmah al –amaliyyah) yaitu  pengaturan negara (al-hikmah al-madaniyyah), pengaturan keluarga (al-hikmah al-manziliyyah), dan akhlak dan etika (al-hikmah al-khulqiyyah), ketiga bagian ini didasarkan pada syariat Tuhan dan kesempurnaan batasan-batasannya dijelaskan dengan syariat serta pengamalannya sesudah manusia memperoleh pengetahuan teoritisnya terhadap undang-undang dan rincian pengamalannya.

Sebagaimana kita saksikan dalam perkataan Ibnu Sina tersebut bahwa dia memandang sumber dan dasar pembagian-pembagian filsafat praktis berpijak pada syariat Tuhan dan dia juga memandang bahwa batas-batas kesempurnaan pembagian tersebut ditentukan oleh syariat.

Pandangan-pandangan para filosof Islam tersebut menjelaskan tentang wilayah dan batasan akal terhadap wahyu, dimana akal menentukan dan mendefenisikan hal-hal universal yang berhubungan dengan pandangan dunia agama, dan adapun hal-hal yang bersifat terperinci dan pengamalannya ditentukan oleh agama itu sendiri. Tujuan agama dan kemestian manusia untuk beragama serta penentuan agama yang benar dibebankan pada kemampuan akal. Akal tidak memahami masalah-masalah seperti dari mana manusia datang, tujuan hakiki kehadiran dia, cara dia berterima kasih kepada Pencipta, kemana manusia setelah meninggal, dan bagaimana bertemu Tuhannya, tetapi  akal manusia memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh agama (dalam pengertian khusus) dan bukan tanggung jawab serta diluar kemampuan akal pikiran manusia.

Oleh karena itu, secara umum manusia menyaksikan bahwa masalah-masalah tersebut merupakan batasan dan wilayah agama, dan hanya agama yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara rinci, akal tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan demikian, untuk memperoleh jawaban secara mendetail dan terperinci dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tak ada cara lain selain merujuk kepada agama dan syariat suci Tuhan.

Konklusi dari pembahasan ini adalah akal memiliki kemampuan dalam membangun argumentasi yang kokoh tentang pandangan dunia agama, tetapi akal tak mampu memahami secara partikular dan mendetail batasan dan tujuan hakiki agama. Oleh sebab itu, manusia harus merujuk kepada agama dan syariat yang diturunkan Tuhan lewat Nabi-Nya.

Kesesuaian Akal dan Wahyu (Agama)

Jika kita berbicara tentang segala ciptaan Tuhan, maka akal dan wahyu juga merupakan dua realitas ciptaan Tuhan.

Tuhan mengutus Nabi-nabi disertai wahyu dan agama untuk memberi hidayah umat manusia. Dan Tuhan pun yang menciptakan akal manusia. Akal adalah salah satu fenomena diantara fenomena-fenomena alam yang ada. Tuhan adalah Pencipta akal dan Tuhan juga merupakan sumber syariat dan agama (wahyu). Jadi akal dan wahyu berasal dari Tuhan dan berujung pada satu hakikat yang tinggi dan suci.

Dalam teologi Islam ada konsep "kebaikan dan keburukan dalam timbangan akal" (husn wa qubh al-aql), artinya akal dapat menetapkan dan menilai berbagai perbuatan dan tindakan, serta menghukumi baik dan buruknya atau benar dan salahnya. Akal menetapkan perbuatan baik Seperti keadilan, kejujuran, balas budi, menolong orang-orang yang dalam kesulitan dan kemiskinan, dan juga menilai perbuatan buruk seperti kezaliman, menganiaya dan merampas hak dan milik orang lain. Dalam konteks ini, akal dengan tanpa bantuan wahyu dapat menunjukkan kepada manusia mana keadilan dan kezaliman, kejujuran dan kebohongan. Dalam hal ini juga syariat Tuhan menegaskan dan memberi hidayah manusia supaya tidak mengingkari keputusan akal. Oleh sebab itu, jika husn wa qubh al-aql ini dinafikan, maka syariat tidak dapat ditetapkan. Nasiruddin Thusi berkata, "Baik dan buruk dalam mizan akal (husn wa qubh al-aql) secara mutlak tertegaskan, karena keduanya berkaitan erat dalam keberadaan dan keabsahan syariat".Artinya jika akal tidak dapat menetapkan kebaikan dan keburukan, maka syariat juga tak dapat ditetapkan, karena bohong misalnya jika menurut akal hal iut tidaklah buruk, maka manusia tidak bisa menilai perkataan jujur para Nabi-nabi as adalah baik. Manusia juga tak dapat mengetahui bahwa para Nabi dan Rasul as pasti tidak bohong. Jika manusia mengetahui dari syariat bahwa para nabi pasti berkata jujur dan kejujuran adalah sifat yang mulia, maka muncul masalah bahwa syariat yang belum diketahui apakah hasil dari perkataan jujur atau bohong, sehingga dipercayai kejujuran dan kebenarannya. Yang pasti jika baik dan buruk dalam pandangan akal dinafikan, maka sangat banyak hal dan masalah yang dipertanyakan keabsahan dan kebenarannya, hatta syariat itu sendiri.

Dari tinjauan tersebut di atas, tidak bisa  dikatakan bahwa akal dan syariat di alam realitas saling berlawanan dan kontradiksi. Para ulama ushul fiqih mazhab Syi'ah Itsna Asyariyah (dua belas imam) memiliki konsep dan pandangan dalam bentuk sebagai berikut: Tuhan adalah pencipta akal dan "pemimpin" masyarakat berakal serta Tuhan pulalah yang menganugrahkan wahyu dan agama untuk manusia, maka  tak mungkin wahyu dan agama tak sesuai dengan akal, dan jika tak ada kesesuaian maka akan terjadi inner kontradiksi dalam ilmu Tuhan. Oleh karena itu, kita meyakini bahwa tidak terdapat kontradiksi antara akal dan wahyu, dan antara rasionalitas dan agama.

Diakhir pembahasan ini, kami akan menyajikan pandangan Mulla Sadra, salah seorang filosof besar Islam dan pendiri hikmah muta'aliyah, dimana Filsafatnya mencerminkan pengaruh timbal balik akal dan wahyu. Dia berusaha semaksimal mungkin membangun filsafatnya dari kekuatan akal dan kesucian wahyu.

Jika kita tinjau hubungan antara muatan wahyu dan proposisi akal, maka hubungan tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian:

1. Muatan wahyu sesuai dengan akal;

2. Muatan wahyu lebih tinggi dari akal;

3. Muatan wahyu kontradiksi dengan akal.

Menurut keyakinan Mulla Sadra, wahyu hakiki dan pesan hakiki Tuhan tidak kontradiksi dengan proposisi akal (bagian ketiga). Dalam tinjauan tersebut, dia berkata, "Maka kami bawakan dalil kuat yang berkaitan dengan topik ini, sehingga diketahui bahwa syariat dan akal memiliki kesesuaian sebagaimana dalam hikmah-hikmah lainnya, dan mustahil syariat Tuhan yang benar dan hukum-hukum-Nya berbenturan dan bertentangan dengan makrifat-makrifat akal dan argumentasi rasional, dan binasa bagi filsafat yang teori-teorinya tak sesuai dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya".Menurut  Mulla Sadra, hukum-hukum agama yang penuh dengan cahaya suci Tuhan mustahil bertentangan dan bertolak belakang dengan pengetahuan-pengetahuan universal akal, filsafat yang benar tak mungkin teori-teorinya bertentangan dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya. Dia berkeyakinan bahwa filsafat yang benar dan hakiki adalah filsafat yang memiliki korelasi dengan  wahyu suci Tuhan. Secara prinsipil, para filosof yang perkataannya menyalahi agama bukanlah filosof hakiki. Dia berkata, "Dan barang siapa yang agamanya bukan agama yang dianut oleh para Nabi as, maka pada dasarnya dia tidak mendapatkan sedikitpun bagian dari hikmah (filsafat hakiki)".Artinya, para filosof yang agamanya bukan agama para Nabi as, maka dia tidak mengambil manfaat sama sekali dari filsafat.

Dari perkataan Mulla Sadra di atas, dapat disimpulkan bahwa  dia berusaha - dengan pandangan-pandangan argumentatif - membela gagasan kebersesuaian akal dan wahyu, filsafat dan syariat, dan menolak adanya kontradiksi diantara keduanya.

Reza shadeqi, Dar omad-e bar Kalâm-e Jadid, hal.28.

Ayatullah Jawadi Amuli, Syari'at Dar Ayeneh-e Ma'rifat, hal. 111.

Murtadha Muthahhari, Majmu'e âtsar, jilid 6, hal.934.

Murtadha Muthahhari, Majmu'e âtsar, jilid 6, hal.934.

Dr. Sajjadi, Farhang-e Ulum Falsafah wa Kalam, hal.496.

Khusro panoh, Kalam-e Jadid hal.64.

Ibid hal.64.

Isfahani, Mufradat al-fâz al-Quran, hal.858.

Sayyid Mahdi, Darsnomeye ulumul Quran, hal.61.

Ayatullah Jawadi Amuli, Din Syenosi, hal.241.

Ibnu Sina, Rasaail fi al-hikmah wa al-tabi'iyyaah, hal.23-24.

Nashir al-din Thusi, Kasyf al-Murad fi Syarh al-Tajrid al-I'tiqad, hal.423.

Mulla Sadra, Asfar, jilid 9, hal.303.


Mulla Sadra, Asfar, jilid 5, hal.205.

Jumat, 26 Juni 2015

Peran Ulama dan Dai Sebarkan Islam

Islam adalah agama yang mengalami penyempurnaan dari agama Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. Allah Swt sepanjang zaman dan dengan memperhatikan kemampuan akal  setiap umat secara bertahap mengenalkan mereka dengan ajaran agama samawi. Perlakuan Allah Swt terhadap umat manusia ini akan terus berlangsung hingga manusia mencapai satu titik di mana mereka mampu menerima ajaran agama terakhir dan paling sempurna serta mampu menjaganya hingga generasi berikutnya tanpa ada penyelewengan.


Allah Swt memilih Islam sebagai agama terunggul bagi kehidupan manusia dan Nabi Muhammad Saw, sebagai nabi terakhir mendapat kepercayaan untuk mengemban misi suci ini. Allah Swt dalam surat al-Maidah ayat 3 berfirman yang artinya, “...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Para pakar agama mengakui bahwa Islam bukan sekedar agama individu, namun memiliki program bagi kebahagiaan manusia di seluruh sisi kehidupan, baik pribadi, sosial, politik dan hak. Ajaran Islam juga selaras dan dapat diterapkan dalam setiap kondisi. Selain itu, Islam tidak pernah kehilangan daya tariknya. Hal ini dikarenakan tuntutan-tuntutan Islam bertumpu pada fitrah manusia.

Rasulullah Saw selama menyebarkan risalah Ilahi ini dengan sabar menanggung segala bentuk siksa dan cemoohan umat musyrik dan munafikin. Nabi besar Islam ini sepanjang hidupnya tidak pernah takut atas ancaman yang dialamatkan kepada dirinya demi menyebarkan pesan Ilahi bagi kebahagiaan umat manusia tersebut. Kerja keras nabi untuk memberi hidayah manusia dipuji Allah Swt. Hingga akhir hidupnya, Muhammad melaksanakan dengan baik misinya dalam memberi petunjuk umat manusia dan menyampaikan pesan-pesan Ilahi. Tak hanya itu, Muhammad kemudian diperintahkan Allah untuk menunjuk penggantinya dan mengenalkannya kepada umat Islam, sehingga penyelewengan terhadap agama samawi ini dapat dicegah.

Pasca era kepemimpinan dan imamah 11 Imam dari keturunan Rasulullah, imam keduabelas atas kehendak Allah Swt mengalami masa ghaib dan menjadi simpanan Ilahi untuk mengalahkan kebatilan. Masa ghaib imam keduabelas ini akan terus berlangsung hingga umat manusia setelah menempuh fase kesempurnaan mereka menjadi siap membentuk pemerintahan terakhir demi kebahagiaan umat manusia.

Berdasarkan ayat dan riwayat, selama periode keghaiban panjang imam keduabelas, agama Allah Swt akan dijaga oleh para ulama dari penyimpangan. Ini merupakan karakteristik umat di era nabi terakhir yang tidak ditemukan di zaman nabi-nabi terdahulu. Dengan kata lain, manusia telah mencapai kemampuan dan rasionalitas yang tinggi sehingga di zaman ghaibnya imam keduabelas mampu memilah antara kebenaran dengan kebatilan dengan bersandar pada al-Quran dan sunnah Nabi.

Rasulullah Saw bersabda, “Ulama adalah pelita bumi dan pengganti para nabi serta ahli warisku dan para nabi.” Sejatinya dari sinilah dapat dipahami peran besar para ulama dan cendikiawan Islam. Imam Hadi as bersabda, “Jika setelah ghaibnya al-Qaim kami (Imam Mahdi), tidak ada ulama yang menyeru dan membimbing manusia kepadanya serta membela agama Ilahi serta membebaskan hamba-hamba yang lemah dari cengkeraman iblis dan pengikutnya, maka tak diragukan lagi manusia akan berpaling dari agama Allah.”

Di zaman ini ketika gelombang fitnah dan perpecahan mengancam Islam, maka dapat dipahami sebenarnya mengapa dalam agama Islam sangat ditekankan posisi ulama yang begitu tinggi. Rasulullah Saw bersabda, “Ketika muncul bid’ah di tengah umatku, maka menjadi kewajiban para ulama untuk menampakkan ilmunya. Dan barang siapa yang tidak berbuat demikian, maka ia wajib mendapat laknat Allah Swt.”

Selama 14 abad sejak munculnya Islam, ulama dan cendikiawan agama membela Islam murni dengan jiwa dan raganya. Islam murni adalah Islam yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya. Dalam hal ini Nabi telah mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh kepada al-Quran dan ahlul baitnya untuk menjaga Islam. Islam murni adalah Islam yang lepas dari interpretasi sesuai selera pribadi dan tak berdasar. Bukan Islam yang menurut al-Quran ketika bagian yang menyenangkan diambil serta ajaran yang tidak sesuai dengan kepentingan pribadi atau golongan ditinggalkan. Menyebarkan Islam yang murni ini hanya dapat dilakukan oleh para ulama yang mewakafkan umurnya untuk mempelajari agama ini.

Al-Quran dan hadis nabi juga telah memberi bantuan dan parameter kepada umat supaya mereka tidak terjerumus kedalam bujukan oknum-oknum yang mengaku ulama, namun sejatinya mereka menyeru ke jalan yang bertentangan dengan hidayah Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, “Jangan kalian duduk dengan sembarang orang alim (ulama), kecuali ulama yang menyeru kalian dari lima hal kepada lima hal yang lain. Dari keraguan kepada keyakinan, dari permusuhan kepada cinta kebaikan, dari kesombongan kepada kerendahan hati (tawadhu), dari riya kepada ikhlas serta dari kecintaan kepada dunia kearah berlepas diri dari kenikmatan sementara tersebut (dunia).”

Oleh karena itu, ulama yang menabuh genderang perpecahan dan tidak menunjukkan jalan ke arah persatuan, cinta kebaikan serta berlepas diri dari keraguan dan penyelewengan, mereka ini tidak layak untuk diikuti. Dengan parameter ini, bagaimana dapat diterima orang-orang baik dari Syiah maupun Sunni serta khususnya Wahabi menyebut dirinya sebagai ulama, namun setiap harinya menebar fatwa baru yang menyulut api perpecahan sebagai pewaris Nabi. Dengan beragam bukti yang nyata ini, bagaimana pengikut mereka nantinya memberi pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt?

Muslim Iran di tahun-tahun pasca kemenangan Revolusi Islam telah mendapat pengalaman berharga. Salah satunya adalah peran ulama dalam menjaga agama dan revolusi dari penyelewengan. Bahkan di fase paling suci sebuah kebangkitan, ledakan yang dihasilkan dari revolusi dan kebangkitan rakyat melawan kezaliman dapat menjadi peluang yang baik bagi musuh agama, sehingga mereka memanfaatkan sensitifitas dan semangat rakyat untuk melawan revolusi mereka sendiri serta menyelewengkannya. Hal ini dapat disaksikan dalam berbagai revolusi rakyat yang meletus dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di Mesir.

Di Iran sendiri selama periode revolusi, muncul banyak kelompok-kelompok menyimpang. Setiap kelompok ini merekrut pemuda yang bodoh dan tak sadar akan hakikat Islam. Pasca kemenangan Revolusi Islam, kelompok sesat ini mulai mengarahkan Iran ke arah perang saudara. Teror dan instabilitas di dalam negeri marak dikobarkan, padahal musuh-musuh asing juga menyerang Iran dengan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menciptakan kondisi sangat sulit bagi rakyat Iran.

Kelompok ini mengaku Islam dan revolusioner serta menipu para pemuda. Namun pengalaman sukses Iran adalah keterlibatan ulama di saat yang tepat serta upaya mereka memerangi ideologi sesat tersebut. Ulama Iran dengan dipimpin Imam Khomeini menjadikan masjid yang sejak lama menjadi pusat mukiminin sebagai tempat memberi pencerahan para pamuda dan memerangi akidah menyimpang. Sama seperti langkah pertama yang ditempuh Nabi saat hijrah ke Madinah adalah membangun masjid dan mengenalkannya sebagai faktor pemersatu serta pangkalan Islam. Nabi sendiri giat menyebarkan ajaran Ilahi dan mempertahankan agama Samawi tersebut melalui masjid. Kinerja cerdik ulama Iran berhasil menjinakkan beragam konspirasi musuh dan mempersatukan para pemuda revolusioner dalam menghadapi musuh asing sehingga revolusi mencapai kemenangan.

Kini dunia Islam tengah mengecap era paling sulit, di mana bukan saja harus menghadapi serangan nyata dari musuh seperti Amerika Serikat dan rezim Zionis, namun juga harus bertindak secara cerdas dan terkoordinasi dengan baik  dalam menghadapi program rahasia musuh untuk menciptakan penyelewengan di ajaran-ajaran mendasar Islam.

Aksi-aksi brutal kelompok menyimpang dan bodoh seperti Takfiri ISIS, Boko Haram dan Taliban serta penipuan terhadap sekelompok pemuda yang minus terhadap ajaran Islam,  kian mengharuskan kecerdasan ulama dan tindakan mereka untuk mengenalkan Islam yang murni kepada para pemuda serta orang-orang yang baru masuk Islam.

Di seluruh dunia, masjid merupakan pangkalan utama umat Muslim dan ulama berperan sebagai pengelola tempat suci ini. Oleh karena itu, pangkalan suci ini yang menjadi milik umat Muslim dapat dimanfaatkan sebagai pusat penyebaran serta pencerahan masyarakat terhadap agama Islam sejati sehingga menjadi jelas perbedaan Islam yang diklaim oleh kelompok Takfiri, khususnya soal jihad dan hukum Islam.

Dengan demikian perbedaan antara kegelapan dan cahaya menjadi jelas serta hati-hati suci para pemuda menjadi tercerahkan dengan hidayah Ilahi. Imam Baqir as berkata, “Jika ulama menyembunyikan nasihat, maka mereka telah berkhianat. Jika mereka menyaksikan manusia terjebak dalam kesesatan dan penyimpangan, namun tidak memberinya petunjuk atau tidak menghidupkan hati yang mati, maka sungguh celaka ulama tersebut karena telah melakukan pekerjaan terburuk.”(IRIB Indonesia)

Selasa, 11 Februari 2014

JERUK (Sebuah Renungan)

JERUK (Sebuah Renungan)

Ada tiga orang yang ingin membeli sepuluh buah jeruk manis di sebuah pasar swalayan untuk dibawa pulang ke rumahnya. Orang pertama mencoba sebuah jeruk untuk memastikan rasanya manis, lalu jeruk kedua hingga kesepuluh. Dia meninggalkan toko itu dengan membawa plastik berisikan kulit sepuluh buah jeruk. Orang kedua, hanya mencicipi sebuah jeruk, lalu memasukkan sembilan sisanya ke dalam plastik sesudah membayarkan harganya lalu meninggalkan toko itu. Orang ketiga melakukan serangkaian aksi intelektual terhadap jeruk tersebut secara universal, mulai dari meneliti merek, cara penanaman, komposisi kandungannya dan nama negara pengekspornya. Ia memastikan sepuluh jeruk itu manis tanpa mencicipinya satu buah pun lalu meninggalkan toko itu sambil menjinjing plastik berisikan sepuluh buah jeruk.

Ada tiga tipe manusia yang menggunakan tiga cara membentuk sebuah keyakinan, termasuk keyakinan agamanya. Orang pertama, karena setiap tema harus diyakini berdasarkan penelitian, ia mulai mengkaji satu tema lalu tema kedua dan begitulah seterusnya. Benaknya berpindah dari sebuah tema minor ke tema minor lainnya sebelum menghimpunnya dalam sebuah keyakinan yang kompleks. Ia menggunakan induksi, yaitu aksi intelektual dari tema partikular lalu berhenti di tema universal sebagai kesimpulan aksiomatis.

Orang kedua menularkan hukum sebuah objek partikular yang telah dikajinya atas objek partikular lainnya yang tidak dikajinya, lalu memastikan semua partikular yang sama dalam himpunan keyakinan universal sebagai kesimpulan. Metode yang digunakannya adalah kombinasi analogi dan induksi yang terbatas.

Orang ketiga hanya mengkaji tema universal yang merupakan muara tema-tema partikular lainnya. Ia hanya memeras otak untuk memahami tema mayor, yang meliputi minor-minor. Selanjutnya ia hanya menerima dan mengamalkan tema-tema minor yang merupakan konsekuensinya. Sebagai contoh, ia melakukan shalat, yang merupakan tema minor, sebagai konsekuensi keyakinan mayornya, yaitu Islam, tanpa merasa perlu tahu tentang dalil detailnya. Selanjutnya ia menjalankan aktivitasnya. Ketiga cara tersebut dibahas dalam sebuah bidang ilmu bernama epistemologi, yaitu ilmu tentang sumber dan anatomi pengetahuan.

Bisa dipastikan bahwa orang pertama tidak akan pernah berhenti mencari, membahas dan berdiskusi, bahkan mungkin tidak sempat melaksanakan keyakinannya, karena ia akan sibuk menjelajahi etalase tema-tema partikular yang masih mengganjal atau yang belum diproses oleh otaknya atau belum diyakininya. Ia adalah petualang wacana, tanpa mencapai sebuah kesimpulan universal yang bisa dijadikan sebagai pandangan dunia dan jalan hidupnya.

Sedangkan orang kedua hanya mengandalkan kemungkinan universal berdasarkan pengetahuan yang bersifat partikular, dengan tetap membuka ruang kecil bagi opsi dan kemungkinan lain yang bisa jadi menafikan kesimpulan universalnya. Ia senanatiasa diliputi oleh kecurigaan dan waw-was akan kesalahan yang mungkin akan muncul, karena belum diyakininya secara komprehensif. Ia tidak akan pernah memiliki keterikatan relijius. Ia bahkan akan selalu gamang dan tidak commited. Sisi positifnya, ia biasanya bersikap pluralis, toleran dan anti fanatisme.

Adapun orang ketiga tidak akan sibuk lagi dengan mempelajari dan mengkaji tema-tema partikular yang dianggapnya sebagai bagian dari tema universal yang telah diyakininya. Ia, misalnya, tidak akan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mencari tahu dalil tentang detail-detail shalat, karena sudah memastikan sumber hukum yang diandalkannnya untuk dijadikan sebagai panutan dan rujukan.

Orang yang menggunakan cara ketiga (deduksi) tidak merasa perlu mengetahui dalil dan alasan serta detail hukum tema-tema yang bersifat partikular sebelum melaksanakannya. Ia laksana orang yang telah memeras otak untuk mencari kriteria ‘atasan’. Setelah menemukan dan meyakini seseorang sebagai atasannya dan dirinya sebagai bawahannya, ia tidak lagi memerlukan dalil untuk melaksanakan setiap perintah atasannya itu, karena perintah itu bersifat partikular, dan hanyalah konskuensi logis dari keyakinan universalnya akan status orang itu sebagai atasan. Kalau bawahan menanyakan alasan rasional dan tujuan perintah atasannya, sangat mungkin besok ia sudah kehilangan posisi sebagai ‘bawahan’ alias diPHK karena desersi atau ‘mogok taat’.

Manakah cara yang perlu diutamakan dan dipilih? Cara pertama bisa dipastikan sulit bahkan mustahil dicapai, kecuali bila dibatasi area objeknya. Tidaklah mungkin menetapkan hukum ‘air memuai bila suhunya mencapai 0 derajat celicius’ dengan mencoba semua fenomena air tanpa kecuali.

Cara kedua hanya efektif bila objek yang dikaji bersifat material. Ilmu-ilmu alam, seperti fisika, kimia dan biologi, berpijak di atas induksi yang terbatas ini. Namun, agama dan sebagian ilmu rasional, seperti matematika, filsafat dan teologi, tidak bisa didekati dengan metode induksi, karena ia tidak bisa dihasilkan dari survei, investigasi dan penelitian empiris.

Dengan demikian, jelaslah agama dan keyakinan transenden cukup diyakini secara universal, sedangkan tema-tema di dalamnya, tidak perlu dipelajari secara argumentatif, kecuali bagi orang-orang tertentu yang punya cukup waktu dan bertugas untuk memberikan penjelasan-penjelasan tentang agama.

Kita tidak perlu mencoba setiap jeruk untuk mengetahui rasa dan kualitasnya. Kita juga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mempelajari semua tema agama, mempelajari kitab-kitab kuning dan menjadi ‘ustadz’ hanya karena ingin menjadi orang saleh dan taat beragama. Yang perlu dilakukan adalah mencari kriteria umum yang rasional, agar bisa mengerjakan yang lain dan pulang dengan membawa plastik berisikan jeruk, bukan kulit jeruk.

Yang menggelikan, di tengah masyarakat beragama, ada sekelompok orang yang memastikan jeruknya sebagai ‘yang paling manis’ meski tidak menggunakan salah satu dari tiga metode tersebut di atas sambil mencemooh, membatilkan, dan tentu saja, menyesatkan dan mengkafirkan pemakan jeruk lain

~ Oleh: DR. Muhsin Labib, MA.

Senin, 10 Februari 2014

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (2)

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (2)
Oleh : Syaikh Husain Mazhahiri


Sebagian orang bertanya, “Mengapa doaku tidak diperkenankan, padahal aku berdoa kepada Allah SWT untuk diberi rezeki—misalnya—siang dan malam.”

Di sini, Allamah Thabathaba’i, penulis kitab tafsir al-Mizan mengatakan, “Sesungguhnya doa diperkenankan, namun kebanyakannya tidak sesuai dengan sangkaan kita, melainkan sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Terkadang kita berdoa kepada Allah SWT supaya diberi rezeki yang banyak, atau dikaruniai anak laki-laki. Atau dengan kata lain, kita berdoa sesuai dengan kemauan kita, bukan sesuai dengan kepentingan-kepentingan fitri kita, padahal seharusnya doa sejalan dengan kenyataan, bukan dengan khalayan. Bisa saja harta yang banyak itu akan merusak kita dan menjauhkan kita dari agama, sementara kita tidak mengetahui itu; padahal Allah SWT mengetahui itu. Dan Dia tidak menginginkan sesuatu bagi kita kecuali kebaikan. Allah SWT mengetahui bahwa maslahat si Fulan menuntut dia untuk tetap dalam keadaan fakir dan hidup tanpa harta yang banyak. Allah mengetahui bahwa agamanya akan lebih baik dalam keadaan ini, dibandingkan jika sekiranya dia diberi rezeki yang banyak. Akan tetapi, jika Allah melihat bahwa sekiranya si Fulan diberi anak laki-laki maka agamanya akan menjadi sempurna, atau keadaannya akan menjadi lebih baik, maka pasti Allah pun memberinya anak laki-laki. Al-Quran al-Karim telah menyinggung masalah ini secara ringkas namun penuh manfaat.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 216)

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman dengan makna yang sama:

Mungkin saja kamu tiak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu itu. (QS. An-Nisa : 19)

Sesuatu yang bukan berada di dalam manfaat kita tidak akan terjadi, lalu kemudian kita pun menyangka bahwa doa yang kita panjatkan tidak memberikan hasil apa-apa.

Apa-apa yang di dalamnya terkandung manfaat bagi kita, maka dengan cepat akan terlaksana setelah doa. Inilah yang ditetapkan oleh Allah SWT atas kita. Dia lebih mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya yang tidak mampu mengenal kebaikan. Banyak dari mereka yang berdoa dengan sesuatu yang buruk, tanpa menyadarinya. Akan tetapi Zat yang Maha Kuasa-lah yang menetapkan dan menentukan diperkenankannya doa yang kita panjatkan setiap hari.

Salah satu masalah yang penting di dalam doa ialah tidak adanya pemaksaan terhadap suatu permintaan. Para Imam Ahlul Bait memulai doanya dengan mentauhidkan Allah SWT, menyebutkan sifat-sifat-Nya, dan menyebutkan rahmat dan kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan tidaklah mereka menyebut hajat mereka kecuali di akhir doa. Inilah yang dapat kita rasakan pada doa Kumail bin Ziyad, yang terdapat di dalam kitab Mishbah al-Mutahajjad. Doa ini dimulai dengan kata-kata. “Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu, dan yang dengannya menunduk segala sesuatu, dan yang dengannya menunduk segala sesuatu, dan yang dengannya merendah segala sesuatu, dan dengan keagungan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu.”

Dan doa ini terus berlanjut dalam bentuk seperti ini, hingga seseorang mengemukakan sebagian besar sifat-sifat dan nama-nama Allah SWT, untuk memberikan perhatian yang besar kepada doa dan Zat yang doa ditujukan kepada-Nya, yang tidak lain adalah Allah Azza Wajalla. Setelah itu barulah orang yang berdoa menyebutkan hajatnya, setelah sebelumnya bersumpah kepada Allah SWT atas nama para nabi dan para rasul-Nya, dan juga Nabi Penutup SAW dan para Imam Ahlul Bait, sehingga orang yang berdoa dapat merasakan kelezatan doa, yang mana Allah SWT senang melihat hamba-Nya dalam keadaan demikian, “Ktakanlah, ‘Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, melainkan kalau ada doamu,’” (QS. Al-Furqan : 77)

Jika Allah SWT  tidak memperkenankan doa yang kita panjatkan, maka janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah SWT, karena putus asa terkadang bisa sampai kepada batas kekufuran.

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir. (QS. Yusuf : 87)

Adapun sebab yang kedua tidak dikabulkannya doa adalah perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah SWT. Dia tidak ubahnya seperti dinding yang menghalangi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa memakan satu suap dari makanan yang haram,  maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam …”

Betapa indah apa yang disebutkan di dalam doa Kumail bin Ziyad—semoga rahmat Allah tercurah atasnya—di mana di dalam doa itu seorang Muslim mengatakan, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak nikmat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merintangi doa. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bencana.”

Juga pada permulaan munajat sya’baniyyah disebukan, “Ya Allah, dengarlah doaku manakala aku berdoa kepada-Mu, dan dengarlah seruanku manakala aku menyeru-Mu.” Arti ungkapan ini ialah, Ya Allah, sukseskanlah aku di dalam menyingkap tabir penghalang yang menghalangi di antara permohonanku dan Engkau, dan di antara aku dan Engkau. Yaitu tidak lain adalah hijab yang dibuat oleh dosa dan maksiat. Inilah yang disebut dengan bab penyerupaan al-ma’qul (sesuatu yang bersifat akli) dengan al-mahsus (sesuatu yang bersifat inderawi).

Atas dasar ini kita dapat mengetahui bahwa terkabulnya sebuah doa mempunyai syarat-syarat tertentu, yang salah satunya adalah menjauhi perbuatan maksiat dan hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT. Oleh karena itu, selayaknya kita memulai doa kita dengan tobat dan memohon ampun, supaya kita mampu mengangkat tirai yang menghalangi doa bisa naik ke atas. Tidak mengapa juga kita mengungkapkan tobat pada pertengahan atau akhir doa. Inilah yang dapat kita saksikan di dalam munajat sya’baniyyah, doa makarimul akhlaq, ­dan doa Kumail.

Jadi, yang menjadi sebab tidak dikabulkannya doa adalah diri kita sendiri, dan juga maksiat serta dosa yang kita lakukan. Kita harus menjauhi semua hal yang diharamkan oleh Allah SWT, baik berupa menyakiti orang lain, makan makanan yang haram, maupun hal-hal yang lain. Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Sungguhnya jika seorang laki-laki memperoleh suatu harta yang haram, maka tidak diterima ibadah haji, umrah, dan silaturahmi darinya.”

Walhasil, jika kita ingin doa kita dikabulkan di sisi Allah SWT maka kita harus menjauhi perbuatan dosa dan maksiat, menjaga hak-hak orang lain, tidak bersikap takabur kepada manusia, tidak tertipu harta dan kekayaan yang ada pada kita, dan harus banyak memuji Allah atas besarnya kebaikan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita, dengan pujian yang memang merupakan hak-Nya. Kita juga harus berpegang teguh kepada apa-apa yang terdapat di dalam kitab-Nya yang mulia, dan kepada apa-apa yang diucapkan Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya, supaya kita dapat menyampaikan doa hingga tingkatan-tingkatan pokoknya, agar diterima dan diridhai oleh Allah SWT.

Adapun sebab ketiga yang menghalangi diperkenankannya doa ialah, apa yang terlintas di dalam hati bertolak belakang dan tidak sesuai dengan kata-kata doa yang sedang kita ucapkan. Amirul Mukminin Ali Kw berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki yang mmembelakangi keningnya. Melihat itu Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang berusaha mengalahkan Allah maka Allah pasti mengalahkannya, dan barangsiapa yang menipu Allah maka pasti Allah menipunya. Janganlah sama sekali engkau bergeser dari tanah dengan keningmu, dan jangan pula engkau mengubah penciptaanmu.’”

Imam Ali berkata, “Sesungguhnya makhluk yang paling dibenci oleh Allah SWT ialah dua orang laki-laki. Yaitu seorang laki-laki yang Allah serahkan urusan dirinya kepadanya, sehingga dia menyimpang dari jalan Allah SWT, dan tergila-gila dengan bid’ah dan doa yang sesat. Dia menjadi fitnah bagi  orang-orang yang terpesona kepadanya, dan menyebabkan orang-orang yang berada di belakangnya tersesat dari petunjuk …”

Barangsiapa hatinya penuh dengan dosa, maka hatinya tidak ubahnya menjadi seperti tempat tidur setan. Dia tidak bisa mengosongkan satu tempat pun di dalam hatinya untuk Tuhan. Mungkin saja seseorang berdoa, sementara hatinya penuh dengan dosa, sehingga doanya pun tidak diperkenankan, disebabkan dirinya penuh dengan maksiat yang mencegah turunnya rahmat Allah kepada dirinya. Adapun hati yang diperuntukkan untuk sesuatu apa pun kecuali untuk perintah-perintah Allah SWT, maka dia dapat mengatakan, “Aku datang ke hadapan Engkau Ya Allah.” Dengan begitu, dia menjadi manusia yang bahagia dengan masuknya cahaya Allah ke dalam hatinya.

Saya memberikan contoh di sini, dengan maksud supaya pmbicaraan saya menjadi jelas. Jika salah seorang dari anda melemparkan wadah ke laut, niscaya dengan cepat anda menyaksikan wadah itu penuh dengan air. Akan tetapi jika dia menutup wadah itu terlebih dahulu dengan penutup yang kuat, lalu kemudian baru melemparkannya ke laut, niscaya anda akan melihat bahwa wadah itu kosong dari air. Dengan kata lain, tidak ada satu tetes air pun masuk ke dalamnya, meskipun wadah itu dibiarkan tetap berada di dalam laut selama setahun penuh. Adakah anda berpikir bahwa penyebab tidak masuknya air ke dalam wadah adalah kikirnya laut dari air, atau penyebabnya adalah penutup kuat yang mencegah masuknya air ke dalam wadah?

Demikian juga halnya anda masuk ke dalam sebuah kamar yang di dalamnya tidak tedapat jendela kecuali hanya satu pintu yang menjadi tempat anda masuk ke dalam kamar itu. Lalu anda mengunci pintu itu. Setelah itu anda menyaksikan bahwa anda tengah berada di dalam kegelapan yang pekat. Apakah ketika itu anda dapat menyalahkan matahari karena tidak memasukkan cahayanya kepada anda?

Jadi, anda harus membuka pintu kamar, dan menjadikannya sebagai jendela. Dengan begitu, baru anda dapat menyaksikan masuknya cahaya matahari kepada anda.

Jadi, kesalahan itu berasal dari kita dan bukan dari air laut atau kamar. Hati yang tidak mengenal kesucian tidak ubahnya seperti kamar yang tidak memiliki jendela.

Dapat juga hasud menjadi salah satu hal yang menghalangi doa. Hasud adalah salah satu faktor yang merusak hati. Karena, hasud adalah pangkal dari sifat-sifat yang buruk, dan buah dari hasud ialah kesengsaraan dunia dan kesengsaraan akhirat. Orang yang hatinya dikuasai oleh hasud, niscaya Allah SWT mencegahnya dari rahmat-Nya dan juga dari dikabulkannya doanya. Amirul Mukminin Ali Kw berkata, “Hasud adalah perangai yang rendah dan musuh negara. Hasud adalah gunting iblis yang paling besar. Hasud merintangi jiwa, hasud adalah seburuk-buruknya penyakit, aib yang paling jelek, dan perasaan yang memberatkan. Tidaklah orang yang hasud dapat terobati kecuali apabila harapannya telah sampai terhadap orang yang dihasudinya.”

Banyak riwayat Ahlul Bait Nabi SAW yang mengatakan bahwa orang yang berdusta manakala dia berdusta, maka keluarlah bau busuk dari mulutnya, dan bau busuk itu terus naik ke langit, sehingga para malaikat terganggu dengan bau busuk itu, dan mereka melaknat si pemiliknya. Apakah mungkin orang seperti ini akan dikabulkan doanya? Sebaliknya, orang yang berpuasa, yang terkadang kita tidak kuat mencium bau mulutnya, mereka mempunyai bau yang harum di alam malakut. Sesungguhnya doa mereka diterima dan dikabulkan, disebabkan kosongnya hati mereka dari maksiat, dan disebabkan keteguhan mereka dalam memegang apa-apa yang terdapat di dalam Kitab Allah SWT dan juga sunah para wali-Nya.

Perlu disebutkan di sini, bahwa usaha untuk berdoa dan memulai dalam masalah ini, tidak sunyi dari pengaruh-pengaruh positif bagi jiwa, dan juga ganjaran—meskipun tanpa disertai dengan pengabulan doa. Karena—secara umum—kata-kata doa dapat melembutkan hati, dan dapat membantu seorang Muslim untuk memahami kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang dia ucapkan tatkala berdoa.

Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq berkata dari kakeknya, Rasulullah SAW yang mengatakan, “Sesungguhnya aku menyukai seorang laki-laki dari kamu,  yang jika dia berdiri mengerjakan shalat fardhu dia menghadap Allah dengan hatinya, dan tidak menyibukkan hatinya dengan urusan dunia. Tidaklah seorang Mukmin menghadap Allah dengan hatinya di dalam shalat, kecuali Allah pasti akan mendatanginya dengan wajah-Nya, dan juga mendatanginya dengan hati orang-orang mukmin yang mencintainya, setelah terlebih dahulu Allah Azza Wajalla mencintainya.”

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami taufik dan ketaatan, kejauhan dari maksiat, dan pengabulan doa. Ya Allah, datangilah kami dengan wajah-Mu yang mulia, halangi dari kami kekuatan bala, dan selamatkanlah kami dari bencana yang sekonyong-konyong. Ya Allah, tolonglah kami dari hilangnya kenikmatan dan dari tergelincirnya kaki; singkapkanlah dari kami kesulitan zaman, palingkanlah dari kami penghalang-penghalang urusan, datangkanlah kepada kami tali kelana keselamatan dan bawalah kami kepada tempat kemuliaan. Ya Allah, singkapkanlah bala dan bencana-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih di antara yang pengasih, dengan nama Muhammad dan keluarga Muhammad yang suci.

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (1)

HAKIKAT dan MANFAAT DOA (1)
Oleh : Syaikh Husain Mazhahiri

Sesungguhnya salah satu faktor penolong bagi manusia dalam melakukan “jihad akbar” melawan nafsu ammarah ialah doa. Al-Quran al-Karim memberikan perhatian yang khusus kepada doa, disebabkan doa menciptakan hubungan dengan Allah SWT. Al-Quran Al-Karim juga mengecam orang-orang yang tidak menaruh perhatian terhadap doa.

          Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu.

Kemudian Allah SWT menambahkan:

          Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, mereka akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al-Mu’min: 60)

Tidak pernah di dalam Al-Quran disebutkan suatu azab seperti penyebutan azab ini. Atau bisa juga kita katakan, bahwa jarang kita melihat suatu ancaman dalam bentuk seperti ini sebagaimana yang ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa. Barangsiapa tidak berdoa, lalu dia berputus asa dari doa dan meninggalkan tali di atas punggung unta dalam keadaan yang sensitif ini, maka niscaya Allah memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu. (tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal sungguh kamu telah mendustakan-Nya. Karena itu kelak azab pasti menimpamu.” (QS. Al-Furqan: 77).

Barangsiapa menjauhkan diri dari berdoa dan memohon kepada Allah Azza Wajalla, maka niscaya Allah SWT akan berlepas tangan darinya dan menyerahkan urusan dirinya kepada-Nya, dan ketika itulah anda dapat menyaksikan betapa dia merugi di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, hadis-hadis menganjurkan kita untuk senantiasa membaca doa Rasulullah SAW di saat kegelapan malam. Yaitu doa yang berbunyi, “Ya Allah, janganlah sekejap pun Engkau serahkan urusan diriku kepadaku.”

Sesungguhnya doa adalah salah satu cabang dari cabang-cabang penyucian dan pembinaan diri. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT setelah Dia bersumpah demi matahari dan cahayanya di pagi hari,  kemudian demi bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila ia menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya; kemudian datang ungkapan penyebutan jiwa serta penyempurnaannya, dan pengilhaman jalan kefasikan dan ketakwaan kepda jiwa itu, serta keberuntungan orang yang menyucikan jiwanya dan kerugian orang yang menutupi jiwanya dengan maksiat dan kebodohan, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 9-10)

Penyucian jiwa berlangsung dengan doa dan tawassul kepada Allah SWT. Semata-mata doa yang mendidik dan menyucikan jiwa manusia, kata ganti orang pertama (dhamir mutakallim) sebanyak tujuh kali disebutkan pada ayat di bawah ini. Dan ini menunjukkan adanya perhatian yang begitu besar kepada doa. Di dalam surah Al-Baqarah, kita menyaksikan kedekatan Allah Azza Wajalla kepada orang yang berdoa, manakala orang berdoa dan memohon kepada-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)

Ayat yang mulia ini turun ketika sekelompok orang bertanya apakah Tuhan kami itu dekat sehingga kami cukup berbisik (bermunajat) kepada-Nya, atau Dia itu jauh sehingga kami harus menyeruh-Nya?

Maka Allah SWT pun menajawab, bahwa Dia itu dekat dan mengetahui semua keadaan mereka, serta mendengar doa mereka sebagaimana orang yang berdekatan  mendengar perkataan temannya. Allah SWT berfirman, “Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-ku”, jika dia datang dengan memenuhi syarat-syarat doa dan mengetahui orang yang dia tuju.

Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (QS. Qaf : 16)

Ini menunjukkan bahwa Allah SWT jauh lebih mendengar kepada seorang hamba dibandingkan semua orang yang berada dekat dengannya. Di samping itu ayat ini merupakan pendorong kepada kita untuk hanya berdoa dan bertawassul kepada Allah saja, dan tidak meminta kepada yang lain.

Imam Ali berkata, “Amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah Azza Wajalla di muka bumi adalah doa.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tuhanku, aku ingin mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai, sehingga aku bisa mencintainya?”

Maka Allah SWT pun berkata, “Jika Aku melihat seorang hamba-Ku banyak menyebut-ku, maka Aku mendengarkannya dan mencintainya; dan jika aku melihat seorang hamba-Ku tidak menyebut-Ku, maka Aku menghalanginya dan membencinya.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka di dalam pandangan Al-Quran Al-Karim dan riwayat-riwayat yang mu’tabar dari Rasulullah SAW dan para Imam Ahlul Bait, doa lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah daripada shalat malam, daripada mengerjakan shalat pada waktunya, dan demikian juga lebih utama daripada jihad. Karena, doa menghubungkan manusia dengan Allah secara langsung, dan menjadikannya tidak bersandar kecuali kepada-Nya. Almarhum al-Kulaini telah menulis kitab doa di dalam al-Kafi, dan mengiringinya dengan riwayat-riwayat yang berbicara tentang keutamaan-keutamaan doa. Demikian juga yang dilakukan oleh ‘Allamah Majlisi tatkala dia menghimpun sejumlah riwayat yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah doa. Kedua kitab ini, bersama dengan kitab Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah secara keseluruhan telah membentuk jalan para Imam Ahlul Bait yang suci. Sungguh besar apa yang dikatakan bahwa doa menjadikan manusia mampu membangun dan membersihkan dirinya dari berbagai kotoran dan maksiat. Atau, sebagaimana kata pemimpin Revolusi Islam, ketika membahas tema, “Seorang manusia dapat membangun dirinya dari dua hal; yaitu pertama Al-Quran, dan kedua Doa.

Al-Quran adalah perkataan yang turun dari sisi Zat yang Maha benar, sedangkan doa adalah perkataan seorang manusia kepada Penciptanya. Jadi, kita bisa mengatakan bahwa doa adalah ucapan seorang manusia yang ditujukan kepada Penciptanya, sedangkan Al-Quran adalah  perkataan Pencipta terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, doa adalah salah satu kebanggaan manusia dan selezat-lezatnya kelezatan.

Sesungguhnya manfaat doa banyak sekali, akan tetapi kami tidak akan membahas seluruh manfaatnya. Kami cukupkan untuk membahas dua manfaat darinya saja. Yang pertama, salah satu manfaat doa adalah kebanggaan yang diperoleh seorang hamba dengan bermunajat kepada Tuhannya. Seandainya seorang manusia ditakdirkan dapat bertemu dan berhadapan muka dengan Pemimpin Fulan atau Sultan Fulan, niscaya anda akan melihatnya merasa bangga dengan hal itu di hadapan teman-temannya.

Pada hakikatnya doa adalah kebanggaan seorang hamba di dalam bermunajat kepada tuannya, dan tidak ada kebanggaan yang lebih tinggi daripada seorang manusia dapat bermunajat kepada Tuhannya di tengah malam yang gelap gulita.

Imam Ali Kw berkata, “Barangsiapa yang menyukai bertemu dengan Allah SWT, maka dia akan lupa dengan dunia.”

Doa, artinya kepergian seorang hamba ke rumah Tuannya yang berkali-kali menyerunya, “Kemarilah kepada-Ku”, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan perkenankan bagimu”, dan juga mengancamnya jika dia tidak datang kepada-Nya. Setelah itu Allah SWT berkata, “Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” Artinya , “Berdoalah kepada-Ku, penuhilah perintah-Ku, dan berimanlah kepada-Ku; niscaya aku akan mewujudkan apa-apa yang kau inginkan.”

Jika kebetulan seseorang melihat Imam Ali dalam keadaan pingsan di kegelapan malam yang gelap gulita, niscaya dia menyangka bahwa Imam Ali menjadi demikian karena takut dari neraka Jahannam. Tidak, Ali Kw lebih tinggi daripada yang demikian.

Yang demikian itu tidak lain kecintaan seorang hamba dihadapan Kekasih dan Penciptanya. Demikian juga keadaan Fatimah az-Zahra dihadapan Allah Azza Wajalla, di mana tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan, dan tidak terlihat darinya kecuali air mata yang mengalir di pipi. Rasulullah SAW telah bersabda di dalam sebuah hadisnya yang panjang, “… Adapun putriku, Fatimah, adalah penghulu wanita seluruh alam … Manakala dia berdiri di mihrabnya dihadapan Tuhannya—Jalla  Jalaluh—maka cahayanya menyinari para malaikat di langit, sebagaimana cahaya bintang menyinari para penduduk bumi. Lalu Allah SWT berkata kepada para malaikat-Nya, ‘Wahai para malaikat, lihatlah hamba-Ku, Fatimah, Penghulu para wanita, tengah berdiri dihadapan-Ku, urat lehernya bergetar karena takut kepada-Ku, dan sungguh dia telah menghadap untuk menyembah-Ku dengan hatinya.”

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata. “Dua rakaat pada tengah malam jauh lebih aku sukai dibandingkan dunia dengan segala isinya.”

Imam Ridha berkata, “Ali bin Husain ditanya, ‘Bagaimana orang-orang yang bertahajjud di waktu malam bisa menjadi orang yang paling bagus wajahnya?’ Ali bin Husain  menjawab, “Karena mereka berdua-duaan dengan Allah, maka Allah pun memakaikan cahaya-Nya kepada mereka.”

Adapun manfaat yang kedua dari doa adalah terlepasnya orang yang berdoa dari berbagai kesedihan, kemurungan, dan keresahan, yang terkadang bisa mengeruhkan kehidupan seseorang. Dari pandangan kejiwaan, dapat dikatakan bahwa mayoritas keresahan dapat hilang dengan berdoa kepada Allah SWT di tengah malam, disebabkan pada saat itu seorang manusia dapat mengutarakan seluruh keluh kesah yang ada di dalam hatinya kepada Zat yang Maha Esa. Dengan begitu, dia dapat mengurangi beban yang berlebihan dari dalam hatinya, yang pengaruhnya tampak jelas terpantul di dalam akhlak pribadinya, sehingga menjadikannya kelelahan meskipun tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, dan selalu merasa resah dan tidak tahu apa penyebabnya.

Di samping itu, riwayat-riwayat mengatakan bahwa kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya jauh lebih besar dibandingkan kasih sayang ibu kepada anaknya, “Dia-lah yang dipuji-puji oleh seluruh makhluk ketika mereka butuh dan menghadapi kesulitan, manakala mereka sudah putus pengharapan dari seluruh yang lain selain Dia.”

Tidak mengapa kiranya di sini kita menukil munajat yang biasa dipanjatkan oleh Imam Ali dan oleh para Imam Ahlul Bait sesudahnya, yang diriwayatkan oleh Khalawiyyah, yang terdapat di dalam kitab Mafatih al-Jinan, di bawah judul “Amalan-Amalan bulan Sya’ban” :

Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad; dengarkanlah doaku manakala aku berdoa kepada-Mu, dengarkanlah seruanku manakala aku menyeruh-Mu, dan perhatikanlah aku manakala aku bermunajat kepada-Mu. Sungguh, aku telah berlari kepada-Mu, dan kini aku berdiri dihadapan-Mu dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada-Mu, serta mengharapkan ganjaran dari-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang ada di dalam jiwaku, Engkau mengetahui kebutuhan-kebutuhanku dan Engkau mengetahui apa yang ada di dalam hatiku. Sungguh, tidak tersembunyi dari-Mu tempat kembaliku. Aku tidak ingin menyampaikan ucapan-ucapanku, dan tidak ingin mengutarakan permintaanku, namun aku mengharapkannya untuk hasil akhirku. Sungguh, telah berlalu ketetapan-ketetapan-Mu atas diriku, apa-apa yang akan berlaku hingga akhir umurku, dari hal-hal yang tersembunyi dan kelihatan dari diriku. Di tangan-Mu lah, dan bukan di tangan yang lain, kelebihan, kekurangan, manfaat, dan mudharat diriku.

Ya Allah, jika Engkau mencegahku maka siapakah yang akan memberi rezeki kepadaku, dan jika Engkau menelantarkanku maka siapakah yang akan menolongku.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemarahan-Mu, dan dari datangnya kemurkaan-Mu. Ya Allah, jika aku tidak layak mendapat rahmat-Mu, Engkau dapat memberiku dengan luasnya kemurahan-Mu …

                (Bersambung……..)

IRFAN......Apa itu tasawuf ? apa itu irfan ?

IRFAN
Apa itu tasawuf ? apa itu irfan ?

Dalam tulisan ini, kami akan memaparkan sekelumit tentang irfan dan tasawuf secara berkala. Kami ingin mencoba memperkenalkan pada pembaca tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan tasawuf dan irfan. Sebenarnya, keduanya mudah kita temukan disekitar kita. Walaupun keduanya seolah tidak begitu nampak. Sebab keduanya lebih banyak bercerita tentang aspek batiniyah manusia. Boleh dikata, kedua hal diatas hadir dalam seluruh mazhab Islam. Sebab seluruhnya menekankan bagaimana manusia mampu membersihkan jiwanya dari sifat – sifat hewaniyah sehingga bisa mencapai insan kamil. Bagaimana manusia khusyu’ dalam ibadahnya dll. Pada Intinya fokus tasawuf dan irfan pada “ qalbu “ manusia yang merupakan salah satu potensi untuk mengetahui ( lahum qulubun la yafqahuna biha ).

Istilah yang lebih akrab di telinga kita adalah Tarekat yang bermakna jalan dan pattareka’ adalah mereka yang menerjunkan dirinya dalam dunia tarekat. Qadariyah, naqsyabandiyah dan khalwatiyah adalah aliran tarekat yang mudah kita dapatkan di Indonesia. Tapi pembahasan kita kali ini tidak membahas aliran – aliran tarekat yang ada di Indonesia. Tapi focus pembahasan kita kali ini pada tasawuf dan irfan itu sendiri.

Apa itu Irfan ? dan siapakah yang Arif ?

Irfan secara bahasa bermakna ‘ pengetahuan ‘ dan ‘ mengetahui ‘. Sedangkan secara istilah bermakna metode atau jalan tertentu untuk sampai pada hakekat eksistensi, dan hubungan manusia pada hakekat eksistensi yang bersandar pada syuhud dan isyraq ( ilmuninasi ). Manusia untuk sampai pada derajat ini ( syuhud ) bukan melalui argumentasi dan pemikiran ataupun burhan, akan tetapi melalui tazkiyatunnafs dan memutuskan ketertarikan pada dunia dan perkara – perkara duniawi, dan seluruh keberadaan dirinya dia kerahkan pada Allah swt.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa itu irfan. Kami akan menukil definisi yang dipaparkan sendiri oleh para Arif. Artinya dengan mengetahui definisi mereka dengan sendirinya melazimkan kita mengetahui Irfan itu sendiri.

Abdurrahman Salmi mengatakan ; Arif adalah mereka yang mempersembahkan hatinya pada Allah swt, sedangkan tubuhnya dia persembahkan pada ciptaanNYA [1].

Abu Yazid Bastami suatu ketika ditanya ; “ apakah tanda – tanda Arif ? “ Beliau menjawab ; “ mereka adalah orang yang tak pernah lelah mengingat Allah swt dan hatinya tak pernah tertawan selain Allah swt “.

Kemudian Ia menambahkan ; “ barang siapa yang telah sampai pada maqam Irfan, Ia akan menjauhi segala hal yang menjauhkan dia dari Allah swt “ [2].

Ibn Sina dalam kitabnya Isyarat wa Tanbihat menjelaskan definisi Irfan dan menjelaskan perbedaannya dengan zuhud dan Abid. Beliau mengatakan ; “ mereka yang menghindar dan menjauhi hal – hal yang sifatnya duniawi disebut dengan Zuhud, mereka yang istiqamah dalam melakukan ibadah seperti sholat, puasa dll disebut dengan Abid sedangkan mereka yang senantiasa mengerahkan seluruh keberadaanya pada Allah swt dan perhatiannya hanya kepada Alam quds ( suci) sehingga cahaya Ilahi termanefestasi pada dirinya disebut dengan Arif. Tentunya bisa saja ketiga hal diatas ( zuhud, abid dan arif ) berkumpul pada satu orang. Artinya orang tersebut adalah zuhud, abid dan arif sekaligus “. Selanjutnya beliau mengungkapkan bahwa ; “ yang diinginkan oleh seorang Arif hanyalah Allah swt semat dan tidak menginginkan sesuatu apapun selainnya. Ibadahnya hanya dikarenakan bahwa Dialah yang paling layak disembah, bukan karena tamak pada surga atau takut pada neraka “.

Dari defenisi yang telah dikemukakan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa karekteristik seorang sufi :

dengan syuhudnya mereka telah mengenal sifat – sifat dan asma’ – asma’ Allah swt.
seorang Arif mengerahkan seluruh perhatiannya pada Allah swt. Dan menjauhi segala sesuatu selain Allah swt.
seorang Arif memalingkan wajahnya pada sesuatu selain Allah swt, bahkan Ia menganggap bahwa selain Allah swt tidak memiliki hakekat sama sekali.
Prinsip – prinsip dalam Irfan

Prinsip – prinsip yang ada dalam Irfan secara universal ;

dalam Irfan, titik yang paling fundamental terdapat pada qalbu. Artinya bahwaprinsip utamanya adalah melaksanakan seluruh syariat yang ada sebagai metode dalam pembersihan jiwa, sehingga qalbu yang merupakan alat pengetahuan ( lahum qulubun la yafqahuna biha ) bisa teraktualkan.
Irfan meyakini bahwa alam eksternal ini memiliki hakekat yang satu. Ada zahirnya dan ada batinnya, zahirnya menampakkan kemajemukan sedangkan batinnya menampakkan ketunggalan.
Irfan lebih banyak berurusan dengan Ilmu kehadiran ( ilmu hudhuri ). Irfan meyakini bahwa antara manusia dengan hakekat terjalin hubungan hudhuri dan syuhudi.
Irfan meyakini konsep riyadhah dan mujahadah.
cinta adalah sebuah unsur yang paling hakiki dalam kehidupan seorang Arif.
para Arif meyakini bahwa hakekat hakiki hanya satu yaitu Allah swt.
Perlu kami jelaskan bahwa para Arif dalam menafsirkan prinsip – prinsip diatas boleh jadi berbeda. Dan dalam kesempatan ini kami hanya ingin menjelaskan prinsip – prinsipnya secara universal.

Apa itu tasawuf ? dan siapakah yang sufi ?

Tasawuf dalam bahasa berasal dari kata “ shauf “ yang bermakna bulu domba. Sufi adalah mereka yangmemakai baju dari bulu domba. Suhrawardi dalam kitabnya Awariful Ma’arif mengatakan ; “ asal tasawuf dari shauf lebih cocok dari asal kata yang lain. Tasawuf yaitu memakai baju dari bulu domba “.

Para peneliti tasawuf meyakini bahwa yang pertama kali menggunakan kata tasawuf adalah Abu Hasyim Kufi ( diperkirakan wafat antara thn 153 atau 174 atau 184 hijriyah ). Oleh karena itu kata ini mulai ada di pertengahan abad pertama dan kedua hijriyah.

Tapi untuk memberikan sebuah definisi yang melliputi seluruh unsure – unsure dalam “ tasawuf“ dan “ sufi “ bukan perkara yang mudah. Hal ini disebabkan karena tasawuf senantiasa mengalami perubahan disetiap periode dan zaman tertentu, dan oleh sebab ini disetiap periode memiliki cirri khas tersendiri. Misalnya pada abad ke dua, konsepsi yang dipahami oleh Abu Hasyim Kufi, Dawud Thaii dan Hasan Basri berbeda dengan konsepsi yang dipahami oleh Junaid dan Yazid Bastami. Sebagaimana pemahaman tasawuf Junaid berbeda dengan Abu Said Abulkhaeir dan Maulana Jalaluddin Rumi.

Definisi tasawuf dan sufi yang telah dipaparkan oleh para ahli tasawuf bisa mencapai ribuan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami hanya mengutip beberapa definisi saja mengenai hal tersebut.

Abdurrazaq Kashani mendefinisikan bahwa tasawuf ; “ attasawuf huwattakhalluq bil akhlaqillah “. Tasawuf adalah mencerap akhlak Ilahi.

Ibn Arabi meyakini bahwa tasawuf ; “ melaksanakan adab – adab syariat baik secara zahir maupun secara bathin “.

Junaid meyakini bahwa tasawuf : “ memutuskan segala ketergantungan kecuali pada Allah swt “.

Definisi diatas bukanlah definisi yang melingkupi seluruh unsure – unsure tasawuf yang ada. Akan tetapi lebih pada ungkapan kondisi spiritual yang dialami oleh seorang Arif.

Perbedaan antara Tasawuf dan Irfan

Sebagaimana kita ketahui bahwa kata Tasawuf muncul pada pertengahan abad pertama dan kata Irfan muncul di abad ketiga walaupun kata tersebut sebenarnya sudah digunakan jauh sebelumnya. Jika kita mencermati diantara keduanya, yakni antara Irfan dan Tasawuf. Terdapat perbedaan tertentu diantara keduanya.

Syahid Murtadha Muthahhari meyakini bahwa perbebadaan tersebut adalah bahwa Irfan tinjauannya pada sisi budayanya, sedangkan tasawuf tinjauannya pada sisi sosialnya. Maksud dari sisi budaya adalah berkaitan dengan pengetahuan seorang Arif, misalnya pengetahuan seorang Arif tentang eksistensi, hubungan Antara Khaliq dan Makhluk.tajalli dll. Sedangkan maksud dari sisi sosial adalah berkaitan dengan kehidupan seorang Arif sehingga biasa kita sebut dengan berkehidupan sufi, misalnya tata cara pakaian dalam pandangan sufi, tata cara makan, tata cara wirid dll.

Oleh Karena itu, tidak ada perbedaan yang signifikan antara Irfan dan Tasawuf. Yang ada hanya sisi penekanan saja. Irfan berkaitan dengan pengetahuan seorang Arif, sedangkan tasawuf berkaitan dengan tata cara kehidupan seorang sufi.


[1] . Tabaqatussufiyah, hal 396

[2] . ibid . hal 72

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com