Kamis, 12 Desember 2013

Filsafat dari Nama Rasulullah Saw

Filsafat dari Nama Rasulullah Saw



Ketika Rasuulluh Saw belum dilahirkan, nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam sampai Nabi Isa telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu. Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah di kota Madinah dan wafatnya juga di kota Madinah, dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rasulullah Saw kalau di Kitab Injil adalah Ahmad. Allah berfirman
"Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QR. As-Shaf : 6)
Perlu diketahui, bahwa nama yang dikemukam oleh Nabi Isa tadi, itu bukan sekedar nama. Akan tetapi merupakan pemberian dari Allah Swt yang tentunya ada makna yang terkandung. Di dalam nama Ahmad jika ditulis dengan huruf Arab tanpa dipisah-pisah ada filsuf tentang adanya gerakan salat. Huruf alif (ا) menunjukan simbol tentang orang yang berdiri. Huruf ha (ح) menggambarkan tentang orang yang sedang rukuk. Huruf mim (م) menggambarkan tentang orang yang sedang sujud. Huruf dal (د)  menunjukan gambaran orang yang sedang duduk tahiyat salat.
Selain makna tersebut, ada juga makna yang tersembunyi di balik nama Ahmad. Yaitu, secara Gramatika Arab, kata Ahmad itu termasuk sighat mubalaghah (bentuk yang mempunyai arti banyak) dari kata Hamdu (memuji). Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Ahmad, nama dari Nabi Muhammad Saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Allah. 
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Aku adalah Ahmad tanpa mim (م)” Ahmad tanpa mim (م) akan mempunyai arti Ahad (Esa), yang merupakan sifat Allah yang sangat unik. Mim (م) yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Allah dalam diri Nabi Muhammad Saw pada hakikatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta. Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Khaliqnya. Mimadalah jembatan yang menghubungkan para kekasih Allah dengan sang kekasihnya yang mutlak. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Saw merupakan mediator antara makhluk dengan Allah Swt. 
Menurut Iqbal, "Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Dialah “Zahir”nya Allah; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Tuhannya. Ketika anda ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri anda, hadirkan Muhammad. Ketika anda ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Ketika anda ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. Qul inkuntum tuhibbunallah fat tabi’uni yuhbibkumullah, “Apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian.” Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Sebab seperti kata Nabi, “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Selain nama Ahmad, Rasulullah Saw juga mempunyai nama Muhammad. Nama ini pemberian dari kakeknya, Abdul Muthalib. Nama ini diilhami atas  harapan besar  Abdul Muthalib agar kelak cucunya ini dipuji oleh makhluk seantero dunia karena sifatnya yang terpuji. Adapun nama tersebut kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maful (obyek) dari asal kata Hammada. Menurut kiai Maksum bin Ali dalam kitab Amsilatut Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid mempunyai faidah Taksir (banyak). Jadi, artinya adalah orang yang banyak dipuji. Sebab semua makhluk di dunia ini memuji Rasulullah Saw dengan membaca shalawat untuknya. Allah berfirman, ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab :56).
Yang heboh lagi, dari nama Muhammad, di situ ada makna yang terkandung. Yaitu, jika kita mau mengangan-angan kerangka huruf Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab ternyata menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (م) yang bundar dari kata Muhammad (محمد) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf  ha (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf  mim (م) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.
Selain itu, ada juga makna-makna yang tersembunyi lagi. Yaitu, huruf mim menunjukan kata Minnah yang berarti anugerah. Sebab, Allah memberi anugerah kepada Rasulullah Saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada yang lainnya. Huruf ha menunjukan kata Hubbun (cinta). Sebab, Allah mencintai Nabi Muhammad Saw dan umatnya melebihi cintanya kepada nabi-nabi yang lain beserta umatnya. Huruf mim yang kedua menunjukan kata Maghfirah yang berarti ampunan. Sebab, Allah mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang. Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang maksum (terjaga dari melakukan dosa). Adapun jika disandarkan untuk umatnya, maka  Allah akan mengampuni dosa-dosa umat Nabi Muhammad Saw jikalau mereka mau bertaubat. Tidak seperti umat-umat terdahulu yang apabila melakukan dosa langsung mendapat siksa dan teguran dari Allah. Huruf dal menunjukan kata Dawaamuddin. Artinya, abadinya agama Islam. Sebab, agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman. Apabila agama Islam sudah lenyap karena ditinggal oleh manusia, maka tunggulah kehancuran dunia ini.
Kesimpulan dari semua ini adalah, kalau orang itu sudah mengaku agamanya Islam, maka kerjakanlah salat. Sebab, salat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw. Jika seseorang sudah menjalankan salat dan ajaran Islam yang lainnya, maka dia termasuk orang yang bertaqwa yang akan dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya. Karena umat Nabi Muhammad Saw yang masuk ke surga itu akan dirupakan manusia. Mengapa demikian? Ini kembalinya kepada keagungan nama Nabi Muhammad saw yang menunjukkan kerangka manusia. Apabila  manusia masih berbentuk manusia, maka dia tidak akan masuk neraka. Adapun mengenai orang kafir, ada ulama yang berpendapat bahwa mereka di neraka itu berwujud babi.

*Penulis Adalah Esais dan ketua Website PP. Al Anwar Sarang Rembang Jateng asal Pati. 

Nilai Intelektual Filosofis Dalam Kajian Metafisis

Nilai Intelektual Filosofis Dalam Kajian Metafisis

Masalah ketuhanan Nahjul Balaghah terbagi dalam dua kategori: (1) dunia materi dengan segala sistem yang berlaku di dalamnya; dunia ini diteliti sebagai kaca yang mencerminkan ilmu dan kesempurnaan penciptanya, dan (2) pemikiran rasional dan perhitungan filosofis murni, dan mayoritas pembahasan Nahjul Balaghah mengenai ketuhanan masuk kategori yang kedua ini, seperti saat membahas sifat Kamâl dan Jalâl Tuhan yang hanya menggunakan metodologi rasional filosofis.

Sebagaimana kita ketahui bersama, ada perbedaan pendapat dan keraguan di sebagian orang ketika berbicara tentang nilai pembahasan dan penggunaan metode berpikir rasional filosofis. Sejak dahulu kala sampai sekarang, ada orang-orang yang melarang metodologi ini karena bertentangan dengan syariat atau akal, bahkan duanya. Di zaman kita sekarang, ada kelompok yang beranggapan bahwa hati Islam berseberangan dengan analisa dan argumentasi seperti ini. Akibatnya muslimin dalam mengkaji permasalahan di atas terpengaruh oleh filsafat Yunani dan tidak lagi mengambil petunjuk atau ilham yang diberikan kitab suci mereka, Al-Qur'an. Padahal apabila ajaran-ajaran Al-Qur'an direnungkan secara teliti dan benar, niscaya mereka tidak akan mengalami pembahasan yang rumit dan berlika-liku. Maka dari itu, pada akhirnya mereka meragukan otensitas dan penisbatan kajian rasional ketuhanan Nahjul Balaghah kepada Amirul Mukminin as.

Pada abad kedua dan ketiga Hijriah, muncul kelompok yang menentang pemikiran rasional dengan menggunakan kaca mata syariat. Menurut mereka, muslimin seharusnya mengabdi (tunduk total) pada leterlek teks agama (Al-Qur'an) sebatas yang bisa dimengerti oleh masyarakat umum dan tidak seyogyanya mereka bertanya atau mendiskusikan makna tersebut karena itu adalah bid’ah. Kalau terkadang ada orang yang bertanya tentang ayat “arrohmanu alal arsyistawa”, mereka melengos dan mengerutkan wajah pertanda tidak senang dan mencekal pertanyaan seperti ini sambil berkata, "Al-kaifiyyah majhûlah was su'âl bid’ah"; bagaimana Dia bersila adalah hakikat yang tidak diketahui dan pertanyaan seputar itu adalah terlarang![1]

Abad ketiga Hijriah adalah abad kemenangan mereka yang kemudian dikenal dengan sebutan "kemenangan kaum Asy'ariah atas kelompok Mu'tazilah (yang mendukung rasionalitas pemikiran)". Kemenangan ini merupakan pukulan telak terhadap kehidupan rasional Islam. Hal yang sama juga terjadi pada Syi'ah yang dilakukan oleh kelompok Akhbâriyûn pada abad kesepuluh sampai empat belas Hijriah, dan puncaknya, pada abad kesepuluh dan sebelas Hijriah mereka berhasil menang dalam melanjutkan jejak pemikiran kaum Asy'ariah.

Itulah tadi perlawanan terhadap metode rasional pemikiran perspektif syariat. Adapun perlawanan rasional terhadap hal ini bermula dari Eropa merupakan efek dari kemenangan metode eksperimen dalam penelitian fisika atas metode silogisme (qiyâs) di sana. Pola pikir ini kemudian bukan saja menggeser metode silogisme dalam fisika saja, tapi juga melucuti nilai ilmiahnya sampai pada kajian-kajian yang lain. Hanya filsafat material saja yang bisa dipercaya. Sebagai konsekwensi, semua masalah ketuhanan diragukan dan tidak diterima dengan alasan keluar dari eksperimen dan kesaksian indrawi.

Fenomena badai Asy'ariah di samudera Islam, ditambah lagi dengan kesuksesan metodologi sains dan eksperimen di bidang fisika yang terjadi secara beruturut-turut dan sangat menakjubkan, semua itu mengguncang kelompok muslim non Syi'ah dan menyebabkan munculnya pendapat kompilitif (talfîqi; campur sana dan sini) yang menentang metode rasional pemikiran tentang ketuhanan dan metafisika, baik menurut syariat maupun akal. Dari sisi syariat, menurut mereka Al-Qur'an hanya mempercayai metode sains dan eksperimen untuk mengenal Tuhan. Artinya, mengenal Dia melalui penelitian ciptaan-cipataan-Nya. Adapun lebih dari itu sama sekali tidak bernilai dan sia-sia. Ada puluhan ayat Al-Qur'an yang mengajak manusia untuk meneliti fenomena-fenomena alam dan mengatakannya sebagai password tempat; bermula dan kembali (mabda’ wa ma’ad). Sementara dari sisi rasional mereka mengutip ucapan para filsuf materialis Eropa dalam tulisan dan ceramah mereka.

Orang-orang yang mendukung berat pendapat di atas dan menghujat habis lawannya adalah Farid Wajdi dalam 'Alâ Ithlâl al-madzhâb al-Mâddiah, Sayid Abul Hasan an-Nadawî al-Hindî dalam Mâdzâ Khasira al-'Alam bi Inhithâth al-Muslimin, dan para penulis gerakan Ikhwanul Muslimin, seperti Sayid Qutub dan yang lain.

An-Nadawi mengatakan di dalam buku tersebut, pasal "Penyeberangan Muslimin Dari Masa Jahiliah ke Islam",  bertemakan "Muhkamât dan Hal-hal yang Jelas Seputar Ketuhanan", “Para nabi telah memberitakan pada umat manusia tentang Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya, awal mula alam semesta dan ujungnya. Mereka ungkapkan data-data ini secara gratis sehingga manusia tidak lagi memerlukan pembahasan tentang dasar-dasar dan pengantar yang sebetulnya tidak dimiliki oleh manusia (karena ilmu-ilmu dasar dan pengantar itu metafisik dan supranatural, sementara kawasan ilmu pengetahuan manusia terbatas pada fisika saja). Namun, umat manusia tidak mengindahkan anugerah ini melainkan mereka sibuk mencari dan membahas permasalahan metafisika dan ketuhanan yang pada hakikatnya tidak lain merupakan perjalanan di kawasan yang gelap gulita dan kebodohan.”[2]

Dia melanjutkan pada pasal berikutnya tentang kemunduran muslimin dan mengkritik ulama Islam dengan tema kurangnya perhatian terhadap ilmu-ilmu bermanfaat seraya berkomentar, “Perhatian yang diberikan ulama dan para cendekiawan muslim kepada ilmu-ilmu sains yang praktis tidak sama, bahkan jauh di bawah perhatian yang mereka berikan pada penelitian metafisika yang mereka pelajari dari Yunani, padahal metafisika dan filsafat ketuhanan Yunani tidak lain adalah keyakinan penyembah arca yang diberi warna-warni baru, dan merupakan sederet anggapan atau omong kosong yang tidak bermakna. Pada hakikatnya, Allah SWT telah memenuhi kebutuhan muslimin dengan ajaran-ajaran langit yang menyerupai penelitian dan analisa kimia sehingga mereka tidak lagi perlu pada pembahasan rasional metafisika. Akan tetapi, muslimin tidak mensyukuri nikmat Allah yang besar ini melainkan mereka habiskan energi dan kecerdasan mereka untuk filsafat dan pemikiran rasional yang pelik.”[3]

Tidak diragukan lagi bahwa pendapat orang seperti Farid Wajdi dan Nadawi ini terhitung reinkarnasi dan bangkitnya kembali aliran Asy'ariah dengan wajah yang modern karena sudah bergabung dengan filsafat materialis.

Sekarang, kita tidak bisa mendiskusikan nilai pemikiran rasional secara filosofis. Anda bisa mendapatkan penjelasan yang cukup detail di artikel yang berjudul “Nilai Pengetahuan” dan “Kelahiran Keberagaman Intelektual” dalam kitab “Dasar-dasar Filsafat Dan Metode Realisme”. Adapun sekarang kita cukupkan pembahasan menurut pandangan Al-Qur'an saja; apakah Al-Qur'an hanya mengakui metode penelitian sains dan eksperimen untuk masalah ketuhanan, sementara jalur-jarul lain terlarang ataukah tidak demikian?

Tapi sebelumnya perlu diingat satu hal bahwa perbedaan Asy'ariah dan non-Asy'ariah bukan pada harus dan tidaknya merujuk pada sumber Al-Qur'an dan sunah dalam masalah ketuhanan. Melainkan terletak pada bagaimana cara menggunakan sumber tersebut. Menurut Asy'ariah, kita harus mengabdi total atau tunduk sepenuhnya pada teks tanpa ada tanya dan pembahasan lagi. Itu artinya kita menyifati Allah dengan keesaan, ilmu, kuasa dan al-asmâ' al-husnâ lainnya hanya karena disebutkan oleh syariat. Andaikan syariat tidak menyebutkannya, kita tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apakah Allah SWT bersifat demikian atau tidak? Karena pokok dan dasar-dasarnya tidak dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus menerima bahwa Allah SWT meyandang sifat-sifat itu, akan tetapi kita tidak akan bisa mengerti maksud Allah SWT memiliki sifat-sifat tersebut. Peran teks-teks agama di bidang ini adalah memberitahu kita bagaimana harus berpikir sesuai yang diinginkan agama dan bagaimana kita harus berkayakinan sebagaimana semestinya menurut agama.

Dalam hal ini ada kelompok lain yang menentang pandangan di atas dan berpendapat bahwa masalah-masalah tersebut bisa dimengerti sebagaimana layaknya argumentasi rasional lainnya. Dengan kata lain, dasar dan prinsip-prinsipnya bisa diraih oleh manusia sehingga kapan saja dia kuasai dan gunakan secara benar, maka dia akan memahaminya. Lalu bagaimana dengan teks agama tadi? Peran teks agama adalah menginspirasi akal dan menggerakkan pikiran manusia serta menyediakan dasar dan prinsip-prinsip yang diperlukan. Pada hakikatnya, menghamba (ta'abbud) dalam hal-hal intelektual tidaklah bermakna. Seorang yang berpikir dan memutuskan sesuatu menurut perintah terlebih dahulu seperti halnya orang yang menunggu perintah terlebih dulu hanya untuk berpendapat apakah pemandangan ini indah atau tidak. Di satu sisi, kita ditanya bagaimana Anda melihat barang ini? Besar atau kecil? Putih, hitam, atau biru? Indah atau jelek? Tapi harus menjawabnya sesuai dengan perintah dan murni mengabdi, itu sama dengan tidak berpikir dan menerima tanpa memikirkan terlebih dahulu.

Singkat kata, pusat pembicaraan ini bukan hendak menjawab apakah manusia mampu melangkah lebih jauh dari wahyu utusan Tuhan ataukah tidak? Na'ûdzu billâh! Jelas tidak mungkin manusia bisa melewati wahyu Tuhan. Apa yang telah disampaikan oleh keluarga Rasul melalui wahyu adalah puncak kenaikan dan kesempurnaan ajaran Tuhan. Jadi sebetulnya inti pembicaraan terpusat pada potensi akal pikiran manusia; apakah dia mampu menempuh perjalanan intelektual rasional di bidang metafisika dan ketuhanan dengan melewati dasar dan prinsip-prinsipnya ataukah tidak?[4]

Dan sejak awal tidak diragukan bahwa Al-Qur'an mengajak manusia untuk meneliti alam materi dan menjadikannya sebagai pengantar pengenalan Tuhan dan alam metafisik, menganjurkan manusia agar memperhatikan fenomena-fenomena alam dan penciptaan sebagai bukti-bukti pengenalan Tuhan. Semua itu merupakan salah satu asas utama ajaran Al-Qur'an yang mendapatkan penekanan luar biasa; memerintahkan manusia untuk melakukan penelitian pada bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia itu sendiri. Begitu pula tidak diragukan bahwa muslimin tidak menapaki jalur ini sebagaimana lazimnya, dan mungkin penyebab utama lambatnya perkembangan muslimin di bidang ini adalah filsafat Yunani yang murni menggunakan silogisme rasional dalam masalah-masalah fisika sekalipun. Namun demikian, sejarah ilmu pengetahuan melaporkan bahwa para cendekiawan muslim tidak mengenyampingkan metode eksperimen secara keseluruhan sebagaimana orang-orang Yunani, melainkan merekalah (ilmuan muslim) yang menemukan metode eksperimen untuk pertama kalinya, sementara Eropa pada hakikatnya, tidak seperti yang populer sekarang, bukanlah penemu awal metode sains. Akan tetapi, mereka mengikuti jejak muslimin.
Nilai Penelitian Perspektif Riwayat dan Al-Qur'an

Satu hal lagi yang perlu direnungkan adalah apakah perhatian serius yang diberikan oleh Al-Qur'an terhadap penelitian makhluk langit dan bumi berarti menutup semua pintu dan jalur yang lain? Atau bahkan sebagaimana Al-Qur'an mengajak manusia untuk meneliti hal-hal itu sebagai tanda-tanda Allah SWT, ia juga mengajak manusia pada cara yang lain, yaitu pemikiran? Lebih mendasar lagi, pertanyaannya adalah seberapa besar nilai penelitian makhluk Tuhan dari sisi kontribusi yang diberikan pada ajaran-ajaran yang dikehendaki Al-Qur'an dalam kitab langit yang suci ini?

Sesungguhnya nilai kontribusi yang diberikan oleh penelitian fenomena alam penciptaan ini terhadap masalah yang secara terang-terangan dibawakan oleh Al-Qur'an adalah sedikit, karena Al-Qur'an menyampaikan permasalahan-permasalahan seputar ketuhanan yang sama sekali tidak bisa diraih dengan penelitian fenomena-fenomena alam materi.

Nilai penelitian sains dan fisika tidak lebih dari hanya membuktikan adanya kekuatan bijak dan alim yang mengatur alam semesta ini. Apa yang mampu dicerminkan oleh alam natural hanya sebatas membuktikan adanya alam metafisika dan Tangan Kuasa Yang Maha Mengetahui yang mengatur segala-galanya.

Tapi, perlu diketahui bahwa Al-Qur'an tidak puas hanya dengan pengetahuan akan adanya kekuatan bijak dan alim yang mengatur alam semesta. Hal itu bisa saja dinisbatkan pada kitab-kitab langit lainnya, namun tidak bisa dinisbatkan pada Al-Qur'an yang merupakan pesan langit terakhir yang berulang kali menyampaikan hal-hal seputar ketuhanan dan metafisika.
Intelektual Murni Rasional

Awal permasalahan utama yang tidak mampu dijawab sendiri oleh penelitian eksperimental pada alam materi adalah keharus-adaan Tuhan dan ketidakterciptaan Tangan Kuasa metafisik tersebut. Cermin natural hanya mampu membuktikan keberadaan Tangan kuasa yang mengatur jagat raya, tapi tidak bisa menjelaskan bagaimanakah Tangan kuasa dan bijak itu? Apakah Dia sendiri didominasi dan diatur oleh kekuatan yang lain ataukah dia berdiri sendiri. Dan apabila dia terdominasi oleh kekuatan lain, bagaimana dengan kekuatan lain tersebut? Tujuan dan terget Al-Qur'an bukan sebatas kita mengetahui keberadaan Tangan kuasa dan bijak yang mengatur alam jagat, melainkan kita harus tahu bahwa pengatur yang sebenarnya adalah Allah SWT. Allah SWT adalah wujud yang laisa kamitslihi syai'un (tak satu pun yang menyerupai-Nya) dan Dzat yang memiliki segala kesempurnaan. Dengan kata lain, Dia adalah kesempurnaan mutlak. Dengan meminjam ibarat Al-Qur'an, lahul matsalul a’lâ. Bagaimana mungkin penelitian natural dapat menjelaskan masalah-masalah seperti ini?

Masalah berikutnya adalah keesaan Tuhan yang disampaikan oleh Al-Qur'an dalam bentuk argumentasi seperti yang disebut oleh ilmu logika dengan silogisme ististnâ’î, demonstratif atau burhân yang disampaikan oleh Al-Qur'an seperti yang dikenal oleh filsafat Islam dengan sebutan burhân tamânu’ (demonstrasi saling mencegah). Terkadang melalui saling tercegahnya sebab-sebab pelaku, seperti dalam ayat “qul lau kâna fîhimâ âlihatun illallôh lafasadatâ”[5], terkadang lewat jalur saling tercegahnya sebab-sebab tujuan, seperti dalam ayat “mat-takhodzallôhu min waladin(w) wa mâ kâna ma’ahu min ilâhin idzal-ladzahaba kullu ilâhin bimâ kholaq wa la’alâ ba’dluhum ‘alâ ba’dh”[6].[7]

Al-Qur'an tidak pernah memerintahkan manusia untuk mengetahui keesaan Tuhan melalui penelitian pada sistem penciptaan alam natural sebagaimana dia menganjurkannya untuk mengetahui keberadaan Tuhan Pencpita alam. Pada hakikatnya, anjuran seperti itu sama sekali tidak mungkin dan tidak dibenarkan.

Contoh permasalahan yang diutarakan Al-Qur'an adalah sebagai berikut: laisa kamitslihî syai'un wa lil-lâhil matsalul a’lâ, lahul asmâ'ul husnâ wal amtsâlul ulyal malikul quddûsul 'azîzul mu'minul muhaiminul azîzul jabbârul mutakabbir, aynamâ tuwallû fa tsamma wajul-lôh, huwal-lôhu fis samâwâti wa fil ardh, huwal awwalu wal âkhiru wazh zhôhiru wal bâthin, alhayyul qoyyûm, allôhush shomad, lam yalid wa lam yûlad wa lam yakun lahû kufuwan ahad.

Untuk apa Al-Qur'an menyampaikan masalah-masalah ini? Apakah dia ingin mengutarakan hal-hal yang tidak mungkin untuk dimengerti seperti yang dikatakan oleh an-Nadawi bahwa dasar dan prinsipnya tidak dimiliki oleh manusia dan Al-Qur'an hanya meminta manusia untuk menerimanya sesuai perintah dan mengabdi tanpa perlu mengerti, atau sungguh-sungguh Al-Qur'an ingin manusia mengenal Allah SWT dengan sifat-sifat ini? Kalau memang Al-Qur'an menghendaki manusia untuk mengenali Tuhannya dengan sifat-sifat ini, maka lewat jalur apakah dia harus mengenal-Nya? Bagaimana mungkin manusia bisa mengerti ajaran-ajaran seperti ini melalui penelitian alam natural, karena penelitian eksperimental alam materi hanya mampu menjelaskan kepada kita adanya Tuhan yang Maha Tahu dalam artian Dia menciptakan sesuatu atas dasar pengetahuan? Akan tetapi, Al-Qur'an menginginkan lebih dari itu, yaitu innahû bikulli syai'in 'alîm, la ya’zubu ‘an ‘ilmihi mitsqôlu dzarroh, qul lau kânal bahru midadal likalimâti robbih.

Yang diinginkan Al-Qur'an adalah mengetahui bahwa ilmu Allah SWT dan kekuasaannya tidak terbatas. Bagaimana mungkin seseorang bisa memahami ketidakterbatasan ilmu dan kekuasaan Allah SWT lewat jalur penelitian eksperimental terhadap alam natural?

Ada juga masalah lain yang dibicarakan Al-Qur'an seperti buku-buku tinggi: lauh mahfûzh (papan terjaga), lauh mahw wa itsbât (papan penghapusan dan penetapan), determinasi dan hak pilih, wahyu, iluminasi dan lain sebagainya. Tidak satu pun dari masalah ini bisa diraih dan dimengerti melalui jalur penelitian alam natural.

Sudah pasti Al-Qur'an menyampaikan pembahasan ini sebagai paket serial pelajaran. Di sisi lain, Al-Qur'an juga menganjurkan kita agar merenungkan masalah yang disampaikan; afalâ yatadabbarûnal Qur'an am ‘alâ qulubin aqfâluhâ, kitâbun anzalnahû ilaika mubârokun(l) liyaddabbarû âyâtih. Oleh karena itu, pasti ada jalan yang diresmikan Al-Qur'an untuk sampai pada hakikat-hakikat tersebut di atas, dan Al-Qur'an sama sekali tidak menyampaikan hal-hal yang tidak mungkin dimengerti.

Ruang lingkup permaslahan yang disampaikan Al-Qur'an seputar metafisika jauh lebih luas dari apa yang bisa dibuktikan oleh penelitian alam natural. Maka dari itu, pada akhirnya muslimin terpaksa harus memilih jalur lain untuk memahaminya; ada yang melalui suluk dan perjalanan spiritual dan ada juga yang memilih pemikiran rasional.

Saya tidak mengerti! Apa yang bisa dikatakan oleh mereka yang beranggapan bahwa Al-Qur'an hanya membuka pintu penelitian alam natural dalam masalah ketuhanan, berkisar tentang beragam masalah yang disampaikan Al-Qur'an yang merupakan salah satu keistimewaan Al-Qur'an dibanding dengan kitab-kitab suci langit lainnya?

Motifator dan inspirator Amirul Mukminin as untuk mengutarakan pembahasan seperti ini adalah penafsiran Al-Qur'an itu sendiri. Jika tidak ada Ali as, maka mungkin untuk selamanya ajaran-ajaran rasional Al-Qur'an ini tinggal tanpa tafsir dan penjelasan yang benar. Mengingat sedikit banyak nilai pembahasan ini sudah terbukti, maka pada artikel berikutnya kita akan membawakan beberapa contoh dari Nahjul Balâghah tentang masalah ketuhanan dan metafisika.

[1] Silakan Anda rujuk pengantar jilid kelima buku "Dasar-dasar Filsafat dan Metode Realisme".

[2] Mâdzâ Khasira al-'Alam bi Inhithâth al-Muslimin, cetakan keempat, hal. 97.

[3] Ibid, hal. 135.

[4] Silakan Anda rujuk pengantar jilid kelima dari buku "Dasar-Dasar Filsafat dan Metode Realisme".

[5] QS. al-Anbiya’ : 22.

[6] QS. Al-Mukminun : 91.

[7] Silakan Anda rujuk jilid kelima buku "Dasar-Dasar Filsafat Dan Metode Eealisme"

Ketuhanan dan Metafisika Nahjul Balaghah, Tauhid dan Makrifat

Ketuhanan dan Metafisika Nahjul Balaghah
Tauhid dan Makrifat

Salah satu bagian utama Nahjul Balaghah membahas tentang ketuhanan dan metafisika. Sekitar empat puluh kali kajian ini diulas dalam ceramah, surat, dan kata mutiara Nahjul Balaghah. Kendatipun sebagiannya hanya berupa kalimat pendek, tapi umumnya sampai mencapai beberapa baris dan bahkan, sekian halaman.

Ulasan tauhid Nahjul Balaghah terhitung bagian yang sangat menakjubkan. Tidak berlebihan apabila pembahasan ini dikatakan setara dengan mukjizat. Tentunya hal itu dapat diterima jika situasi dan kondisi atau konteks kajian-kajian itu diperhatikan.

Diskursus Nahjul Balaghah tentang ketuhanan dan metafisika sangat beragam. Ada yang berbentuk telaah ciptaan dan hikmah Ilahi, seperti sistem universal langit dan bumi, dan terkadang meneliti eksistensi tertentu, seperti kelelawar, merak, atau semut, dan memperhatikan managemen serta tujuan dari penciptaannya. Akan bisa lebih dimengerti jika kita mengambil satu contoh keterangan Amirul Mukminin as tentang semut.
Beliau mengatakan dalam ceramah ke-177,

أَلاَ يَنْظُرُوْنَ إِلَى صَغِيْرِ مَا خَلَقَ، كَيْفَ أَحْكَمَ خَلْقَهَ وَ أَتْقَنَ تَرْكِيْبَهُ وَ فَلَقَ لَهُ السَّمْعَ وَ الْبَصَرَ، وَ سَوَّى لَهُ الْعَظْمَ وَ الْبَشَرَ، انْظُرُوْا إِلَى النَّمْلَةِ فِيْ صِغَرِ جُثَّتِهَا وَ لَطَافَةِ هَيْئَتِهَا لاَ تَكَادُ تُنَالُ بِلَحْظِ الْبَصَرِ وَلاَ بِمُسْتَدْرَكِ الْفِكَرِ، كَيْفَ دَبَّتْ عَلَى أَرْضِهَا وَ صَبَّتْ عَلَى رِزْقِهَا، تَنْقُلُ الْحَبَّةَ إِلَى جُحْرِهَا وَ تَعُدُّهَا فِيْ مُسْتَقَرِّهَا، تَجْمَعُ فِيْ حَرِّهَا لِبُرْدِهَا وَ فِيْ وَرْدِهَا لِصَدْرِهَا، مَكْفُوْلَةً بِرِزْقِهَا، مَرْزُوْقَةً بِوِفْقِهَا، لاَ يَغْفُلُهَا الْمَنَّانُ وَلاَ يَحْرُمُهَا الدَّيَّانُ وَلَوْ فِي الصَّفَا الْيَابِسِ وَ الْحَجَرِ الْجَامِسِ، وَلَوْ فَكَّرْتَ فِيْ مَجَارِيْ أَكْلِهَا فِيْ عُلُوِّهَا وَ سُفْلِهَا، وَمَا فِي الْجَوْفِ مِنْ شَرَاسِيْفِ بَطْنِهَا، وَمَا فِي الرَّأْسِ مِنْ عَيْنِهَا وَ أُذُنِهَا لَقَضَيْتَ مِنْ خَلْقِهَا عَجَبًا ...

"Apakah mereka tidak meneliti ciptaan-Nya yang kecil? Bagaimankah Dia kuatkan ciptaannya dan tegakkan susanannya; Dia bekali pendengaran dan penglihatan, Dia isi tulang dan lapisi dengan kulit? Pikirkanlah semut dengan posturnya yang amat kecil dan bentuknya yang lembut. Begitu kecilnya sehingga hampir tak terlihat oleh mata dan tak tercerna oleh pemikiran. Bagaimana ia berjalan di atas bumi dan berusaha mengumpulkan rejeki? Ia angkut biji-bijian ke dalam lubang dan disimpannya di sarangnya. Dia kumpulkan makanan itu di musim panas untuk perbekalan di musim dingin nanti, dan di musim dingin dia sudah dapat memperkirakan saat keluar dan bebas. Dengan demikian rejeki makhluk kecil ini sudah terjamin secara rapih dan teratur.  Allah Maha Pemberi tidak akan pernah melupakannya walau dia terletak di bawah batu yang keras. Apabila kalian teliti dan pikirkan jalur keluar dan masuknya makanan, struktur perut, telinga, dan mata yang terletak di kepalanya, niscaya kalian akan sangat terheran-heran oleh ciptaan ini …."

Namun demikian, puncak dominasi pembahasan Nahjul Balaghah terletak pada tauhid dan kajian rasional felosofis. Semua argumentasinya berakhir pada kemutlakan, ketidakterbatasan, cakupan, dan kemandirian Dzat Allah SWT. Di sini, Amirul Mukminin as melantangkan pembicaraannya. Tiada seorang pun sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hal ini, sebagaimana tidak seorang pun yang sampai pada tingkatan ini.

Hal berikutnya yang sering ditekankan adalah kesederhanaan tanpa batas dan negasi segala bentuk pluralitas, pembagian, analisa, dan kelainan sifat dari Dzat. Ada berbagai masalah pelik lainnya yang dipaparkan dalam Nahjul Balaghah seputar tema di atas, seperti kemulaan Allah sekaligus keakhiran-Nya, kelahiran sekaligus kebatinan-Nya, kedahuluan-Nya atas waktu dan bilangan, kedahuluan-Nya bukan dalam kategori waktu dan keesaan-Nya bukan dalam kategori bilangan, ketinggian dan kerajaan, serta kekayaan Dzat Allah, kreatoritas-Nya (mubdi’) dan bahwa kaadaan tertentu tidak menyibukkan-Nya dari keadaan yang lain. FirmanNya adalah tindakan-Nya itu sendiri. Keterbatasan akal dalam mengenali-Nya dan bahwa makrifat terhadap-Nya terbilang pengejewantahan Dia pada akal-akal, bukan seperti cakupan benak atas makna dan konsep tertentu, negasi kebendaan, gerakan, kediaman, perubahan, ruang, waktu, serupa, lawan, sekutu, duplikat, bantuan alat tertentu, keterbatasan dan juga negasi keterbilangan, serta serial pembahasan lain yang dengan ijin dan kekuatan Allah SWT masing-masing dari subtema di atas akan kita singgung dengan membawakan satu contoh dari ucapan beliau.

Itulah tadi sekilas tema dan subtema yang dipaparkan Nahjul Balaghah berkisar tentang ketuhanan dan metafisika. Seorang filsuf yang pakar dalam ideologi dan pemikiran filsafat kuno dan modern akan tenggelam dan terheran-heran membacanya.

Uraian masing-masing dari tema di atas—minimalnya—membutuhkan satu buku besar dan tidak cukup hanya dengan satu atau dua artikel saja. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain, kita hanya melintas selayang pandang saja. Untuk memulai lintasan ini, saya rasa penting untuk menyampaikan pengantar pembahasan sebagai berikut:
Pengakuan Pahit

Kita—sebagai orang Syi'ah—harus mengakui, lebih dari orang lain dalam hal mengabaikan sosok yang sering kali kita banggakan diri sebagai pengikutnya. Pada dasarnya, kekurangan kita dalam memberi perhatian terhadap beliau adalah kezaliman tersendiri. Entah apa kita tidak mau atau tidak bisa mengenal Ali as. Seringnya usaha kita hanya terbatas pada hadis-hadis Rasulullah saw tentang Amirul Mukminin as sambil mencaci-maki setiap orang yang menutup mata atau bersikap bodoh terhadap teks-teks tersebut. Kita jarang berupaya untuk mengenal dan menggali kepribadian Ali as. Kita lupa bahwa misik yang beraroma wangi Ilahi dengan sebenar-benarnya memperkenalkan pribadi beliau. Dia sendiri memiliki aroma yang sangat memikat, dan sungguh lebih penting untuk kita perkenalkan indra-indra pencium kita dengan aroma wangi Ilahi ini. Dia harus terkenal dan diperkenalkan. Artinya, semua orang harus betul-betul kenal dengan aroma wangi itu, dan tidak boleh merasa cukup dengan iklan penjual minyak wangi. Masyarakat jangan hanya terpaku pada pembahasan tentang rekomendasi-rekomendasi seputar Ali as, tapi hendaknya mereka juga mengenal beliau secara langsung.

Andaikata Nahjul Balaghah merupakan karya orang lain, apakah akan mendapatkan perlakuan yang sama seperti sekarang? Negara Iran adalah pusat masyarakat Syi'ah atau pengikut Ali as dan bahasa penduduk Iran adalah Persia. Dengan memperhatikan syarah dan terjemahan Nahjul Balaghah berbahasa Persia, kita akan dapat menilai rendahnya raport perlakuan kita terhadap kitab yang berharga tersebut.

Secara umum, riwayat dan hadis serta doa-doa Syi'ah tidak bisa dibandingkan dengan riwayat, hadis, atau doa-doa selain Syi'ah, baik dari sisi ajaran religi yang dikandungnya ataupun muatan-muatan yang lain. Satu contoh permasalahan yang terpapar dalam kitab Ushûl al-Kâfî, Tauhid Shaduq, atau al-Ihtijâj, karya Thabarsi tidak bisa ditemukan tandingannya dalam buku-buku selain Syi'ah. Apa yang terdapat di buku-buku selain Syi'ah di bidang ini terkadang hal-hal yang bisa dipastikan palsu (maj'ûl; karya orang lain yang dinisbatkan pada Rasulullah saw), karena jelas-jelas bertentangan dengan teks dan prinsip utama Al-Qur'an, dan lebih sering berbau tajsîm dan tasybîh (penjisiman dan penyrupaan; dengan kata lain, pernyataan bahwa Tuhan berfisik atau serupa dengan manusia).

Akhir-akhir ini, Hasyim Makruf Husaini menuangkan penemuan berharganya dalam kitabnya yang berjudul “Dirâsah fî al-Kâfî li al-Kulainî was Shahîh al-Bukhârî” (Kajian Tentang al-Kâfî, karya al-Kulainî dan as-Shahîh, karya Bukhari). Dia membandingkan secara singkat antara Shahîh Bukhari dan al-Kâfî Kulaini dari sisi hadis-hadis tentang ketuhanan dan metafisika.
Akal Syi'ah

Kajian dan analisa mendalam seputar ketuhanan yang telah dipaparkan oleh Ahlulbait as, seperti—puncaknya—dalam Nahjul Balaghah, menyebabkan akal Syi'ah jauh sebelumnya tampil sebagai rasio filosifis. Tentunya hal ini bukan bid'ah atau hal yang baru dalam Islam, melainkan sebuah jalan yang sejak semula, Al-Qur'an telah membangun dasar-dasanya di tengah masyarakat Islam. Berikutnya, dilanjutkan dan diikuti oleh Ahlulbait as. Mereka menapaki jalan yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan menyingkap hakikat untuk kita sebagai interpretasi yang sah, sempurna, dan benar terhadap ajaran-ajaran Al-Qur'an. Kalaupun harus ada yang dicela, maka celaan itu tertuju pada orang-orang lain yang mengabaikan jalur dan sarana ini.

Sejarah membuktikan bahwa sejak awal datangnya Islam, Syi'ah memiliki kecenderungan lebih daripada orang lain terhadap permasalahan ini. Adapun di tengah pengikut Ahlusunah, Mu'tazilah lebih dekat kepada Syi'ah daripada kelompok lainnya. Mereka juga memiliki kecenderungan terhadap masalah ketuhanan dengan pendekatan rasional filosofis. Akan tetapi—seperti kita ketahui bersama—selera sosial determinan pada waktu itu tidak menyambut baik kehadiran mereka, dan bisa dikatakan dari sekitar abad ketiga selanjutnya kelompok ini telah punah.

Ahmad Amin mesir membenarkan hal ini dalam jilid pertama karyanya yang berjudul “Zhuhr al-Islam”. Awalnya dia membahas kebangkitan felosofis di Mesir oleh kelompok Fatimiyun yang bermadzhab Syi'ah, kemudian dia berkata demikian, “Filsafat lebih melekat pada Syi'ah daripada Ahlusunah. Hal ini bisa kita saksikan pada masa Fatimiyun di Mesir dan Alu Buyeh di Iran. Bahkan sampai abad terakhir pun negara Iran yang beraliran Syi'ah lebih perhatian terhadap filsafat daripada negara-negara Islam lainnya. Sayid Jamaludin Asad Abadi yang memiliki kecenderungan kepada pemikiran Syi'ah dan belajar filsafat di Iran, begitu dia datang ke Mesir langsung menelorkan kebangkitan filosofis di Mesir”.

Hanya saja, entah lupa atau disengaja, Ahmad Amin salah dalam menjawab pertanyaan kenapa Syi'ah mempunyai kecenderungan filosofis? Dia mengatakan: "Sebab kenapa Syi'ah lebih cenderung pada pembahasan rasional filosofis adalah kebatinan dan kecenderungan mereka pada penakwilan. Mereka terpaksa mencari bantuan dari filsafat untuk menjustifikasi kebatinan yang mereka yakini. Oleh karena itu, Mesir periode Fatimiyun, Iran periode Buyeh, Iran periode Shafawi, dan Iran periode Qajari lebih memiliki kecenderungan filosofis daripada negara-negara Islam lainnya."

Ucapan Ahmad Amin tidak lebih dari igauan yang sama sekali tak bernilai. Kecenderungan ini dibangun oleh imam-imam Syi'ah (Ahlulbait as). Merekalah yang mengutarakan hikmah ketuhanan tertinggi dan paling teliti dalam argumentasi. Ceramah, hadis, dan doa-doa Nahjul Balaghah adalah salah satu contoh darinya. Bahkan tidak berhenti di situ saja. Hadis-hadis Rasulullah saw dari jalur Syi'ah berada di puncak ketinggian; riwayat yang tidak kita temukan dalam hadis-hadis beliau dari jalur selain Syi'ah. Dan sebetulnya, akal Syi'ah tidak spesial filsafat saja, melainkan juga akal teologi, fikih, dan ushul fikih. Dan semua itu mengalir dari satu muara yang sama.

Ada juga pendapat yang menyatakan, perbedaan ini muncul berkaitan dengan “bangsa Syi'ah” itu sendiri. Karena orang Syi'ah adalah warga negara Iran dan masyarakat Iran sebagai pengikut Syi'ah adalah orang-orang pemikir dan peneliti, maka mereka berhasil mengangkat ajaran-ajaran Syi'ah dengan akal pikiran yang kuat dan memberinya warna Islam.

Bertrand Russle berpendapat atas dasar yang sama dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Filsafat Barat”, jilid kedua. Sebagaimana watak dan kebiasaanya, dia mengungkapkan hal ini secara tidak sopan. Tentunya dia masih bisa dimaklumi dalam pengakuan yang dia bawakan ini. Karena pada dasarnya, dia tidak mengenal filsafat Islam. Sedikitpun dia tidak mengetahui, apalagi mau menentukan sumber munculnya filsafat Islam.

Kita katakan pada pendukung pola pikir di atas bahwa pertama-tama, tidak semua orang Syi'ah adalah warga negara Iran dan juga tidak semua penduduk Iran adalah Syi'ah. Apakah Muhammad bin Ya’qub al-Kulainî, Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qumi, Muhammad bin Abi Thalib al-Mazandarani adalah orang-orang Iran, sedangkan Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Abu Dawud as-Sajestani, dan Muslim bin Hajjaj an-Naisyaburi bukanlah orang Iran? Apakah Sayid Radhi yang telah mengumpulkan Nahjul Balaghah adalah orang Iran? Apakah Fathimiyun Mesir adalah orang Iran? …

Kenapa pemikiran filsafat hidup dengan datangnya Fathimiyun ke Mesir dan mati dengan kepergian mereka, kemudian hidup kembali dengan datangnya sayid Syi'ah dari Iran?!

Pada hakikatnya, ujung rantai gerakan pola pikir dan kecenderungan semacam ini tidak lain adalah Ahlulbait as. Semua peneliti Ahlusunah mengakui bahwa Amirul Mukminin Ali as adalah hakim di tengah para sahabat Rasulullah saw yang lain. Akal beliau dibandingkan dengan akal orang-orang lain memiliki ragam tersendiri. Pernah dinukil bahwa Ibn Sina pernah berkata, “Ali di tengah sahabat Rasulullah saw adalah seperti universal di tengah partikular-partikular indrawi atau seperti akal-akal dominan di tengah benda-benda materi.” Jadi, wajar saja apabila pola pikir orang-orang yang mengikuti pemimpin seperti ini sangat berbeda ketika dibandingkan dengan orang lain.

Ahmad Amin dan sebagian orang lain terjerumus pada anggapan berikutnya. Mereka meragukan datangnya kalimat-kalimat Nahjul Balaghah dari Amirul Mukminin as. Menurut mereka, sebelum filsafat Yunani masuk, Arab tidak mengenal pembahasan seperti ini dan sama sekali tidak mengerti analisa atau penelitian yang mendalam. Kalimat-kalimat ini dikarang oleh orang-orang yang mengenal filsafat Yunani dan kemudian dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.

Kita juga katakan bahwa memang benar Arab tidak mengenal kalimat-kalimat seperti itu. Bahkan bukan hanya orang-orang Arab, melainkan orang selain Arab pun tidak mengenalnya. Mereka juga tidak bisa menjangkau Yunani dan filsafat Yunani. Ahmad Amin telah menurunkan tingkat intelektual Amirul Mukminin Ali as sejajar dengan Arab badui, seperti Abu Jahal dan Abu Sufyan. Setelah itu, dia membangun premis major dan minor! Bukankah Arab jahiliah tidak mengenal makna dan konsep yang disampaikan Al-Qur'an?! Bukankah Ali as adalah didikan spesial Rasulullah saw?! Bukankah Rasulullah saw memperkenalkan Ali as sebagai orang yang paling pintar di tengah para sahabatnya?! Apa pentingnya kita untuk menjaga kehormatan sebagian sahabat Nabi saw yang biasa-biasa saja dengan menurunkan kehormatan dan kedudukan sahabat lain yang berada di puncak kedudukan 'irfan dan pencerahan batin, serta termasuk berkah Islam yang tak teringkari?!

Ahmad Amin mengatakan, "Sebelum datangnya filsafat Yunani ke dunia muslim, masyarakat Arab tidak mengenal makna dan konsep yang terdapat di dalam Nahjul Balaghah."

Jawabnya adalah, dengan bekal filsafat Yunani pun mereka tetap tidak kenal dengan makna dan kandungan Nahjul Balaghah! Bukan hanya orang Arab, muslimin selain Arab pun tidak bisa mencernanya! Karena filsafat Yunani sendiri tidak bisa menggapainya. Semua ini spesial produk filsafat Islam. Artinya, hadiah istimewa Islam yang kemudian secara gradual, filsuf-filsuf muslim menempatkannya dalam filsafat lintas inspirasi yang diperoleh dari dasar-dasar Islam itu sendiri.

Spektakuler

Spektakuler

Setiap bangsa—sedikit banyak—memiliki karya sastra yang sebagiannya terhitung luar biasa di tengah-tengah mereka sendiri. Kita lewati saja karya-karya spektakuler dunia kuno di Yunani ataupun yang lain, begitu pula dengan karya spektakuler sastra abad modern  di Italia, Inggris, Prancis dan sebagainya. Komentar tentang itu semua kita serahkan saja pada mereka yang pakar di bidang literatur mereka dan memang pantas jadi juri. Kita batasi perbincangan kali ini hanya seputar karya spektakuler bahasa Arab dan Persia yang—kurang lebih—bisa kita mengerti secara baik dan benar.

Tentunya yang layak menjadi juri karya spektakuler bahasa Arab dan Persia adalah pakar spesialis sastra dan disiplin ilmu bersangkutan. Akan tetapi, sudah disepakati bahwa masing-masing dari karya tersebut terhitung luar biasa di sisi tertentu saja dan tidak di semua sisi. Artinya, masing-masing pengarang karya itu tadi hanya bisa tampil hebat dan menakjubkan di bidang khusus yang terbatas. Potensi seni mereka mencuat di bidang tertentu saja. Kadang-kadang terjadi ketika mereka menginjakkan kaki di bidang yang berbeda, dia seakan terpelanting dari langit ke bumi, begitu jauhnya jarak kualitas karyanya di bidangnya sendiri dengan karyanya di posisi yang tidak dibidangi.

Ada berbagai karya spektakuler berbahasa Persia, baik di dalam puisi cinta irfani, puisi cinta biasa, nasehat dan ibrat, perumpamaan-perumpamaan spiritual irfan, semangat, kasidah, dan lain sebagainya. Tapi sebagaimana kita ketahui bersama, tak satu pun dari sastrawan dan pujangga kita (Persia) yang terkenal di semua bidang tersebut setingkat dunia; tak seorang pun mampu melahirkan karya luar biasa di semua bidang itu.

Hafizh masyhur di puisi cinta irfaninya, Sa’di hebat di nasehat dan puisi cinta biasa, Firdausi spesial di dalam puisi pengobaran semangat, Maulawi pakar dalam perumpamaan spiritual yang sangat teliti, Khayam terkenal di pandangan negatif filosofis, Nezhami tersohor di bidang yang lain, dan begitulah seterusnya. Oleh karena itu, tidak bisa kita bandingkan mereka satu sama yang lain dan menentukan mana yang lebih unggul. Maksimal apa yang bisa dikatakan, mereka adalah nomor satu di bidangnya masing-masing. Siapa saja dari para jenius di atas yang kadang mencoba berjalan di luar jalurnya, maka terjadi perbedaan yang amat jauh dengan karya mereka di bidangnya sendiri. Hal yang serupa juga berlaku di tengah pujangga-pujangga Arab, baik pada masa jahiliah maupun di periode Islam, dan selanjutnya.

Ali as—sebagaimana diriwayatkan Nahjul Balaghah—pernah ditanya oleh seseorang, siapakah yang lebih unggul di antara pujangga Arab?

Beliau menjawab, "Para pujangga ini tidak berpacu di satu lapangan sehingga bisa diketahui siapa pemenangnya. Dan jika terpaksa harus berkomentar, maka yang (relatif) lebih unggul adalah raja yang sesat (maksudnya, Umru’ul Qais)."

Ibn Abil Hadid menjelaskan kalimat di atas dalam Syarah Nahjul Balaghah dengan meriwayatkan kisah yang otentik sebagai berikut:

Salah satu rutinitas Amirul Mukminin as di setiap malam bulan Ramadhan adalah mengundang rakyat untuk makan malam dan menghidangkan daging untuk mereka, tapi beliau sendiri tidak ikut menkonsumsi daging tersebut. Setiap setelah makan beliau berceramah dan memberi wejangan. Suatu malam ketika mereka sibuk menyantap hidangan; perbincangan yang berkembang saat itu berkisar tentang para pujangga Arab kuno, usai makan Ali as membuka mulut dan berceramah, “Agama adalah standar tindakanmu, takwa adalah modal keterjagaan kalian, adab adalah hiasanmu, sabar adalah kehormatanmu.” Kemudian beliau mengarahkan perhatian kepada Abul Aswad ad-Dualî yang hadir pada waktu itu dan termasuk orang yang memperbincangkan pujangga Arab kuno, seraya berkata, "Apa pendapatmu tentang pujangga yang paling puitis?" Abul Aswad melantunkan puisi Abu Daud Ayadi dan berkata, "Menurut saya, orang ini lebih unggul dari pada penyair-penyair lain."

Ali as berkomentar, "Kamu keliru, dan bukan dia orangnya."

Ketika para undangan menyaksikan beliau seakan menunjukkan ketertarikannya pada tema pembahasan mereka tadi, maka mereka serempak berteriak, "Hai Amirul Mukminin, sampaikanlah pendapatmu siapakah pujangga yang paling unggul?"

Ali as berkata, "Tidaklah benar menghakimi dalam hal ini. Karena apabila semua penyair Arab berlomba di satu arah puisi dan sastra, maka kita dapat mengatakan siapa pemenangnya. Kendatipun demikian, kalau terpaksa harus memilih satu yang—relatif—terunggul dari mareka semua, maka pendapatku adalah, bahwa orang yang bersyair tanpa terpengaruh oleh kecenderungan internal pribadi dan juga tidak terpengaruh oleh rasa takut, (melainkan murni karena kekuatan imajinasi dan selera puisi) adalah pemenangnya."

Mereka bertanya, "Siapakah dia hai Amirul Mukminin?"

Beliau menjawab, "Raja yang sesat, Umru’ul Qais."

Konon, Yunus terkenal sebagai pakar ilmu Nahwu, ditanya siapakah penyair terbesar? Dia menjawab, "Penyair terbesar adalah Umru’ul Qais saat berkuda." Artinya, ketika emosi dan keberaniannya bergejolak dan semangat. Penyair terbesar adalah Nabighah Dzibyani saat ketakutan dan ingin melarikan diri, penyair terbesar adalah Zuhair Salami saat mencintai sesuatu dan ingin menyifati cintanya, dan penyair terbesar adalah A’sya saat dia mabuk.

Yunus ingin mengatakan bahwa masing-masing dari pujangga di atas berpotensi luar biasa di bidang tertentu dan karya spektakuler mereka terbatas pada bidangnya masing-masing. Setiap dari mereka adalah nomor satu dan jenius dengan spesifikasinya masing-masing.
Ali di Berbagai Medan

Salah satu kistimewaan terbesar kata-kata Amirul Mukminin as yang sebagiannya terkumpul di Nahjul Balghah adalah ketidaktebatasannya pada bidang tertentu. Ali—dengan meminjam ibarat yang beliau gunakan—tidak berpacu di satu lapangan saja, melainkan beliau berlomba di semua medan yang terkadang saling bertentangan dan di semua pertandingan itu beliau menampilkan puncak komunikasi yang tak terjajaki. Nahjul Balaghah adalah karya spektakuler, tapi tidak terbatas pada bidang tertentu seperti nasehat, semangat, cinta, gazal, pujian, atau lain sebagainya, melainkan luar biasa di semua jurusan tersebut sebagaimana akan kita jelaskan kemudian.

Komunikasi spektakuler di bidang tertentu kendatipun sedikit dan terhitung oleh jari, tapi masih tetap ada. Karya biasa di berbagai jurusan terhitung banyak, akan tetapi komunikasi yang spektakuler tanpa batas jurusan tertentu merupakan keistimwaan Nahjul Balaghah. Tentunya terlepas dari kitab suci Al-Qur’an yang memiliki cerita terpisah dari sekedar karya manusia. Tiada satu karya pun yang seperti Nahjul Balaghah unggul di berbagai jurusan.

Kata-kata mewakili jiwa seseorang, ucapan seseorang bergantung pada dunia yang melekat di dalam jiwanya, dan pasti kata-kata yang menyentuh semua wilayah pertanda kejiwaan yang tidak terkungkung pada dunia tertentu. Dan karena jiwa Ali as tidak terikat dunia tertentu, melainkan aktif dan hadir di semua alam yang disebut oleh kaum arif dengan “insan kamil”, “kanun jami’”, “jami'ul hadharat” dan menguasai semua tingkatan, maka kata-katanya pun tidak akan terbatas pada wilayah khusus. Dengan demikian, salah satu keistimewaan komunikasi Ali as adalah yang dikenal sekarang dengan istilah multidimensi.

Keriteria multidimensi lisan dan jiwa Amirul Mukminin as bukanlah hal yang baru terungkap. Minimal seribu tahun yang lalu hal itu telah membangkitkan rasa heran yang bukan main. Sayid Radhi yang hidup sekitar seribu tahun yang lalu sudah memahami kereteria itu dan sungguh terheran-heran. Dia berkata, “Satu dari keajaiban istimewa Ali as yang tidak dimiliki oleh orang lain adalah apabila seseorang merenungkan kata-katanya tentang zuhud, nasehat dan keterjagaan, dan sekilas dia buang pra asumsi dan data bahwa yang berkata adalah manusia sosial terpandang yang perintahnya ditaati di segala penjuru dan memegang kendali pemerintahan pada zamannya, maka pasti ia akan mengatakan bahwa yang berkata ini adalah orang yang tidak kenal sesuatu dalam kehidupannya selain zuhud dan isolasi diri, orang yang tidak memiliki kesibukan selain ibadah dan zikir, orang yang memilih sudut rumah atau gunung sebagai tempat menyendiri, orang yang tidak mendengar apa pun selain suaranya sendiri, orang yang tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri dan orang yang betul-betul terpisah dari hiruk-pikuk kehidupan bermasyarakat. Orang tidak akan percaya bahwa orang yang melontarkan kata-kata zuhud, keterjagaan, dan nasehat ini adalah sosok yang menerobos sampai ke jantung pasukan musuh di medan perang, pedangnya senantiasa terayun-ayun siap menebas kepala lawan, dia kebumikan para pemberani dan hero, darah segar senantiasa menetes dari mata pedangnya yang tajam, tapi di saat yang sama dia adalah orang yang paling zuhud dan paling ibadah dari semua zahid dan 'abid.”

Sayid Radhi melanjutkan ucapannya seraya berkata, “Saya berulang kali mengungkapkan hal ini pada teman-teman, dan mereka sungguh terperanjat heran dengan realitas ini.”

Syaikh Muhammad Abduh juga sangat terpengaruh oleh sisi Nahjul Balahgah ini. Peralihan dari satu tabir ke tabir yang lain dan lika-liku perantauan Nahjul Balaghah dari satu alam ke alam yang lain memiliki daya tarik yang jauh luar biasa dari sisi lainnya. Dia ungkapkan pengalamannya ini di pengantar syarahnya terhadap Nahjul Balaghah.

Terlepas dari kata-kata Amirul Mukminin as, secara umum beliau adalah jiwa yang luas dan multidimensi, dan senantiasa terpuji dari sisi yang satu ini. Beliau adalah pemimpin yang adil, 'abid yang senantiasa bangun malam, menangis di mihrab peribadatan, dan tertawa di medan perang; prajurit yang tegar dan penanggung jawab—anak yatim—yang lembut dan penuh kasih sayang. Beliau adalah guru sekaligus orator, hakim sekaligus pemfatwa, dan petani sekaligus penulis. Beliau adalah insan kamil yang mendominasi semua alam kemanusiaan.

Shafiyuddin al-Hilli, yang wafat pada abad kedelapan hijrah, berkomentar tentang beliau, "Kamu kumpulkan sifat-sifat yang bertentangan dalam dirimu. Oleh karena itu, para pesaing tunduk di hadapanmu. Engkau adalah pezuhud, jaksa, sabar, dan pemberani, pejuang, abid, miskin dan dermawan. Karakter yang terkumpul pada seseorang dan tak seorang hamba pun yang dapat mengumpulkan hal serupa. Budi pekerti yang angin sepoi malu karena kelembutannya, dan kekuatan yang benda mati mencair karenanya. Terlalu agung maknamu untuk dicakup oleh puisi dan untuk dihitung sifat-sifatmu oleh pengkritisi."

Lebih menarik lagi, padahal Amirul Mukminin as berbicara tentang hal-hal spiritual, namun beliau tetap mengemasnya dalam puncak kefasihan yang sempurna. Amirul Mukminin as tidak berbicara tentang arak, kekasih, kebanggaan dan semisalnya yang merupakan medan terbuka untuk kiprah kefasihan. Di samping itu pula kata-kata beliau tidak bertujuan untuk pamer seni dan orasi, melainkan semua itu adalah sarana dan bukan tujuan sebagaimana pujangga umumnya. Keinginan beliau dari semua ini bukan sekedar karya seni dan sastra spektakuler. Jauh lebih mulia dari itu ucapan beliau general dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, serta tidak hanya untuk personal-personal tertentu saja. Audien beliau adalah “manusia”. Oleh karena itu, tidak ada batasan teritorial dan tidak ada batasan zaman. Semua ini akan mengikat medan orasi seseorang dan pribadinya sendiri.

Inti utama kemukjizatan bahasa Al-Qur'an yang mulia terletak pada semua tema dan muatannya berbeda dengan tema dan pembicaraan yang biasa berlaku pada masa itu. Dia datang dengan membawa pasal-pasal literatur baru yang berhubunganan dengan dunia yang lain, dan juga dihiasi keindahan dan kefasihan yang tiada tara adalah kategori mukjizat terbesar sepanjang zaman. Nahjul Balaghah menyerupai Al-Qur’an dari berbagai sisi, karena pada hakikatnya dia terpengaruh oleh Al-Qur’an dan merupakan anak Al-Qur’an.
Tema dan Pembahasan Nahjul Balghah

Banyak sekali tema dan pembahasan yang terpapar dalam Nahjul Balaghah dengan warna-warni yang menghiasi kata-kata berbau Ilahi Amirul Mukminin as itu. Hamba (Syahid Mutahari) mengaku bahwa Nahjul Balaghah bisa dibagi dan dianalisa untuk mengungkapkan maksud-maksudnya. Hamba hanya ingin memulai perspektif ini dalam kajian seputar Nahjul Balaghah, dan tentunya suatu saat nanti akan muncul orang-orang yang lebih mampu menyampaikan tujuan ini pada puncaknya.
Perspektif Umum Pembahasan Nahjul Balaghah

Pembahasan Nahjul Balaghah yang masing-masing mesti dikaji secara mendalam dan komparasi adalah sebagai berikut:

1. Ketuhanan dan metafisika

2. Suluk dan ibadah

3. Pemerintahan dan keadilan

4. Ahlulbait dan khilafah

5. Nasehat dan hikmah

6. Dunia dan penyembahan dunia

7. Semangat dan keberanian

8. Epos dan alam gaib

9. Doa dan munajat

10. Pengaduan dan kritik terhadap masyarakat kontemporer

11. Pokok-pokok sosial

12. Islam dan Al-Qur’an

13. Etika dan pembersihan diri

14. Pribadi-pribadi. Dan silsilah pembahasan-pembahasan lainnya.

Jelas bahwa sebagaimana judul yang hamba letakkan untuk serial artikel ini adalah “Perjalanan Meraungi Nahjul Balaghah”, maka saya tidak mengaku tema-tema di atas sudah lengkap mencakup semua tema yang ada dalam Nahjul Balaghah. Saya juga tidak mengaku telah mengkaji semua tema-tema itu secara tuntas. Di samping itu, saya bukanlah orang yang layak untuk tugas berat ini. Apa yang dapat Anda saksikan dalam artikel-artikel ini tidak lebih dari selayang pandang saja. Mungkin suatu saat ada peluang dan taufik yang lebih besar sehingga dapat mengambil keuntungan yang lebih banyak dari kitab ini, atau suatu saat orang lain akan mendapatkan taufik tersebut. Allah Maha Tahu. Dan seseungguhnya Dia adalah sebaik-baik Pemberi Taufik dan Penolong.

Buku Ajaib

Buku Ajaib
Koleksi berharga dan indah ini bernama Nahjul Balaghah. Masa tidak mampu menjadikannya basi dan kuno. Laju roda zaman dan munculnya ide-ide baru secara berurutan telah memperjelas nilai buku ini. Buku ini adalah pilihan ceramah, doa, wasiat, surat dan kata mutiara Amirul Mukminin Ali as yang dikumpukan oleh Sayid Radhi sekitar seribu tahun yang lalu.

Tidak diragukan lagi bahwa Amirul Mukminin as adalah orator. Maka dari itu, beliau sering berceramah. Sering juga terdengar dari beliau kata-kata mutiara yang bijak sesuai dengan momen-momen tertentu. Begitu pula tercatat pula oleh sejarah surat-surat beliau yang berlimpah, khususnya di masa kekhalifahannya. Dan sejak zaman itu, masyarakat memberi perhatian khusus pada kata-kata beliau dan menghafalnya.

Al-Mas‘udi, yang hidup sekitar seratus tahun sebelum sayid Radhi (akhir abad ketiga dan awal abad keempat Hijriah), mengatakan dalam kitabnya Murûj adz-Dzahab jilid kedua pada judul “Fi Dzikri Luma‘in min Kalâmih wa Akhbârih wa Zuhdih”, “Ceramah-ceramah Amirul Mukminin as di berbagai posisi yang telah dihafal oleh masyarakat mencapai angka empat ratus delapan puluh lebih. Beliau membawakan ceramah secara jelas dan tanpa persiapan atau catatan sebelumnya. Masyarakat pendengar pun segera menangkapnya dan secara praktis mengambil keuntungan dari orasi beliau.”

Kesaksian cendekiawan peneliti dan tersohor seperti al-Mas‘udi merupakan bukti betapa banyaknya ceramah Amirul Mukminin as. Nahjul Balaghah hanya memuat 239 ceramah padahal al-Mas‘udi melaporkannya lebih dari empat ratus delapan puluh yang tersimpan di memori masyarakat.

Sayid Radhi dan Nahjul Balaghah

Secara pribadi, Sayid Radhi sendiri sangat terpikat oleh kalimat-kalimat Amirul Mukminin as. Sayid adalah sastrawan, penyair dan mengenal nilai perkataan. Tsa‘âlibî yang hidup semasa dengannya berkata, “Sekarang ini, dia (Sayid Radhi) adalah orang yang paling menakjubkan di tengah masyarakat kontemporer. Dia adalah orang termulia di tengah para sayid Irak. Di samping memiliki nasab dan kehormatan yang sejati, dia juga dihiasi oleh sastra dan keutamaan yang sempurna .… Dialah yang terbaik di tengah pujangga-pujangga keluarga Abi Thalib, padahal keluarga ini punya banyak penyair yang handal. Tidak jauh dari kenyataan apabila saya katakan bahwa dari semua orang Quraisy tiada pujangga yang sampai pada tingkatannya.”[1]

Keterpikatan dia pada sastra khususnya pada kalimat Amirul Mukminin as membuatnya lebih sering memandang kalimat beliau dari kaca mata kefasihan dan keindahan, dan hal itu pula yang menjadi tolok ukur pilihan dia dalam kitab Nahjul Balaghah, artinya bagian-bagian yang dia muat di kitab itu lebih menarik perhatiannya lantaran terletak pada puncak kefasihan tertentu; karena itulah koleksi kalimat Amirul Mukminin in diberi nama dengan Nahjul Balaghah, dan dengan alasan yang sama pula kenapa dia tidak begitu memberi perhatian lebih pada refrensi kalimat tersebut, hanya di beberapa tempat saja mengingat ada momentum tertentu dia menyebutkan nama kitab yang jadi rujukannya untuk menukil ceramah atau surat Amirul Mukminin as.

Langkah terutama yang harus diambil dalam buku sejarah atau hadis adalah refrensi dan sanad yang jelas, tanpa itu maka secara ilmiah buku itu tidak bernilai, adapun nilai karya sastra bukanlah pada refrensinya melainkan terletak pada kelembutan, keindahan, manis dan daya tawan karya tersebut. Kendatipun demikian, tidak bisa kita katakan bahwa Sayid Radhi lalai akan nilai histori dan nilai-nilai lain dari karya ini dan semata hanya memperhatikan nilai sastranya.

Untungnya, di masa setelah dia, ada orang-orang yang meluangkan waktunya untuk mengumpulkan sanad dan refrensi Nahjul Balaghah, mungkin sampai sekarang buku yang paling lengkap dan luas dalam hal ini adalah “Nahjus Sa’adah fi Mustadraki Nahjil Balaghah” karya salah satu peneliti yang mulia dari negri Iraq dan bernama Muhammad Baqir Mahmudi. Kitab ini memuat semua ceramah, perintah, surat, wasiat, doa dan kata mutiara Amirul Mukminin as, di samping memuat semua isi Nahjul Balaghah kitab ini juga menampung ucapan-ucapan Amirul Mukminin as yang tidak terpilih di Nahjul Balaghah atau tidak terjangkau oleh Sayid Radhi pada waktu itu, dan sepengetahuan saya sampai sekarang ini hanya sebagian kecil dari kata mutiara saja yang masih belum disebutkan refrensinya, adapun yang lain sudah ditemukan dan sudah dicetak empat jilid.[2]

Perlu diketahui juga bahwa bukan Sayid Radhi saja yang berperan dalam mengumpulkan kalimat-kalimat Amirul Mukminin as. Tidak sedikit orang lain yang juga memiliki karya koleksi kalimat beliau dengan nama yang berbeda-beda. Salah satu yang paling populer adalah karya bernama “al-Ghurar wa ad-Durar”, karya al-Âmidi yang disyarahi oleh Syaikh Jamaludin al-Khunsari dalam bahasa persia dan dicetak oleh yang terhormat Mir Jalaludin Muhaddis Armawi di universitas Teheran.

Ali al-Jundi, Rektor Fakultas Ulum di Universitas Kairo dalam pengantarnya terhadap buku yang berjudul “Ali bin Abi Thalib, Syi‘ruh wa Hikamuh” (Ali bin Abi Thalib, Syair dan Kata-kata Mutiaranya) menyebutkan beberapa naskah koleksi kalimat Amirul Mukminin as yang sebagiannya masih dalam bentuk tulisan tangan dan belom tercetak, seperti:

1. Dastûr Ma‘âlim al-Hikam, karya Qadla’i Sha’ibul Khutath.

2. Natsr al-La’âlî, karya seorang orientalis Rusia. Satu jilid besar dan terjemahannya sudah menyebar di pasaran.

3. Hikam Sayidina Ali as, tulisan tangan dan bisa dilihat di Darul Kutub al-Mishriah.

Dua Keistimewaan Nahjul Balaghah

Sejak dulu kala, ucapan Amirul Mukminin as terkenal dengan dua keistimewaannya: pertama, kefasihan dan keindahan, dan kedua, kemultidimensiannya. Masing-masing dari dua keistimewaan ini cukup untuk memberikan nilai yang sangat tinggi pada kata-kata Amirul Mukminin as, sedangkan bersandingnya dua keistimewaan ini dalam kata-kata beliau sangat mendekatkannya pada tingkat mukjizat. Maksud dari pertemuan dua kelebihan tersebut dalam kata-kata Amirul Mukmini as adalah ucapan yang disampaikan di berbagai perjalanan dan medan yang berbeda-beda, bahkan juga bertentangan, tetap menjaga puncak kefasihan dan keindahannya secara merata. Oleh karena itu, juga ucapan Amirul Mukminin as berada di posisi tengah antara firman Pencipta (Allah SWT) dan ucapan makhluk-Nya; fauqa kalâmil makhlûq wa dûna kalâmil khâliq. Begitulah sebagian ulama mengungkapkan isi hatinya.

Indah

Keistimewaan Nahjul Balaghah yang satu ini tidak perlu lagi untuk dijelaskan bagi orang yang mengenal nilai sebuah perkataan dan keindahannya, karena pada dasarnya keindahan hanya bisa dirasakan, bukan disifati. Empat abad telah berlalu (di masa hidup Mutahari), akan tetapi Nahjul Balaghah masih memiliki kelembutan, rasa manis, daya tarik dan tawan yang dahsyat bagi pendengar/pembaca masa kini sebagaimana juga hal itu berlaku bagi pendengar/pembaca pada saat Amirul Mukminin as melantunkannya. Kami tidak berada pada posisi pembuktian hal ini; kita sesuaikan dengan momentum saja perihal pembicaraan seputar pengaruh ucapan Amirul Mukminin as pada hati pendengar, begitu juga pengaruhnya dalam membangkitkan perasaan heran setiap pendengarnya sejak zaman itu sampai sekarang, padahal telah terjadi perubahan dan pergolakan intelektual dan selera sepanjang sejarah. Coba kita amati bersama mulai dari masa Amirul Mukminin as sendiri.

Sahabat-sahabat Amirul Mukminin as, khususnya mereka yang mengerti nilai orasi, betul-betul takjub pada kata-kata beliau. Ibn Abbas adalah salah satu dari mereka. Padahal Ibn Abbas sendiri—seperti dinukil oleh al-Jahizh di dalam kitab “al-Bayân wa at-Tabyîn”—adalah seorang orator yang handal.[3]

Kepada Amirul Mukminin as, Ibn Abbas tidak menyembunyikan kerinduannya untuk mendengar kata-kata beliau dan bahwa dia menikmati ucapan beliau yang selalu indah menawan, seperti juga ketika beliau berceramah yang dikenal dengan orasi Syiqsyiqiah dan dihadiri pula oleh Ibn Abbas. Di tengah ceramahnya, ada orang berpendidikan dari kota Kufah datang mengantarkan surat kepada Amirul mukminin as. Beliau pun segera memotong ceramahnya dan membaca surat yang berisi masalah-masalah tertentu. Setelah membaca surat tersebut, Ibn Abbas memohon Amirul Mukminin as untuk melanjutkan ceramahnya tadi. Namun, beliau tidak mengabulkan permintaan itu. Ibn Abbas berkata, “Sumur hidupku, aku tidak pernah menyesal karena ceramah tertentu sebagaimana aku menyesali terputusnya ceramah ini.”

Ibn Abbas berkomentar tentang salah satu surat pendek Amirul Mukminin as yang dialamatkan kepadanya sebagai berikut, “Setelah sabda Rasulullah saw, saya tidak mendapatkan keuntungan lebih besar dari keuntungan yang saya dapat dari kata-kata surat ini.”[4]

Mu‘awiyah bin Abi Sufyan yang merupakan musuh bebuyutan Amirul mukminin as, mengakui keindahan dan kefasihan yang luar biasa dari kata-kata beliau.

Mahqan bin Abi Mahqan berpaling dari Amirul Mukminin as dan menuju ke Mu‘awiyah, dan untuk menarik hatinya yang benci berat terhadap Amirul Mukminin as, Mahqan berkata, “Saya pergi dari orang yang paling tidak berlisan (tidak mengenal bahasa) untuk datang kepadamu.”

Penjilatan ini sangat menjijikkan sehingga Mu‘awiyah sendiri yang memberinya pelajaran. Mu‘awiyah berkata, “Celakalah dirimu! Apakah Ali adalah orang yang paling beradab (sastra)?! Sebelum Ali ada, Quraisy tidak mengenal kefasihan kata-kata. Ali adalah orang yang mengajarkan keindahan kalimat dan kefasihan kepada Quraisy.”

Pengaruh

Mereka yang duduk di bawah mimbar Amirul Mukminin as sangat terpengaruh oleh kata-katanya. Nasihat-nasihat beliau menggetarkan hati setiap pendengarnya sampai mengalirkan air mata. Sampai sekarang pun, hati siapakah yang tidak gemetar ketika membaca ceramah nasihat Amirul Mukminin Ali as atau mendengarnya. Setelah menukil ceramah populer al-gharâ’, Sayid Radhi mennegaskan, “Sewaktu Amirul Mukminin as menyampaikan ceramah ini, badan pendengar jadi gemetar, air mata mengalir deras, dan hati pun berdetak kencang.”

Humam bin Syuraih—salah seorang sahabat Amirul Mukminin as yang hatinya dipenuhi rasa rindu kepada Allah swt dan jiwanya berkobar oleh api spiritual—sekali bersikeras meminta Amirul Mukminin as untuk menggambarkan sifat manusia bertakwa secara utuh. Di satu sisi, beliau tidak ingin mengecewakannya dengan jawaban negatif dan di sisi lain, beliau khawatir Humam tidak siap mendengarnya. Oleh karena itu, beliau menyingkat jawaban dalam kalimat yang pendek. Akan tetapi, Humam tidak rela dengan jawaban itu melainkan api kerinduannya semakin berkobar-kobar. Dia tetap bersikeras dan menyumpah beliau untuk menggambarkan lebih luas. Akhirnya Amirul Mukminin as pun memulai uraiannya. Sekitar 105[5] sifat yang beliau bawakan dalam penggambaran ini dan masih berkelanjutan. Akan tetapi, setiap kata beliau berlanjut dan meningkat, detak jantung Humam pun semakin kencang dan jiwanya semakin tidak tenang seperti ayam yang terkurung dan ingin merdeka. Tiba-tiba saja terdengar teriakan kencang yang histeris dan menarik perhatian hadirin sekalian. Orang yang berteriak tadi tidak lain adalah Humam. Ketika kepalanya sampai ke bantalan, dia telah mengosongkan tubuhnya dan memasrahkan rohnya kepada Pencipta roh. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un!

Amirul Mukminin as berkata, “Inilah yang saya khawatirkan sebelumnya. Heran! Lihatlah apa yang dilakukan oleh nasihat yang indah kepada hati yang siaga?!” Inilah tadi reaksi orang-orang yang mendengar kata-kata Amirul Mukminin as secara langsung.

[1] Abduh, Syaikh Muhammad, Pengantar Nahjul Balaghah, hal. 9.

[2] Pada masa hidup Syahid Muthahari.

[3] Al-Bayân wa at-Tabyîn, jilid 2, hal. 230.

[4] Nahjul Balaghah, Surat ke-22.

[5] Sesuai dengan penghitungan saya pribadi, jika tidak salah.

Pengalaman Muthahari Bersama Nahjul Balaghah

Pengalaman Muthahari Bersama Nahjul Balaghah

Perkenalanku dengan Nahjul Balaghah

Mungkin pernah Anda alami—dan jika tidak, Anda bisa gambarkan dalam benak masing-masing apa yang ingin saya ungkapkan berikut ini—hidup bertahun-tahun bersama seseorang di sebuah daerah. Sedikitnya Anda melihatnya sehari sekali, sekaligus menyapanya sesuai dengan adat istiadat setempat dan kemudian lewat. Hal itu terus berjalan setiap hari, bulan, dan tahunan bersamaan dengan berlalunya masa.

Sampai suatu saat, Anda bertemu dan duduk bersamanya secara beruntun sehingga dari dekat Anda kenal ide, pikiran, kecenderungan, dan perasaannya. Hal itu sangat membuat Anda terheran, karena sebelumnya Anda tidak dapat memperkirakan ia seperti apa adanya sekarang.


Dari sejak itu, wajahnya berubah dari sebelumnya di mata Anda. Bahkan, raut mukanya pun tampil berbeda menurut Anda. Ada kedalaman makna dan penghormatan lain yang muncul dalam hati Anda. Telah tampak kepribadiannya dari balik tabir personalnya seakan orang yang berbeda dari orang yang sebelumnya Anda sapa. Anda merasakan ada dunia baru yang tersingkap.


Pengalamanku bersama Nahjul Balaghah seperti pengalaman di atas. Sejak kecil saya mengenal nama Nahjul Balaghah dan saya mengenalnya di tengah rak buku Almarhum ayahku—semoga Allah meninggikan derajatnya. Lalu, selama bertahun-tahun saya belajar dan menyelesaikan literatur bahasa Arab di Hauzah Ilmiah Masyhad dan berlanjut di Hauzah Ilmiah Qom, pelajaran-pelajaran yang dikenal dengan “suthûh” (tingkatan-tingkatan) hampir tamat. Dan semasa itu, nama kitab yang paling sering terdengar setelah Al-Qur’an adalah Nahjul Balaghah. Berapa potongan ceramah zuhud senantiasa diulang-ulang di atas mimbar sehingga saya mengafalnya. Akan tetapi, saya mengaku bahwa saya, seperti halnya teman-teman sejawatku, masih asing terhadap dunia Nahjul Balaghah. Seperti orang asing saya menyapa dan melewatkannya. Sampai kemudian di musim panas tahun 1325 Syamsiah,[1] lima tahun setelah tinggal di Qom, saya pergi ke Isfahan untuk menghindari panasnya udara Qom pada waktu itu. Secara tidak disengaja, keberuntungan mempertemukanku dengan seorang yang kenal dengan Nahjul Balaghah. Ia menuntun tanganku dan membawaku sedikit memasuki dunia Nahjul Balahgah. Di saat itulah saya betul-betul merasakan ternyata saya belum mengenal Nahjul Balagah, dan sejak itu, saya selalu berangan-angan andaikan ada orang yang membawaku dan memperkenalkanku juga pada dunia Al-Qur’an.


Semenjak itu pula, wajah Nahjul Balaghah berubah di mataku dari yang sebelumnya. Saya tertarik padanya dan sangat mencintainya seakan-akan buku yang berbeda dari buku yang sejak kecil saya kenal, saya merasakan dunia baru tengah terungkap.


Syaikh Muhammad Abduh, Mufti Mesir pada masa hidupnya dan yang mencetak Nahjul Balaghah dengan keterangan ringkas serta menyebarkannya di Mesir untuk pertama kalinya, mengaku bahwa sebelumnya ia sama sekali tidak mengenal Nahjul Balaghah. Ketika jauh dari tanah air, ia menelaah kitab ini dan ia sungguh terheran. Ia merasa tengah menemukan harta karun yang sangat berharga. Saat itu pula ia memutuskan untuk mencetak kitab ini dan memperkenalkannya kepada masyarakat Arab pada waktu itu.


Keterasingan ulama Ahlusunah dari Nahjul Balaghah bukanlah hal yang begitu mengherankan. Lebih mengherankan jika nasib Nahjul Balaghah terasing di rumahnya sendiri, di tengah para pengikut Ali as, dan juga di Hauzah-hauzah Ilmiah Syi’ah,  sebagaimana Ali as juga terasing dan hidup sendiri. Sudah barang tentu, apabila kandungan sebuah kitab atau ide dan perasaan seseorang tidak selaras dengan jiwa masyarakat, maka—secara praktis—kitab dan orang tersebut adalah asing, meskipun namanya sering disebut dengan segala macam pengagungan dan penghormatan.

Kita, para pelajar, harus mengakui keterasingan kita dari Nahjul Balaghah. Alam roh yang kita bangun berbeda dengan alam Nahjul Balaghah.


Mengenang Guru

Adalah tidak wajar apabila saya tidak mengenang nama baik guru besar yang pertama kali mengenalkan Nahjul Balaghah kepadaku, seorang guru yang pertemuanku dengannya merupakan salah satu dari simpanan hidupku yang paling berharga dan saya tidak akan pernah rela untuk menukarnya dengan sesuatu apa pun. Tiada satu kenangan malam dan siang bersamanya yang tidak terukir dalam diri saya sekarang.

Saya berani mengatakan sungguh ia adalah sosok ulama spiritual (alim rabbani), tapi di saat yang sama, saya tidak berani mengklaim bahwa saya adalah seorang pelajar yang berada di atas jalan kesuksesan (muta’alimun ‘alâ sabîli najâh). Setiap kali bertemu dengan beliau, saya teringat bait puisi Sa’di yang hidup kembali di benakku:


Âbid-u zâhid-u sûfi, hameh teflân-e râhand,

mard-agar hast bejuz âlem-e rabbânî nist.

‘Abid, zahid dan sufi, semua anak-anak jalanan,

tak terhitung orang kecuali alim rabbani.


Ia adalah seorang faqih, orang bijak, sastrawan, dan juga dokter. Fiqih, filsafat, sastra Arab, sastra Persia, dan kedokteran kuno ia kuasai secara sempurna. Bahkan, di beberapa jurusan, ia terhitung spesialis nomor satu. Al-Qânûn, buku kedokteran karya Ibn Sina, yang sekarang tidak ada gurunya, diajarkannya dengan baik, dan pelajarannya dihadiri oleh murid-murid unggulan. Akan tetapi, ia tidak bisa terikat janji untuk rutinitas mengajar pada waktu-waktu tertentu. Segala hal yang sifatnya mengikat tidak selaras dengan jiwa dan jiwanya. Kendatipun demikian, satu-satunya aktifitas mengajar yang beliau senangi adalah mata pelajaran Nahjul Balaghah. Ia rela duduk lama untuk mengajar kitab itu, karena Nahjul Balaghah memberinya kenikmatan tersendiri dan membekalinya sayap yang membawanya terbang ke alam-alam yang tidak bisa kita cerna secara baik.


Ia hidup bersama Nahjul Balaghah. Ia bernafas bersama Nahjul Balaghah. Jiwanya telah manunggaling dengan kitab ini. Jantungnya berdetak karena Nahjul Balaghah. Kalimat-kalimat kitab ini telah menjadi wirid lidahnya dan senantiasa berargumentasi dengannya. Seringkali sewaktu untaian-untaian kalimat Nahjul Balaghah mengalir dari mulutnya diiringi dengan air mata yang membasahi janggutnya yang putih. Pemandangan dan pengalaman yang sangat lezat, indah dan penuh ‘ibrah saat menyaksikan pergulatannya dengan Nahjul Balaghah yang fana dan menggunting kaitannya dengan kita dan sekitarnya. Mendengar suara hati dari pemilik hati mempunyai pengaruh dan daya tarik yang sungguh luar biasa. Ia adalah manifestasi dari salaf salih yang sesungguhnya. Ucapan Ali as menjadi fakta pada dirinya yang berbunyi, “Andai bukan karena ajal yang telah tertulis untuk mereka, niscaya roh-roh mereka tetap akan tinggal dalam tubuh-tubuh mereka walau sejenak, karena mereka mendambakan pahala dan takut dari siksaan. Sang Pencipta benar-benar tampak agung pada diri mereka, maka segala sesuatu selain-Nya menjadi kecil di mata mereka.”

Ia adalah sastrawan peneliti, filosof Ilahi, pakar ilmu fiqih, dokter spesialis, ulama rabbani, yaitu Almarhum Haji Mirza Ali Syirazi Isfahani. Sungguh ia adalah lelaki kebenaran dan hakikat. Ia telah terbebas dari aku dan keakuan menyambung dengan Yang Haq dan kebenaran. Dengan segala kedudukan ilmiah dan juga status sosial yang tinggi, ia tetap merasakan tugas mengarahkan masyarakat dan memberi petunjuk kepada mereka. Ditambah juga rasa cintanya yang sangat dalam terhadap Imam Husain as, semua itu mendesaknya untuk naik ke atas mimbar menasihati masyarakat, dan oleh karena nasihat-nasihat itu muncul dari jiwa yang paling dalam, maka secara otomatis langsung bertajuk di hati para pendengarnya. Setiap saat ia datang ke kota Qom, para ulama tinggi Qom mendesaknya untuk naik mimbar dan memberi nasihat. Mimbarnya lebih mengarah pada keadaan dari pada perkataan.


Ia menghindar untuk dijadikan imam jamaah shalat. Pernah suatu saat pada bulan Ramadhan, ia dipaksa untuk memimpin shalat jamaah selama sebulan di Madrasah Shadr, padahal ia tidak datang secara tertib dan tidak betah dengan ketentuan waktu yang mengikat. Akan tetapi, masyarakat yang berdatangan ikut shalat berjamaah bersamanya tidak pernah kita saksikan sebelumnya dalam jumlah besar seperti itu. Saya dengar, jamaah-jamaah shalat di sekitar situ menjadi sepi, dan akhirnya ia tidak melanjutkan shalat jamaahnya tersebut.


Sepengetahuan saya, hampir semua masyarakat Isfahan mengenal dan mencintainya, sebagaimana Hauzah Ilmiah Qom juga sangat menghendakinya. Setiap kali ia datang ke Qom, ulama Qom menziarahinya. Namun, ia tidak mau terikat dengan “muridi” (orang yang menghendakinya jadi mursyid, guru atau semacamnya) dan “muradi” (orang yang dikehendaki jadi mursyid). Semoga Allah senantiasa merahmatinya dan mengumpulkannya bersama para wali-Nya.


Meski begitu, saya tidak berani mengatakan bahwa ia menguasai semua Nahjul Balaghah dan mampu menaklukkan segala bagian kitab itu. Tapi yang pasti, ia adalah seorang spesialis di sebagian alam Nahjul Balaghah. Bukan hanya itu, di samping spesialis di bidang itu, ia juga pengejewantahan dari bagian tersebut. Artinya, bagian dari Nahjul Balaghah yang dikuasainya telah menjadi fakta pada dirinya sendiri. Nahjul Balaghah mengandung beberapa dunia: dunia zuhud dan takwa, dunia ibadah dan ‘irfan, dunia hikmah dan filsafat, dunia nasihat dan tuntunan, dunia berita masa depan dan hal-hal gaib, dunia politik dan tanggung jawab sosial, dunia semangat dan keberanian …. Semua ini sungguh tidak bisa dinantikan dari satu orang. Ia telah mampu mengarungi sebagian dari luasnya lautan Nahjul Balaghah.

Nahjul Balaghah dan Masyarakat Modern

Bukan hanya saya dan orang-orang seperti saya yang asing dari dunia Nahjul Balaghah, masyarakat Islam tidak begitu mengenal kitab ini. Pengenalan mereka hanya terbatas pada keterangan kata dan terjemahnya saja, sementara jiwa dan inti muatan Nahjul Balaghah masih tersembunyi bagi mereka. Akhir-akhir ini, dunia Islam mulai menyingkap Nahjul Balaghah. Dan dengan kata lain, Nahjul Balaghah telah menaklukkan dunia Islam.


Yang mengherankan adalah sebagian dari kandungan Nahjul Balaghah untuk pertama kalinya, baik di negeri syi’ah Iran maupun di negara-negara Arab, disingkap oleh orang atheis atau orang yang bertuhan, tapi non-Muslim yang kemudian dipaparkan kepada orang-orang Islam.


Umumnya, tujuan mereka dari upaya itu adalah mencari dukungan dari Ali dan Nahjul Balaghah untuk membenarkan beberapa teori-teori sosial mereka. Dengan demikian, mereka dapat memperkuat ide-ide tersebut. Tapi ternyata hal itu memberikan hasil yang sebaliknya, karena dengan demikian, baru kali ini Muslimin menyadari bahwa pemikiran dan ide intelektual luar tadi bukanlah hal yang baru, bahkan ada yang lebih istimewa terletak di Nahjul Balaghah, di sejarah Ali as, di sejarah kader-kader Ali as, seperti Salman, Abu Dzar dan Ammar. Oleh karena itu, yang semestinya diharapkan Ali dan Nahjul Balaghah dapat menjustifikasi pemikiran mereka, sebaliknya mereka malah kalah. Namun, tetap harus diakui bahwa sebelum kejadian ini membangunkan ummat Islam, pengenalan mayoritas kita terhadap Nahjul Balaghah tidak lebih dari beberapa ceramah zuhud dan nasihat saja. Sedangkan simpanan berharga lainnya, seperti surat perjanjian Amirul Mukminin as dengan Malik al-Asytar an-Nakha’i masih belum dikaji dan dimengerti lebih serius.


Nahjul Balaghah adalah pilihan ceramah, wasiat, doa, surat dan kata-kata mutiara Amirul Mukminin as yang dikumpulkan oleh Sayid Syarif Radhi sekitar seribu tahun yang lalu. Sudah barang tentu kalimat Amirul Mukminin as tidak terbatas pada apa yang dibawakan oleh Sayid Radhi. Satu contoh, al-Mas‘udi yang hidup seratus tahun sebelum Sayid Radhi menyebutkan dalam jilid kedua dari karyanya yang berjudul Murûj adz-Dzahab, “Sekarang ini, terdapat empat ratus delapan puluh sekian ceramah Ali as di tengah masyarakat”, sedangkan ceramah yang berhasil dikumpulkan Sayid Radhi hanya berjumlah 239, kurang dari setengah bilangan yang disebutkan al-Mas‘udi. Begitu pula yang mengumpulkan kalimat Amirul Mukminin as bukan hanya Sayid Radhi saja, melainkan banyak ulama lain yang juga mengumpulkannya.


Sekarang, ada dua pekerjaan yang harus dilakukan seputar Nahjul Balaghah: pertama, penyelaman ke dalam muatan Nahjul Balaghah, agar ideologi Ali as dalam berbagai masalah yang tercatat di sana menjadi jelas. Sebab masyarakat Muslim betul-betul membutuhkannya. Dan kedua, penelitian di bidang sanad dan referensi Nahjul Balaghah. Termasuk keuntungan bagi kita semua, saya dengar ada beberapa orang mulia yang sedang sibuk menekuni tugas penting ini di tengah masyarakat.

Kajian berikutnya adalah serial artikel-artikel yang tersebar di majalah Gerâmî Maktab-e Islam pada tahun 1351-1352 Syamsiah[2] yang sekarang sudah berbentuk kitab yang bisa dinikmati oleh para pembaca budiman. Sebelumnya juga ada lima pertemuan di Yayasan Islam Husainiah Irsyad. Saya berceramah dengan judul yang sama. Dari situlah saya berangan-angan untuk menulisnya lebih terperinci dalam serial artikel yang tersebar tadi.


Buku yang keluar pun saya beri nama “Perjalanan dalam Nahjul Balaghah”. Saya sadar bahwa apa yang telah saya lakukan ini tidak lebih dari sebuah lintas sekilas dan upaya singkat ini tidak bisa disebut dengan sebuah penelitian. Di samping saya tidak punya peluang waktu untuk meneliti lebih dalam, saya juga bukan orang yang pantas untuk mengemban tugas ini. Apa lagi, penelitian komprehensif tentang kandungan Nahjul Balaghah dan pengenalan terhadap ideologi Ali as, serta kajian di bidang sanad dan referensi Nahjul Balaghah bukanlah pekerjaan satu orang, melainkan pekerjaan kolektif. Namun, walau demikian, karena “apa yang tidak bisa dijangkau semuanya, maka tidak ditinggalkan secara keseluruhan” dan karena perbuatan kecil akan membuka jalan untuk pekerjaan yang lebih besar, maka saya bertekad untuk memulai lintas kilas ini. Saya juga menyesal, perjalanan singkat ini belum berakhir. Program yang saya canangkan untuk menyusun perjalanan ini belum bisa diselesaikan lantaran kesibukan yang menumpuk. Saya tidak tahu apakah suatu saat saya bisa melanjutkannya atau tidak. Yang saya tahu adalah saya sangat mengharapkan hal itu.

25 Dei 1353 Syamsiah/3 Muharam 1395

Murtadha Mutahari

Kamis, 10 Oktober 2013

KEBUDAYAAN ISLAM ITU BUKAN KEBUDAYAAN ARAB

Perkembangan Islam di nusantara dengan segala keragaman dan budayanya, tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah masuknya Islam di nusantara. Munculnya Nahdhatul Ulama yang lebih akulturatif terhadap kebudayaan dan Muhammadiyah yang puritan juga tidak bisa lepas dari konteks ini. Tentang bagaimana Islam masuk ke nusantara dan perkembangannya, berikut adalah wawancara Fachrurozi dan Deni Agusta dari Pusat Studi Islam dan Kenegaraan dengan Abdul Hadi WM di Univ. Paramadina, Jum'at, 16 Mei 2008. Berikut pandangannya tentang Cak Nur.
Secara kultural, Islam Indonesia berbeda dengan Islam yang ada di Timur Tengah, juga dengan Islam yang ada di Afrika Utara dan Eropa, apa karakteristik utamanya yang menyebabkan itu berbeda?
Karena faktor-faktor historis perkembangan Islam Indonesia, di sisi lain adalah masa yang berkembang, kemudian corak Islam yang berkembang yang dibawa ke Indonesia pada permulaannya, di mana Islam hanya sebagai proses informasi. Informasi itu kan melalui media juga bisa, melalui dialog, atau juga bisa melalui intergrasi. Dari situ bisa terjadi proses dengan sendirinya.
Di Indonesia itu pertamanya secara mazhab fiqh, dalam mazhab orang-orang Syafi'i yang berbondong-bondong pada abad ke tiga belas setelah perang Salib menaklukkan Mongol. Kenapa kok mereka yang nongol? Orang-orang Sunni di Baghdad itu biasanya itu selalu berkonflik dengan orang-orang Syi’ah atau dengan pengikut Hanafi. Dan ketika terjadi konflik, mereka berkumpul di Yaman. Dan mereka itu selalu mengungsi ke Yaman, dan memang Yaman adalah pelabuhan raja. Di mana mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Afrika dan Timur Tengah.
Sedangkan mazhab Hanafi itu, kalau lari pasti ke Asia Tengah. Sedangkan kalau Syi'ah, tentu saja tadi. Tentu saja kemudian, di antara penganut-penganut itu bukan saja dari Arab Saudi, tetapi orang-orang Arab, Turki, Persia, itu loh ya? Yang membawa kebudayaan Turki, Persia. Untungnya itu kultur tertutupi. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pertumbuhan Islam di dunia Melayu sudah bercorak intelektual? Itulah yang bisa dicatat dalam dimensi yang sangat kuat. Itu yang sampai ke dunia Melayu.
Nah, di Dunia Melayu kebetulan terjadi kekosongan kultur, setelah hancurnya kerajaan Sriwijaya yang dihancurkan oleh Majapahit. Agama Budha sudah mati, disebarkan agama Hindu, Islam juga berkembang, dalam pertarungannya dan kemudian agama-agama tersebut akhirnya memeluk agama Islam.
Dan karena agama Islam yang masuk itu melalui masyarakat penduduk luar? Para pedagang-pedagang, dan itu tidak sulit bagi raja-raja Islam di kepulauan Melayu. Maka terintegrasilah kebudayaan Melayu dengan Islam. Sehingga tidak bisa dipisahkan antara Islam dengan Melayu. Seperti tidak bisa memisahkan antara orang India dengan orang Hindu? Seperti orang Thailand dengan orang Budha? Jadi seperti melekat begitu.
Dalam Islam banyak sekali peradaban-peradaban yang masuk. Seperti India, ada Arab Persia, Arab Turki, lalu apa sumbangannya terhadap Islam itu sendiri?
Pertama, kalau bicara peradaban Islam dari segi keterpelajarannya, tradisi keintelektualnya, yang meliputi penulisan kitab kuningnya, keagamaan, dan kesusastraan. Kalau anda membaca manuskrip-manuskrip yang ditulis dari abad ke-14 sampai ke-19, di dalam bahasa Melayu terutama 99 lebih itu ditulis dalam bahasa Melayu. Di dalam bahasa-bahasa nusantara lainnya juga seperti itu.
Dengan datangnya Islam lewat Melayu, membuat tradisi intelektual juga berkembang di kalangan-kalangan etnik-etnik yang bukan berbahasa Melayu juga berkembang. Baik itu sastra Bugis, sastra Minangkabau, Madura, dan lain-lain juga berkembang pesat pada saaat itu. Di waktu yang sama, sastra Jawa saja yang berkembang, tidak terpusat pada lokasi.
Pola yang kedua, pola ini lahir di Jawa. Di Jawa, Islam datang dari kalangan bawah, terus menengah, tapi setelah Islam di peluk oleh masyarakat banyak, di pedalaman itu masih meneruskan sistem legitimasi jaman Majapahit. Yang pada saat kekuasaan jaman Majapahit Hindu dengan Islam itu berbeda. Pola Hindu itukan raja mendapat legitimasi dari langit. Sebagai suatu agama, ya sudah semestinya merakyat. Kulturnya juga mempengaruhi, tetapi sebagai gerakan soaial politik, oposan Islam itu dianggap sebagai sumber pembangkangan terhadap kekuasaan.
Di dunia Melayu itu kan kolonial sekali, iya kan? Coba saja kamu tinggal di wilayah Melayu dengan datangnya modernisasi, praktis kok? Konfliknya tidak terlalu berjalan lama, kecuali di Aceh. Di Brunei, di Malaysia, dan kerajaan-kerajaan Melayu. tetapi Islam menjadi gelisah ketika di Aceh dan di Jawa. Karena ini berhadapan dengan kekuasaan feodal dan juga kekuasaan kolonial. Itu benar-benar secara politik.
Jadi radikalisme itu, benar-benar bersentuhan dengan agama, politik, ekonomi?
Iya, dia itu sebetulnya, mula-mula politik kan sebetulnya? Tapi kemudian setelah munculnya wacana, dengan munculnya Wahabisme yang menekankan kepada syari'at, kemudian muncullah gerakan-gerakan radikalisme yang mengambil aktualisasi social budaya dan social politik juga social ekonomi. Tapi sebetulnya mereka juga mengaju kepada modernisme. Mereka juga sebenarnya bagiam dari modernisme tetapi menentang apa-apa yang tidak berkenan.
Hal itu teradi pada masa kerajaan? Dengan berbagai macam sistem dan keyakinan beragama yang memiliki kasta-kasta. Dan Islam tidak mengenal itu. Nilai-nilai egalitarian dalam Islam sangat kental sekali, sehingga Islam mudah masuk dalam wilayah nusantara. Tapi dalam perjalananya gerakan politik Islam jauh dari nilai-nilai keagamaan yang egalitarian. Bagaimana menurut bapak?
Egalitarian itu terbendung dengan adanya proses kolonialisasi dan feodalisasi juga dengan kuatnya pengaruh keraton dan kolonial? Kalau gerakan-gerakan seperti egaliter, contohnya Sarekat Islam. Karena orang sarekat ini kebanyakan adalah pedagang. Itu dibayar, penerapannya berdasarkan keilmuan. Kemudian sebagai reaksi perspektif yang ke dua, tentunya dalam bentuk Muhammadiyah, sebagai gerakan modernis yang di dalamnya anti dengan tarekat ini betul-betul egaliter-egaliter modern nasional.
Tapi ini anti kultural, semua kebudayaan yang ada di anggap kosong, intinya dia mengadopsi Barat tentunya. Nah, dia itu menghamparkan pondasinya tetap bulat. Dan pondasinya itu adalah Al-Qur'an. Pengaruh-pengaruh itu diakibatkan datangnya dari pemikiran rasionalisme dari barat sejak Napoleon mengalahkan Mesir. Kenapa di Mesir? Bukan di India? Karena dia bentroknya dengan Inggris, dan pembaharuan itu kan adanya jika bukan di Mesir ya di India.
Yang ketiga, yang mewakili kejawatan.itukan yang mewakili NU? NU ini respon terhadap Wahabi. Sebetulnya, ketika kekhalifahan Utsmaniah hengkang dari Mekkah. NU itu bukanlah sebagai basis ekonmomi. Ini adalah country yang agraris yang feudal, basic-nya itu adalah Jawa Timur. Karena Jawa Timur, setelah runtuhnya Majapahit dan munculnya Mataram itu, hampir tidak ada kerajaan. Lapisan-lapisan Hinduisme itu sudah tebal di Jawa Timur. Jadi Islamnya juga tebal, makanya terjadilah strata yang agak feodalistik.
Kembali ke perkembangan pada abad dunia lain, tadi disebut Persia, India, dan lain-lain. Mungkin ada contoh peradaban lain yang bisa di apresiasi ke dalam kajian Islam yang menunjukkan keindonesiaan?
Tipikal keindonesiaan itu sebetulnya banyak sekali, tapi tidak terlalu luas, jadi mesti hati-hati dalam menyebutkan bahwa misalnya, apa yang di sumbangkan di dunia Melayu itu kan tidak sama dengan di Jawa. Dengan pola kedua adat, di mana yang memeluk Islam, melalui rajanya kemudian diikuti oleh rakyat, ada sedikit semacam pemaksaan, dan segala macamnya, menunjukkan wajah kultur Islam yang berbeda-beda.
Apakah hal itu bisa dikatakan orisinal?
Yang orisinal itu apa sih di dunia ini?
Dalam artian, kadang-kadang dalam wacana keislaman selalu mengacu pada orisinalitas? Nilai-nilai keagamaan?
Ya, globalisasi itu, Itu mula-mulanya penyebaran Jawa didukung oleh hasrat duniawi. Tapi hasrat-hasrat penyebaran agama itu kan mengikuti pada jalannya Jadi sangat sulit mengetahui mana yang murni, dan mana yang tidak murni?
Apa yang paling menonjol dari peradaban kebudayaan Islam?
Jika di bandingkan dengan agama Hindu dan Budha, lembaga pendidikan agama Islam egaliter, orang bisa masuk agama Islam tanpa harus jelas kelas-kelas sosialnya. Kenaikan status sosial diukur dari kecerdasan. Sehingga mobilitas sosial itu begitu cepat.keterpelajaran ini, menjadi lumrah. Nah, hal itu wajar sekali jika dalam kepulauan Melayu, di mana Islam berinteraksi, orang yang melek hurup bahasa Arab itu hanya baru kebelakang saja. Sekarang kan ada yang dengan huruf Latin atau Arab Melayu.
Orang yang di Jawa pedalaman yang Islamnya tipis itu, jangankan membaca hurup Arab, atau membaca huruf Latin, membaca huruf Jawa saja belum tentu bisa. Orang-orang di Melayu pesisir itu pasti bisa huruf Arab, Itu kultur. Tetapi ketika ini tidak ditutup atau tidak di ajarkan lagi? Asas generasi muda Islam ini terhadap wacana intelektualnya yang masih ditulis dalam tulisan Arab, akan terputus. Maka akan terjadilah kemiskinan. Jangan salah, alat-alat tadi itu kan percaya ia memperkenalkan rasionalisme pada Islam. Karena ilmu-ilmu yang diajarkan itu kan banyak yang berdasarkan pemahaman Aristoteles. Pada zaman Hindu, karena memang Budha dan Hindu lebih menekankan pada methodologi, sehingga karangan-karangan ilmiah itu jarang dibahas, tetapi lebih ke kitab-kitab yang berisikan cerita fiksi. Dan itu tidak dihukum.
Pada Islam, selain karya-karya, ilmu-ilmu yang sistematik itu juga sedikit. Ilmu penegakkan dan lain-lain, dan ketika generasi awal generasi intelektual Melayu yang tradisional, ketika dia mempelajari tradisi Barat tidak benar-benar betul. Karena modalnya tidak ada dalam Islam, artikulasinya segala macam. Kenapa bahasa Melayu yang bertata bahasa Arab ada singgungannya dengan bahasa Yunani itu lebih mudah ditentukan jadi bahas modern dibandingkan bahasa Jawa, yang tata bahasanya berliku-liku.
Lembaga pendidikan pertama-tama selama jaman Hindu itu untuk kaum pendeta dan satria saja. Jaman Islam tidak naik dan karena kemudian Islam membangun jaringan–jaringan, model kekuasaan Islam yang diperkenalkan ke seluruh nusantara itu menyeru, model seruan Islam agar siap tidak tersentralistik. Jadi Islam itu membuat kekuasaan di sini, di sini, dan di sini, tetapi antara satu sama lain saling berhubungan. Jadi terpencar-pencar, yang penting bukan integralisme dan memang tidak menginginkan integralisme. Punya otonomi dan kemandirian sesuai dengan kondisi masing-masing dibuat berdasarkan syari’ah.
Jadi syari’ah Islam disesuaikan dengan kondisi-kondisi setempat, sebagaimana dijadikan hukum atau undang-undang. Setelah itu baru pertaliannya, di mana dalam tradisi intelektual, keilmuan. Karena mazhab yang digunakan dan dipelajari adalah imam Syafi'i, teologinya Asy'ary, karena itu undang-undang adatnya itu juga diangkat dari fiqh-fiqh mazhab Syafi’i dan itulah yang mempersatukan. Jadi persatuannya lebih kepada persatuan batin.
Kenapa mazhab Syafi'i lebih dominan dalam konteks Indonesia?
Ya karena gelombang yang paling awal mengungsi di Indonesia dan menguasai perdagangan pada saat itu adalah Mazhab Syafi'i, mereka menguasai pelabuhan dari Yaman sampai Guzarat dan memang itu adalah yang paling stategis. Karena apa? Mazhab-mazhab lainnya, Maliki terjauh di Afrika Utara, itu mereka tidak mempunyai aset untuk ke timur. Karena itu, sudah masuk pada kekuasaan mamluk. Ini dikuasai oleh orang-orang Mongol pelayaran di Alam Sutera ini sehingga tidak mungkin melalui jalan darat. Baru pada abad ke-15 orang-orang mazhab Hanafi itu bisa keluar setelah runtuhnya dinasti Timur Lang itu. Jatuhnya Iran (Persia) ke tangan dinasti Syafawi yang Syi'ah.
Dan pada abad ke-16 orang-orang Sunni mazhab Syafi’i banyak yang diusir dari Iran dan mereka yang mendapatkan keuntungan adalah India dan Indonesia, kaum intelektual ini bekerja, karena di sini terdapat kerajaan Aceh, Mongol, nah dari sinilah mereka mengembangkan kultur.
Masuk ke soal sufisme dan kesenian yang menjadi, dalam pikiran kami kalau membaca karya bapak, ternyata sufisme itu lebih mengapreasiasi kesenian, menurut pak Hadi bagaimana?
Tokoh-tokoh sufi pada awalnya memang cenderung pada kesenian dan kesusasteraan, karena dari pendapat-pendapat tadi itu bersifat imajinatif dan pengungkapannya paling mungkin dalam puisi dan fiksi. Dan mereka terbiasa. Kemudian dalam upacara ritual, mereka itu terbiasa menggunakan musik, tarian untuk upacara keagamaan mereka. Nah, dari sini banyak pula ulama-ulama yang mencintai tradisi seni seperti syeikh Saman, kemudian Rumi. Dan masyarakat tidak selamanya bisa dikurung di dalam tempat formal seperti rumah, masjid, karena itu mereka membuat tempat-tempat ziarah untuk melepaskan hirarki jiwanya yang tertekan.
Kenapa lebih dominan sufismenya ketimbang filsafatnya?
Tidak, sebetulnya begini, sampai abad ke-18 lebih dahulu Melayu, sebelum munculnya gerakan yang menekankan kepada syari’ah terutama ketika munculnya tarekat Al-Kindi, filosofis itu berkembang yang melahirkan tokoh-tokoh yang dekat dengan intervensi dan banyaknya ulama yang terlibat langsung kepada pemerintahan dan cenderung pada syari’ah, maka itu akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan struktural dan perkembangan tarekat-tarekat sufi sehingga lebih meningkatkan syari’at dan mengabaikan aspek-aspek yang filosofis dan artistik ini. Padahal kalau seni merupakan ujung tombak untuk menyiarkan agama di kalangan masyarakat dan filosofis ini dasarnya adanya kalangan peradaban Hindu dan Budha kaum intelektual itu senang filsafat. Nah, ini lah yang dilayani oleh ulama filosofis itu. Nah, ketika ahli fiqh datang mereka tidak senang ketika terjadi tarian, Jawa menjadi Kejawen.
Kalau melihat dan membaca puisi Rumi dan Iqbal sangat dominan dalah hal itu, apa kontribusi mereka dalam khazanah intelektual Islam dan juga termasuk kesenian?
Ada tiga kelompok sufi. Pertama ada kelompok yang kita golongkan al-qatalian, yang menekankan pada akhlaq. Kedua, Ibnu Arabian lebih pada pendidikan. Ketiga, seni. Ketiga-tiganya itu memiliki kontribusi dalam perkembangan tradisi itelektual dan kebudayaan Indonesia. Banyak sekali legenda-legenda yang kemudian menjadi sumber inspirasi menciptakan kebudayaan berasal dari terminologi-terminologi yang dibuat oleh Attar dan Rumi ini. Kalau anda ke Melayu itu Buluk Rindu (nyayian seluring Rumi), kemudian simbol-simbol burung (simok) menguasai seni ukir, batik, itu ada di mana-mana.
Apakah itu pengaruh dari metodologi kesenian?
Tidak bisa, karena orang Islam yang datang ke sini sebelum datang, dia sudah terebih dahulu tahu tradisi Hindu, tidak perlu diajarkan di Jawa, cukup diajarkan ke India saja dan kebudayaan Persi itu saudara sepupu dari kebudayaan India, dari situ kita cukup belajar tidak perlu diajarkan lagi dan itulah untuk memandang sejarah.
Dalam peradaban itu, mengutip hiasan dan lukisan Islam, banyak dipengaruhi dari Cina. Karena orang-orang Cina yang dibawa orang-orang Mongol untuk mempengaruhi perkembangan seni pokok Islam dan orang-orang inilah yang membawa ke Indonesia.
Kemudian sebenarnya Islam itu menyatukan kebudayaan-kebudayaan dari berbagai peradaban yang datang ke dunia Islam dan kemudian memberikan kebudayan-kebudayaan tersebut kepada orang-orang yang memeluk Islam. Sehingga kebudayaan Islam itu, bukan budaya orang Arab karena kontribusinya bukan hanya dari orang-orang Arab tapi banyak kebudayaan.
Tapi kenapa dalam proses perjalanannya, ketika berbicara Islam selalu identik dengan Arab?
Semua terjadi kemudian setelah abd ke-18, diawali dengan runtuhnya kekhalifahan Islam dan munculnya negara-negara kolonial dan kemudian dijajah Barat yang kemudian mengakibatkan putusnya hubungan induknya (Persia), ketika terpecah belah terjadilah lokalisasi, ketika terjadi lokalisasi terjadilah kecenderungan legalistik pada tarekat fiqh dengan mengedepankan artistik filosofis dan estetiknya itu. Kedua munculnya gerakan Wahabi yang semakin menghabiskan dengan tahyul-tahyulnya itu, kemudian Arab dihabiskan dan berkuasa pada tahun 1920 kira-kira seperti itu. Ketiga, munculnya modernisme karena bertolak dari semangat pencerahan di Barat terhadap kultur. Kenapa itu terjadi? Karena gerakan pemurnian agama, gerakan modernisme, gerakan kolonialisme.
Sementara itu golongan yang kita dipengaruhi pemikiran posmo, yang relatif nilai pada pendangkalan dan komersialisasi. Jadi kultur itu tidak didapatkan di mana-mana, kecuali di negara-negara yang sejak awal sudah membentengi. Seperti Jepang menerima Barat hanya tekhnologinya, sainsnya, tapi filsafat hidupnya tidak. Dia bisa memoles kolonialisme menjadi idiologi universal yang bisa menerima bentuk-bentuk peradaban sebagaimana Islam pada zaman Abbasyiah.
Islam yang sekarang ini merupakan Islam yang legalistik, Islam yang diterjemahkan secara formal tidak menuntut kemungkinan berkembang.
Bagaimana pendapat bapak mengenai kebebasan beragama?
Di dalam Islam kemajemukan itu sudah dipelihara sejak lama dan itu merupakan warisan dari zaman dahulu. Ada proses itu tidak berjalan pasca perang Salib, ketika orang-orang mongol sudah menaklukkan Bagdad terjadi skisme-skisme dalam Islam, usaha Al-Ghazali untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu Islam itu setengahnya berhasil dan setengahnya tidak karena dipotong karena munculnya penaklukkan Mongol tersebut.
Kalaupun harus dirumuskan konteks kebudayaan Islam dalam pijakannya pada Bumi Nusantara, kira-kira rumusannya seperti apa?
Islam di Nusantara itu tergantung wilayah. Wilayahnya itu ada rumpun Islam dengan gaya Melayu dan tarian-tariannya itu Minangkabau dan segala macamnya, mempunyai karakter sendiri. ada karakterisktik Islam Jawa yang terbelah dua, Islam Jawa Pesisir dan Islam Jawa yang dekat dengan keraton feodal itu, yang satu mengarah pada mistik dan satu mengarah pada kehidupan duniawi.
Artinya bahwa keberagamaan inheren dalam Islam?
Tentu saja konflik agama itu terjadi sejak zaman Hindu atau pun zaman Islam, tentu sering orang-orang dari mazhab Syiwa dan Brahma itu berkelahi pada zaman Hindu dahulu. Tapi ada sikap-sikap toleran di dalamnya, sebetulnya itu yang tidak diterjemahkan dengan baik sehingga kita kebingungan oleh bangsa kita ini, pemimpin kita.
Dalam konteks nasionalisme di Indonesia--tercermin dalam pidatonya Soekarno dan Hatta--memang ada agama-agama yang diakui dalam hal ini inheren dengan kebhinekaan. Artinya dalam sejarah itu, yang memberikan kontribusi besar dalam pada peradaban Hindu, Budha itu jelas diakui dan kemudian Islam Sunni maupun Syi'ah, kemudian Agama Protestan dan Katolik. Kenapa Khonghucu terpisah, karena agama-agama yang dibawa etnis dan dibawa oleh orang asing ke sini. Dalam konteks kenegaraan mereka tidak mendapatkan jaminan untuk berkembang dalam bentuk financial.
Bagaimana dengan kasus Ahmadiyah?
Ahmadiyah ini, mereka tidak meragukan bahwa Mirza Gulam Ahmad seorang Rasul tetapi pemiikiran-pemikiran orang Ahmadiyah itu bermanfaat bagi dia untuk memahami konsep modern. Jadi sebetulnya menurut saya kalau Ahamadiyah tidak tampil sebagai jemaat yang tampil sebagai pemikir-pemikir gerakan-gerakan, saya kira tidak ada masalah, masalahnya ini menjadi ekslusif. Kasus ini juga yang dialami oleh DDII, Lemkari. Nah, itu sulit dipecahkan secara hukum dan saya bukan ahlinya, bagaimana menempatkan dalam konteks hukum sedangkan kapasitasny bukan dalam konteks ini?
Untuk masalah pembubaran serahkan saja kepada hukum, tetapi ini ada elemen masyarkat yang bisa juga ditunggangi oleh kepentingan lain untuk membuat tujuan tertentu. Jadi menurut saya, pro dan kontra itu saling mengkaitkan diri saat ini untuk tidak membuat konflik horizontal, biarkan saja. Negara berpikir apa saja tapi juga jangan dipanas-panasi supaya menolak usulan ini.
Kalau begitu bagaimana menurut bapak apa yang harus diselesaikan dari problem Islam Indonesia?
Ya mesti diselesaikan, jangan terlalu membawa wacana ke dalam wilayah politik demi kepentingan ekonomi, idiologi, dari situlah sumber konflik. Tapi kalau dibawa pada dialog kultural maka tidak ada masalah. Karena itu, kita terima perbedaan pandangan dan jangan menggunakan wacana kekerasan.
Bagaimana pak Hadi mengenal Cak Nur dalam konteks pemikirannya? Di sisi mana syeikh seiring dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur dan di sisi mana merasa berbeda?
Cak Nur tipologi orang yang belajar di pondok kemudian mencari bandingan dari wacana-wacana intelektual Barat yang orientalik. Hal ini untuk mengeritik kondisi umat Islam yang ada di Indonesia dan itu syah-syah saja. Kalau itu terasa menyakitkan memang iya. Masalahnya kita tidak terbiasa dengan wacana ini. Bagaimana ke depan yang ini bisa berjalan dengan baik, peranan lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi, karena lembaga perguruan tinggi tidak ada istilah peradaban Islam diajarkan, sekarang ini tidak ada model seperti itu, yang ada adalah model peradaban dan pendidikan Barat.
Sementara itu kelompok-kelompok pengajian itu terlalu oriented PKS, yang dari ikhwanul Muslimin, yang semuanya itu sebetulnya ahistoris dalam konteks keindonesian. Misalnya Hasan Al-Banna muridnya Abduh kalau dia berkata pada Abduh maka dia berkata dengan Muhamadiyah.
Cak Nur itu melihat Islam di Indonesia, pengetahuannya lebih berat ke Jawa, dan perkembangan zaman dan tidak terhitung yang Melayu itu. Kalau kita lihat segmen masyarakat Islam di Indonesia, kalau gerakan Islam pembaharu ini kebanyakan lebih dari Sumatera, Melayu, dan Jawa Barat. Tapi kalau yang tradisional itu lebih dari Jawa Timur, Jawa tengah dan terminologi ini tidak sama dengan menggunakan pendekatan yang berbeda.
Selama ini dikalangan umat Islam yang berbicara konteks hukum, selalu mengacu pada kekuatan konvensional. Artinya ini akan terus mengalami ketegangan ketika tidak dilihat sebagai sebuah hukum.
Kebudayaan mana lebih dahulu tumbuh dibandingkan negara? Negara lebih awal, kalau kebudayaan dibuang, negara tidak punya asas spiritual. Kebudayaan harus dipertimbangkan juga, jangan berpikir law to law apapun alasannya. Tidak akaa bisa ketemu kalau seperti ini. Dan ini akan terjadi ketersinggungan-ketersinggungan antara ketiga kekuatan, pertama, kekuatan yang modernisme yang berpijak pada rasionalisme, kemudian fundamintalisme keagamaan, Posmo yang bergerak dalam bidang konsumerisme itu akan terus ada di dalam sejarah peradaban Indonesia. Kalau itu tidak ditranformasikan ke dalam bentuk dialog maka itu akan tidak produktif, dan kita tunggu saja konflik itu terjadi. Kaum Posmo itu memanfaatkan reaksi pasar bebas lihat saja film-film ML apakah itu di tunggangi atau apa?
Selajutnya bagaimana bapak melihat MUI sebagai sebuah lembaga yang mempersatukan ulama, selain MUI sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa?
Di dalam Islam itu tidak ada kependetaan, tidak ada gereja dalam pengertian itu. MUI itu hanya menyalurkan apresiasi-apresiasi ormas-ormas Islam yang ada. Nah, kalau membenahi yang harus dibenahi itu adalah ormas Islam ini, dan kepemimpinan tradisi ini. Fungsi ulama di Indonesia itu, agen kebudayaan, dan harus memiliki pemikiran-pemikiran yang cemerlang, untuk mencerdaskan umat, melakukan hal-hal yang dapat membantu kepentingan rakyat agar tidak terjadi kebodohan yang panjang.
Jadi menurut saya kita dalam posisi seperti itu, reflektis saja. Artinya pikiran-pikiran ini kita godok dalam pikiran kita dengan cara dialogis bukan konfrontatif. Kalau konfrontatif, banyak musuh kita ini. Ini masalah orang awam, masalah orang bodoh itu tidak bisa dirubah seketika jiwanya, lain dengan di Amerika dengan budaya tulis. Budaya tulis itu untuk membaca reaksi, misalnya mendapat berita kemudian mereka merenung dulu apa yang akan disampaikan, tidak dengan budaya kita yang lisan, baru saja melontarkan, langsung mendapatkan reaksi-reaksi miris, sebelum melakukan perenungan atas jawaban sudah mendapatkan reaksi.
Baik, terima kasih Pak Hadi
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com